
Pukul 16.30 rintik-rintik hujan menemani sore hari mereka. Jalanan yang basah serta udara yang sangat dingin pertanda langit baru saja menangis.
Keluarga kecil mereka masih betah menghabiskan waktu hari ini di dalam rumah. Hanya saja saat ini posisinya mereka sedang ada di taman belakang. Taman kecil yang sengaja Alvin buat untuk bersantai terdapat sebuah gazebo berukuran 2x2 dan juga ada ayunan berhadapan yang sengaja ia sediakan untuk putrinya.
Menikmati rintik hujan di gazebo sambil ditemani makanan ringan yang dibuat sendiri oleh Haifa juga menemani putrinya yang sedang asik dengan pensil dan buku gambar, adalah suatu nikmat yang sangat Alvin syukuri.
"Sayang jadi menurut kamu gimana?" tanya Alvin dengan suara yang dipelankan agar tidak terdengar oleh putri kecilnya.
"Gimana apanya?" jawab Haifa.
"Hm yang semalam mas ceritakan. Mas mau tahu sudut pandang kamu sebagai wanita."
"Mas yakin tanya Haifa? Kalau jawaban Haifa gak sesuai dengan yang mas harapkan gimana? Mas bakalan marah sama Haifa?"
Alvin melirik Haifa sekilas. Lalu menarik nafas panjang.
"Tapi setidaknya jawaban kamu bisa jadi bahan pertimbangan buat mas."
"Mas belum ambil keputusan?" tanya Haifa.
Alvin menggeleng pelan.
"Mas memang gak mengizinkan kalau Aina dia bawa kesana dalam jangka waktu yang lama. Tapi setelah dipikir lagi mas juga gak bisa egois. Dia juga berhak atas Aina dan Aina juga berhak atas dia. Mas gak mau juga Aina jadi gak mengenal mama kandungnya. Iya memang kalau ditanya sekarang Aina tau kalau dia punya mama. Tapi mas juga gak mau kalau dia hanya sebatas tau dan tidak mengenal dekat mama kandungnya. Kamu jangan tersinggung ya."
Haifa menggeleng.
"Haifa gak tersinggung kok. Justru kalau Haifa boleh kasih masukan. Ada baiknya mas bertemu sama mamanya Aina dan bawa serta juga Aina. Mbak Novia itu kan mama kandungnya dia juga pasti rindu sama putrinya. Apalagi dia sekarang lagi mengandung. Pasti dia juga mau suatu saat anak anaknya bisa tumbuh bersama, bisa saling menyayangi."
"Mas pikir juga begitu. Mas rasa kalau mas tetap egois tidak mempertemukan Aina dan mamanya karena ketakutan mas. Mas takut nantinya malah kamu yang kena getahnya."
"Haifa?" tanya Haifa.
"Iya mas takut nantinya justru kamu yang dikira sengaja tidak memperbolehkan Aina bertemu mamanya. Atau muncul kecemburuan kecemburuan ketika Novia tahu kedekatan kamu dengan Aina. Mas takut hal yang seperti ini justru malah memicu perkara perkara baru." keluh Alvin.
"Mas gak usah khawatir. Insya Allah Haifa dukung apapun keputusan mas." ucap Haifa sambil mengusap lembut lengan Alvin.
Alvin diam beberapa saat.
"Mas rasa memang sebaiknya kita perlu bertemu."
Haifa tersenyum.
"Haifa rasa juga baiknya begitu. Mas ketemulah sama mereka bawa Aina juga."
"Bukan cuma mas. Tapi kamu juga."
"Mungkin ini saatnya juga buat kalian sebagai wanita wanita yang terdekat dengan Aina buat saling mengenal. Biar tidak ada kecemburuan atau apapun suatu saat nanti. Setidaknya jika kalian saling mengenal untuk sekedar menanyakan kabar Aina, Novia gak harus menghubungi mas."
"Tapi kalian masih punya urusan yang harus diselesaikan, daripada sekedar mengenalkan Haifa."
"No sayang. Kamu tetap harus ikut. Dua kali bertemu Novia selalu bersama suaminya. Dan mas selalu sedang sendiri."
"Jadi mas cemburu?"
"Bukan cemburu sayangku. Tapi mas itu merasa kasihan sama diri mas sendiri. Boleh kan sesekali mas pamer kalau mas juga punya istri cantik."
"Dih Haifa bukan barang ngapain dipamerin?"
"Kamu emang bukan barang sayang. Tapi bisa dapetin dan miliki kamu itu sebuah kebanggaan dan pencapaian luar biasa dalam hidup Mas."
"Lebay sekali bapak Alvin." ucap Haifa sambil mencubit bibir Alvin.
"Awww sakit sayang." kata Alvin sedikit berteriak.
"Apa yang takit papa?" tanya Aina langsung menghampiri mereka.
"Nih bibir papa dicubit bunda."
"Kenapa bibil papa dicubit bunda?" tanya Aina sambil menatap bundanya.
__ADS_1
"Haha bunda becanda sayang."
"Bilang tolly tama papa bunda." perintah Aina.
"Iya sayangku."
"Papa, Maaf yaa. Tadi bunda udah cubit bibirnya papa." ucap Haifa.
"Kiss." kata Alvin sambil menunjuk pipinya.
"No." jawab Haifa.
"Tuh sayang bundanya gak mau kiss papa."
"Papa bau tih." jawab Aina sambil mendudukan diri di paha Haifa
"Heh enak aja." kata Alvin.
Haifa dan Aina hanya sama sama tertawa meledek Alvin.
"Oh iya. Sayang sini deh." kata Alvin membawa Aina duduk dipangkuannya.
"Aina mau ketemu mama gak?" tanya Alvin.
Aina diam kemudian melirik Haifa. Haifa hanya tersenyum. Ia tidak mau mengintervensi Aina. Walaupun putri sambungnya itu masih kecil tapi biarlah dia mengambil keputusan sesuai hatinya.
Lama lama anak berusia 3 tahun itu mengangguk.
"Kalau gitu besok kita ketemu mama mau?"
"Temu mama?" katanya memastikan.
"Iya ketemu mamanya Aina. Mau kan?"
Setelah Alvin dan Novia bercerai memang hanya itungan jari saja Aina bertemu dengan mamanya. Bahkan hampir satu tahun ini Aina belum lagi bertemu mamanya. Lagi lagi Alvin harus bilang ini semua karena keadaan. Karena ia dan mamanya Aina yang tinggal berjauhan dan mereka sama sama sibuk. Tapi walaupun tidak bertemu bisa dipastikan jika Aina benar benar tahu rupa mamanya. Karena jika memang memiliki waktu luang Novia selalu menghubungi melalui skype.
"Iya dong pasti sama papa sama bunda."
"Yaudah besok pulang sekolah. Aina papa jemput dan kita langsung ketemu mama ya?"
Setelah sepakat bersama Haifa dan Aina, malam itu juga Alvin langsung menghubungi Novia. Tentunya sudah dengan sepengetahuan Haifa.
***
Ba'da dzuhur mereka sudah berkumpul dalam satu meja di sebuah tempat makan. Alvin sengaja mereservasi salah satu ruangan yang cukup privat. Alvin pikir ini masalah keluarga mereka, tidak patut rasanya jika harus banyak orang yang mendengar dan menjadi komsumsi publik. Suasanya sedikit canggung. Tapi berhubung yang berkumpul semuanya orang dewasa kecuali Aina. Jadi mereka berusaha untuk membuat suasana senyaman mungkin.
"Novia, Brian, kenalkan ini Haifa. Istri saya." kata Alvin mengenalkan.
"Assalamualaikum." sapa Haifa sambil tersenyum ramah. Seperti wanita pada umumnya Haifa dan Novia ber cipika cipiki.
"Cantik Vin." Ucap Novia.
"Haha ini pilihan Aina loh. Sebelum sah Aina panggilnya Aunty cantik malah." kata Alvin.
"Wah anak mama pintar yaa." ucap Novia.
Aina hanya tersenyum.
"Aina sini sama mama." ajak Novia. Seakan mengerti dan tidak mau mengecewakan mamanya Aina menghampiri Novia dan duduk disampingnya.
"Novia, Brian. Saya minta maaf. Kemarin saya sempat terlalu keras menolak. Harusnya saya tidak bersikap seperti itu. Bagaimanapun juga Novia mama kandungnya dia berhak. Mangkanya sekarang saya mengajak kalian duduk dalam satu meja. Mungkin kita bisa kembali membahas ini dengan suasana yang lebih santai." ucapan Alvin mengawali.
"Aku juga minta maaf ya Vin. Mungkin kemarin terlalu mendadak untuk menyampaikan sama kamu. Tapi Demi Allah aku sama sekali gak pernah punya niat buat bawa Aina kabur atau jauh dari kamu. Aku sudah cukup dibuat menyesal dengan pilihan hidup aku yang membuat aku jauh dari Aina." ucapnya sambil mengusap kepala Aina yang saat itu sedang terbalut jilbab.
"Aku janji tidak akan memaksa Aina untuk mau tinggal bersama aku walaupun sebenarnya aku ingin. Aku cukup sadar untuk membiarkan Aina nyaman dengan siapapun itu. Jika Aina memiloh bersama kamu, aku ikhlas karena kamu papanya. Aku percaya kamu akan selalu menjaga dan mengusahakan yang terbaik untuk Aina."
"Selama ini pun kita berkomumikasi cukup baik walaupun memang kadang terkendala oleh perbedaan waktu dan kesibukan masing masing."
"Iya saya juga tidak mau Aina putus hubungan dengan mamanya. Saya juga sengaja datang bersama istri saya. Karena saya tidak mau kedepannya ada kecemburuan kecemburuan mengenai kedekatan Haifa dan Aina."
__ADS_1
"Jujur saja memang Aina lebih banyak menghabiskan waktu bersama Haifa setiap harinya. Karena saya bekerja. Tapi kamu jangan khawatir saya bisa jamin jika Aina terawat dan terdidik dengan baik."
"Aina sudah dekat dengan Haifa bahkan sebelum saya menikahinya. Ada saatnya juga Aina lebih ingin bersama Haifa daripada dengan saya. Ini saya tidak mengada ngada. Bukan juga untuk memprovokasi atau menyulut kecemburuan. Saya hanya berbicara kenyataannya kedekatan mereka."
"Dibilang tidak cemburu tapi sejujurmya ada rasa cemburu. Tapi aku tak bisa apa apa, keadaannya memang harus seperti ini. Aku berterima kasih Haifa sudah mau mendampingi Alvin untuk merawat Aina dengan baik. Sejak Alvin mengabari dia akan menikah lagi. Jujur aku senang sekali. Karena yang aku pikirkan satu, anakku ada yang membantu mengurusi selain papanya. Aku tahu Alvin juga sibuk, jujur aku berharap banyak terhadap pemdamping Alvin untuk bisa membantu merawat Aina dan mendengar penjelasan Alvin, aku sangat bersyukur dan berterimakasih. Terimakasih Haifa sudah mau membantu aku dan Alvin untuk merawat dan mendidik Aina."
"Mbak Novia gak perlu sampai seperti itu sama Haifa. Setelah Haifa sah menjadi istrinya mas Alvin maka Aina juga secara otomatis ikut menjadi amanah yang harus dijaga. Haifa senang bisa bersama Aina, dekat dengan Aina sama sekali tidak pernah menjadi beban untuk Haifa. Membantu mas Alvin dan mbak Novia untuk menjaga, merawat dan mendidik Aina itu juga menjadi tanggung jawab dan kewajiban bagi Haifa."
Novia tersenyum. Ia tidak munafik, Ada kecemburuan ketika tahu Aina sangat dekat dengan ibu sambungnya. Tapi satu Novia juga harus sadar dengan keadaan. Ini pilihannya, ia yang memilih menata kehidupan di negeri orang. Salah satu konsekuensi yang harus Novia tanggung ya seperti ini, jauh dari keluarga dan putri pertamanya. Jika ditanya Novia menyesal? Pasti ada penyesalan. Tapi hidup itu pilihan. Ia yang memilih maka ia juga yang harus menerima resiko. Satu cara yang bisa dilakukan agar tidak memperbesar penyesalannya adalah dengan ikhlas menerima.
"Kembali lagi ke persoalan aku yang ingin membawa Aina untuk beberapa bulan kedepan, bagaimana Vin?"
"Berapa lama yang pasti?" tanya Alvin.
"Sebulan. Setidaknya sampai aku melahirkan, Aina bisa melihat adiknya dan sampai aku habis cuti. Setelah aku habis cuti, aku sendiri yang akan antar Aina ke rumah kamu."
"Iya betul setelah Novia habis cuti nanti kami sendiri yang akan mengantarkan Aina pada kalian." kata Brian mengiyakan perkataan Novia.
Alvin diam ia menarik napas sebelum memberikan jawaban.
"Nanti kami juga berikan alamat kami di sana. Jadi jika dalam satu bulan itu kamu ingin bertemu Aina. Kamu tinggal datang saja." kata Brian menambahkan.
"Saya mengizinkan. Tapi kita sama sama tanyakan dulu pada Aina sendiri." jawab Alvin.
Mereka semua sekarang beralih pada Aina yang sejak tadi asik sendiri memakan kue coklat hingga sudah belepotan kemana mana.
"Ya ampun Aina belepotan banget sih. Jangan begitu dong nak kotor. Aduh, sini mama suapi aja biar gak kotor." kata Novia sambil mengambil piring cake dan sendoknya dari tangan Aina.
"Aina mau tendili." rengeknya sambil berusaha meraih kembali piring dan sendok yang ada di tangan Novia.
"Udah sama mama di suapi aja biar gak belepotan. Aaa." kata Novia sambil menyuapkan satu sendok kue pada Aina.
"Aina bita kok." kata Aina tetap memaksa.
"Enggak sayang. Udah bunda suapi aja. Nih aaa lagi." tegas Novia.
Aina hanya pasrah tidak merengek lagi karena sudah mendengar perubahan suara Novia. Alvin dan Haifa tidak banyak berbicara. Jujur mereka merasakan ada perbedaan pola asuh antara mereka dan Novia. Mereka selalu menerapkan dan membiasakan Aina mandiri dengan membiarkan Aina melakukan apapun yang ia mau sendiri yang tentunya masih dalam pengawasan mereka. Seperti halnya makan, jika tidak dikejar waktu mereka selalu membiarkan Aina makan sendiri walaupun jadi membutuhkan waktu yang lama ataupun jadi berantakan dan kotor kemana mana. Tapi dari kebiasaan kecil itu mereka rasa banyak manfaatnya salah satunya Aina terbiasa makan sendiri. Masalah belepotan dan berantakan itu wajar saja.
Namun sepertinya yang kini diterapkan Novia lain. Alvin dan Haifa tidak bisa menyalahkan. Karena jika mereka menyalahkan pasti akan timbul masalah baru. Bisa saja Novia tidak terima dan merasa yang dia lakukan itu yang terbaik.
"Nah kan, kalau mama suapi jadi cepet dan jadi gak belepotan kemana mana makannya." kata Novia sambil mengelap bibir Aina dengan tisu.
Setelah merasa Aina sudah bersih, dengan hati hati Novia mengangkat Aina kepangkuannya. Cukup sulit karena posisi perut Novia yang sudah membesar.
"Aina mama mau nanya sama Aina boleh?"
Aina mengangguk.
"Aina mau gak ikut sama mama?"
"Ikut kemana?" tanya Aina.
"Jadi nanti Aina nginep di rumah mama. Nih Aina kan mau punya dede. Sebentar lagi dedenya mau keluar dari perut mama. Katanya dedenya mau kenalan sama kakak Aina. Aina mau kan?"
"Tama papa? Tama bunda?" tanyanya.
"Enggak. Aina cuma sama mama sama daddy."
Aina menoleh ke arah Alvin dan Haifa.
"Papa sama bunda kasih izin kalau memang Aina mau." kata Alvin.
Aina masih diam. Ia tampak seperti orang dewasa yang sedang berpikir.
***
**To be continued...
See you next part**...
__ADS_1