
Setelah seminggu dirawat di rumah sakit akhirnya Aina diperbolehkan untuk pulang. Selama Aina dirawat, selama itu pula Haifa sering bolak balik rumah sakit. Bukan apa apa Haifa sebagai seorang wanita naluri keibuannya seketika muncul ketika Alvin memberitahu jika Aina mencari atau menanyakan dirinya. Apalagi Haifa sekarang sudah tau jika Aina itu sejak kecil sudah jauh dari ibunya.
Semakin dekat dengan Aina bukan berarti Haifa juga semakin dekat dengan Alvin ya. Jangan salah jika bukan penting Haifa tidak pernah berkomunikasi dengan Alvin. Ketika berada dalam satu ruangan mereka hanya akan saling diam.
Jika Aina kembali meminta Alvin untuk menjadikan aunty cantiknya sebagai bunda sepertinya Alvin harus bekerja keras. Bahkan lebih keras lagi.
"Papa kerja dulu ya. Aina di rumah sama nenek ya."
Aina mengangguk.
"Gak boleh capek capek. Terus harus pinter minum obatnya oke."
Aina lagi mengangguk.
"Yaudah papa berangkat ya nak." ucap Alvin lalu mencium Aina.
"Bu, Alvin titip Aina ya. Kalau ada apa apa cepet kabari Alvin."
"Iya udah tenang. Aina aman sama ibu. Kamu hati hati di jalan."
"Iya bu. Assalamualaikum."
"Papa." panggil Aina yang sedang di gendong ibu.
"Iya sayang." jawab Alvin sambil kembali mendekat pada Aina.
"Pulang na tama aty tantik ya." kata Aina pelan.
"Nanti papa tanya dulu auntynya sibuk atau enggak ya sayang."
"Kemalin auntyna gak ketini gak temenin Aina kan." jawab Aina lagi.
Ibu dan Alvin hanya saling bertukar pandangan.
"Iya nanti papa tanya auntynya dulu ya." kata Alvin sambil mengusap rambut Aina.
Aina kembali hanya mengangguk.
Meninggalkan kantor dan kampus lebih dari seminggu, membuat kegiatan Alvin hari ini cukup padat. Tapi sebisa mungkin Alvin menyempatkan menelpon rumah untuk menanyakan keadaan Aina. Selesai menelepon Aina, Alvin kembali diingatkan oleh Aina untuk membawa aunty cantiknya ke rumah.
Tapi kali ini tidak seperti biasanya, Alvin merasa tak enak untuk menghubungi Haifa. Karena ia tahu saat ini Haifa sudah mulai di sibukan dengan proses penyusunan skripsi. Ya Alvin tau karena dirinya juga seorang dosenkan.
Ini demi Aina, Alvin mencoba menghubungi Haifa. Pada panggilan ketiga akhirnya panggilan Alvin diangkat oleh Haifa.
On the phone...
Haifa : Assalamualaikum ma.
Alvin : Wa'alaikumsalam. Saya Alvin bukan mama kamu.
Haifa : Iya Haifa tau ma. Haifa lagi sama teman teman ma. Mama ada perlu apa?
Alvin diam sejenak. Ia mencoba mencerna maksud Haifa.
Alvin : Yasudah kalau begitu saya hubungi lewat chat saja. Assalamualaikum.
Haifa : Wa'alaikumsalam.
Alvin memutuskan sambungan teleponnya. Kemudian beralih mengetik sesuatu pada aplikasi chatting.
"Assalamualaikum. Kamu ada waktu luang hari ini? Aina tadi minta saya untuk ajak kamu ke rumah karena dua hari ini dia belum ketemu kamu lagi." begitu yang Alvin tulis kemudian mengirimkan pada Haifa.
Haifa yang memang sudah standby dengan handphonenya pun tak butuh waktu lama untuk membalas pesan Alvin.
"Wa'alaikumsalam. Kalau siang ini sih saya gak bisa pak ada bimbingan dengan Pak Andi. Oh iya gimana keadaan Aina?" begitu kira kira balasan Haifa.
"Aina sudah semakin baik. Hanya masih lemah belum pulih 100%. Selesai bimbingan pukul berapa? Biar saya jemput ke kampus." balas Alvin lagi.
"Alhamdulillah kalau sudah semakin baik. Eh enggak usah pak, saya juga belum tau bimbingan selesainya pukul berapa. Biar nanti kalau saya selesai saya usahakan bertemu Aina." balas Haifa.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Maaf saya merepotkan kamu." balas Alvin.
"Tidak apa. Saya senang bertemu Aina." balas Haifa.
"Kalau bertemu saya?" balas Alvin. Dan hanya dibaca tanpa dibalas oleh Haifa.
Haifa tidak berniat menanggapi chat terakhir dari Alvin. Haifa memasukan handphone kembali ke dalam tas.
"Haifa ngapain sih sejak tadi main handphone terus?" tanya Ina.
"Eh iya maaf ya. Tadi mama telpon katanya sore ini Haifa disuruh pulang ke rumah." bohong Haifa.
Haifa memang masih menyembunyikan kedekatannya dengan Aina yang kebetulan Aina itu anaknya pak Alvin. Hanya Dinda yang tahu perihal Aina. Dinda juga belum tahu jika Aina anaknya pak Alvin.
Kabar status Alvin yang duda sekarang memang sudah banyak di ketahui mahasiswa karena Alvin beberapa hari kebelakang tidak masuk dengan alasan anaknya sakit. Banyak mahasiswa yang mengatakan mereka mundur perlahan termasuk Inara.
"Jadi Haifa selesai bimbingan langsung pulang?" tanya Aulia.
"Iya Haifa pulang ke rumah. Mungkin agak malaman baru ke kost lagi."
"Kenapa kamu gak tidur di rumah aja? Bolak balik gitu kan capek." kata Dinda.
"Iya maksudnya kalau gak capek malaman Haifa langsung ke kost kalau capek ya tidur di rumah." jawab Haifa beralasan.
Pukul 15.20 Haifa baru selesai bimbingan. Ia segera menuju mesjid untuk menunaikan shalat Ashar.
Selesai shalat ashar Haifa nergegas untuk pergi menemui Aina. Tidak dipungkiri dirinya juga kadang merasa kangen pada anak kecil yang lucu nan memnggemaskan itu.
Baru sekitar 100 meter keluar dari gerbang kampus.
Tin... Tinn.
"Assalamualaikum." ucap Alvin sambil membuka setengah kaca mobil.
"Wa'alaikumsalam." jawab Haifa.
"Masuk aja. Kalau begini bisa ketahuan mahasiswa lain." kata Alvin.
"Kamu sudah selesaikan?" tanya Alvin yang belum menjalankan mobilnya.
"Iya sudah pak." jawab Haifa.
"Bisa saya ajak kamu bertemu Aina sekarang? Atau kamu masih ada urusan lain?" tanya Alvin.
"Iya bisa pak. Tapi seharusnya bapak gak perlu jemput ke sini. Jadinya merepotkan." ucap Haifa.
Alvin terkekeh pelan.
"Jadi kamu pikir saya ke sini menjemput kamu?" tanya Alvin.
Haifa langsung diam.
"Tidak salah sih. Tapi sebenarnya saya kesini untuk urusan pekerjaan. Tapi karena saya lihat kamu jadi sekalian."
Wajah Haifa langsung memerah dan langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela. Haifa malu bagaimana bisa dirinya kepedean mengira Alvin menjemputnya padahal kenyataannya. Ah Haifa mendadak kesal pada dirinya sendiri.
Alvin yang melihat Haifa dari kaca di depannya pun tersenyum melihat sebagian wajah Haifa yang masih tampak rona merah.
"Yaudah kalau gitu kita jalan ya."
"I.. Iya." jawab Haifa.
Alvin lagi lagi tersenyum melihat Haifa yang gugup begitu.
Jalanan kota Bandung pada sore hari lumayan ramai. Tapi di dalam mobil Alvin terasa sangat dingin. Dingin yang bersumber dari AC juga dingin karena mereka yang sama sama diam.
Sekarang Alvin dan Haifa sudah sampai di rumah Alvin. Ini pertama kalinya Haifa datang ke rumah Alvin.
"Ini rumah saya." ucap Alvin pada Haifa saat mereka baru keluar mobil.
__ADS_1
Haifa hanya mengangguk.
"Mungkin suatu saat akan jadi rumah kamu juga." ucap Alvin pelan.
"Bapak bicara apa?" tanya Haifa yang tidak mendengar jelas apa yang Alvin ucapkan.
"Ah tidak lupakan saja. Mari masuk."
Haifa mengekor di belakang Alvin.
"Assalamualaikum." ucap Alvin sambil memasuki rumahnya.
"Wa'alaikumsalam." jawab ibu dari arah dapur.
Alvin langsung menyalami ibu dan diikuti oleh Haifa.
"Eh ada Haifa juga. Aina di kamar yuk kita ke kamar Aina ibu juga ini kebetulan baru ambilin puding buat Aina." kata ibu.
Haifa sedikit melirik Alvin seperti meminta izin karena Haifa di sini sebagai tamu.
Alvin mengangguk seakan memberikan izin melalui anggukan kepalanya.
Aih kok Alvin dan Haifa jadi main kode kodean gini ya?
Alvin memilih berdiam di ruang keluarga. Ia tau kalau dirinya ada di sana
Haifa akan kaku.
Tak berapa lama Alvin melihat ibu turun dari kamar Aina.
"Vin, ibu boleh bicara?"
"Bicara aja bu."
"Aina kayaknya seneng banget ya sama Haifa?"
"Iya. Alvin juga kan udah pernah cerita sama ibu. Kalau Aina itu udah deket banget sama Haifa."
"Kalau kamunya sendiri gimana?"
"Maksud ibu?"
"Iya kan anaknya udah deket terus kalau bapaknya gimana?" tanya ibu.
"Alvin?"
"Ya menurut kamu bapaknya Aina siapa?"
Alvin tak menjawab.
"Vin. Kenapa kamu gak coba lamar Haifa aja."
Lagi lagi Alvin tak menanggapi.
"Aina cerita sama ibu, katanya kamu pernah bilang mau jadikan Aina bundanya Aina. Bener kamu punya niatan kesitu? Kalau ada kenapa gak disegerakan?"
"Bu Alvin dan Haifa itu awalnya gak saling kenal. Hanya tau sebatas dosen dan mahasiswa. Malah awalnya Alvin gak begitu memperhatikan dia. Karena Aina aja Alvin jadi tau dan seperti sekarang ini. Dan untuk perihal janji Alvin itu sebenarnya karena waktu itu Aina merengek minta Alvin buat bawa Aina ketemu Haifa sementara waktu itu Alvin belum tau siap yang Aina maksud. Jadi alvin becandain aja Aina. Alvin tawarin mau gak Aina kalau aunty cantik jadi bundanya Aina. Eh Aina mau malah nempel sampe sekarang suka nagih sama Alvin."
"Ya terus apalagi? Kamu janji sama Aina terus Aina juga udah deket banget. Masalah waktu perkenalan kalian. Itukan bisa proses. Ibu malah khawatir kalau kamu sama Haifa belum ada ikatan halal tapi Haifa sering ke sini karena Aina. Kamu juga pastikan jadi sering berhubungan sama Haifa. Ibu justru khawatir kalau begitu. Apa kata orang orang diluaran coba. Bukan cuma kata orang tapi kamu dan Haifa juga sama sama dosa."
"Iya Alvin tau bu. Alvin juga ada pikiran kesitu. Tapi buat masalah menikah itu Alvin masih ragu bu. Bukan ragu karena Alvin belum siap lagi atau belum maju dari masalalu Alvin. Alvin ragu karena status Alvin ini kan duda beranak 1 lagi apa dia mau terima? Terus gimana keluarganya? Terus gimana status Alvin sama dia sebagai dosen dan mahasiswa?"
"Kalau menurut ibu masalah status kamu sebagai duda dan adanya Aina itu bisa di bicarakan. Kalau untuk masalah status kamu sebagai dosen. Kalau kamu sudah positif menikah dengan dia kamu bisa mengundurkan diri biar gak terjadi hal hal yang tidak diinginkan."
"Iya andai saja bisa semudah perkataan ibu. Tapi yang buat Alvin sulit itu ya ini status Alvin dan status Haifa yang berbeda."
"Kalau kamu cuma dipikirkan tanpa ada usaha gimana mau ada jalan keluar?"
"Gak mudah bu. Sekarang aja Haifa itu selalu jaga jarak sama Alvin Haifa gak pernah mau bicara kalau bukan masalah Aina. Gimana mulainya coba? Biarlah sekarang begini dulu sampai Alvin benar benar siap dengan apa yang akan Alvin putuskan."
__ADS_1
**To Be Continued...
See You Next Part**...