Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 18


__ADS_3

Tiga minggu sudah sejak Haifa bersedia menerima ajakan Alvin untuk saling mengenal lebih jauh. Bisa dibilang saat ini mereka sudah harus mengambil keputusan berlanjut ke proses lamaran dan siap menikah atau berhenti.


Tapi sepertinya pilihan pertaman yang akan dipilih. Bagaimana tidak Haifa sudah semakin dekat dengan keluarga Alvin begitu juga sebaliknya. Jika pada saat mengajukan ajakan untuk mengenal lebih jauh Alvin hanya menemui orangtua Haifa. Tapi beberapa minggu lalu Alvin sudah sempat beberapa kali bertemu dan berbincang dengan kedua kakak Haifa dan abang iparnya. Ternyata mereka sangat ramah terhadap Alvin.


Haifa juga begitu, hari ini ia sedang berada di rumah orang tua Alvin karena akan ada acara 7 bulanan Vina. Keluarga Haifa juga diundang tapi ibu meminta Haifa datang lebih dahulu. Dan alhasil beberapa jam sebelum acara dimulai Haifa sudah berada di rumah keluarga Alvin untuk membantu ini dan itu.


Acara berjalan lancar, sepanjang acara Aina tak pernah lepas dari Haifa. Hingga acara berakhir dan satu persatu tamu undangan pulang Aina masih tetap betah bersama Haifa.


"Aty tantik gak pulang kan?" tanya Aina saat melihat para tamu meninggalkan rumah.


"Pulang dong. Kan aunty udah dari tadi di sini." jawab Haifa dengan lembut.


"Udah punya aunty cantik jadi gak mau sama aunty Vina ya hm." ucap Vina sambil mencubit pelan pipi Aina.  Sedangkan sang empunya pipi sudah mengerucutkan bibirnya sejak mendengar bahwa aunty cantiknya harus pulang.


"Kok cemberut?" tanya Vina pada sang keponakan.


"Aty tantik jangan pulang." rengek Aina. Sambil berpindah posisi menjadi duduk dipangkuan Haifa dan menghadap badan Haifa.


"Dududu manja yaa putlinya papa Alvin." kata Vina sambil mencubit pipi Aina lagi.


"Ih aty Vina." rengek Aina sambil menepis tangan Vina.


"Aty tantik jangan pulang yaa." lagi lagi Aina merengek.


"Kan aunty udah dari tadi di sini sayang. Nanti aunty dicariin sama papa mamanya aunty gimana?" ucap Haifa.


Aina kembali diam dan cemberut.


"Jangan cemberut dong besok besok kan bisa main lagi." ucap Haifa sambil mengusap kedua pipi Aina.


"Tuh kata auntynya kan besok besok bisa main lagi. Aina jangan sedih dong. Aina juga nanti bisa anterin auntynya pulang sama Papa." kata Vina coba menghibur Aina.


"Benel ya. Janji." kata Aina mengajukan jari kelingking pada Haifa.


"Iya sayang." kata Haifa sambil menyambut jari kelingking Aina.


Hari sudah semakin sore, tamu hampir pulang semua termasuk keluarga Haifa. Tapi Haifa sama sekali tidak diberitahu jika keluarganya sudah pulang padahal ia berharap bisa pulang bersama keluarganya.


"Mau pulang sekarang?" tanya Alvin sambil berdiri di depan kedua wanita yang sedang asik mengobrol. Siapa lagi kalau bukan Haifa dan Vina.


"Iya, nunggu mama papa tadi kayaknya masih ngobrol sama om dan tante." jawab Haifa.


"Mama Papa kamu udah pulang duluan." jawab Alvin.


"Serius?" tanya Haifa.


"Iya, ada keperluan lain katanya." jawab Alvin.


"Gitu ya. Yaudah pulang sekarang aja berarti makin sore nanti susah taksi onlinenya." ucap Haifa kemudian bangkit dari duduknya. Diikuti oleh Vina yang ikut bangkit dan sedikit dibantu oleh Alvin karena mulai keberatan dengan perutnya.


"Yaudah kalau gitu Haifa pamit ya." ucap Haifa pada Vina yang disambut pelukan dan cipika cipiki oleh Vina.


"Om sama tante dimana ya?" tanya Haifa.


"Di luar." jawab Alvin.

__ADS_1


"Yaudah nanti pamitnya sekalian keluar aja." ucap Haifa.


"Kamu pulang dengan saya. Tadi saya juga udah izin sama papa kamu." ucap Alvin.


"Eh Tapi..."


"Saya kebetulan ada perlu juga sama Papa kamu."


"Yaudah gak apa apa Haifa sama Alvin aja. Oh iya Vin, Ainanya di kamar Fika tadi dia katanya mau ikut nganterin Haifa pulang." ucap Vina.


"Yaudah. Kamu pamit aja dulu sama ayah ibu di luar. Saya ambil Aina dulu."


"Om, tante Haifa pamit pulang dulu ya." pamit Haifa pada Ibu dan Ayah Alvin.


"Eh pulang sekarang?" tanya ibu.


"Iya tan udah sore takut keburu maghrib." jawab Haifa.


"Sama Alvin kan?" tanya ibu lagi.


"Iya sama Alvin. Sekalian Alvin juga mau ketemu Papanya Haifa." jawab Alvin yang baru keluar sambil menuntun Aina.


"Yaudah kalau gitu Alvin pamit sekarang ya. Assalamualaikum." ucap Alvin kemudian mencium tangan ibu dan Ayah.


"Haifa juga pamit  ya bu. Assalamualaikum." ucap Haifa kemudian mencium tangan ibu dan menangkupkan tangannya di dada pada Ayah.


Haifa dan Aina duduk di jok belakang.


Ya begitulah jika bersama Haifa, Aina tak pernah mau duduk di depan.


"Bapak beneran mau ada perlu sama Papa?" tanya Haifa memastikan.


"Enggak, itu bisa lain waktu. Lagian ini udah hampir maghrib. Papa kamu juga lagi ada urusan di luar." jawab Alvin.


"Tapi tadi bapak bilang."


"Iya kalau gak gitu pasti kamu akan ngotot pulang sendiri kan?"


"Tapi Haifa jadi ngerepotin bapak. Masa belum apa apa udah ngerepotin terus."


"Kalau gak mau ngerepotin lagi kamu menikah sama saya. Biar kita pulang ke tujuan yang sama." ucap Alvin dengan dinginnya.


"Apasih." ucap Haifa pelan.


"Haha. Gausah salting dong. Iya saya tau kamu udah siap saya lamar. Tadinya mau sekarang. Tapi Papa kamu gak ada kan." ucap Alvin seenaknya.


"Apasih pak. Ini Haifa mau turun. Aina tidur. Mau tetep di belakang atau mau pindah ke depan?" tanya Haifa.


"Enaknya sih tetep di pangkuan kamu." jawab Alvin.


"PAK!" tegur Haifa dengan sedikit kencang sampai membuat Aina sedikit terusik.


"Haha iya becanda. Saya minta tolong dipindah ke depan boleh?"


Di hari selanjutnya diam diam Alvin sudah menghubungi Papa Haifa dan meminta izin untuk datang ke rumah.

__ADS_1


Sudah mengantongi izin malamnya Alvin benar benar datang ke rumah keluarga Haifa.


"Jadi gimana?" tanya Papa setelah mempersilahkan Alvin untuk duduk.


"Jadi begini om. Alvin merasa sudah cukup mengenal dan merasa sudah cukup untuk bisa mengambil keputusan. Jika keluarga om berkenan mungkin minggu depan Alvin dan keluarga akan datang ke rumah om lagi untuk melamat Haifa."


"Alhamdulillah. Nak Alvin sudah ambil keputusan ternyata. Kalau om silahkan saja. Tapi keputusan ada di Haifa." ucap Papa sambil melirik Haifa yang berada di sampingnya.


Haifa masih nampak diam dan tampak jelas terkejut. Alvin seperti menangkap raut keterkejutan pada Haifa.


"Haifa, Saya tidak menuntut kamu menjawab sekarang. Saya hanya meminta izin apa boleh minggu depan keluarga saya datang untuk melamar. Masih ada waktu satu minggu untuk mempersiapkan atau mempertimbangkan." ucap Alvin.


"Sejujurnya ada yang ingin Haifa tanyakan terlebih dahulu pada pak Alvin."


"Tanya aja. Memang sekarang ini kan waktunya untuk saling mengenal jadi pertanyaan apapun yang sekitanya bisa membuat kamu lebih mengenal saya maka tanya saja."


"Tapi mungkin ini sangat pribadi."


"Saya jawab semampu saya."


Haifa tampak menarik nafas terlebih dahulu.


"Maaf sebelumnya. Tapi kalau boleh saya tahu apa yang menyebabkan perceraian di rumah tangga bapak yang terdahulu?" tanya Haifa.


Orang tua Haifa nampak terkejut. Tapi tidak dengan Alvin, ia sudah menduga pertanyaan seperti ini pasti akan muncul.


"Maaf bukan maksud Haifa membuka luka lama atau apapun itu. Haifa hanya ingin tau. Maaf Haifa takut jika perceraian terdahulu disebabkan oleh orang ketiga dari pihak bapak, Haifa takut itu akan terulang. Ataupun perceraian yang diakibatkan oleh KDRT, Haifa juga takut itu akan terulang." ucap Haifa sambil menunduk.


Jujur Haifa tidak mempermasalahkan status Alvin sebagai duda beranak satu. Tapi wajarkan kalau Haifa memiliki ketakutan ketakutan karena ia belum mengenal Alvin sebelumnya.  Apalagi tentang rumah tangganya terdahulu.


"Saya bisa menjelaskan. Tidak usah khawatir Insya Allah perceraian saya bukan karena perselingkuhan ataupun KDRT. Perceraian saya itu bisa dibilang karena prinsip kami ternyata berbeda. Saya yang mendambakan sosok istri yang memprioritaskan keluarga. Dan beliau sosok wanita yang mendambakan karir dan prestasi. Tidak ada yang salah dengan keinginan mantan istri saya hanya dari situ kamu sudah berbeda. Saya mendukung pasangan saya jika ingin menjadi wanita karir. Tapi tetap harus ingat kodrat. Setinggi apapun karirnya, wanita punya kedudukan sebagai istri dan ibu yang harus lebih diutamakan. Dan setinggi apapun karirnya ketika di rumah wanita tetaplah seorang istri yang harus tetap patuh pada suami selagi suaminya benar."


"Bukan ingin dihormati, dipuja atau ditinggikan. Tapi memang sudah kodratnya suami adalah pemimpin dalam rumah tangga dan istri tentu harus bisa mengimbangi. Bukan malah ingin memimpin. Karena tidak mungkinkan dalam sebuah kapal ada dua nakhoda. Ya begitulah kira kira saya tidak mencoba melebihkan atau mengurangi. Memang saat itu begitu keadaannya." jawab Alvin dengan tenang.


"Maaf." ucap Haifa pelan.


"Tidak apa apa. Masalalu juga kan bisa diambil pelajaran."


"Apa ketika misal kita telah menikah bapak akan memperbolehkan Haifa bekerja?" tanya Haifa.


"Saya tidak akan melarang. Asal masih bisa memilah mana yang harus diprioritaskan. Karena jika kamu nantinya menikah dengan saya. Maka kamu tidak hanya berubah status menjadi istri melainkan kamu juga berubah status langsung menjadi ibu." jawab Alvin.


"Apa bapak percaya Haifa bisa menjadi istri dan ibu yang baik umtuk bapak dan Aina nantinya?"


"Semuanya proses. Segala sesuatu tidak ada yang langsung sempurna. Ketika nanti memang kita bersama kita sama sama perlu beradaptasi baik dari saya maupun kamu. Jujur yang membuat saya tertarik untuk meminta kamu menjadi istri dan ibu bagi saya dan putri saya itu karena kamu perempuan asing dalan artian bukan keluarga yang bisa mengambil hati putri saya."


"Bagaimana kalau sewaktu-waktu ibunya Aina datng lagi ke kehidupan bapak dan Aina. Kemudian meminta kalian untuk kembali bersama dan Aina yang menjadi alasannya?"


Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Haifa.


***


**To be continued...


See you next part**...

__ADS_1


__ADS_2