
Happy Reading...
Waktu cepat berlalu. Saat ini sudah ada suara tangis bayi yang menyapa mereka. Seminggu yang lalu pukul 21.04 wib, Haifa telah melahirkan seorang bayi laki laki melalui persalinan normal. Arshaka Zaidan Firmansyah bayi laki-laki yang memiliki wajah kombinasi yang baik antara Alvin dan Haifa kini menjadi kebahagiaan tersendiri ditengah keluarga mereka.
Termasuk gadis kecil yang saat ini usianya mendekati 4 tahun itu tampak sangat antusias dengan kehadiran anggota baru di keluarga mereka. Sejak seminggu yang lalu gadis kecil itu tidak pernah mau dipisahkan dari adik bayinya itu. Bahkan untuk sekolah saja, Aina harus dibujuk sedemikian rupa agar mau pergi ke sekolah.
"Aina sayang. Kita mandi yuk, Aina kan harus sekolah." kata Haifa pada Aina yang masih malas malasan di atas tempat tidur di samping adik bayinya.
"Aina mau sama dede Aidan bunda."
"Dedenya gak akan kemana mana sayang. Nanti pulang sekolah juga bisa main sama dede."
"Aina sekolah ya, biar jadi pintar. Nanti kan jadinya Aina bisa ajari dede Aidan."
"Tapi Aina mau diantal bunda sama dede Aidan."
"Aina diantar papa ya, dedenya masih terlalu kecil buat dibawa ke luar rumah sayang." kata Alvin ikut serta membujuk Aina.
"Aina mau diantal bunda."
"Sama Papa ya." bujuk Alvin.
"Sama bunda."
"Masa udah jadi kakak masih manja sama bunda." ledek Alvin.
"Bialin ini kan bundana Aina." katanya sambil memeluk Haifa.
"Oke diantar bunda tapi sekarang Aina siap siap sekolah sama papa ya." kata Haifa.
Aina mengangguk. Dan Alvin segera membawa gadis kecil itu bersiap sebelum nanti berubah pikiran lagi.
Ya beginilah setiap pagi mereka harus membagi tugas. Agar semuanya cepat selesai sebelum si kecil bangun.
"Mas gak masalah berangkat ke kantor agak siangan nunggu Haifa pulang antar Aina?" kata Haifa sambil membantu Alvin menyiapkan keperluannya.
"Gak apa apa sayang. Aina lagi manja sama kamu. Nanti kalau gak diikuti dia malah cemburu dia." kata Alvin sambil melihat Aina yang sudah rapi berseragam tapi kembali tidur di atas kasur sambil memandangi Aidan yang masih tertidur.
"Yaudah kita sarapan dulu yuk." ajak Haifa.
"Aina sayang kita sarapan dulu yuk." kata Haifa pada Aina.
"Bunda..."
"Iya sayang?"
"Aina mau dipanggil kakak." katanya tiba tiba.
Alvin dan Haifa memang belum membicarakan serius panggilan untuk Aina setelah kelahiran Aidan.
"Kenapa kok mau dipanggil kakak?" tanya Alvin.
"Kan Aina kan sekalang udah punya dede." jawabnya.
"Yaudah sekarang Kakak sarapan dulu yuk." ajak Haifa.
"Gendong bunda." katanya.
Haifa menengok ke arah Alvin. Rasanya ia belum sanggup jika harus menggendong Aina dari lantai atas ke ruang makan. Untung saja Alvin cepat peka. Ia mendekat ke Aina.
"Yuk sama papa." kata Alvin.
***
Setelah Alvin dan Aina dengan rutinitasnya masing-masih sekarang hanya ada Haifa dan Aidan di rumah. Tapi setelah Haifa melahirkan mama setiap hari datang ke rumah untuk membantu Haifa. Semandiri apapun Haifa, merawat bayi adalah penhalaman pertama baginya walaupun tidak terlalu asing karena pernah ikut serta merawat dua nak kakaknya. Tapi Haifa tetap merasa butuh pendampingan. Setidaknya jika Haifa perlu ke kamar mandi ia tidak meninggalkan Aidan sendiri.
"Assalamualaikum..." ucap sang mama di depan pintu.
"Wa'alaikumsalam..." jawab Haifa kemudian membukakan pintu.
Haifa mencium tangan mamanya.
"Pak Surya (sopir+satpam) kemana dek? Kok gak ada di post nya?" tanya mama.
"Oh itu pak Surya lagi izin ma."
"Oh gitu. Oh iya nih mama bawa sayur katuk bagus buat kesuburan ASI."
__ADS_1
"Tapi ma, gak enak sayur katuk tuh. Gak suka Haifa."
"Iya mama tahu. Tapi ini bagus loh buat ASI. Kamu jangan cuma makan makanan yang kamu suka. Kamu juga harus sayang sama bayi kamu dek. Makanan harus yang bergizi seimbang." tegur mama.
"Yaudah iya nanti Haifa makan."
"Sekarang aja mumpung masih hangat. Sini Aidannya sama mama. Sudah di mandikan kan?" tanya Mama.
Haifa mengangguk.
"Gausah ngambek malu. Anak udah dua masih suka ngambek sama mamanya." kata mama sambil mengambil alih Aidan.
"Udah sana makan, nanti dingin gak enak lagi."
Haifa patuh ia membiarkan mamanya membawa Aidan ke ruang keluarga. Sementara Haifa pergi ruang makan untuk membuka makanan yang dibawa oleh mamanya.
Haifa makan di ruang keluarga.
"Gimana seminggu ini ASI nya lancar?" tanya sang mama.
"Dua hari pertama sih pas di rumah sakit masih sedikit sedikit ma. Tapi susternya kasih tau cara breast care dan pijat oksitosin katanya bagus buat kelancaran ASI. Alhamdulillah sering di praktekan sama mas Alvin jadi sekarang udah lancar." jawab Haifa.
"Ya bagus kalau gitu. Kalau emang asinya banyak. Biar gak mubazir mending kamu stok deh dek. Beli botol kaca kecil gitu buat stok asi. Terus dikasih tanggal simpan dikulkas. Buat jaga jaga." kata mama.
"Iya kemarin juga udah sempet bahas sama mas Alvin. Tapi kayaknya lihat dulu beberapa hari ke depan kalau emang banyak dan berlebih baru stok."
"Dia kuat banget loh ma nyusunya." kata Haifa.
"Ya emang begitu anak laki laki. Dulu juga abang kamu begitu. Untung mama kuat kasih asi dua bayi waktu itu. Mangkanya mama sering bawa sayur katuk buat kamu karena emang bagus buat asi."
"Kemarin juga mas Alvin beli vitamin buat asi."
"Tapi sebaik baiknya itu yang alami dek. Kalau yang alami kan gak banyak campurannya. Kalau yang bentuknya gitu kan takutnya udah ada campuran bahan kimianya. Ya walaupun udah seleksi bpom dan bahan kimia yang dipakai juga aman. Tapi tetap aja buat bayi yang alami kayaknya lebih baik." kata Mama.
Haifa mengangguk, ia menghargai argumen dari sang mama. Karena bagaimana juga mama lebih berpengalaman dengan kempat anaknya. Walaupun kadang masukan yang mama berikan sudah kurang sesuai jika diterapkan dimasa kini.
***
Pukul 12.30 Alvin pulang bersama Aina.
"Wa'alaikumsalam. Eh cucunya umi udah pulang." kata Mama.
"Iya umi. Yah dedenya bobo." kata Aina saat melihat sang adik tertidur.
"Iya kan dedenya masih bayi sayang. Jadi bobo terus." jawab mama.
"Aina ganti baju dulu yuk sama bunda terus makan. Siapa tau nanti dedenya bangun." kata Haifa.
"Ma Haifa ke atas dulu ya."
"Ma Alvin jua pamit shalat dulu ya. Mama udah shalat?"
"Iya sana kamu shalat dulu. Mama udah tadi."
Setelah membantu Aina mengganti baju. Haifa menyiapkan makan siang untuk Aina.
"Aina mau makan sama umi sama dede di sana." katanya menunjuk ke arah ruang keluarga.
"Yaudah Aina bawa sendiri ya. Bunda temani papa di sini."
Aina mengangguk sambil membawa makananya ke ruang keluarga. Sementara Haifa menemani Alvin makan siang sebelum kembali ke kantor.
"Sayang Mama udah makan?"
"Udah mas."
"Kamu udah makan?"
"Udah juga tadi mama bawa sayur katuk."
"Tumben mau."
"Iya gimana kalau gak dimakan mama bilang gak sayang anak."
"Nurut ua kalau sama mama."
"Emang Haifa suka ngelawan mas?"
__ADS_1
"Adu argumen dulu baru nurut." jawab Alvin.
Haifa memandang Alvin kesal.
"Kamu istirahat ya. Jangan capek capek, jangan stress. Katanya kalau kamu kecapean dan stress pengaruh banget buat asi."
"Iya mas. Udah sekarang makan nanti ke kantornya telat."
Alvin mulai makan dengan lahap.
"Enak?"
"Emang kapan kamu masak gak enak?"
"Ah mas mah cuma menyenangkan hati Haifa aja. Pas Haifa belajar masak rendang aja bilangnya enak. Padahal kepedesan."
"Haha ya maaf sayang. Waktu itu kamu pas awal hamil. Dengar mas nafas aja kayaknya langsung kesel. Gimana kalau mas bilang masakannya kurang ini itu."
"Tapi sisanya sih apapun yang kamu masak selalu enak dan cocok sama mas. Buktinya selama nikah, kalau gak sering olahraga mungkin mas udah buncit. Selama kamu ngidam aja padahal kamu yang ngidam tapi mas yang gemuk. Heran."
"Maaf ya Haifa banyak menyusahkan mas selama hamil."
"Gak ada apa apanya dibanding perjuangan kamu saat melahirkan."
"Sayang tapi kamu jangan kapok ya. Soalnya mas masih punya cita cita punya anak lagi." kaya Alvin.
"Mas Alvin ih. Aidan aja masih seminggu."
"Jadi mau nunggu Aidan usia berapa setahun?" tanya Alvin.
"Udah ah mas Alvin cepet abiskan makannya."
"Yaudah. Nanti kalau udah selesai makan kita program lagi anak ketiga ya." kata Alvin sambil menaik turunkan alisnya.
"Bodo ah. Udah cepet habiskan makannya atau Haifa tinggal nih." jawab Haifa. Haifa tidak ambil pusing karena ia tahu Alvin hanya bercanda.
Alvin sudah bersiap untuk kembali ke kantor.
"Ma Alvin pamit ke kantor lagi ya." pamit Alvin kemudian mencium tangan sang mama mertua.
"Iya. Hati hati Vin."
"Iya ma. Assalamualaikum."
Haifa mengantar Alvin hingga ke teras.
"Mas berangkat lagi ya." kata Alvin.
"Hati-hati gak pulang telat kan?"
"Enggak Insya Allah. Yaudah mas berangkat ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." jawab Haifa setelag mencium tangan Alvin.
Haifa kembali ke ruang keluarga bersama yang lain.
"Loh dedenya bangun ya." kata Haifa saat melihat Aidan terbangun dan sedang diciumi dan dimainkan tangannya oleh Aina.
"Dedenya mau main ya sama kakak Aina?" kata Haifa sambil ikut bergabung dan mengelus kepala Aina.
"Senang banget dia main sama Aidan." kata mama bergantian mengusap kepala Aina.
"Hm biasanya main sendiri."
"Mereka masih kecil kecil dek. Apalagi Aidan masih bayi jadi masih adem adem. Beberapa tahun kedepan baru deh mulai rame. Ingat ya, pesan mama dari sebelum menikah. Anak kamu dua sekarang Aina dan Aidan." kata mama.
Haifa mengangguk sambil memandang anak anaknya.
***
***To be continued...
See you next part...
Maafkan ya kalau next part kali ini lama. Karena kemarin kemarin ku fokus dulu buat ujian skripsi hehe.
Terimakasih ♥***
__ADS_1