Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 50


__ADS_3

Happy Reading...


Rencananya seharian ini Alvin ingin berada di rumah. Tapi sayangnya rencana liburnya terhambat karena stafnya tiba tiba memberikan kabar yang kurang menyenangkan yang memaksa Alvin untuk pergi ke kantor saat itu juga.


Dengan terburu buru Alvin berpamitan untuk ke kantor.


"Sayang mas ke kantor ya." pamit Alvin.


"Hati hati." kata Haifa setelah mencium tangan Alvin.


Pukul 20.00 Alvin baru sampai di rumah.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Haifa mengulurkan tangannya untuk salim. Tapi Alvin malah langsung memeluk Haifa. Setahun hidup bersama Alvin Haifa tahu jika sudah begini pasti suaminya ini sedang stres.


"Biar begini dulu ya. Jangan marah marah dulu."


"Otak mas lagi gak bisa buat mikir kata kata yang manis buat minta maaf." kata Alvin sambil terus memeluk Haifa.


"Iya tapi jangan di pintu." kata Haifa.


Alvin berjalan ke arah ruang keluarga. Sedangkan Haifa berjalan ke dapur.


"Minum dulu." kata Haifa.


"Terimakasih."


"Duduk sini." kata Alvin sambil menepuk tempat di sampingnya. Haifa menurut, ia duduk di samping Alvin. Haifa rasa bukan saat yang tepat untuk terus mendiamkan Alvin. Alvin bersandar di sandaran kursi sambil memejamkan matanya.


"Maaf ya hari ini gak jadi libur." kata Alvin.


Haifa hanya diam. Bukan ia marah, melainkan Haifa memberikan ruang untuk Alvin.


"Di kantor ada masalah Yang." keluh Alvin.


"Ada korupsi besar besaran di kantor. Sebetulnya dari sebulan terakhir ini sudah tercium. Tapi belum cukup bukti buat bertindak lebih jauh. Tapi tadi staf mas udah dapat beberapa bukti baru yang kuat. Tadi juga kita tahu siapa saja yang terlibat." ucapan Alvin terjeda. Ia menarik nafas panjang.


"Sini." kata Haifa sambil menepuk nepuk kakinya. Alvin melirik Haifa kemudian membaringkan tubuhnya dengan kepala di pangkuan Haifa.


"Gak nyangka ternyata Abrar juga terlibat. Padahal mas udah percaya banget sama dia kinerjanya juga bagus. Mangkanya mas dua tahun ini berani mengangkat dia buat jadi sekretaris mas. Tapi ternyata dia berkhianat."


Haifa tidak memberikan tanggapan apapun. Ia mengerti jika saat ini Alvin hanya butuh didengarkan. Tangan Haifa tergerak untuk memijat kepala Alvin. Seulas senyum tercetak di wajah lelah Alvin.


"Apa mungkin ini teguran ya biar kedepannya perusahaan lebih banyak sedekah? Padahal sekarang juga setiap bulannya perusahaan selalu menyisihkan pendapatan untuk yang membutuhkan." kata Alvin.


Beberapa menit kemudian tidak ada lagi suara Alvin yang bercerita. Hanya terdengar suara nafasnya yang tenang. Rupanya pijitan Haifa di kepalanya berhasil menenangkan. Dibiarkannya saja dengan posisi seperti ini terlebih dahulu. Hampir satu jam dengan posisi seperti itu, bahkan Haifa sampai ikut mengantuk juga.


"Mas." panggil Haifa sambil mengusap kepala Alvin.


"Hm." jawab Alvin.


"Pindah ke kamar yuk. Mas juga belum bersih bersih." kata Haifa. Alvin yang sudah sadar sepenuhnya langsung duduk.


"Mas ketiduran ya?" tanya Alvin.


Haifa hanya mengangguk.


Benar memang dibalik sebuah peristiwa, selaku ada hikmahnya. Terasa oleh Alvin saat ini, perusahaannya sedang menurun dan tertimpa masalah. Tetapi hubungannya dengan Haifa membaik. Bahkan saat ini Haifa sangat menguatkan Alvin ketika ia harus bolak balik kantor polisi untuk dimintai keterangan.


Seiring waktu berjalan sudah berminggu minggu Alvin harus berurusan dengan polisi. Bahkan beberapa waktu lalu keluarga Abrar sempat datang ke rumah memohon mohon agar Alvin mau memafkan dan tidak memperpanjang kasusnya secara hukum. Dengan jelas Alvin mengatakan ia sudah memaafkan. Tapi untuk proses hukum akan terus berjalan. Jika semua kesalahan dapat berakhir dengan kata maaf maka tidak akan ada efek jera. Bukan Alvin dendam, hanya saja kesalahan yang mereka lakukan menyangkut perusahaan yang puluhan tahun dirintis oleh keluarganya dan menanggung ribuan karyawan. Rasanya wajar jika menghukum beberapa orang bersalah untuk menyelamatkan ribuan orang yang tidak bersalah.


***


Berkah bagi Alvin, besok sudah memasuki tanggal satu ramadhan. Alhamdulillah permasalahannya sudah selesai dan berakhir sebagaimana mestinya. Dan berkah pula bagi Alvin karena ini kedua kalinya mereka menjalankan ibadah puasa bersama sama. Tapi kali ini lain, Alvin hanya akan berpuasa sendirian karena Haifa masih dalam masa nifas.


Saat ini jam dinding yang ada di kamar mereka sudah menunjukan pukul 22.30 putra putrinya sudah tidur. Aina di kamarnya sendiri sedangkan Aidan di box bayi.


"Lagi apa sih?" kata Haifa merasa risih karena kepala Alvin yang sejak tadi tidur di pangkuannya tak bisa diam.


"Mas diam dong kepalanya."


"Lagi apa sih,  serius banget?" tanya Alvin.


"Lagi balas Chat." jawab Haifa.


"Chat? Dari siapa?" kata Alvin.


Haifa tidak menjawab.


"Sayang." kata Alvin langsung duduk dan menengok ke hp Haifa.


"Oh dari teman teman." kata Alvin.


"Pasti udah negatif kan pikirannya?" kata Haifa sambil menyudahi kegiatan dengan handphonenya serta meletakannya di atas meja di samping tempat tidurnya.


"Udah ah tidur." kata Haifa lalu membaringkan tubuhnya.


"Oh iya mas besok mau sahur sama apa?" tanya Haifa.


Alvin menyusul membaringkan tubuhnya kemudian memeluk Haifa.


"Adanya apa?"


"Banyak, kulkas masih penuh kan baru tadi belanja bulanan." jawab Haifa.


"Kamu puasa sayang?" kata Alvin sambil menciumi rambut Haifa.


"Iya puasa. Boleh kan?"


"Kata dokter gimana? Boleh?"


"Udah konsul sih. Kata dokter coba aja dulu beberapa hari kalau gak ada masalah sama produksi ASI, ya gak masalah lanjut puasa."


"Tapi ada stok ASI kan?"


"Ada itu satu frizer penuh sama ASIP nya Aidan.  Tapi kalau ada Haifa dia gak mau minum pake botol."

__ADS_1


"Tau aja ya dia yang lebih enak."


"Hm gimana mas?"


"Enggak. Udah yuk tidur nanti Aidan keburu bangun minta ASI." kata Alvin lalu mencium kening Haifa dan mengeratkan pelukannya.


Pukul 01.30 seperti sudah terjadwal setiap jam 01 atau jam 01.30 Aidan akan bangun untuk meminta jatah ASI nya. Satu jam sudah Haifa menyusui Aidan, bayi montok itu tampaknya sudah kenyang karena sudah melepaskan sumber asupannya. Tapi matanya belum mau terpejam lagi.


"Sini Aidan sama papa." kata Alvin. Alvin memang selalu ikut bangun setiap kali Haifa bangun untuk menyusui Aidan.  Alvin belajar banyak dari pertengkaran waktu itu.


Setelah Aidan aman bersama Alvin, barulah Haifa pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan sahur.


Sayur bayam dan cumi goreng tepung menjadi menu sahur pagi ini. Sengaja Haifa tidak membuat banyak menu. Bukan ia malas memasak. Hanya saja ketika memasak banyak pilihan menu putri mereka, iya Aina akan memilih milih makanan. Alvin dan Haifa sama sama ingin membiasakan Aina untuk tidak memilih makanan dan mau memakan apapun yang sudah tersedia. Karwena bagi mereka dengan seperti itu mereka sekalian mengajarkan Aina mengenai hal mensyukuri apa yang ada.


Alvin dan Aidan sudah berada di meja makan sedangkan Haifa sedang membangunkan Aina. Aina yang usianya kini sudah 4 tahun itu sudah diajarkan untuk ikut berpuasa. Tahun kedua Aina belajar berpuasa. Pencapaian Aina tahun lalu berhasil menahan lapar dan haus hingga pukul 10 pagi setelah itu ia akan makan, minun susu dan kembali melanjutkan berpuasa begitu katanya.


"Kakak bangun yuk." kata Haifa sambil mengusap rambut Aina. Tidak ada pergerakan.


"Kakak sayang bagun yuk." kali ini Haifa sambil menyibak selimut dari tubuh Aina dan mengambil boneka yang sedang dipeluk oleh putrinya.


Cukup berhasil pergerakan kecil tangannya mencari cari.


"Sayang bangun yuk. Kita sahur dulu."  kata Haifa.


Aina mulai mengedipkan matanya. Perlahan Aina mulai membuka mata.


"Berdo'a dulu." kata Haifa.


"Dede sama papa udah di meja makan loh udah siap mau sahur. Masa kakak ketinggalan." kata Haifa.


"Gendong." katanya sambil merentangkan tangan.


"Boleh. Tapi kakak cuci muka dulu yuk." kata Haifa.


Tidak susah memang karena sebelum tidur Aina dan beberapa hari sebelumnya Aina sudah banyak bertanya dan sudah banyak diberikan penjelasan mengenai puasa.


"Assalamualaikum kakak." kata Alvin saat Aina baru bergabung di meja makan.


"Alaikum salam." jawabnya.


Haifa mulai menyendokan makanan untuk Alvin.


"Jangan banyak banyak nasinya bun." kata Alvin.


"Nih papa."


"Bunda kakak mau susu." katanya.


"Boleh tapi nanti. Sekarang kakak makan dulu." kata Haifa.


"Kakak mau telul mata sapi."


"Bunda gak buat telur mata sapi sayang." kata Alvin.


"Kakak makan yang ada aja ya."


"Kakak kalau main sama teman teman. Terus kakak di diamkan gak di ajak main sedih gak?" tanya Haifa. Aina mengangguk.


"Nah makan juga begitu. Inikan udah ada tapi kakak gak makan nanti mereka juga sedih." kata Haifa.


"Nanti Allah malah?" tanya Aina.


"Iya. Nanti Allah gak kasih kita makanan lagi. Kalau gak bisa makan nanti kakak lapar mau?"


Aina menggeleng.


"Yaudah sekarang kakak makan yang ada ya?"


"Semalam kan kakak yang minta makan sahurnya sama cumi goreng tepung." kata Alvin.


Aina mengangguk.


"Pintar. Nih bunda ambilkan."


Setelah sahur bersama, Alvin pergi ke masjid. Sambil menunggu subuh Haifa sedang mengajari Aina mengaji dan mengetes hafalan Aina sedangkan Aidan menjadi pendengar setia.


"Ngantuk bunda." keluhnya sambil menguap.


"Iya nanti sesudah shalat subuh bobo lagi ya."


Pukul 07.30 anak anaknya masih tidur.  Sementara itu Alvin sedang membereskan gudang, menyortir barang yang masih diperlukan dan yang sudah tidak diperlukan. Katanya sih mumpung libur dan anak anaknya tidur jadi Alvin punya banyak waktu untuk beberes.


"Bundaaaaa..." panggil Aina sambil menuruni tangga.


Tidak ada yang menjawab sebab Alvin dan Haifa sama sama berada di belakang.


"Papaaaaa..."


"Bundaaaa... "


"Papaaaaa..."


"Bundaaaa..." panggilnya dengan suara yang mulai bergetar.


"Papaaa... Bundaaaa... Huaaaa." panggilnya sambil menangis.


Haifa yang samar samar mendengar suara tangisan, bergegas menghampiri. Haifa melihat Aina sedang duduk di ruang keluarga sambil menangis.


"Loh. Kakak kok nangis?"


Aina langsung memeluk Haifa.


"Bunda sama papa nakal, kakak ditinggal."


"Kakak kan bobo."


"Kakak panggil panggil bundaaa papaaa gitu tapi gak jawab. Kakak liat di kamal bunda gak ada kakak cali cali bunda gak ada."


"Bunda sama papa gak kemana mana. Papa lagi di belakang beres beres mainan kakak di gudang. Bunda tadi abis jemur baju. Udah dong jangan nangis dong."

__ADS_1


"Loh kok nangis?" tanya Alvin yang baru menghampiri mereka. Aina hanya menggeleng sambil terus memeluk leher Haifa.


"Katanya udah besar kok nangis sih." kata Alvin.


"Kakak mandi ya. Bau acem nih." kata Haifa sambil mencium badan Aina.


"Ih kakak bau belum mandi." goda Alvin.


"Huaaa bunda papa nakal." Aina malah menangis lagi. 


"Papa kan cuma bercanda kak." kata Haifa. Aina masih menangis. Wajarlah ya,  anak seusia Aina itu saat bangun tidur kadang suka rewel.


"Yaudah. Papa minta maaf ya putlinya papa yang cantik, yang baik, yang shalehah." kata Alvin sambil mengusap kepala Aina.


"Tuh papa udah say sorry. Sekarang udahan ya nangisnya kita mandi oke." kata Haifa.


Aina cemberut "Sama bunda." katanya dengan sisa tangisnya.


"Iya sama bunda."


"Papa tolong lihat dede ya. Takut udah bangun. Tapi papa harus ganti baju dan cuci tangan dulu. Kotor banyak kuman papa kan abis beres beres gudang." kata Haifa kemudian beranjak ke kamar kamar Aina.


Pekerjaan rumah sudah selesai anak anak sudah bersih semua. Sekarang mereka sedang bermain di ruang keluarga sambil menonton film anak anak kesukaan Aina.


"Bunda kakak lapal." kata Aina sambil duduk dipangkuan Haifa.


"Wah hebat loh kakak puasanya hampir sampai dzuhur." kata Haifa saat melihat jam dinding sudah pukul 11.40.


"Tu de kakak hebat kan. Nanti dede harus kayak kakak yaa." kata Alvin pada Aidan digendongannya.


Tidak berlebihan memberikan pujian pada anak 4 tahun yang berhasil menahan lapar dan haus hampir setengah hari. Anak kecil seusia Aina biasanya akan bahagia ketika dipuji dan kebahagiaannya itu nantinya yang akan memacu untuk melakukan hal yang sama bahkan lebih.


"Kakak mau makan sekarang?" tanya Haifa.


Aina menggeleng.


"Katanya lapar?"


"Mau minum susu sama makan buah aja. Telus kakak mau puasa lagi. Makannya nanti sama bunda."


"Emang bisa begitu?" tanya Alvin.


"Bisa papa."


"Kata siapa?" tanya Alvin.


"Kakak." katanya sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Udah ah yuk. Katanya kakak lapar."


Haifa membawa Aina ke meja makan.


"Bunda dede kok gak puasa?" kata Aina ditengah tengah makannya.


"Kan dede masih kecil sayang. Nanti kalau dede udah seusia kakak. Baru deh dede belajar puasa kaya kakak."


"Bunda mau?" tanya Aina sambil menyodorkan sesendok buah naga ke depan bibir Haifa.


"Enggak sayang. Terimakasih. Bunda kan puasa."


"Bunda buka puasanya kapan?" tanya Aina.


"Nanti maghrib."


"Kenapa halus maglib?"


"Karena aturannya kan puasa itu menahan lapar dan haus dari terbit mata hari sampai tenggelam matahari."


"Belalti dali telang sampai gelap?"


"Iya sayang."


Sementara itu Alvin membawa Aidan ke kamar karena bayi montok itu sepertinya sudah merasa penuh dengan diapersnya.


Terbukti saat sampai di kamar dan Alvin membuka diapersnya Aidan berhenti menangis.


"Oh ternyata jagoan papa, popoknya penuh ya?" kata Alvin sambil menciumi Aidan.


Bukannya segera mengganti diapersnya. Alvin malah mengusili Aidan dengan menciumi perutnya dan mengajaknya mengobrol. Mengakibatkan bayi yang berusia satu bulan itu bersuara dan berekspresi entah menangis atau tertawa.


"Ganteng banget sih anak papa mmm."


"Mirip papa ini sih. Dede nanti kalau udah besar harus jadi tim papa ya. Soalnya kakak udah jadi tim bunda."


"Apa liat liat papa?"


"Cepat besar ya. Nanti papa ajak dede main ps."


Tanpa Alvin sadari diambang pintu ada Haifa dan Aina yang sedang melihat Alvin.


"Yah dede kok papa di sembur." kata Alvin saat Aidan menyemprotnya dengan pistol yang dibawa sejak lahir.


"Hahaha papa disemplot dede." kata Aina sambil tertawa dan menghampiri Alvin.


"Mangkanya kalau gantikan diapers itu setelah dilepas cepat dipakaikan yang baru lagi." kata Haifa sambil mengambil diapers yang baru dan menyerahkannya kepada Alvin.


"Bial bun jangan kasih bial papa disemplot lagi sama dede."


"Eh kok gitu sama papa."


"Bial wleee."


###


BUA 50 Alhamdulillah. Semoga tidak bosan ya karena part ini lumayan panjang hehe.


Bagaimana ada kritik dan saran?


Terimakasih ♥

__ADS_1


__ADS_2