Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 10


__ADS_3

"Papa, Akel Alvan. Kata aty Zia tepet matuk." teriak Aina dari arah pintu.


Serempak Alvin dan Arvan menoleh.


"Aty tantik." ucap Aina sambil berlari saat melihat ada aunty cantikya di sana dan langsung memeluk kaki Haifa.


Alvin dibuat kaget untuk ke dua kalinya.


"Aty tantik ayo matuk." ajak Aina sambil tersenyum ramah dan menggandeng tangan Haifa.


"Eh iya silahkan masuk." ucap Arvan.


"I.. Ini betulkan rumahnya Kak Zia? Dr. Arvan?" tanya Haifa entah ditujukan pada siapa pertanyaan itu.


"Iya betul. Silahkan silahkan." kata Arvan lagi.


"Eh. Iya terimakasih." jawab Haifa.


"Ayo aty." ajak Aina. Sambil menarik tangan Haifa.


Haifa hanya mengangguk kemudian mengikuti Aina.


"Pelmiti papa." ucap Aina saat merasa jalannya sedikit terhalangi oleh Alvin.


Alvin sedikit menggeser badannya. Tapi matanya masih fokus menatapi keduanya seakan ada 1001 pertanyaan yang ingin Alvin ucapkan.


"Mata Alvin mata." tegur Arvan.


"Hah apa bang?"


"Hah Hah Hah. Mata tuh jaga gitu banget sih ngeliatinnya. Cakep ya?"


"Abang kenal? Abang yang ngundang?" tanya Alvin.


"Kakak kamu yang ngundang. Katanya sih yang tempo hari bajunya kena es krim Aina. Kamu kenal?"


"Dia mahasiswi Alvin."


"Beneran?"


Alvin mengangguk.


"Wah bisa nih Vin kayaknya. Aina juga udah deket banget."


"Bisa apa? Bisa ular?" jawab Alvin asal.


"Terserah kau Vin." jawab Arvan lalu segera masuk rumah meninggalkan Alvin.


Selama kajian berlangsung Aina tampak anteng dan tenang duduk di hadapan Haifa.


Interaksi antara Haifa dan Aina menjadi perhatian ibu.


Saat persiapan shalat maghrib barulah mereka punya kesempatan untuk berbincang.


Hingga akhirnya sampai pada pertanyaan.


"Maaf nih kalau ibu boleh tau Haifa ini sudah menikah atau masih sendiri nih?" tanya ibu.


"Haifa masih mahasiswi bu." jawab Haifa.


"Kuliah dimana?" tanya ibu lagi.


"Di UIN bu."

__ADS_1


"Wah. Anak ibu juga, Alvin papanya Aina. Dia dosen juga loh di sana. Haifa tau gak?"


"Oh. I.. I.. Iya bu. Haifa tau. Haifa juga kebetulan mahasiswinya pak Alvin." jawab Haifa terbata. Entahlah membahas dosennya yang satu itu rasanya ada kekesalan tersendiri bagi Haifa. Terus tunggu, tadi katanya pak Alvin papanya Aina. Berarti pak Alvin sudah beristri atau mungkin sudah duda. Gimana kalau Ina tau?


Pukul 20.00  acara baru selesai. Haifa hendak pulang tapi ternyata di luar hujan deras.


Pesanan taksi online Haifa pun tak kunjung mendapatkan pengemudi. Mungkin karena hujan lebat dan trayeknya yang cukup jauh.


"Gimana udah dapat taksinya?" tanya Alvin yang tiba tiba muncul dari dalam rumah.


"Astagfirullah. Belum pak." jawab Haifa tanpa melihat Alvin.


"Biasanya kalau hujan begini drivernya pada jarang nge pick up.  Apalagi kalau trayeknya jauh. Apalagi ini sudah malam." ucap Alvin.


Haifa melihat jam di tangannya dan sudah pukul 20.15. Haifa hanya bisa menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan berharap ada salah satu taksi online yang mau menerima pesanan dirinya.


'Ayo dong driver please.' ucap Haifa dalam hatinya.


Gerak gerik Haifa saat ini menjadi perhatian Alvin. Alvin tau Haifa sebenarnya tak tenang dan ingin segera pulang. Apalagi ini sudah malam dan lokasi tujuannya masih cukup jauh. Weekend seperti ini bisa di perkirakan perjalanan ke lokasi tujuan Haifa bisa memakan waktu kurang lebih satu jam.


"Eh Haifa belum pulang?" tanya Zia yang kebetulan keluar rumah.


"Eh iya kak. Ini lagi nunggu taksi online."


"Oh yaudah kalau gitu di dalam aja nunggunya yuk." ajak Zia.


"Gak usah kak makasih. Ini taksi onlinenya udah dekat kok." bohong Haifa.


Zia mengangguk.


"Yasudah kalau begitu."


"Kak Alvin titip Aina sebentar ya. Udah tidurkan?"


"Alvin mau ada perlu sedikit."


"Oke. Kalau gitu Haifa, Alvin aku pamit ke dalam dulu ya." pamit Zia.


"Iya Kak." jawab mereka yang dibalas senyuman penuh arti oleh Zia.


"Bapak gak masuk juga?" tanya Haifa memberanikan diri karena sejak tadi Alvin selalu ada di situ.


"Menurut saya kamu nunggu taksi online sampe jam berapa pun gak akan dapat. Semakin malam justru akan semakin susah ditambah hujannya gak berhenti dan tujuan kamu jauh."


Haifa diam, Alvin benar tapi Haifa juga harus bagaimana? Itu pilihan satu satunya agar dirinya bisa pulang. Kalau pun naik kendaraan umum yang lain Haifa juga paling sedikit harus berjalan ke depan mencari angkot. Itupun belum pasti akan dapat.


"Saya kebetulan ada urusan di daerah kampus. Kalau kamu mau kamu bisa sekalian dengan saya." tawar Alvin, tolong maafkan Alvin karena Alvin berbohong di sini.


Haifa melihat ke arah Alvin.


"Saya hanya menawarkan, ini kebetulan saja. Coba kamu pertimbangkan. Menunggu di sini satu jam kedepan pun belum tentu kamu dapat. Tolong secepatnya waktu saya tidak banyak." ucap Alvin.


"Jangan pikirkan macam macam kalau kita hanya berdua. Kamu bisa duduk di belakang. Lagian apa bedanya dengan kamu naik taksi online kamu juga hanya berdua dengan drivernya kan?" ucap Alvin lagi melihat Haifa yang masih saja diam.


Haifa masih diam sambil menimbang nimbang. Hingga tidak sadar jika Alvin sudah tidak ada di sana.


Tin... Tin...


Suara klakson mobil membuat Haifa harus mengambil keputusan secepatnya.


"Waktu saya gak banyak." ucap Alvin dari dalam mobil.


Haifa dengan berat hati melangkahkan kakinya ke arah mobil Alvin kemudian membawa dirinya memasuki mobil tersebut dan duduk di kursi belakang.

__ADS_1


Alvin langsung mengemudikan mobilnya. Sesekali Alvin melihat Haifa melalui kaca di dalam mobilnya.


"Saya minta maaf." ucap Alvin.


"Untuk perlakuan saya yang semena mena waktu itu." sambung alvin saat pernyataannya tadi tidak ditanggapi Haifa.


"Itu hak bapak." ucap Haifa.


Hingga sampai di tempat tujuan tak ada lagi obrolan apapun dari mereka.


"Kostan kamu di sebelah mana?" tanya Alvin saat sudah sampai di sekitar kampus.


"Bapak cukup turunkan saya di parkiran kampus saja pak."


"Keperluan saya itu mengantarkan kamu bukan mengunjungi kampus."


"Tapi tadi bapak bilang kan..."


"Itu cuma alasan saya. Kalau saya gak bohong tentang alasan saya, emangnya kamu bakal mau saya antar?"


Haifa diam saja.


"Kenapa? Saya salah lagi?" tanya Alvin.


Haifa lagi lagi hanya diam.


"Jadi kostan kamu dimana?"


"Haifa." tegur Alvin karena Haifa yang diam saja.


"Eh iya? Itu kostan saya gak jauh lagi kok pak paling 100 meter lagi dari sini. Biar saya turun di sini saja." jawab Haifa.


Sebelum Haifa keluar Alvin lebih dulu memajukan mobilnya.


"Di sini?" tanya Alvin setelah sampai di depan sebuah gedung kostan."


"Iya." jawab Haifa sambil berpikir kok Alvin bisa tau pasti letak kostannya. Padahal petunjuk yang di berikan hanya jarak 100 meter dari kampus. Tapi ya sudahlah yang penting sekarang Haifa harus segera turun dari sini.


"Terimakasih banyak pak." ucap Haifa sambil beranjak turun dari mobil Alvin.


Alvin hanya mengangguk.


"Haifa tunggu." panggil Alvin setelah keluar dari mobil.


Haifa yang posisinya sudah akan membuka pintu gerbang kembali berbalik menghadap Alvin.


"Bisa saya bicara sebentar?"


"Ta...tapi di sini khusus putri tidak boleh ada laki laki yang masuk."


"Memang dari perkataan saya ada indikasi kalau saya ingin masuk?" tanya Alvin.


"Tapi tadi bapak bilang..."


"Saya hanya ingin berbicara 4 mata dengan kamu. Dengan cara yang benar."


Haifa diam.


"Bisa?" tanya Alvin lagi.


**To Be Continued...


See You Next Part**...

__ADS_1


__ADS_2