Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 58


__ADS_3

Happy Reading...


Setelah acara pengaduan Akbar, sudah terduga reaksinya Fitri kembali memarahi Aina. Kali ini tidak sekejam kemarin karena ketahuan dan dilerai langsung oleh suaminya.


Haifa yang sudah tidak sanggup lagi menghadapi Fitri yang selalu saja mencari cari alasan untuk memarahi Aina dan menilai keluarganya.


"Mama, Haifa mau pamit aja ya. Haifa mau pulang ke Bandung." kata Haifa pada sang mama.


"Iya mending kamu pulang aja. Kasihan Aina, mama takut nanti dia malah tertekan."


"Haifa mau pamit sama nenek dan kakek." kata Haifa.


"Gak usah nak. Biar nanti mama yang pamitkan. Kalau kamu pamit nanti mereka malah tanya kenapa. Kan malah susah menjelaskannya."


"Yaudah sana siap siap."


Haifa mengangguk.


"Tolong pamitkan sama nenek dan kakek ya ma."


Keinginannya didukung oleh sang mama. Sekarang Haifa bergegas untuk berpamitan dengan yang lain. Haifa ingin hari ini juga pulang. Kekesalannya sudah dalam batas maksimal tapi Haifa tidak bisa meluapkannya. Ia harus menahan untuk menjaga perasaan nenek kakek dan saudara yang lain. Jadi mungkin yang terbaik biar Haifa yang mengalah dengan cara menjauh dari sumber masalah. Haifa berpamitan dengan alasan Alvin yang mendadak ada pekerjaan. Padahal Alvin sama sekali tidak tahu mengenai itu.


Jika ditanya apakah keluarga besar di sana tidak mengetahui apa yang dilakukan Fitri pada Aina. Jawabannya tidak. Karena selesai makan bersama tadi semuanya sibuk sendiri. Bahkan beberapa yang rumahnya dekat sudah pulang untuk beristirahat.


Saat ini Haifa sudah berada di rumah papa. Dari rumah nenek ke rumah papa tidak butuh waktu lama memang. Hanya berjalan kaki tidak sampai lima menitpun sudah sampai. Haifa sedang membereskan barang barangnya.


"Sayang, yakin kita mau pulang sekarang? Besok nenek sama kakek masih punya acara.  Gak enak kalau kita pamit." kata Alvin coba membujuk Haifa.


Haifa tidak menjawab. Ia tidak mau peduli dengan bujukan suaminya.


"Yang udah ya. Sabar sampai besok baru kita pulang. Lagian mas kan udah bilang gak usah ditanggapi."


"Mas bilang apa? Jangan ditanggapi?" kata Haifa dengan nada yang kesal.


"Iya. Harusnya yaudah biarkan aja." jawab Alvin mencoba tetap tenang.


"Jadi mas maunya Haifa diam aja lihat anaknya terus terusan dimarahi sama orang lain? Maunya mas Haifa pasrah aja lihat anak kecil yang gak tahu apa apa terus terusan jadi sasaran permasalahan orang dewasa?" kata Haifa sambil menatap Alvin tidak suka. Kali ini bukan Haifa mau melawan. Tapi saat ini Haifa tidak setuju dengan Alvin.


"Bukan begitu! Mas juga marah, mas juga gak terima! Tapi dengan kamu menanggapi juga gak membuat lebih baik. Sekarang lihat kamu sama sepupu kamu malah jadi rumitkan?"


"Jadi mas maunya apa? Maunya gimana? Mau kita tetap di sini? Dengan alasan gak enak sama keluarga di sini?"


"Mas mikir gak sih? Aina bisa aja tertekan. Sehari ini aja, dia udah dua kali dimarahi oleh orang yang sama, orang baru buat dia. Mas mau dia jadi tertekan? Mas mau dia yang nangis nangis minta pulang karena udah benar benar gak nyaman? Mas mau Aina jadi murung seperti waktu dia di Swedia? Kalau Haifa sih gak mau." kata Haifa yang sudah disertai emosi.


"Mas ngerti tapi..."


"Tapi gimana kata keluarga di sini? Itu kan yang mau mas bilang? Kamu itu menjaga perasaan orang lain. Tapi lupa menjaga perasaan anak." kata Haifa dengan suara yang sedikit lebih keras dari biasanya.


"Kamu kok jadi marah marahnya sama mas. Mas begini juga karena gak mau keluarga punya anggapan macam macam sama keluarga kita. Apalagi bisa dibilang mas sama Aina ini orang baru dikeluarga besar kamu. Mas cuma mau menjaga hubungan baik. Jangan nanti ada istilah gara gara kamu nikah sama mas dan punya Aina kamu jadi gak baik sama saudara. Yang ada nanti malah jadi sumber masalah baru." kata Alvin tak kalah keras.


"Aku begini juga buat menjaga keluarga kita. Mas tau kan mereka melihat kita sebelah mata karena status mas dulu waktu menikah sama Haifa. Haifa berusaha menjaga kehormatan mas. Biar gak terus dipandang salah." balas Haifa dengan keras juga.


Merasa sudah tidak baik jika terus terusan berhadapan dengan Haifa. Alvin memilih untuk keluar dari kamar.


"Papa bunda mana?" tanya Aina yang baru saja datang bersama Keanu.


Sejak menangis karena dimarahi Fitri tadi. Aina memang diajak pergi oleh Keanu. Keanu tidak suka melihat Aina diperlakukan seperti itu. Ia jadi ingat dirinya waktu masih kecil, yang sering juga diungkit jika ia bukan anak kandung mama dan papanya.


Melihat wajah Alvin yang tidak bersahabat dan hanya diam saja ketika ditanya oleh Aina. Keanu tahu jika kondisinya sedang tidak baik baik.


"Papa Aina punya kula kula. Tadi dibelikan tama om Ken." katanya sambil menunjukan dua ekor bayi kura kura yang berada dalam kandangnya.


"Ini pelempuan. Ini laki laki." katanya lagi.


"Om Ken. Tadi halusnya beli kandangnya dua."


"Buat apa dua?"


"Ini kan laki laki tama pelempuan. Kan kalau laki laki tama pelempuan gak boleh bobo tama tama. Iyakan papa?" katanya sambil mendongak menatap Alvin.


Alvin hanya mengangguk sambil mengusap kepala Aina.


"Huh om Ken masa gak tahu, Aina aja tahu."


"Udah udah. Sana kakak ke kamar, bunda di kamar." kata Alvin.


"Oke. Dadah om Ken."


"Kenapa?" tanya Keanu pada Alvin.


"Bingung aku bang. Haifa minta pulang sekarang. Sementara aku gak enak sama nenek dan kakek." kata Alvin.


"Udahlah pulang aja. Kasihan Aina, dia bisa tertekan. Masalah nenek sama kakek mah dikasih alasan yang masuk akal juga beres. Sementara kalau anak sampe tertekan itu bahaya. Larinya bisa ke psikis. Kalau udah bicara psikis dampaknya bisa sampe dewasa."


"Keluarga wa Ami mah emang begitu. Aku juga waktu kecil sering banget diungkit karena bukan anak kandung." kata Keanu lagi.

__ADS_1


"Dan aku masih ingat sampai sekarang. Sekarang jadinya aku malas setiap kali kumpul keluarga besar begini. Ini juga kalau bukan paksaan mama dan papa aku malas."


"Justru itu bang. Yang aku takut kalau sekarang kami pulang. Nanti pandangan mereka ke kami makin buruk. Jadi masalahnya nanti berlanjut lanjut. Aku juga gak mau hubungan Haifa sama sepupunya jadi buruk."


"Aku ngerti maksud kamu. Tapi menurut aku memang lebih baik kalian pulang. Kalau yang diserang keluarga wa Ami itu orang dewasa, mungkin memang dibiarkan. Tapi ini anak kecil yang gak tahu apa apa. Selain Aina yang jadi korban, sekarang kalian juga ribut kan?"


"Yaudah buat apalagi?"


Saat Alvin sedang berbincang dengan Keanu, Haifa turun dari kamar.


"Mau kemana dek?" tanya Keanu.


"Ke rumah sana. Ambil Aidan di mama."


"Biar abang aja yang ambil. Kamu siap siap aja mau pulangkan?" kata Keanu.


"Yaudah. Makasih." kata Haifa kembali menaiki tangga.


Alvin mengekori Haifa. Ia melihat Aina sudah dimandikan oleh Haifa. Barang barang bawaan juga hampir semua sudah masuk ke koper.


"Yang..." panggil Alvin pada Haifa.


Tapi tidak ada tanggapan dari Haifa.


"Haifa..." panggil Alvin lagi. Tapi lagi lagi di abaikan oleh Haifa.


"Bisakan kalau di panggil suami itu jawab?" kata Alvin sambil menghampiri Haifa.


"Kalau cuma mau ribut dan maksa biar gak pulang sekarang. Maaf aku sibuk." kata Haifa.


"Kalau bicara itu lihat orangnya." kata Alvin sambil mengarahkan kepala Haifa untuk menghadapnya.


"Yaudah oke kita pulang sekarang." tegas Alvin.


"Terserah. Dengan ataupun tanpa kamu, aku akan tetap bawa anak anak pulang sekarang." kata Haifa.


Entah kenapa, mendengar Haifa berbicara seperti itu Alvin kembali tersulut emosinya. Sadar tidak bisa mendebat karena ada Aina yang seruangan dengan mereka, Alvin memutuskan untuk masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya dengan cukup kencang.


Aina yang awalnya sedang asik bermain dengan kura kura barunya menjadi terkejut dan menoleh ke pintu kamar mandi.


"Bunda, pintunya lusak ya? Kok papa tutupnya kelas sekali. Tapi tadi kakak mandi pintunya belum lusak kan bun? Kakak gak nakal kan bun? Kakak gak ngelusak pintu kan bun?" tanya nya sambil menghampiri Haifa.


"Enggak sayang. Kakak baik kok gak nakal. Kakak juga gak rusak pintu. Itu tadi papa lagi latihan pukul kecoa." jawab Haifa. Lihatkan dampaknya sekarang Aina jadi penakut.


"Bunda gak malah?"


"Tapi tante Fitli malah malah telus."


"Biar aja biar cepat tua."


"Hihi cepet tua. Nanti gigina ompong telus jalanna begini." kata Aina sambil mempraktikan jalan membungkuk.


"Haha. Kakak main lagi ya. Bunda mau lanjut beres beres dulu."


"Iya bunda." katanya.


Tidak lama, Alvin keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk dan rambut yang basah. Kemudian menyerahkan pakaian kotornya pada Haifa. Haifa menerimanya dengan cepat tanpa melihat Alvin sama sekali.


"Mana bajunya?" kata Alvin.


Haifa kembali membongkar koper dan menyerahkan pakaian Alvin yang paling dekat agar tidak membongkar terlalu banyak.


tukk tukk...


"Nih Aidannya." kata Keanu sambil menyerahkan Aidan pada Haifa.


"Makasih bang."


"Sama sama. Oh iya sopir kalian juga udah lagi ngecek mobil di bawah." kata Keanu.


"Iya Haifa juga udah telepon tadi."


"Kata mama. Kalau bisa sebelum pulang kesana dulu pamit sama nenek dan kakek. Katanya tenang aja. Keluarga wa Ami lagi pada pergi." kata Keanu.


"Oke nanti Haifa kesana lagi."


"Huh abang juga jadi pengen pulang."


"Yaudah pulang aja bareng Haifa."


"Ngaco kamu. Papa mama kan gak bawa sopir." kata Keanu.


"Yaudah sabar aja kalau begitu."


Hampir tengah hari mereka baru siap.

__ADS_1


"Gak lusa aja pulangnya barengan sama yang lain?" kata nenek.


"Iya, kalian baru sebentar di sini. Kesini juga paling setahun sekali." tambah kakek.


"Uyut masih kangen sama Aina sama Aidan. Nanti aja ya pulangnya." kata nenek.


"Mau kan nanti pulangnya. Besok kita jalan jalan dulu ke pantai." kata kakek pada Aina.


"Aina telselah papa tama bunda." jawabnya sambil mendongak menatap Alvin dan Haifa.


"Maaf kek, nek. Nanti deh lain waktu kalau libur kita main kesini." kata Alvin.


"Bener ya. Kakek tunggu nih. Nanti kita jalan jalan ke pantai." kata kakek.


"Iya kek. Insya Allah nanti kesini lagi." tambah Haifa.


"Yaudah deh. Nenek juga gak bisa maksa kalau memang ada kesibukan lain." kata nenek.


"Atau Aina di sini aja ya, sama uyut. Pulangnya nanti sama umi." kata nenek.


Haifa spontan langsung menyikut Alvin yang duduk disampingnya.


"Eh. Nanti merepotkan nek. Aina masih suka rewel kalau bangun tidur." bohong Alvin.


"Mama juga kan pulang dari sini gak langsung ke Bandung nek." tambah Haifa, tidak berbohong, mama dan papa memang ada acara setelah dari kota ini.


"Hmm Kita gak bisa maksa nek. Mereka memang udah punya agenda sendiri." kata kakek.


"Tapi benar ya kalau ada waktu main kesini. Harus pokoknya kakek tunggu. Catet ya Vin. Harus." kata kakek.


"Iya kek."


"Kalau begitu kami pamit ya kek. Assalamualaikum." kata Alvin sambil bergantian dengan Haifa untuk mencium tangan kakek dan nenek.


Belum juga mereka pergi, rupanya keluarga wa Ami sudah datang.


"Loh, Haifa mau kemana?"


"Mau pulang mereka." jawab Mama.


"Kok gak lusa bareng kamu."


"Enggak wa." jawab Haifa.


"Kenapa? Kamu ini ya. Kumpul keluarga besar begini gak setahun sekali juga."


"Maaf wa. Tapi Alvin memang ada pekerjaan. Jadi harus cepat pulang."


"Oh orang sibuk ya suaminya Haifa." celetuk Fitri.


"Udah udah. Kalian hati hati diperjalanan ya." kata kakek.


"Oh iya. Uyut lupa, ini buat Aina dan ini buat Aidan." kata kakek sambil memberikan amplop pada Aina dan Aidan.


"Terimakasih uyut."


"Sama sama sayang."


"Aina mau kemana?" tanya Akbar.


"Aina mau pulang Akbal."


"Maaf ya, Akbar nakal sama Aina. Tadi Akbar dimarahi papa." kata Akbar.


Aina mendongak ke arah Alvin dan Haifa. Mereka hanya tersenyum.


"Baikan ya." kata Akbar sambil mengulurkan tangannya.


Aina menerimanya sambil tersenyum.


"Tapi akbal jangan pukul pukul lagi. Takit tau." kata Aina.


"Hehe iya." jawab Akbar.


"Udah kan baikannya. Yuk kita pulang." kata Haifa sambil mengusap kepala Aina.


"Dadah Akbal." kata Aina.


Andaikan semua permasalahan bisa diselesaikan bersalaman dan menyatukan kelingking.


***


To be continued...


See you next part...

__ADS_1


Kritik dan saran boleh sampaikan saja melalui komentar atau grup chat ya kawan.


Terimakasih ❤


__ADS_2