Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 88


__ADS_3

Happy Reading...


Sampai pagi ini belum ada sapa menyapa antara Alvin dan Haifa. Sebetulnya semalam Haifa sudah mau minta maaf. Tapi semalam Alvin banyak menghabiskan waktunya di ruang kerja. Haifa juga tidak tahu pukul berapa Alvin masuk kamar.


"Mau sama apa?" tanya Haifa yang hendak menyendokan nasi untuk Alvin. Alvin hanya menunjuk tanpa berbicara.


Acara sarapan berlangsung tanpa suara. Aina menoleh ke arah sang bunda yang ada di sampingnya kemudian ke arah sang papa yang ada di depannya.


"Kenapa?" tanya Alvin ketika sadar Aina sedang melihatnya. Aina menggeleng.


"Udah abis," ucap Aina sambil meletakkan sendok dan garpu diatas piringnya yang sudah kosong.


"Kakak mau ke kamal," katanya.


"Mau apa?" tanya Haifa.


"Mau ambil tas kakak bunda," jawabnya.


"Ayo bunda antar," kata Haifa.


"Jangan," tolak Aina.


"Kenapa?"


"Nanti papa nangis ditinggal makan sendili," katanya sambil turun dari kursi dan berlari ke kamar.


"Mas," panggil Haifa ketika sudah tidak ada Aina. Alvin diam saja.


"Haifa minta maaf," kata Haifa. Alvin masih diam.


"Mas atuh ih, jangan diam aja," kata Haifa. Belum ada jawaban juga.


"Mas, atuh kan Haifa teh minta maaf," kata Haifa lagi. Alvin belum mau berbicara.


"Mas," panggil Haifa sambil menghampiri dan duduk di sebelah Alvin.


"Kakak...." panggil Alvin.


"Mas atuhlah, katanya jangan lebih dari tiga hari dosa. Kamu malah nambah-nambahin." rengek Haifa.


"Kak, udah belum ayo berangkat." kata Alvin sedikit berteriak agar dapat didengar oleh Aina.


"Mas daritadi ada yang deket ngajak ngomong, malah teriak teriak ngajak ngomong yang jauh." omel Haifa.


"Mas."


"Mas Alvin."


"Mas, Haifa minta maaf."


"Mas ih. Udah atuh mas jangan diam aja."


"Mas Alvin ih ngomong," rengek Haifa.


"Mas Alviiiiinnnn. Iiiih," kata Haifa sambil mencubit lengan Alvin dengan cukup kencang. Sampai Alvin menengok ke arah Haifa dan melepaskan tangan Haifa dari lengannya.


"Sakitkan? Mangkanya jangan diam aja. Mas."


Usaha Haifa sepertinya belum berhasil juga, karena Alvin masih saja diam.


"Yaudahlah terserah kalau belum mau maafin," kata Haifa sambil beranjak dari ruang makan.


"Baru dibalas diam sehari juga gak enak kan?" tanya Alvin yang pasti tidak bisa didengar oleh Haifa karena sudah menjauh.


"Kakak lagi apa? Udah siap belum? Yuk turun papa udah nunggu tuh," kata Haifa pada Aina yang masih berada di kamar.


"Kakak lagi masukan buku bunda."


"Loh kan semalam udah bunda bantu bereskan."


"Hehe tadi kakak kelualin lagi," jawabnya sambil tersenyum.


"Mm ada ada aja. Yaudah ayo bunda bantu," Aina mengangguk.


"Telimakasih bunda," kata Aina setelah buku-buku dan barang bawaannya sudah masuk semua ke dalam tas.


"Sama-sama sayang. Yaudah yuk sekarang kita turun," kata Haifa.


"Oke bunda."


Haifa dan Aina turun bersama.


"Ayo papa belangkat," kata Aina menghampiri Alvin.


"Abis apa sih kak. Lama loh papa nunggu."


"Hehe maaf papa."


"Yaudah ayo berangkat."


"Eh eh. Tunggu dulu," kata Haifa.


"Sebentar," kata Haifa sambil berjalan ke arah dapur.

__ADS_1


"Ini bekal kakak."


"Yaudah yuk," kata Haifa menggandeng Aina keluar rumah menyusul Alvin yang sudah jalan lebih dahulu.


"Kakak baik-baik ya sekolahnya, yang pintar. Nurut sama ibu guru oke," nasihat Haifa sambil berjongkok di depan Aina.


"Oke bunda. Salim," kata Aina sambil mengulurkan tangannya kepada Haifa.


"Papa salim," kata Aina pada Alvin. Alvin menyodorkan tangannya ke depan Aina.


"Bukan sama kakak papa, sama bunda," katanya. Haifa tersenyum lalu lebih dulu mengambil tangan Alvin dan menciumnya. Kemudian tidak disangka Haifa sedikit berjinjit dan mencium pipi Alvin, "Maaf. Jangan marah ya," kata Haifa berbisik di telinga Alvin.


"Kakak kenapa merem?" tanya Haifa saat melihat Aina memejamkan mata.


"Kata om Ken, kalau papa cium cium bunda atau bunda cium cium papa. Kakak halus melem."


Haifa jadi salah tingkah. Sedangkan Alvin langsung menggendong Aina dan membawanya ke mobil.


"Papa kakak boleh buka mata?" tanya Aina setelah Alvin dudukan di mobil. Alvin tersenyum dan mencubit pipi Aina pelan, "Papa kan gak minta kakak tutup mata."


"Tapi kata om Ken, kalau kakak gak tutup mata nanti papa sama bundanya malu-malu."


"Haha udah buka aja sayang," kata Alvin sambil mulai melajukan mobilnya.


"Eh anak shaleh nya bunda udah bangun," kata Haifa saat masuk kamar dan melihat Aidan sudah duduk di tempat tidur sambil merangkak mencari jalan keluar karena seluruh tempat tidur terhalang bedtrail.


"Papapap," celotehnya.


"Papa udah berangkat sayang."


"Pinter ya, anak bunda bangun tidur gak pake nangis."


"Kita mandi dulu yuk."


"Assalamu'alaikum," ucap Keanu saat memasuki rumah Haifa.


"Sepi banget."


"Dek... Haifa..." panggil Keanu sambil berjalan menuju lantai 2.


"Dek..."


"Di kamar kali ya. Tunggu di bawah ajalah sambil nonton," kata Keanu dan berjalan kembali ke bawah.


"Emmm anak bunda udah wangi, udah ganteng banget nih sekarang," kata Haifa menuruni tangga dan mengendusi Aidan. Yang diendus hanya bisa tertawa sambil terus berceloteh semampunya.


"Loh ada Abang?"


"Daritadi, Abang ke atas manggil-manggil gak ada yang jawab."


"Rumah sepi amat dek."


"Biasanya juga gini kalau udah pada berangkat. Bude juga tadi izin gak masuk karena ada keperluan katanya."


"Oh sekarang bude kesini tiap hari?"


"Iya."


"Iya bagus deh biar kamu ada yang bantu."


"Abang titip Aidan dulu ya, Haifa mau buat makannya Aidan dulu."


"Okay."


"Jadi ada apa Abang kesini?" tanya Haifa sambil menyuapi Aidan.


"Kamu lagi berantem ya sama Alvin?"


"Enggak."


"Kemarin Abang lihat Alvin di Bandara sama perempuan."


"HAH siapa?"


"Nah kan bener lagi berantem. Kalau gak berantem masa iya Alvin gak cerita."


"Mas Alvin sama siapa?" tanya Haifa.


"Adeknya Hahaha."


"Abang mah. Serius."


"Iya serius, Abang lihat Alvin di Bandara sama adeknya terus sama Adam juga."


"Kenapa sih bicaranya pake dipotong-potong," omel Haifa.


"Ya suka suka Abanglah."


"Ish nyebelin banget sih punya Abang satu."


"Hahahahaha"


"Aidan besar nanti jangan kayak om ya," kata Haifa sambil menyuapi Aidan.

__ADS_1


"Dek, Abang mau cerita."


"Apa?"


"Gimana ya?"


"Apa sih bang lama deh."


"Sabar dong. Bu ibu emang gak sabaran banget ya."


Haifa dan Keanu sama sama diam.


"Mau cerita gak nih? Aidan udah selesai makan. Kalau Abang mau cerita, Haifa dengerin. Kalau enggak Haifa mau cuci piring, titip Aidan."


"Iya, iya mau. Janga diketawain ya."


"Tergantung."


"Serius dek."


"Iya iya."


"Abang kayaknya lagi suka sama anak orang deh dek."


"HAH? Hahaha," reaksi Haifa terkejut dan spontan tertawa.


"Dibilang jangan ketawa!"


"Haha iya maaf. Abis Abang gak biasa banget cerita tentang perempuan sama Haifa."


"Jadi gimana?" tanya Haifa.


"Gak usah ketawa lagi. Kalau ketawa lagi malas Abang cerita."


"Iya Abang."


"Jadi dia punya pacar?" tanya Haifa.


"Kata teman-temannya sih begitu."


"Terus kenapa malah mau Abang ajak kenalan serius?"


"Karena kata teman Abang yang kebetulan sepupunya, pacarnya itu seperti belum mau serius. Tapi dari keluarganya udah pengen dia menikah. Jadi kata teman Abang kalau Abang datang langsung ke keluarga dan bilang mau serius, kayaknya bakal gampang direstui nya. Menurut Adek gimana?"


"Hmm gimana ya Bang? Dia belum putus sama pacarnya?"


"Abang gak tahu."


"Kalau menurut Haifa, jangan deh Bang."


Keanu menoleh ke arah Haifa.


"Gini, dia posisinya punya pacar. Kalau tiba-tiba Abang datang ke keluarganya dan bilang mau kenalan serius sama dia, nanti di mata orang lain yang gak tahu ceritanya, posisi Abang salah. Abang berarti nikung kalau istilah sekarang ini. Mending kalau si perempuannya mau. Kalau si perempuannya lebih milih bertahan sama pacarnya dan nunggu sampai pacarnya siap buat seriusin dia gimana?"


"Abang juga mikir itu. Tapi teman Abang ini terus-terusan ngepush Abang biar cepat ke keluarga dia."


"Teman Abang kayaknya gak mikir resikonya. Tahunya kalau Abang datang kesana, bilang mau serius direstui, udah ponakannya punya calon suami. Sedangkan Abang, meskipun niat Abang baik. Tapi dimata sepasang manusia yang jatuh cinta itu Abang salah."


"Abang juga gak mau mau banget sama dia."


"Nah bagus. Gak usah lah Bang ngejar orang yang lagi saling jatuh cinta. Mending Abang bangun cinta aja sama orang yang benar-benar bisa Abang ajak buat bangun cinta."


"Pun kalau emang jodoh Abang dia, gak akan kemana. Tapi kalau buat sekarang Abang mau sama dia, jangan. Walau keluarganya setuju, karena yang nantinya bakal 24 jam sama Abang itu dia nya buka keluarganya."


"Betul betul. Ah pintar juga ya Adek Abang kalau bahas cinta-cintaan."


"Oh iya jelas haha."


"Semenjak kamu menikah, Abang itu berasa tinggal sendirian tahu gak."


"Hmm maksudnya?"


"Iya, dari masanya sekolah dulu kan Abang selalu diintilin sama kamu, sama Hilya. Bahkan waktu SMA dan kuliah orang ngiranya Abang pacaran sama Hilya. Tapi Abang senang ketika kalian terus ngintilin Abang. Selalu nanya, Abang mau kemana, Abang ikut. Abang senang, Abang berasa dibutuhkan gitu sama kalian. Abang juga merasa lebih tenang kalau kalian di dekat Abang. Tapi berjalanny waktu, Hilya menikah, Kamu menikah. Sekarang gak ada lagi yang suka bawelin Abang selain Mama."


"Mangkanya Abang pikir kayaknya Abang harus segera cari istri deh biar ada yang bawelin Abang lagi selain Mama."


"Abang senanh ya, dibawelin? Mas Alvin mah malah suka kesal kalau Haifa udah kelewat bawel."


"Ya gimana ya. Abang udah kebiasa hidup sama empat perempuan yang keempatnya senang banget bawelin Abang. Tapi kebawelan kalian itu karena kalian peduli sama Abang. Dan sekarang benar-benar terasa kalau tanpa kebawelan kalian itu Abang nothing."


"Lebayyy."


"Hahaha iya tapi serius loh dek. Ada kalanya Abang itu kangen masa masa kecil kita yang selalu bareng-bareng."


Haifa mendekat ke arah Keanu.


"Haifa juga gitu. Tapi sampai kapan juga, walaupun Haifa udah menikah dan nanti Abang juga menikah, Haifa tetap adeknya Abang dan Abang tetap Abangnya aku udah fix gak bisa diganggu gugat."


"Hahaha valid no debat."


...----------------...


To be continued...

__ADS_1


See you next part...


__ADS_2