Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 81


__ADS_3

...Happy Reading......


Alvin langsung merebut handphone tersebut dari Haifa.


"Hallo kak. Kakak sayang, kakak dimana bilang sama papa? kakak sama siapa?" tanya Alvin.


Tapi tidak ada jawaban, kecuali tangisan Aina.


Sampai di seberang sana terdengar suara, "Sini Mama yang bilang sama Papa Aina."


Sekarang Alvin tahu dan sangat tahu siapa manusia yang telah membawa anaknya tanpa izin.


"Hallo Vin." sapa seseorang dari seberang sana.


"KAMU BAWA KEMANA AINA?" tanya Alvin. Aidan yang sedang digendong Alvin, terkejut dengan nada suara Alvin dan menangis kencang. Keanu yang melihat situasinya mulai kurang baik bagi Aidan, Ia berinisiati mengambil Aidan dan membawanya main keluar menghindari rumah Alvin.


Entah apa yang mantan istri suaminya katakan, yang Haifa lihat Alvin sudah sangat terbawa emosi. Yang makin membuat Alvin emosi adalah ketika mantan istrinya itu menutup sambungan teleponnya secara sepihak.


Alvin mencoba menghubungi lagi, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Haifa hanya bisa menenangkan dengan mengajak Alvin duduk dan mengusap lengan Alvin.


Sementara itu di tempat Aina berada juga, Novia dan suaminya sedang berselisih pendapat.


"Emang aku salah kalau aku yang jemput anak aku sendiri? Aku salah?" kata Novia.


"Kamu mau jemput anak kamu. Kamu gak salah. Yang salah itu kamu gak izin dulu sama Alvin, pantas aja kalau dia marah." kata Brian pada istrinya.


"Tapi kamu sendiri kasih izin aku buat jemput Aina."


"Aku kasih izin kamu buat jemput Aina, karena kamu bilang kamu udah dapat izin dari Alvin. Kalau aku tahu kamu bohong dan belum izin Alvin aku gak akan kasih izin kamu jemput Aina!"


"Iya aku salah. Salah aku semuanya!"


"Iya emang kamu salah. Coba kamu juga posisikan diri di posisi Alvin. Waktu kamu jemput anak, anak kamu gak ada di sekolahnya. Dan gak tahu siapa ya jemput. Kamu bakal gimana?"


Novia diam saja.


"Gak bisa jawabkan?"


"Tapi Aina juga anak aku!"


"Gak ada yang bilang Aina bukan anak kamu, Aina anak kamu, itu betul. Iya kamu ibu kandungnya. Mangkanya karena kamu ibu kandungnya masa kamu gak bisa ngerti perasaan anak kamu sendiri."


"Kamu lihatkan Aina nangis terus pengen sama Alvin tapi kamu malah terus cari alasan biar dia di sini. Aina aja yang masih kecil tahu kalau dia pergi belum izin sama papanya dan takut papanya cari mangkanya dia mau cepat pulang. Masa kamu yang udah dewasa gak bisa ngerti."


"Berbulan bulan aku gak ketemu Aina. Dan sekarang saat aku pulang ke Indonesia aja, aku pengen sama Aina. Masih salah juga aku?"


"Berapa kali dibilang sih, kamu mau sama Aina gak salah. ENGGAK SALAH. Yang salah itu cara kamu."


"Sekarang kamu siap siap mandiin Aina. Kita ke rumah Alvin sekarang. Minta maaf."


"Kalau kamu mau selama kita di Indonesia, Aina sama kita. Kita bicara baik-baik. Kita izin baik baik sama Alvin. Gak begini caranya. Kalau begini caranya yang ada nanti Alvin bisa hilang kepercayaan sama kamu. Dan nanti kamu dipersulit ketemu Aina mau?"


"Yaudah iya." kata Novia sambil menuju ke kamar tempat anak-anaknya bermain saat ini.

__ADS_1


"Kakak Aina, kita mandi dulu yuk." ajak Novia pada Aina yang masih saja menangis. Bahkan dari tadi ajakan Zevania adik perempuan Aina untuk bermain Aina abaikan. Bukan karena tidak suka. Tapi faktor jarang bertemu dan Aina yang sudah rewel ingin pulang jadi mood untuk bermain pun tidak ada.


"Jangan nangis dong kakak. Kita mandi dulu terus nanti kita ke rumah papa ya." kata Novia.


Setelah hampir setengah jam bersiap. Mereka saat ini sudah dalam perjalanan menuju ke rumah Alvin.


"Aina emang gak kangen mama ya? Kok maunya sama papa terus?" tanya Novia sambil memeluk Aina yang duduk di pangkuannya.


"Mam!" tegur Brian.


"Aina kangen kok sama Mama. Aina seneng mama pulang ketemu Aina." jawabnya pelan.


"Terus kenapa kok maunya sama papa terus?"


"Kalena kata papa sama bunda, setiap pulang sekolah kakak halus langsung pulang. Telus kalau mau main halus izin dulu sama papa sama bunda. Kata papa juga kakak gak boleh mau kalau yang jemput bukan papa atau bunda. Tapi tadi kakak lupa kalena kakak seneng ketemu mama, kakak juga seneng dijemput mama."


"Tapi telus kakak inget belum izin papa sama bunda. Nanti papa cali cali."


"Nanti kakak main lagi sama mama, sama daddy sama dede juga. Tapi kakak bilang papa dulu." katanya.


Novia tersenyum, Brian juga melirik ke arah Aina sambil tersenyum.


"Maafin mama ya." kata Novia sambil mencium kepala Aina.


Aina mengangguk.


"Nanti kakak nginep sama mama ya. Nanti mama buatin kakak sarapan. Kakak mau apa? Sereal? telur mata sapi? nasi goreng? sosis?"


"Kenapa?"


"Itu seleal abang. Kakak punya kok banyak seleal di lumah."


"Tapi kan sekarang abang gak ikut jadi gak apa apa dong." kata Brian.


"No dad. Seleal abang gak enak." kata Aina. Yang dibalas tawa oleh Novia dan Brian.


"Yaudah nanti mama masakin nasi goreng, telor ceplok sama sosis aja ya?" kata Novia. Aina mengangguk setuju.


*


"Mas udah dong jangan marah marah terus." kata Haifa.


"Gimana bisa Yang. Mereka seenaknya jemput Aina tanpa seizin mas. Iya emang mereka juga orang tuanya. Tapi kan bisa izin dulu biar kita gak kecarian begini. Kalau mereka gak sempet minta izin datang ke rumah ya paling enggak telepon. Kalau gak bisa telpon kan ada chat. Mereka punya nomor aku, punya nomor kamu. Kalau kayak begini aku merasa gak ada harganya di mata mereka. Enak aja tiba-tiba datang terus ngambil anak tanpa izin."


"Sabar sayang." kata Haifa sambil mengelus dada Alvin karena sejak tadi selalu saja emosi.


"Tarik nafas. Terus istigfar deh." kata Haifa.


"Astagfirullah." kata Alvin.


"Haifa buatin minum ya mau apa?"


"Gak usah. Gini aja." kata Alvin sambil merebahkan badannya di sofa dan kepalanya dibaringkan di kaki Haifa.

__ADS_1


"Sini sambil Haifa pijat biar gak tegang terus." kata Haifa sambil memijat kepala Alvin.


"Yang, kamu chat deh minta mereka ke rumah kita atau ajak ketemu dimana aja. Hari ini juga mas perlu ngobrol serius sama mereka." kata Alvin.


"Tapi janji gak boleh sampe ada perang urat syaraf ya."


"Gak janji."


"Kok gitu."


"Ya kalau mereka gak bisa diajak ngomong baik baik ya mau gimana, mas ladenin lah."


"Mas ih."


"Udah jangan debat. Pijat lagi sini." kata Alvin menunjuk kepalanya.


"Iya sebentar tadi katanya disuruh ngechat mbak Novia dulu."


"Eh mas mbak Novia langsung balas nih. Katanya mereka juga udah di jalan menuju kesini." kata Haifa.


"Hm. Ya bagus harusnya emang begitu. Yang salah yang nyamperin dan minta maaf."


"Mas!"


"Jangan ngajak debat Yang. Mas harus simpan energi takut nanti mereka ngajak debat. Kamu kasih tahu bang Ken aja biar ajak Aidan main yang lama kemana aja sekalian siapa tau dapat jodoh. Gak baik buat Aidan kalau dengar ribut-ribut."


"Iya tadi Mas malah ngebentak di depan Aidan."


"Iya kan repleks Yang gak sengaja." kata Alvin sambil bangun dari tidurnya.


"Emosi terus sih bawaannya hera..."


"Mas Alvin ih." kata Haifa sambil mendorong wajah Alvin dari depan wajahnya.


"Ngomel terus sih heran. Baguskan penutup omelannya?" kata Alvin sambil menaik turunkan alisnya.


***


To be continued...


See you next part...


Note :


1. Aina usia 4 tahun belum bisa ngucap huruf R? Iya belum. Tapi anak saya usia segitu udah cakap bicaranya, udah jelas udah bisa semua huruf. Tumbuh kembang anak itu tidak bisa disama rata kan. Tiap anak punya ciri khas sendiri sendiri dalam tumbuh kembangnya. Contoh kecil deh. Anak kelas 1 SD gak semua sama tinggi badannya kan? Nah anak usia 4 tahun juga gak semua sama kemampuannya.


2. Kalau ada yang berpikiran, Alvin kok semarah itu padahal Aina kan sama mamanya, gak mungkin juga kan mama macam macam sama anaknya. Mohon maaf nih Alvin mah udah emosi dari pas awal tau Aina gak ada di sekolah. Dan tambah emosi lagi ketika tahu anaknya diambil tanpa izin. Emosinya buka sama mamanya Ainanya sebenenya tapi caranya. Lagipula siapa sih yang suka kalau ada orang yang mengambil milik atau kesayangan kita tanpa izin? Kalau semua orang senang orang lain mengambil miliknya tanpa izin, mungkin di polisi gak akan ada laporan pencurian dan penculikan.


3. Aina kok kayak gak ngehargai mamanya, lagi sama mamanya malah nangis pengen ke papanya. Maaf nih Aina anaknya penurut, bukan anak bandel kayak author. Jadi kalau papanya bilang harus A B C dia pasti inget. Ya kan dari bayi udah berdua terus sama papanya kan.


4. Abangnya Aina kok gak ikut pulang? Sekolah dia gak bisa bolos lama lama. Mahal biaya sekolahnya.


Udah ya, Kalau ada pertanyaan lain tulis aja di komentar ya. Nanti aku jelaskan semampuku ☺🤗

__ADS_1


__ADS_2