
Sudah satu minggu lebih Haifa selalu seperti ini setiap paginya. Lama lama Haifa juga mulai curiga. Ia memeriksa kalender di handphonenya.
Haifa terkejut ternyata jika mengikuti tanggalan haidnya ia sudah haid dari beberapa hari yang lalu. Tapi Haifa tak menyadari. Walaupun tanggalan haidnya itu tak pernah benar benar sama tapi biasanya juga Haifa tak pernah telat selama ini. Ada setitik harapan, pikir Haifa mungkin tunggu beberapa hari lagi.
Haifa memilih untuk tidak memberitahu Alvin terlebih dahulu. Ia takut kejadiannya seperti waktu itu. Ketika Haifa mengeluh pusing disertai mual dan muntah, Alvin sangat antusias dan langsung menyuruhnya test. Tapi hasilnya nihil, Haifa takut seperti itu lagi. Jadi saat ini mungkin lebih baik ia pastikan sendiri dulu.
"Bismillah." ucap Haifa ketika hendak masuk ke sebuah rumah sakit.
Iya, hari ini setelah seminggu dan tidak kunjung haid juga setelah dilakukan test menggunakan testpack. Haifa memutuskan untuk pergi ke dokter agar lebih pasti.
Haifa pergi sendiri karena sampai saat ini ia belum memberitahu Alvin. Alvin sendiri bukan tidak peka, Alvin juga menaruh curiga. Tapi setiap kali bertanya Haifa selalu menjawab tidak apa apa. Alvin berusaha percaya karena ia tidak mau Haifa merasa terpojok dengan tuntutan harus cepat hamil.
Rencana Haifa untuk sembunyi sembunyi sepertinya tidak berjalan mulus. Haifa melupakan satu hal, jika di Rumah Sakit ini tempat abang iparnya bekerja. Tanpa sepengetahuan Haifa sebelum dirinya dipanggil Arvan sudah melihat keberadaan Haifa. Bahkan sejak Haifa masih duduk menunggu giliran Arvan sudah melihatnya. Tapi Arvan masih diam untuk memastikan. Ketika Arvan hendak menghampiri, Haifa sudah dipanggil untuk masuk ke ruangan periksa. Arvan yang masih memiliki pekerjaan tidak mungkin menunggu hingga adik iparnya keluar.
Setelah namanya dipanggil, Haifa segera memasuki ruangan untuk berkonsultasi dengan dokter. Haifa menceritakan segala yang ia alami pada dokter, barulah dokter memutuskan untuk melakukan USG agar lebih meyakinkan.
Sudah setengah jam Haifa berada di ruangan dokter untuk konsultasi dan USG. Akhirnya sekarang Haifa bisa keluar dengan perasaan lega dan bahagia.
Sekarang tugasnya tinggal memberitahu Alvin dan menyusun kata kata sebaik mungkin karena telah menyembunyikan kecurigaannya selama ini.
Haifa melihat jam tangannya. Sudah jam 10.45. Lebih baik memang sekarang Haifa menjemput Aina. Memikirkan Aina Haifa jadi takut. Kira-kira bagaimana ya reaksi putrinya ketika diberitahu?
Haifa jadi khawatir Aina akan cemburu. Ketika melihat Haifa menggendong sepupunya saja Aina cemburu. Tapi yasudahlah semoga nanti Aina bisa diberikan penjelasan secara perlahan.
***
Alvin baru selesai pertemuan dengan partner kerjanya. Ia baru sempat membuka handphone, cukup terkejut melihat lumayan banyak pesan masuk dari Haifa yang menanyakan akan pulang jam berapa, dan banyak lagi pertanyaan yang membuat Alvin heran.
Daripada bingung Alvin memutuskan untuk menelpon istrinya itu.
"..."
"Wa'alaikumussalam."
"..."
"Seperti biasa mas pulang sekitar jam 4 an. Kenapa tumben nanyain pulang?"
"..."
"Boleh kok sayang. Tapi tumben aja nanyanya sampe berkali kali. Ada apa?"
"..."
"Beneran gak ada apa apa?"
"..."
"Yaudah kalau gitu mas tutup ya. Assalamualaikum."
"..."
Seperti biasa sepulang sekolah, Aina makan, bermain sampai ngantuk kemudian tidur siang. Sebenarnya sambil menemani Aina tidur Haifa ingin mulai memberitahu Aina secara perlahan. Tapi sepertinya Haifa tidak bisa menjelaskan sendiri. Ia tidak siap dengan reaksi Aina, juga kemungkinan kemungkinan pertanyaan yang akan terucap dari Aina. Ah iya sebaiknya Haifa harus fokus memberitahu papanya lebih dulu.
***
Pukul 22.00 sangat jauh dari waktu yang dijanjikan Alvin baru sampai di rumah. Alvin pulang sangat telat dari biasanya karena tadi ada pekerjaan yang menuntut untuk segera diselesaikan.
Setelah memasukan mobilnya ke garasi dalam, mengunci pintu dan mematikan beberapa lampu, Alvin segera menuju ke kamar. Berharap Haifa belum tertidur. Sepanjang hari ini Alvin menaruh curiga kepada istrinya. Bagaimana tidak, hampir setiap saat Haifa menanyakan kapan Alvin pulang. Sangat lain dari biasanya. Biasanya Haifa cukup bertanya sekali saat berpamitan saja.
Tidak menemukan istrinya di kamar, Alvin berjalan ke kamar Aina. Benar saja kedua perempuannya sudah terlelap dengan saling memeluk. Pemandangan yang indah bagi Alvin. Alvin mencium kening Haifa dan Aina bergantian sebelum bergegas untuk membersihkan diri. Setelahnya Alvin memutuskan untuk bergabung dengan anak dan istrinya. Malam ini mereka bertiga tidur di kamar Aina meski Alvin harus rela tidur di sofa karena tempat tidur Aina terlalu kecil jika untuk mereka bertiga.
Haifa terbangun dari tidurnya ia melihat jam dinding yang menunjukan pukul 00.25. Haifa belum menyadari keberadaan Alvin. Ia hendak keluar untuk mengecek apakah Alvin sudah pulang atau belum. Baru sedang mengikat rambut panjangnya dan hendak berdiri Haifa sudah melihat Alvin yang tertidur di sofa dengan badannya yang tertekuk karena sofa yang tidak terlalu panjang untuk ukuran Alvin.
"Mas..." panggil Haifa sambil menggoyangkan pelan lengan Alvin. Haifa tidak tega melihat Alvin tidur seperti iti karena bisa saja besoknya seluruh badan Alvin akan sakit.
"Hm." jawab Alvin dengan gumaman sambil menggeliat kecil.
"Mas..." panggil Haifa sekali lagi.
"Hm." lagi lagi hanya gumaman yang terdengar.
"Mas Alvin. Bangun tidurnya pindah di kamar." ucap Haifa ditelinga Alvin.
Mulai terlihat ada pergerakan kecil dari Alvin. Sebelum Alvin mulai membuka matanya.
"Eh kok bangun?" tanya Alvin sambil mengerjapkan mata yang masih terasa sangat berat untuk dibuka.
"Pindah di kamar tidurnya." ucap Haifa.
"Kamu juga." ucap Alvin. Haifa menjawab dengan anggukan.
"Kenapa gak tidur di kamar?" tanya Haifa setelah mereka berada di kamar sendiri.
"Hm. Mas gak mau pisah kamar sama kamu."
"Lebay."
"Ih serius sayang." ucap Alvin sambil menggeser tubuhnya dan mendekat ke arah Haifa. Kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Haifa.
"Yaudah ah tidur." ucap Haifa sambil memejamkan mata.
"Tunggu dulu." ucap Alvin.
Tapi Haifa tidak menggubris ia tetap memejamkan matanya.
"Sayang." panggil Alvin sambil menciumi mata Haifa. Maksudnya agar istrinya itu kembali membuka mata.
__ADS_1
"Tidur mas."
"Iya tapi sebentar mas mau bicara." ucap Alvin.
"Apa?" tanya Haifa sambil membuka mata.
"Maaf yaa mas pulang telat."
"Gak apa apa mas juga kan udah bilang sebelumnya, mas juga udah kasih tahu Haifa alasannya apa."
"Hm. Makasih sayang udah ngerti."
"Udah kan? Yaudah tidur."
"Satu lagi."
"Apa?" kata Haifa sambil membuka kembali matanya.
"Hari ini kamu aneh. Ada apa?" tanya Alvin.
"Hah aneh? Aneh kenapa?"
"Gak biasanya kamu sering WA mas dan nanyain kapan pulang. Biasanya gak begitu, ada apa sayang?" tanya Alvin.
"Chat Haifa ganggu ya? Maaf ya, gak lagi deh begitu." jawab Haifa dengan nada pelan.
"Bukan begitu sayang. Cuma aneh aja, mas jadi khawatir takut kamu kenapa kenapa."
"Hehe Haifa gak apa apa kok."
"Yakin?"
Haifa mengangguk.
"Udah ya wawancaranya. Haifa ngantuk. Besok lagi kalau masih banyak yang mau mas tanyain." potong Haifa. Karena merasa Alvin masih ingin bertanya lagi.
"Sekarang tidur yaa." ucap Haifa lalu mencium Alvin sekilas sebelum benar benar tertidur.
Alvin hanya tersenyum lalu membalas mencium kening Haifa.
Seperti biasanya setiap pagi Haifa selalu merasakan tidak enak di tubuhnya. Rasanya ketika bangun tidur tubuhnya buka segar melainkan malah lemas ditambah lagi rasa mualnya. Tapi kali ini Haifa tidak mengeluh karena ia sudah mengetahui penyebabnya. Saat berada di depan wastafel setelah merasa ingin memuntahkan sesuatu. Haifa masih sempat tersenyum sambil mengelus perut yang masih rata.
"Adek mau bangunin bunda ya. Baik baik ya nak. Nanti secepatnya bunda kasih tau papa sama kakak." ucap Haifa sambil mengelus perutnya lagi.
Alvin menggeliat ia menggapai gapai tangannya mencari keberadaan Haifa. Sadar guling hidupnya tidak ada Alvin segera membuka mata. Ia melihat jam sudah pukul 02.30.
"Sayang." panggil Alvin dengan suara seraknya sambil berjalan ke kamar mandi. Kebetulan pintu kamar mandi tidak tertutup rapat. Alvin memutuskan untuk masuk. Ia melihat Haifa sedang berdiri didepan wastafel sambil melihat bayangan wajahnya dicermin.
Alvin yang sudah berdiri di belakang Haifa sudah melihat wajah istrinya yang nampak pucat. Ia langsung memutar badan Haifa agar menghadap ke arahnya.
"Apa yang sakit?" tanya Alvin.
"Sayang udah beberapa hari bahkan seminggu ini mas lihat setiap pagi kamu selalu lemas, pucat. Kenapa? Kalau ada yang sakit bilang jangan kayak begini." ucap Alvin.
"Ih mas ini kenapa sih. Seakan akan Haifa itu sakit keras." kesal Haifa kemudian meninggalkan Alvin sendiri di kamar mandi.
"Sayang bukan begitu. Mas cuma gak tega lihatnya. Kita ke dokter ya." ajak Alvin sambil berjalan menyusul Haifa.
"Gak. Udah deh mas. Haifa itu gak sakit. Lagian beberapa waktu lalu juga Haifa cuma tyfus bukan sakit keras yang perlu waktu penyembuhan lama."
"Iya mas tau. Tapi mas mau kita tetep ke dokter ya. Mas gak tega liat kamu tiap pagi begini."
"Bukan gak tega. Tapi gak peka." ucap Haifa sangat pelan lebih pelan dari suara nyamuk yang terbang didekat telinga.
"Apa sayang?" tanya Alvin karena ia tidak mendengar apa yang dikatakan Haifa barusan.
"Gak." ketus Haifa.
"Sayang kita ke dokter ya atau enggak mas telpon abang deh biar kesini dulu buat periksa kamu."
"Jangan. Gausah, Haifa udah tau kok Haifa kenapa?"
"Kenapa? Kamu sakit apa?" tanya Alvin dengan khawatir.
"Ih kenapa sih mikirnya sakit terus. Mas seneng ya kalau lihat Haifa sakit?"
"Enggaklah. Justru mas sedih gak mau kamu sakit."
"Ya terus kenapa selalu nanyain apa yang sakit dan ngajakin ke dokter terus?"
"Ya karena mas lihat akhir akhir ini kamu sering lemes, kamu juga suka ngeluh pusing sama mual. Wajar kan mas khawatir?"
"Iya tapi emang yang menyebabkan yang Haifa rasain itu cuma penyakit?"
"Haifa itu gak sakit. Haifa cuma... Cuma.. "
"Cuma apa?"
"Cuma mas harus peka dikit biar tau."
"Sayang kenapa sih jangan muter muter mas bingung." ucap Alvin sambil menggaruk garuk rambutnya.
"Tau ah. Udah pengalaman punya Aina, masih aja belum ngerti." ucap Haifa
"Kamu sakit karena capek ngirusin Aina?" tanya Alvin.
"Hah? Enggak lah ngaco." kesal Haifa.
__ADS_1
"Ya terus kenapa? Mas harus apa? Rasanya salah terus."
"Gak tau. Udah mas cepet bersih bersih terus shalat."
Alvin hanya pasrah sambil berbalik ke kamar mandi. Ia heran padahal Alvin hanya bertanya tapi kenapa Haifa jadi kesal begitu. Alvin salah ya?
"Sayang..." panggil Alvin dari dalam kamar mandi.
"Apa?" jawab Haifa.
"Tolong ambilin haduk dong. Mas lupa gak bawa handuk." ucap Alvin sambil menampakan setengah badannya di balik pintu.
Haifa yang sudah mengenakan mukena berjalan ke arah pintu kamar mandi.
"Nih. Kebiasaan gak bawa handuk."
"Maaf sayang. Pagi pagi udah kesel aja sama suami." ucap Alvin.
"Bodo."
Haifa tidak mengerti kenapa tapi rasanya ketika melihat Alvin dengan segala kelakuannya. Haifa mendadak jadi kesal sendiri dengan apapun yang Alvin lakukan.
Alvin yang baru pulang dari masjid setelah shalat subuh. Ia langsung menghampiri Haifa yang sedang memasak di dapur.
"Assalamualaikum. Pagi sayang." ucap Alvin sambil hendak mencium Haifa. Tapi belum sampai bibirnya di pipi Haifa. Tangan Haifa sudah lebih dulu menutup wajah Alvin.
"Wa'alaikumussalam. Sana sana jangan deket deket." ucap Haifa sambil mendorong badan Alvin.
"Apasih sayang. Biasanya juga begini." kata Alvin sambil memaksa memeluk Haifa dan mencium pipinya.
"Ih mas Alvin sana jauh jauh. Gak mau."
"Kenapa sih sayang?" kata Alvin yang mulai heran.
"Gak mau deket deket sana jauh jauh kesel deket deket terus." jawab Haifa dengan ketus.
Kali ini tidak bercanda Alvin bingung sangat bingung. Rasanya sejak bangun tidur apapun yang Alvin lakukan selalu saja membuat Haifa kesal.
"Ya Allah. Apa salah dan dosaku sayang?" tanya Alvin kesal sendiri.
"Gak tahu. Sana ke kamar ganti baju."
Alvin pasrah dari pada Haifa tambah kesal. Dengan langkahnya yang gontai ia berjalan dari dapur menuju ke kamarnya di lantai dua. Diam diam dengan jarak yang cukup jauh Haifa mengamati Alvin.
Jujur Haifa juga tidak tega melihat wajah Alvin yang tampak sangat bingung dan serba salah. Tapi ya bagaimana sejak pagi tadi rasanya Haifa selalu saja kesal ketika melihat Alvin. Haifa gak salah kan?
"Sayang kenapa sih? Marah karena kemarin mas pulang malam?" tanya Alvin ketika mereka baru selesai sarapan.
"Enggak." jawab Haifa.
"Enggak. Tapi kok sejak tadi pagi kesel terus sama mas? Perasaan semalam baik baik aja."
"Udah jam 07.00 mending mas berangkat. Nanti macet, Haifa juga sebentar lagi harus antar Aina sekolah." ucap Haifa.
Alvin beranjak dari duduknya dan berjalan gontai keluar rumah yang diikuti oleh Haifa dan Aina. Jika tidak ingat kewajiban dan tanggung jawab. Alvin rasanya ingin di rumah saja mengintrogasi Haifa yang mendadak aneh.
"Mas berangkat dulu. Insya Allah gak pulang malam lagi."
"Ya." jawab Haifa. Alvin langsung berjongkok di depan Aina.
"Aina Papa ke kantor dulu ya. Aina baik baik di sekolah ya." ucap Alvin.
"Iya Papa." jawab Aina. Alvin kemudian mencium kening dan kedua pipi Aina. Ia kembali berdiri melihat ke arah Haifa sambil menyodorkan tangannya. Haifa menerimanya lalu mencium tangan Alvin. Alvin balas dengan mencium kening Haifa.
"Berangkat dulu. Semoga nanti pulang udah gak kesel kesel lagi sama suami ya." ucap Alvin ditelinga Haifa.
"Assalamualaikum." ucap Alvin.
"Wa'alaikumussalam."
Biasanya setelah mengantar Aina Haifa akan ke rumah mama untuk diajari masak menu baru setiap harinya. Tapi kali ini rasanya malas. Haifa memilih diam di rumah. Biar sajalah bermalas malas satu hari.
Sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca koleksi novel barunya. Haifa mendadak merasa bersalah karena belum memberitahu pada Alvin jika di dalam rahimnya kini sedang tumbuh janin buah cintanya dengan Alvin yang baru empat minggu usianya terhitung sejak terkhir Haifa haid.
Seperti terkoneksi saat Haifa sedang memikirkan Alvin. Handphone miliknya mendadak berbunyi dan menandakan ada panggilan masuk dari Alvin.
Haifa : Assalamualaikum.
Alvin : Wa'alaikumussalam. Kamu dimana? (Alvin bertanya dengan intonasi yang sangat datar)
Haifa mengkerutkan kening. Perasaan tadi pagi suaminya itu masih biasa saja.
Alvin : Saya tanya kamu dimana?
Tuk kan saya lagi.
Alvin : Haifa...
Haifa : Eh iya Haifa di rumah. Kenapa sih?
Alvin : Jangan kemana mana. Saya pulang sekarang. Kamu hutang penjelasan sama saya.
Alvin langsung mematikan teleponnya.
***
**To be continued...
__ADS_1
See you next part**...