Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 62


__ADS_3

Happy Reading...


Setelah mengantar Aina ke sekolah. Alvin tidak pergi ke kantor. Melainkan ia pergi ke rumah orang tuanya.


"Assalamualaikum." ucap Alvin saat sampai di depan pintu rumah orangtuanya.


"Wa'alaikumsalam. Loh Vin tumben amat pagi-pagi udah kesini. Oh iya Haifa sama anak-anak mana kok sendiri?" tanya Vina.


"Bawel amat. Ibu ada?" tanya Alvin.


"Dih. Ditanya bener juga."


"Aku ada perlu sama ibu."


"Yaudah masuk." kata Vina.


"Ya awas. Badanmu menghalangi."


"Ish." geram Vina sambil menyingkir.


Alvin langsung berjalan ke ruang makan. Karena pagi-pagi biasanya ayah dan ibu masih berbincang di ruang makan.


"Assalamualaikum." kata Alvin.


"Wa'alaikumsalam. Loh Vin ada apa? Anak-anak sama Haifa mana?" tanya ayah.


"Haifa sama Aidan di rumah. Aina sekolah. Yah, Alvin mau bicara berdua sama ibu boleh?" tanya Alvin. Seketika ayah langsung menatap ibu.


"Yaudah bicaralah." kata Ayah sambil berdiri kemudian meninggalkan ruang makan.


Sepeninggalan Ayah, Alvin duduk dihadapan ibu, sambil melihat kanan kiri.


"Kamu mau bicara apa sama ibu?" tanya Ibu.


"Haifa bilang kemarin ibu ke rumah ya?"


"Oh itu, iya ibu kemarin ke rumah kalian. Nengok cucu." jawab ibu.


"Nengok cucu atau inspeksi mendadak ke Haifa?"


"Ya awalnya nengok cucu. Wajar dong kalau ibu pengen tahu. Biar ibu tahu juga anak ibu itu diurus dengan baik enggak."


"Bu, Alvin udah dewasa, Alvin udah berkeluarga. Ketika ibu terus terusan ikut campur dalam rumah tangga Alvin. Saat itu bisa jadi saat runtuhnya wibawa Alvin sebagai suami."


"Gimana kalau Haifa nyangka Alvin gak mampu berdiri sendiri dan selalu berlindung di bawah ibu."


"Gimana kalau sampai keluarga mertua Alvin tahu kalau ibu sering ikit campur dalam keluarga kami?"


"Gak ada harga diri Alvin bu. Padahal Alvin sendiri yang waktu itu datang meminta anak gadis mereka. Alvin yang berjanji bersedia mengambil alih tanggung jawab atas anak gadis mereka. Tapi kalau sampai mereka tahu kalau rumah tangga anaknya selalu dicampuri ibu, karena ingin memastikan Alvin diurus dengan baik, apa ibu gak malu. Ibu gak malu kalau nanti Alvin dianggap lelaki yang suka berlindung dibalik ibunya?"


"Gimana kalau mereka melakukan hal yang sama dengan ibu? Mereka juga bisa melakukan yang ibu lakukan kalau mereka ingin. Tapi apa? Keluarga mertua Alvin gak pernah sedikit pun ikut campur. Mereka percaya Alvin bisa menjaga anaknya dengan baik, mereka percaya kalau Alvin bisa bertanggung jawab atas anak mereka."


"Kamu kok jadi membandingkan ibu sama mertua kamu?"


"Sekarang begini, kalau Alvin yang ada diposisi Haifa. Alvin yang sering dinilai sama mertua Alvin. Alvin yang sering dikomentari sebagai suami Alvin itu kurang ini kurang itu. Apa ibu terima kalau Alvin diperlakukan begitu?"


"Ya enggaklah."


"Nah begitu juga orangtua Haifa. Kalau mereka tau, mereka gak terima. Dan lebih parahnya kalau sampai mereka meminta Alvin mengembalikan Haifa ke mereka. Gimana? Alvin gak akan pernah mau. Alvin gak akan pernah siap."


"Ya ibu juga gak mau kalau sampe begitu. Kasihan Aina, Aidan."


"Ya maka itu, Alvin minta tolong. Ibu jangan terlalu mencampuri urusan rumah tangga Alvin."


"Ibu tahu, setiap kali ibu datang ke rumah. Mengatur Haifa harus begini harus begitu. Ibu tahu gak saat itu kondisi Haifa sedang seperti apa?"


"Mana ibu tahu."


"Nah ibu gak tahu kan gimana kondisinya. Saat kondisinya sedang baik baik aja. Haifa bisa terima sangat bisa, malah dia bilang kata kata ibu itu motivasi. Tapi kondisinya gak selalu baik baik aja. Seperti kemarin, ibu gak tahu kan kondisinya? Dua hari lalu, Aidan abis imunisasi. Dia rewel semalaman, Alvin sama Haifa sama sama kurang tidur. Terus paginya ibu datang, ngomong segala macam ke Haifa. Ibu gak tahu kan? Haifa sedih. Alvin juga gak tega lihatnya."


"Maksud kamu apa yang ibu lakukan bikin kalian gak nyaman gitu? Kedatangan ibu juga bikin kalian keganggu gitu?"


"Bukan gitu bu. Ibu mau datang, setiap hari pun silahkan. Tapi tolong ibu jangan terlalu banyak berkomentar yang menyudutkan Haifa. Ibu jangan mengintervensi Haifa harus begini harus begitu. Alvin gak mau istri Alvin jadi tertekan dan gak nyaman. Karena dalam sebuah rumah tangga. Jika ada suatu hal yang salah atau yang kurang baik. Kesalahan itu bukan hanya ada pada satu orang. Tapi keduanya harus saling berintrospeksi. Biarkan kami membanggun rumah tangga kami sendiri bu. Karena terkadang yang baik dalam rumah tangga orang lain belum tentu baik jika diterapkan dalam rumah tangga lainnya."


"Alvin cuma minta tolong. Ibu jangan terlalu ikut campur rumah tangga Alvin. Kalau memang ada kesalahan dan perlu di nasihati. Nasihati kami sewajarnya tanpa menyudutkan atau membela siapapun. Tolong ya bu Alvin mohon. Alvin gak mau gagal dua kali." kata Alvin.

__ADS_1


Hening. Sesaat ibu dan Alvin tidak ada yang bersuara.


"Ibu begini, karena ibu sayang sama kamu. Ibu khawatir rumah tangga kamu bakal seperti dulu. Kamu gak terurus."


Alvin menatap ibunya.


"Jadi sejak waktu itu standard ibu untuk yang jadi istri kamu tinggi. Apalagi kamu sudah ada Aina. Ibu mau yang terbaik buat kalian."


"Mangkanya sejak kamu menikah ibu gak mau kecolongan lagi anak cucu ibu gak terurus. Mangkanya ibu rasa ibu harus pantau. Bukan karena ibu gak suka atau gak percaya sama Haifa."


"Iya Alvin tahu ibu hanya terlalu sayang sama Alvin dan Aina. Tapi Alvin minta, tolong pertebal lagi kepercayaan ibu buat kami. Alvin pernah gagal. Jadi tentunya Alvin juga udah pertimbangan semuanya sebelum Alvin memutuskan menikahi Haifa."


"Tolong ya bu, percaya sama kami. Percaya sama Alvin, kalau kali ini Alvin tidak akan membangun rumah dengan material yang sama."


Hening kembali.


"Bu..."


"Yaudah iya. Ibu coba."


"Alhamdulillah. Makasih ya ibu udah mau ngerti. Awalnya Alvin kira pembicaraan ini bakal alot dan menegangkan. Ternyata ibu mah memang ibu terbaik."


"Terserah kamu lah. Kamu mah emang gitu. Kalau maunya udah tercapai baru ibunya disayang sayang."


"Alvin mah emang sayang sama ibu."


"Terserah kamu. Udah sana pergi. Kesiangan kamu nanti ke kantornya."


"Kok ibu ngusir Alvin."


"Lihat jam tuh. Udah jam kerja. Sana pergi kerja yang benar yang tanggung jawab. Jangan malas jangan ceroboh."


"Ya Alvin mah suka suka lah. Kerja di kantor sendiri."


"Nih nih yang model gini yang rasanya pengen ibu ceramahin."


"Haha becanda bu. Yaudah kalau gitu Alvin pamit ya. Sekalian tolong pamitkan sama ayah juga ya. Assalamualaikum."


"Iya. Hati hati. Wa'alaikumsalam." jawab ibu.


***


"Emang kenapa? Ibu kesini lagi?"


"Enggak, ibu tadi nelpon. Katanya minta maaf. Mas ngomong apa sama ibu? Haifa jadi gak enak sama ibu."


"Ya tadi pagi, habis ngantar Aina sekolah mas ke rumah ibu. Mas bicara sama ibu. Alhamdulillah ibu bisa ngerti."


"Tapi Haifa..."


"Yang... udah deh. Semuanya udah clear. Ibu udah ngerti. Kamu gak usah gak enak dan merasa bersalah. Mas sama ibu juga baik baik aja."


"Mas cuma mau biar keluarga kita itu tenang. Bisa kita bangun sesuai dengan yang terbaik menurut kita. Mas tahu kamu juga gak nyaman sama perilaku ibu. Tapi kamu tetap coba terima dan tetap mencari sisi baik dari yang terjadi."


"Tapi kalau gak ada tindakan. Mau sampai kapan ibu terus ikut campur masalah kita? Gak mandiri mandiri dong kita kalau orang tua terus terusan ikut campur."


"Gak usah dipikirkan mas sama ibu baik baik aja. Serius deh."


"Yaudah deh."


"Papa, bunda..." panggil Aina yang sejak tadi terabaikan karena obrolan orang dewasa.


"Eh iya kenapa kak?" jawab mereka bersamaan.


"Ngoblol telus beldua. Kakak mau makan tahu lapal."


"Emang kenapa? Kasian deh gak diajak ngobrol." goda Alvin.


Aina menatap Alvin sambil cemberut.


"Kenapa? Ih kok cemberut, jelek deh kayak tikus."


"Papa Alvin nakal, papa Alvin jelek kayak..."


"Eh udah udah. Nih kakak makan ya." kata Haifa setelah menyendokan nasi untuk Aina.

__ADS_1


"Mau dituapi." katanya.


"Kok disuapi? Makan sendiri dong." kata Alvin.


"Bial aja. Bial papa ili gak dituapi bunda wle."


"Yaudah papa juga mau disuapi. Bun suapi bun."


"No no no. Ini bundana kakak."


"Biar aja."


"No bunda jangan tuapi papa. Papa kan udah betal."


"Kakak juga udah besar."


"Enggak kakak matih ketil."


"Udah besar."


"No. Matih ketil papa."


"Besar."


"Ketil ketil ketil."


"Besar."


"Ketil."


"Masih mau becanda?" tanya Haifa.


Aina dan Alvin sama sama memandang Haifa.


"Papa tih." kata Aina.


"Masih mau becanda?"


Aina dan Alvin sama sama menggeleng.


"Bunda heran deh kenapa sih begitu?"


"Ini makananya tinggal dimakan aja. Kenapa rebutan?"


"Papa tuh." "Kakak tuh." kata Alvin dan Aina bersamaan sambil saling menunjuk.


"Mau becanda lagi?"


"Nggak. Kakak mau makan dituapi bunda. Tapi papa jangan."


"Loh kok."


"Papa!" tegur Haifa.


"Yaudah iya makan."


"Kasian papa wle."


"Kakak!"


"Ehehe tolly papa. Kakak tayang papa kok selius deh. Tapi kalau papa gak nakal. Talanghaeyo papa." katanya.


"Anak sama papa sama aja emang usil." kata Haifa.


"Udah sekarang berdo'a terus makan." kata Haifa.


***


To be continued....


See you next part...


Maafkan typo yang tidak terkontrol ya...


Bila ada kritik atau saran boleh sampaikan saja melalui komentar atau grup chat ☺

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2