
Tomi dan rekan kerjanya tampak bergegas mengendarai club car mengantar Kavin yang membawa Salma menuju ke kamar Kavin. Sedangkan Ari sedang menunggu Dokter yang telah dihubunginya di lobby resort, siapa lagi kalau bukan di suruh oleh Kavin. Sepanjang jalan menuju resort utama, wajah pria itu terlihat cemas, beberapa kali pria itu mengelus pipi gadis itu dengan lembutnya, dan jangan salah lagi sudah berulang kali pria itu mengecup lembut pipi Salma, sungguh kesempatan dalam kesempitan, kemudian pria itu mendekap raga Salma dengan eratnya meluapkan rasa yang belum tergambarkan oleh pria itu. Tapi hati pria itu terasa menghangat, bisa bersentuhan dengan gadis itu, dan jangan di tanya reaksi si gogon, si gogon sudah sempurna berdiri.
“Tuan, kita sudah sampai,” ucap Tomi sembari turun dari club car yang sudah berhenti, untuk membantu Kavin.
“Jangan sentuh,” cegah Kavin, tidak memperbolehkan Tomi turut membantu membopong Salma. Yang ada hanya memperhatikannya saja ketika Kavin turun sambil mengendong Salma. Setelahnya Tomi jalan duluan sebelum Tuannya.
Kamar resort yang ditempati Kavin, tampak terlihat rapi kembali, sepertinya sudah dirapikan dari kekacauan yang terjadi semalam dan tadi pagi. Sebenarnya bisa saja Kavin membawa Salma balik ke Villa, namun pria itu memilih untuk kembali ke kamar resortnya, sepertinya pria itu sedang menghindari Yasmin.
“Tomi, tolong susul Ari di lobby...Dokter nya sudah datang atau belum?” pinta Kavin, setelah merebahkan Salma di atas ranjangnya.
“Baik, Tuan,” Tomi bergegas keluar dari kamar tersebut. Sedangkan Kavin duduk di tepi ranjang, di sisi Salma berbaring.
Setelah kejadian semalam dia memukul tengkuk Salma sampai tak sadarkan diri, hingga pagi ini mereka berdua belum bertemu lagi. Namun takdir membawa mereka bertemu lag,i sama pada saat mereka berpisah tadi malam, Salma yang sedang tidak sadarkan diri.
Kavin sepertinya sudah menyiapkan mental untuk menghadapi gadis itu jika sudah membuka matanya, mau marah, mau memukul dirinya, pria itu sudah kelihatan siap.
“Aku akan menikahimu, Salma,” gumam pria itu sendiri. Tangan pria itu kembali mengusap pipi Salma, lalu mencondongkan dirinya kemudian mengecup lembut bibir ranum Salma.
Suara pintu kamar terbuka...
“Tuan Kavin, Dokter nya sudah datang,” ucap Ari dengan nada malas nya.
“Silahkan Dokter,” Ari mempersilahkan pria yang masih terlihat muda untuk mendekati ranjang.
Ari sudah bisa membaca raut wajah Kavin terlihat tidak senang jika Dokter yang datang adalah laki-laki dan masih muda plus ganteng. Ari hanya bisa berdecih di dalam hatinya. Dan dengan terpaksa nya Kavin memberikan izin pria ganteng itu memeriksa kondisi Salma.
“Kenapa kamu panggil Dokter laki-laki memangnya gak ada yang wanita!” agak pelan Kavin ber ucap pada Ari.
“Saya mana tahu kalau yang datang laki-laki, Tuan juga tadi tidak requets kalau Dokter nya harus wanita. Hanya bilang panggil Dokter,” balas Ari dengan santai nya.
__ADS_1
Kavin berdecak kesal. “Ck...sudah pintar kamu cari alasan!” pria itu kembali berdiri di samping Salma, ketika melihat Dokter pria itu mau membuka kancing kemeja Salma.
“Kenapa pakai di buka segala kancing kemejanya?" tidak terima Kavin, sambil mencegah tangan Dokter tersebut.
Dokter sudah memakai stetoskopnya nampak heran dengan Kavin. “Saya hanya mau memeriksa kondisi pasiennya saja dengan alat ini,” ujar sang Dokter sambil menunjukkan alat stetoskopnya.
Kavin melepaskan tangannya dengan terpaksa, dan membiarkan Dokter itu membuka tiga kancing kemeja Salma, dan mulai menempel kan alatnya ke bagian dada atas gadis itu, kemudian memeriksa nadi serta tensi.
“Semua kondisinya normal, Pak. Sepertinya pingsannya karena ada sesuatu hal yang membuat shock dan kelelahan. Saya akan kasih suntikan vitamin dan ada resep vitamin yang bisa di minum tiap hari,” kata sang Dokter kepada Kavin.
“Mmm.....,”gumam Kavin, pria itu langsung memasang kembali kancing baju Salma, tidak rela harus berbagi pada pria lain walau dokter.
Ari yang melihat tindakan Tuannya hanya bisa menggelengkan kepalanya, demi apa baru kali ini melihat Tuannya yang begitu posesif terhadap wanita. Sedangkan dengan Yasmin hampir tidak pernah, Yasmin bicara dekat dengan pria lain saja, Kavin tidak pernah marah atau cemburu. Sedangkan Salma dekat dengan pria lain, Kavin marah besar.
Dokter sudah menyuntikan vitamin di salah satu tangan gadis itu, lalu memberikan resep obat yang harus dibeli. Usai memeriksa sang dokter diantar keluar oleh Ari, sekalian sang asisten ke apotik untuk membeli obat sesuai resep. Tinggallah Kavin berdua di dalam kamar dengan Salma, sedangkan Tomi sedang memesankan makanan dan minuman yang di minta Tuannya.
“Salma, bangun...,”ucap Kavin dengan nada pelannya, berharap gadis itu tidak lama-lama memejamkan matanya.
“Salma, aku ingin menikah denganmu, aku ingin bertanggung jawab denganmu...,” bisik Kavin, hembusan napas hangat pria itu sangat terasa di pipi gadis itu, begitu juga wangi maskulin yang menguar dari tubuh Kavin.
Pelan namun pasti, kedua bola mata Salma mulai bergerak-gerak, lalu jemari tangannya yang berada di dadanya turut bergerak pelan.
“Salma....,” panggil Kavin kembali dengan nada pelannya, sambil mengelus kembali pipi gadis itu.
Mendengar namanya terdengar jelas di telinganya, Salma mulai mengerjap-ngerjap kedua netranya. Lalu....
DEG!!
Kedua netra gadis itu langsung membulat, melihat wajah Kavin yang sangat dekat di hadapannya. Dada Salma kembali sesak, dan sedikit susah untuk bernafas...
__ADS_1
“Alhamdulilah, kamu sudah sadar,” tutur Kavin, tangannya mulai menyentuh pipi gadis itu.
“Singkirkan tangan kotor anda, Tuan Kavin!” seru Salma. Pria itu langsung mengangkat tangannya dari pipi Salma. Sesaat mereka bersitatap, tatapan benci Salma tersirat di kedua netranya. Sedangkan Kavin menatap hangat gadis yang masih berbaring. Tak lama pria itu beranjak dari duduk di tepi ranjang, kemudian membuatkan teh hangat.
Salma yang melihat pria itu beranjak dari ranjang, gadis itu pun bangun dari pembaringannya walau kepalanya masih pusing. Memaksakan diri untuk berdiri.
“Mau ke mana Salma, kamu baru saja pingsan,” dengan salah satu tangannya pria itu mencegah gadis itu melangkahkan kakinya.
Hanya tatapan penuh kebencian yang menjadi jawaban buat Kavin. Dan pria itu bisa memakluminya.
“Minum dulu, aku buatkan teh hangat untuk mu,” Kavin menyodorkan cangkir tersebut.
Gadis itu menerimanya dengan raut wajah datarnya serta tatapan tajamnya.
PRANG!!
Tanpa di minumnya cangkir itu di lempar oleh Salma ke lantai. Kavin bergeming.
“Peduli apa anda membuatkan saya teh!!” seru Salma penuh emosi.
*bersambung.....
Selamat Tahun Baru 2023 Kakak Readers yang cantik dan ganteng, semoga di tahun yang baru ini kita selalu di berikan kesehatan, penuh keberkahan, tahun yang lebih baik dari tahun 2022 .
Dan mohon maaf ya untuk kisah anak Erick dan Edward terpaksa di tunda dulu, karena ada sesuatu hal.
Mohon di maklumi ya Kakak Readers....jika beberapa hari kedepan agak lama up atau tidak up....sungguh mood saya lagi nyungsep 😞😞😞 di awal tahun 2023.
__ADS_1