Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 82


__ADS_3

Happy Reading...


Sambil menunggu Aina yang katanya sedang dalam perjalanan. Alvin masih nyaman berbaring di atas pangkuan Haifa.


"Itu Aina udah sampai dimana? Tanya terus Yang, Mas gak mau kecolongan lagi. Nanti tahu-tahu Aina gak diantar ke rumah kita lagi." kata Alvin.


"Kenapa sih suudzon terus deh, kesel. Sabar sebentar, mereka masih di jalan Ir." jawab Haifa.


"Lama banget."


"Mas kok kayak gak tau situasi dan kondisi jalanan kota tiap sore aja. Macet lah. Apalagi ini jam pulang kerja." omel Haifa.


"Iya sayang. Udah gak usah ngomel, mau di kasih vitamin c lagi?" kata Alvin.


"Nih vitamin c nih." kata Haifa mencubit keras hidung Alvin.


"Yang sakit..." kata Alvin sambil melepaskan tangan Haifa dari hidungnya.


"KDRT kamu." omel Alvin.


"Bodo."


"Aku lapor kak Seto loh Yang nanti."


Haifa ketawa kencang.


"Kok ketawa."


"Yakali kak Seto mau ngelayanin laporan kamu."


"Ya kenapa enggak?"


"Emang kamu ini anak anak? Iya? Anak apa? Anak gajah?"


"Aku hukum kamu Yang, gak boleh tidur sampe pagi."


"Uuuu takut..." ledek Haifa.


"Ngeledek hm? Lihat aja nanti ku buat ampun ampunan."


"Gatakut wlee."


"Bener ya, awas aja kalau alesan ketiduran sambil ngelonin Aidan."


"Assalamualaikum... Papaaaaa..." teriak seseorang dari arah pintu depan. Alvin dan Haifa yang sedang berada di ruang keluarga segera menghampiri ke arah pintu.


Belum sampai di ruang tamu sepasang tangan kecil sudah memeluk kaki Alvin.


"Papaaa..." katanya sambil mendongak menatap Alvin.


Alvin segera menggendongnya.


"Mbak Novia, Pak Brian silahkan duduk." kata Haifa mempersilakan sepasang suami istri tersebut. Haifa juga sudah menarik pelan tangan Alvin untuk duduk di ruang tamu.


"Iya terimakasih." jawab Brian.


"Papa maaf kakak ke lumah mama gak bilang papa." kata Aina dengan wajah yang menggemaskan, bayangkan saja sekarang bibir bawah Aina sudah lebih maju dari bibir atasnya.


"Iya, papa sama bunda cari-cari kakak loh. Kakak kok gak nurut sama papa." kata Alvin.


"Maaf papa." kata Aina sambil memeluk erat leher Alvin.


"Janji sama papa gak begitu lagi ya. Kan papa sering bilang kalau mau melakukan sesuatu itu harus izin dulu, ingatkan?" kata Alvin sambil menenangkan kata izin.


"Iya papa." kata Aina sambil menyembunyikan wajahnya di leher Alvin.


"Vin." kata Novia memotong interaksi antara papa dan putrinya itu. Alvin sama sekali tidak menggubris, ia lebih asik mengobrol random dengan putrinya yang tidak lepas memeluknya.


"Kakak sama bunda dulu yuk. Kita main di kamar." kata Haifa. Haifa sengaja mengantisipasi takutnya ada obrolan yang tidak patut didengar Aina.


"Main sama adek?" katanya.


"Iya yuk. Kakak ikut bunda ya." kata Haifa.


"Mau." kata Aina sambil melepaskan diri dari Alvin.


"Ayo kakak izin dulu sama mama sama daddy."

__ADS_1


"Mama, daddy kakak ke kamal dulu ya. Mau main sama adek sama adek. Assalamualaikum." katanya sambil mencium tangan Novia dan Brian.


"Ayo bunda." katanya sambil menarik tangan Haifa.


"Haifa permisi atas dulu ya, Mbak Novia, Pak Brian."


"Mas Haifa ke atas ya."


"Kesini lagi. Biar Aina main sama Abang." kata Alvin. Haifa mengangguk.


Tidak lama mengantar Aina ke atas untuk bermain bersama adik dan omnya, Haifa pergi ke dapur, untuk meminta tolong bude membuatkan minuman.


Ketika sampai di ruang tamu, suasananya sudah menegang.


"Tapi Aku Mamanya Aina Vin. Aku juga berhak." kata Novia.


"Saya tahu. Saya juga tidak menyangkal..."


"Maaf silakan diminum dulu." kata Haifa sambil menyodorkan secangkir minuman ke hadapan masing-masing.


"Terimakasih." kata Novia dan Brian bersamaan.


"Vin tolong lah selama kami di Indonesia, biar Aina sama Aku." kata Novia.


"Kalau saja hari ini kamu tidak membuat kesan buruk di mata saya. Mungkin saya tidak akan susah untuk mengizinkan. Tapi setelah apa yang kamu buat, yang membuat kami khawatir, saya jadi berpikir dua kali. Kalau kamu saja berani menjemput Aina tanpa izin saya. Tidak menutup kemungkinan kalau kamu juga nanti nekat bawa Aina pergi kan." kata Alvin.


"Mas." tegur Haifa.


"Maaf Vin. Saya juga sebagai suaminya Novia tidak membenarkan tindakan Novia. Tapi Novia sudah meminta maaf, saya rasa cukup. Saya jamin kejadian begini tidak akan terulang dua kali. Saya pastikan akan selalu izin dan berkomumikasi dengan kamu mengenai Aina." kata Brian.


"Vin, Aku minta maaf. Iya Aku salah karena bawa Aina tanpa seizin kamu. Tapi tolong, selama aku di Indonesia biar Aina sama Aku."


"Tolong Vin, Aku gak sebulan sekali ada Indonesia. Berbulan-bulan Aku gak ketemu sama Aina Vin. Aku gak bisa menjalankan peranku sebagai ibu dengan baik. Jadi Aku minta tolong dua minggu aja. Selama Aku di sini, biar Aina sama Aku." kata Novia.


"Aku juga mau seperti kalian. Bisa kapanpun kumpul sama anak-anak. Sedangkan aku? Walaupun aku sudah bersama dua anak aku yang lain. Tapi aku merasa gak sempurna, karena satu lagi anak aku gak bisa selalu dekat sama aku. Aku juga pengen lihat tumbuh kembang Aina dari dekat. Selama ini aku selalu mengesampingkan keinginanku. Karena aku harus sadar dengan keadaan. Karena aku harus terima konsekuensi dari pilihan yang aku pilih. Tolong Vin." kata Novia dengan suara yang mulai bergetar.


"Vin, kami di sini gak lama. Cuma dua minggu. Saya pastikan jika kamu kasih izin Aina sama kami. Saya sendiri yang akan memastikan jika Aina selalu baik baik aja." kata Brian.


"Saya gak bisa kasih keputusan sekarang. Saat ini saya masih kecewa sama tindakan Novia. Saya juga harus tanya Aina dulu."


"Iya gak masalah. Saya hargai keputusan kamu. Semoga kamu beri izin." kata Brian.


"Sudah hampir maghrib. Kalau begitu saya dan Novia permisi." kata Brian.


*


Setelah mengantar Novia dan Brian sampai mobil mereka meninggalkan halaman rumah. Alvin dan Haifa kembali masuk. Tidak ada obrolan antara Alvin dan Haifa. Bukan marah, tapi rasanya Alvin jadi emosi lagi dan ia tidak ingin Haifa kembali jadi sasaran emosinya.


"Mas..." panggil Haifa.


"Nanti aja bicaranya, saya mau siap siap ke masjid."


Alvin sudah masuk ke kamar mandi. Haifa menyiapkan pakaian untuk dipakai Alvin. Selesai menyiapkan pakaian untuk Alvin. Haifa beranjak ke kamar main anak-anaknya.


"Assalamualaikum." sapa Haifa ketika melihat anak-anaknya sedang asik bermain dengan Keanu.


"Wa'alaikumsalam."


"Udah pulang tamunya?" tanya Keanu. Haifa mengangguk.


"Abang mau maghrib di sini atau gimana?"


"Jam berapa sih? Wah udah setengah 6. Di sini aja deh. Abang juga bawa pakaian ganti kok di mobil." kata Keanu.


"Yaudah abang siap siap sana. Mas Alvin juga lagi mandi. Abang siap siap di kamar tamu aja. Bersih kok." kata Haifa


***


Sambil menunggu Alvin dan Keanu pulang dari masjid, Haifa menemani Aina belajar sambil bermain. Bersama Aidan juga, bocah kecil itu dari tadi sangat antusias sekali merecoki Aina belajar.


"Kakak tadi ke rumah Mama?" tanya Haifa sambil mengusap kepala Aina.


"Iya. Ada dede Ze."


"Seneng main sama mama?"


"Seneng. Kakak kan lama gak main sama mama."

__ADS_1


"Terus kenapa tadi kakak telepon bunda sambil nangis?"


Aina menatap Haifa kemudian duduk di pangkuan Haifa, sambil memeluk Haifa.


"Kakak gak nulut sama papa sama bunda."


"Kakak seneng dijemput mama. Jadi kakak lupa izin sama papa sama bunda."


"Kakak takut papa sama bunda sedih dan cali cali kakak. Jadi kakak nangis, kakak mau pulang." katanya.


"Sayang." kata Haifa balas memeluk Aina.


"Tapi kakak masih mau main sama Mama sama daddy?" tanya Haifa


"Mau. Tapi halus izin dulu sama papa."


"Nanti kakak izin baik baik ya sama papa biar kakak diizinkan lagi main sama mama sama daddy." Aina mengangguk.


"Bunda kakak ngantuk." kata Aina sambil menguap.


"Belum shalat isya loh." kata Haifa.


"Shalat sekalang boleh?" tanya Aina.


"Belum boleh. Kan belum adzan."


"Suluh papa cepat cepat adzan aja di masjidnya."


"Gak bisa begitu sayang, adzan itu aja jadwalnya. Harus tepat. Kaya jadwal kakak masuk sekolah. Harus tepat kan?" kata Haifa. Aina mengangguk.


"Tapi kakak ngantuk bunda."


"Tujuh menit lagi."


"Tujuh menit itu belapa?"


"Kakak itu sampai tujuh ya, Satu, Dua, Tiga..." katanya.


"Bukan begitu sayang, kalau kakak mau berhitung 7 menit itu kakak hitung sampai 420."


"Banyak. Ah kakak capek, ngantuk." katanya sambil semakin erat memeluk Haifa dan menyandarkan kepalanya di dada Haifa.


Tujuh menit, Aina berhasil menahan rasa kantuknya. Sampai bisa shalat bersama dengan sang bunda. Jangan lupakan Aidan yang selalu menarik narik mukena bunda dan kakaknya. Sampai sesekali Aina perlu merapatkan mulutnya sangat keras agar tidak tertawa dengan kelakuan Aidan.


"Bunda kakak mau bobo." katanya setelah selesai shalat.


"De au obo." kata Aidan tidak mau kalah.


"Iya kita bobo ya. Kakak bereskan dulu mukenanya ya."


*


Keanu sudah berpamitan untuk pulang, anak anak juga sudah tertidur. Aina di kamarnya sendiri dan Aidan lelap di tengah kasur kedua orangtuanya.


"Mas..." panggil Haifa.


"Lapar Yang." kata Alvin. Alvin sengaja mengalihkan. Karena tahu apa yang akan Haifa bicarakan.


"Haifa tahu mas menghindar kan?"


"Iya, karena sekarang mas lapar sayang. Kita makan dulu ya. Terus abis itu kita ngobrol. Mas kan janji buat bikin kamu gak tidur malam ini."


"Mas bukan itu maksudnya."


"Iya tahu kamu nagih janji mas yang bakal bikin kamu ampun ampunan kan? Iya sabar ya. Kita isi tenaga dulu."


"Bukan itu juga."


"Apalagi sih Yang. Gak sabaran banget."


"Tahu ah. Cepat makan katanya lapar." kata Haifa sambil meninggalkan Alvin.


...----------------...


To be continued...


See you next part...

__ADS_1


__ADS_2