Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 23 - Akad


__ADS_3

Sampai pada acara yang ditunggu oleh kedua keluarga dan pastinya juga oleh kedua mempelai yang dalam hitungan menit akan segera berubah status.


"Saya terima nikahnya Haifa Tazkia Shafira binti Raditya Gunawan dengan mas kawin tersebut tunai." ucap Alvin dengan tegas dalam satu nafas dan dengan sekali ucap.


"Sah?"


"SAH."


"SAH."


"Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khair." ucap penghulu dan diikuti oleh tamu undangan yang menyaksikan akad.


Tidak butuh waktu lama Haifa yang diapit oleh kedua kakaknya terlihat sedang berjalan menuju tempat berlangsungnya akad nikah.


"Silahkan kedua mempelai untuk melakukan penandatanganan dokumen terlebih dahulu."


Setelah penandatanganan dokumen seperti ritual pengantin pada umumnya.


Alvin menyerahkan mahar pada Haifa. Kemudian keduanya saling memakaikan cincin nikah. Haifa mencium tangan Alvin dan Alvin mencium kening Haifa. Diakhiri dengan riuhnya ucapan ucapan bahagia dari para tamu undangan.


Setelah prosesi akad nikah berakhir acara selanjutnya ialah prosesi adat.


Tangis para orangtua dan kedua mempelai sulit ditahan ketika sedang berlangsung prosesi sungkeman. Yaitu prosesi pengantin sungkem kepada kedua orangtua mereka kemudian bertukar ke kedua orangtua pasangan. Pada prosesi ini biasanya diisi dengan permohonan maaf dari kedua mempelai kepada kedua orangtua juga pemberian nasehat dari kedua orangtua pada putra dan putrinya.


Selesai dengan prosesi adat mereka melakukan foto bersama kedua keluarga dan tamu undangan secara begantian.


Pukul 13.00 acara pernikahan dihentikan dan akan dimulai kembali malam nanti atau pukul 19.30 s/d Selesai.


Sekarang Alvin dan Haifa sudah berada dalam satu kamar hotel untuk beristirahat sejenak.


"Mereka gak datang ya?" tanya Haifa pada lelaki yang kini berstatus suaminya.


"Mungkin datang cuma kitanya yang gak lihat mereka." ucap Alvin mencoba menenangkan.


"Mana ada, tadi juga pas foto gak ada sama sekali."


"Udah gak usah terus terusan mikirin satu hal yang bikin kamu sedih. Masih banyak hal lain yang lebih positif yang harus kamu pikirin." ucap Alvin.


"Seperti saya misalnya." ucap Alvin sambil menaik turunkan alisnya.


"Dih."


"Gak boleh gitu sama suami dosa."


"Baru beberapa jam aja udah sombong."


"Oh jelas harus. Apalagi kalau punya istrinya modelan begini nih." ucap Alvin sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Haifa.


Haifa yang diperlakukan seperti itu oleh Alvin menjadi malu yang membuat wajahnya memerah dan sangat terlihat jelas oleh Alvin.


"Apaan sih pak. Udah sana cepet bersih bersih." perintah Haifa sambil mendorong wajah Alvin dengan kedua tangannya agar menjauh.


"Ih udah berani pegang pegang yaa sekarang."


"Pak Alvin ih." kesal Haifa.


"Haha oke oke. Biasa aja dong gak usah salting." ucap Alvin sambil berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.


"Oh iya Haifa satu lagi." ucap Alvin saat sudah berada di depan pintu kamar mandi.


"Apa?" tanya Haifa sambil melihat ke arah Alvin.


"Bilang sama MUA nya. Nanti make up nya gak usah pake blush on." ucap Alvin


"Kenapa?"


"Karena gak pake blush on pun wajah kamu selalu merah kalau dekat saya dan saya lebih suka itu." ucap Alvin.


"Tuh kan bener baru saya bilang udah keliatan lagi merahnya haha." ucap Alvin kemudian segera masuk ke kamar mandi karena sudah melihat raut kekesalan diwajah Haifa.


Mendapati dirinya yang selalu digoda oleh Alvin membuat Haifa tak tahan untuk mengomel melampiaskan kekesalannya. Akhirnya Haifa hanya bisa menggerutu sendiri.


Tak butuh waktu lama Alvin sudah keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit diperut sampai lututnya. Haifa yang semula sedang duduk di tepi ranjang langsung membalikan badan membelakangi Alvin.


"Kenapa sih keluar kamar mandi cuma pake handuk begitu. Gak malu apa?" omel Haifa.


"Haha kenapa malu. Sama istri juga." jawab Alvin. Dan Haifa hanya bisa mendengus kesal dengan kelakuan Alvin.


"Gak usah kesel terus. Cepet kamu bersih bersih. Kita shalat dzuhur berjamaah." perintah Alvin.


"Bapak shalat aja. Gak usah nunggu Haifa."


"Gak baik loh nolak permintaan suami apalagi itu ajakan baik."

__ADS_1


"Iya pak suami. Haifa tau. Tapi masalahnya kalau pak suami shalat dzuhurnya nunggu Haifa biar bisa berjamaah. Bapak baru bisa shalat dzuhur seminggu kemudian mau?" tanya Haifa.


"Maksud kamu?"


"Bapak berapa tahun sih kayak gak ngerti perempuan aja."


"Kamu lagi datang bulan?" tanya Alvin.


Haifa mengangguk.


"Yah.." ucap Alvin dengan wajah yang memelas.


"Kenapa?"


"Gak apa apa." jawab Alvin sambil menggelar sajadah dan memulai shalat.


Haifa hanya mengangkat bahu. Kemudian bergegas ke kamar mandi.


Sekitar 20 menit Haifa berada di kamar mandi. Sedangkan Alvin sudah duduk bersandar di tempat tidur sambil memainkan handphone.


"Pak Aina sama siapa ya?" tanya Haifa yang baru keluar dari kamar mandi.


Alvin menatap Haifa.


"Kamu gak salah di dalam kamar pake gamis dan kerudung begitu?" tanya Alvin saat melihat penampilan Haifa yang sudah tertutup seperti sehari hari lengkap dengan kaos kaki.


"Emang biasanya bapak lihat Haifa pake apa?" tanya Haifa.


"Ya bukan begitu. Maksudnya sekarang lagi dalam kamar."


"Iya tapi kan ada bapak." ucap Haifa.


"Kamu lupa sekarang kita sudah menjadi suami istri. Oke walau baru beberapa jam. Jadi gak masalah dong."


"Udah ah pak. Mending sekarang istirahat. Lumayan satu jam dua jam. Persiapan tenaga buat nanti malam." ucap Haifa sambil hendak berbaring dan menaikan selimut sampai ke dada.


"Emang malam nanti mau ngapain? Sampe harus nyiapin tenaga segala?" tanya Alvin sambil ikut berbaring.


"Resepsi lah. Emang apa?" ucap Haifa sambil mengubah posisinya menyamping membelakangi Alvin.


Alvin hanya terkekeh karena dapat melihat sekilas raut wajah malu malu dan salah tingkah yang ditunjukan Haifa.


Pukul 16.00 Haifa terbagun lebih dulu. Ia melihat Alvin masih tertidur dengan posisi yang sama.


Haifa memutuskan untuk membangunkan Alvin. Telunjuknya bergerak untuk menoel noel lengan Alvin. Tapi belum ada reaksi apapun dari Alvin.


"Pak." panggil Haifa sambil terus menoel noel lengan Alvin. Lagi lagi belum ada reaksi apapun dari Alvin.


"Ih gak bangun." kesal Haifa kemudian merubah posisinya menjadi duduk dan memberanikan diri menyulurkan tangannya untuk menggoyangkan badan Alvin.


"Pak bangun." panggil Haifa sambil tangan satunya terus menggoyangkan badan Alvin.


Terlihat perlahan Alvin membuka mata. Melihat Alvin sudah membuka mata Haifa langsung menghentikan aktivitasnya.


"Shalat ashar pak. Susah banget sih dibangunin." ucap Haifa.


"Iyalah susah. Orang dibanguninnya cuma ditoel toel pake satu jari." ucap Alvin sambil mendudukan dirinya.


Haifa hanya diam sambil mengerucutkan bibirnya. Ternyata Alvin sudah bangun hanya saja matanya masih terpejam dan mencoba mengusili Haifa.


"Nih dikasih tahu ya. Lain kali kalau bagunin saya tuh begini." kata Alvin sambil mendekat pada Haifa.


"Sayang bangun." ucap Alvin ditelinga Haifa.


"Begitu." kata Alvin lagi dan seketika Alvin melihat pipi Haifa sudah memerah.


Cup.. Melihat pipi Haifa yang memerah tanpa izin Alvin mencium pipi Haifa.


"Nah apalagi kalau pake itu. Pasti langsung bangun." ucap Alvin lalu segera pergi ke kamar mandi meninggalkan Haifa yang masih diam tak berbuat apa apa setelah mendapat perlakuan seperti itu dari Alvin.


"Nafas Haifa baru juga di pipi." ucap Alvin sebelum benar benar masuk ke kamar mandi.


"PAK ALVIN!" teriak Haifa karena kesalnya. Bagaimana tidak kesal baru beberapa jam jadi suami saja Alvin sudah sering menggoda dirinya.


"Haha gak usah kesel kesel. Lama lama juga minta nambah." sahut Alvin dari dalam kamar mandi. Sementara itu Haifa sudah mengumpat tak jelas di atas tempat tidur.


Pukul 20.00 kedua mempelai sudah berada di pelaminan dan sudah mulai menyalami para tamu undangan. Haifa melihat ada beberapa teman teman kampusnya yang datang, menyalaminya, mengucapkan selamat dan mereka juga tak menyangka jika Haifa menikah dengan sang dosen. Ah melihat teman temannya yang datang, Haifa jadi teringat ketiga sahabatnya. Bahkan sampai sekarang belum sama sekali terlihat kehadiran mereka.


"Mereka gak datang juga." ucap Haifa pelan yang masih bisa didengar oleh Alvin.


"Sabar mungkin masih diperjalanan." ucap Alvin sambil mengusap punggung Haifa.


Entah sudah berapa banyak tamu undangan yang mereka salami. Tapi Hifa belum juga melihat ketiga sahabatnya. Yasudahlah mungkin mereka memang tidak bisa hadir. Kan sejak awal juga Haifa sudah mempersiapkan diri jika kemungkinan mereka tidak bersedia hadir diacara pernikahannya.

__ADS_1


Alvin sepertinya menyadari keresahan yang dirasakan oleh Haifa.


"Mau istirahat dulu?" tanya Alvin.


"Enggak usah. Tamunya masih banyak nanti gak bere beres." ucap Haifa.


"Yaudah kalau gitu. Happy dong jangan mikirin masalah itu terus. Saya gak tega liatnya." ucap Alvin sambil mengusap kedua pipi sang istri. Bukan Haifa tak bahagia. Tapi sulit dipungkiri tidak melihat sosok sahabat dihari bahagianya membuat ada sedikit perasaan sedih dalam dirinya. Apalagi kondisi Haifa yang sedang Haid pun kadang membuatnya labil. Tapi abaikan saja alasan yang kedua.


"Pengantin sabar dong tamu masih banyak jangan dianggurin." goda tamu undangan yang ingin menyalami mereka tapi tak berani mengganggu drama diatas pelaminan.


"Ih malu." ucap Haifa sambil menurunkan tangan Alvin dari kedua pipinya.


"Nah beginikan lebih cantik." ucap Alvin melihat wajah Haifa yang tersenyum malu malu.


Mulai lelah menyalami tamu undangan sampai kadang mereka tak sadar dan lupa siapa saja yang sudah mereka salami.


"Pak boleh istirahat sebentar gak?" pinta Haifa pada Alvin.


"Boleh. Emang di roundown acara juga bentar lagi salaman di jeda dulu. Ada persembahan katanya." ucap Alvin.


"Pesembahan dari siapa?"


"Saya juga gak dikasih tau." ucap Alvin.


Benar saja tidak lama setelah obrolan mereka acara salam salaman dijeda. Fokus tamu undangan beralih ke arah panggung. Sementara kedua mempelai memiliki waktu untuk beristirat sejenak walau hanya duduk dikursi pelaminan.


Alunan musik mengiringi sosok yang hendak menampilkan persembahan.


"Bang Ken?" tanya Haifa pada Alvin.


"Eh iya ngapain ya."


"Wah jangan jangan mau ngerusak acara lagi."


"Nyaco." ucap Alvin sambil menyentil dahi Haifa.


Suara Ken mulai terdengar menyanyikannya lagu Perfect - Ed Sheeran.


"Tolong bukain." ucap Haifa sambil menyodorkan air mineral pada Alvin.


"Lagunya inget gak?" tanya Alvin sambil kembali memberikan air mineral yang sudah terbuka pada Haifa.


"Yang pas di mobil?" tanya Haifa setelah selesai minum.


"Iya. Pas saya minta izin sama kamu buat kenalan sama keluarga kamu." ucap Alvin.


"Terus bapak kenapa bisa tiba tiba kepikiran buat bilang begitu sih? Padahalkan kenal juga belum lama." tanya Haifa.


"Pertama yang buat saya berani mengambil keputusan secepat itu adalah karena Aina yang selalu meminta saya untuk menjadikan kamu bundanya. Kedua karena saya merasa saya terlalu sering berinteraksi dengan kamu dan saya tau itu tidak baik bagi wanita dan pria yang bukan mahram. Jadi saya pikir mungkin lebih baik bika saya segera ambil keputusan."


"Berarti niat bapak itu hanya meminta saya untuk menjadi bundanya Aina?" tanya Haifa.


"Awalnya begitu. Tapi setelah kejadian di cafe itu. Waktu kamu memberikan jawaban tak jelas dengan merekomendasikan orang lain. Di situ saya merasa kamu melakukan penolakan secara halus dan entah kenapa walau di mulut saya bilang saya menerima segala konsekuensinya. Tapi perasaan saya bilang tidak mau terima dengan keputusan kamu. Akhirnya saya malah memberikan kamu waktu untuk berpikir ulang. Di situ saya sadar bahwa saya bukan hanya ingin meminta kamu untuk menjadi bundanya Aina melainkan juga untuk menjadi istri saya."


Lagi pipi Haifa dibuat memerah oleh Alvin. Dan lagi tangan Alvin kembali menyentuh kedua pipi Haifa.


"Dan beruntungnya beberapa hari kemudian kamu memberikan saya jawaban yang sangat jelas dan sangat bisa saya terima. Dan hari itu juga kan saya langsung menemui orang tua kamu. Karena saya gak mau kamu berubah pikiran. Biasanya kan perempuan seusia kamu gini masih suka labil."


"Haifa enggak ya!" ucap Haifa memperingati.


"Yakin? Buktinya beberapa hari sebelumnya nolak. Tapi beberapa hari kemudian nerima." ucap Alvin.


"Ya itu tuh karena."


"Karena..."


"Karena..." ucapan Haifa menggantung dan Haifa tidak mampu lagi melanjutkan ucapannya karena Alvin berhasil melakukan tindakan yang membuatnya membeku dan seperti kehilangan kesadaran.


"Karena apa?" ucap Alvin sambil menjauhkan wajahnya dari Haifa.


"Bapak ih malu banyak orang." ucap Haifa sambil memukul Alvin dan wajahnya sudah semakin memerah.


"Haha biarlah udah sah. Gak ada yang liat juga." ucap Alvin.


"Kata siapa gak ada yang liat?" ucap seseorang yang entah sejak kapan sudah berada di atas pelaminan dan tak jauh dari mereka.


"Ah mataku jadi ternoda kan." ucapnya lagi.


Kedua orang itu berhasil membuat kedua mempelai terkejut dengan kedatangannya.


***


**To be continued...

__ADS_1


See you next part**...


__ADS_2