Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 16


__ADS_3

Malam kedua setelah hari itu, belum ada kabar apapun lagi dari Haifa. Alvin pikir ah sudahlah mungkin kemarin itu penolakan secara halus.


Sudah pukul 23.30 Alvin masih berada di ruang kerjanya menghadapi beberapa berkas yang harus ia periksa dan ia tanda tangani.


Saat sedang fokus handphone Alvin tiba-tiba berbunyi menandakan ada sebuah panggilan yang masuk.


Alvin mengerutkan keningnya. Cukup heran, Alvin sempat melirik jam dinding sekilas.


"Yakin nih jam segini nelpon? Kepencet kali ya." kata Alvin berbicara pada dirinya sendiri.


Alvin memilih mengabaikan panggilan tersebut dan kembali fokus pada pekerjaannya.


Panggilannya diabaikan oleh Alvin, Haifa jadi kesal sendiri. Padahal dirinya hanya ingin memberitahu keputusan yang sudah didapat. Tapi Haifa juga menyadari ini sudah terlalu malam mungkin saja pak dosennya itu sudah tidurkan.


"Yaudahlah udah tidur mungkin." ucap Haifa kemudian membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur lalu mencoba memejamkan matanya.


Selepas shalat subuh Haifa baru sempat untuk mengecek handphonenya. Ternyata ada satu notifikasi chat dari kontak yang ia namai pak Alvin.


Pak Alvin


'Ada apa kamu menelpon saya tengah malam? Kurang kerjaan? Atau kamu punya calon lain untuk kamu ajukan lagi pada saya? Jika begitu maaf saya tidak punya banyak waktu.' begitu chat yang Haifa dapat dari sang dosen.


Haifa tampak kembali sedih setelah membaca pesan dari Alvin. Ternya Alvin masih marah dan Alvin benar tersinggung. Bahkan dalam pesan yang ditulisnya pun Alvin tidak menuliskan salam.


Haifa memberanikan untuk membalas pesan dari Alvin.


Haifa


'Wa'alaikumissalam. Mohon maaf jika panggilan saya semalam mengganggu bapak. Saya juga mohon maaf jika tindakan saya beberapa hari yang lalu membuat bapak kecewa dan tersinggung. Jika pertanyaan bapak waktu itu masih berlaku. Saya hanya ingin menyampaikan. Jika saya dan keluarga mengizinkan bapak untuk mengenal keluarga kami. Silahkan jika memang bapak ingin menemui kedua orangtua saya. Tapi jika pertanyaan itu sudah tidak berlaku, tidak jadi masalah. Dan saya tetap meminta maaf atas kejadian kemarin. Terimakasih.' tulis Haifa.


Percayalah pesan di atas Haifa tulis dalam waktu yang sangat lama dan melalui proses ketik hapus ketik hapus. Entahlah semenegangkan itu bagi Haifa untuk mengabarkan hal tersebut pada Alvin.


Haifa meletakan handphonenya tak berharap Alvin cepat membalas. Sebaliknya Haifa justru was was jika Alvin menjawab, kira kira seperti apa jawaban Alvin?


Dan ditempat yang berbeda Alvin yang baru pulang dari masjid memilih untuk membangunkan sang putri terlebih dahulu.


"Sayang..." ucap Alvin sambil mengusap puncak kepala Aina.


Sekali belum ada pergerakan. Kedua kali masih sama. Dan cara yang terampuh yaitu menciumi seluruh permukaan wajah Aina biasanya dengan begitu Aina akan merasa risih kemudian bangun. Terbukti dengan sekali percobaan bocah kecil itu sudah mengucek matanya. Alvin mencium kening Aina sekali lagi.


"Bangun yuk. Baca do'a dulu."


Aina menurut saja walaupun belum sepenuhnya sadar tapi bibirnya mengucapkan do'a bangun tidur yang sudah mulai fasih ia lapalkan.


"Shalehahnya putri papa."


"Papa udah thalat (shalat)?" tanya Aina saat melihat Alvin masih mengenakan baju koko dan sarung.


"Udah dong papa baru pulang dari masjid."


"Aina mau belajal thalat papa. Kata bu utadah kita wajib thalat." kata Aina yang sudah semakin fasih berbicara kecuali huruf S dan R.


"Boleh dong. Yuk Aina gosok gigi, cuci muka terus ambil wudhu dulu." ajak Alvin.


"Gendong."


Sudah pukul 06.30 Haifa baru saja selesai sarapan bersama mama dan papa.


Haifa kembali mengecek handphonenya dan pesannya pagi tadi sama sekali belum dibaca oleh Alvin.


"Belum dibaca atau emang dinonaktifkan centang birunya sih?" ucap Haifa.


"Kenapa dek?" tanya sang Mama yang duduk di depan Haifa.


"Eh gak apa apa ma."


"Adek udah kasih tau dosen adek?" tanya Papa.


Haifa mengangguk.


"Terus kapan mau ketemu Papa?" tanya Papa lagi.


"Belum tau."


"Kok belum tau?"


"Iya belum tahu chat adek tadi pagi juga belum dibaca." ucap Haifa.


"Adek baru kasih tau tadi pagi?" tanya Mama.


Haifa mengangguk.


"Kok bisa. Papa kan udah kasih keputusan dari dua hari yang lalu." kata papa.


"Adek takut ngasih taunya."


"Oh jadi ngumpulin keberanian dulu. Baru dikasih tahu ke dosen adek gitu?" tanya mama sambil tersenyum.


Haifa diam saja.

__ADS_1


"Duh anak papa tuh malu malu kucing." ucap Mama.


"Udahah mama papa mah ngegodain terus." ucap Haifa.


"Uu ngambek." goda Papa.


"Enggak." jawab Haifa.


"Jangan ngambekan dek. Masa udah mau ada yang seriusin masih ngambekan gini." kata Mama.


"Nah iya. Nanti yang ada kalau bener jadi pak Alvin bukan punya istri malah jadi nambah anak. Haha." kata Papa menambahi.


"Tau ah. Terserah." ucap Haifa beranjak dari meja makan sambil membawa piring kotor bekas mereka makan.


Kebetulan hari libur Alvin di rumah bersama Aina. Mereka sedang bermain di kamar Aina.


"Papa." panggil Aina sambil menghampiri Alvin dan duduk di pangkuan Alvin.


"Apa sayang?" ucap Alvin sambil mengusap rambut Aina.


"Aina pengen beli tepeda kayak abang Azam." ucap Aina.


"Emang udah bisa?"


"Belajal."


"Boleh ya?" bujuk Aina lagi.


"Boleh kok. Tapi gak bisa sekarang ya. Papa cari uangnya dulu. Beli sepeda kan gak murah." kata Alvin lembut. Di sini Alvin juga ingin mengajarkan pada Aina jika apapun yang diinginkan tidak bisa tercapai tanpa usaha.


"Aina puna uang."


"Nih." ucapnya sambil menyerahkan selembar uang 5000 dari kantong bajunya.


Alvin terkekeh dengan tingkah putrinya.


"Masya Allah pinter banget sih sayang." kata Alvin kemudian mencium pipi Aina.


"Bita?" tanya Aina memastikan.


"Bisa tapi masih kurang. Aina harus nabung dulu."


"Mau nabung."


"Yaudah nanti Papa beli celengan buat Aina ya."


"Makatih Papa."


"Aina tunggu sebentar ya. Papa mau ambil handphone dulu di kamar."


Aina mengangguk.


Dari sekian notifikasi yang masuk ke handphonenya. Ada satu yang membuatnya penasaran. Sudah tahu kan dari siapa?


Setelah membaca pesan tersebut tampak segaris senyum di bibir Alvin. Alvin juga tidak lupa untuk membalas pesan tersebut.


Pak Alvin


'Oke.' begitu yang Alvin tulis untuk membalas pesan Haifa. Singkat padat dan jelas sekali kan?


Haifa yang sejak tadi sedang fokus mengerjakan skripsinya sedikit teralihkan dengan bunyi notifikasi dari handphone yang sejak tadi standby di sampingnya.


"Inalillahi. Chat dari subuh, dibalas jam segini. Chat panjang panjang mikirin kata kata yang baik biar gak nyinggung lagi udah ketik hapus ketik hapus. Di jawabnya cuma begini? Tiga huruf doang?" ucap Haifa bermonolog sendiri.


"Gak akan Haifa balas lagi. Bodo amat." ucap Haifa sambil meletakan handphonenya.


Dan dilain rumah Alvin sudah kembali bersama sang putri.


"Aina mau telepon aunty cantik gak?" tawar Alvin pada sang putri.


"Mau." jawab Aina dengan semangat dan langsung mendekati Alvin.


"Semangat banget sih sayang."


"Ayo papa."


"Iya sebentar sayang nih lagi papa coba."


"Bita?"


"Harusnya sih bisa."


Setelah tersambung Alvin langsung mengubahnya ke mode loudspeaker.


"Assalamualaikum." ucap Haifa dengan nada datar.


"Alaikum talam. Aty tantik." panggil Aina.


"Aina." seketika suara Haifa berubah drastis. Dan seketika Alvin ingin tertawa.

__ADS_1


"Tolly aty." ucap Aina.


"Loh kenapa?" tanya Haifa.


"Aty malah ya tama Aina? Aina nakal ya?" tanya Aina dengan suara pelan.


"Enggak kok. Aunty gak marah. Aina juga gak nakal."


"Tapi aty tantik gak mau tepon Aina lagi."


"Sayang. Aunty minta maaf yaa. Mau kan maafin aunty?"


Aina mengangguk. Lupa jika panggilannya saat ini hanya panggilan suara.


"Yah Aina gak mau maafin aunty yaa."  ucap Haifa dengan nada sedihnya.


"Mau." jawab Aina cepat.


"Alhamdulillah. Jadi kita temenan lagi dong?" tanya Haifa.


"No." jawab Aina.


"Kok gitu?"


"Aina mauna aty tantik jadi bundana Aina." jawab Aina.


Haifa diam ia tidak bisa menjawab ini pertanyaan kesekian kalinya dari Aina.


"Oh iya. Aina sekarang lagi apa?"


"Main tama papa."


"Aty lagi apa?"


"Aunty lagi belajar."


"Belajal apa?"


"Aunty lagi buat skripsi."


"Apa aty klipti?"


"Skripsi sayang."


"Klipti."


"Ikutin aunty ya. Skrip."


"Klip."


"Si."


"Ti."


"Skripsi."


"Klipti."


"Aaa tutah aty." kesal Aina.


Dan sejak tadi Alvin sudah menahan tawa melihat ekspresi Aina.


"Haha oke oke."


"Sayang udah dulu ya. Aunty harus belajar lagi."


"Betok tepon lagi ya." pinta Aina.


"Aunty usahakan yaa."


"Sore ini saya dan Aina akan ke rumah kamu. Tolong kamu share loc ke saya." suara Alvin terdengar dari sana.


"Hah." ucap Haifa karena ia benar benar kaget.


"Hah hah. Gak sopan kamu sama dosen."


"Ya bukan gitu pak."


"Kamu bilang papa kamu sudah beri izin kan? Jadi salahnya apa?"


"Iya tapi gak langsung sore ini juga. Dadakan banget. Gak ada persiapan."


"Emang saya datang mau apa? Saya cuma pengen ngobrol sama orang tua kamu. Bukan mau melamar kamu. Emang kamu udah siap banget saya lamar?" ucap Alvin tanpa dosa.


Tanpa Alvin tahu ucapannya berhasil membuat gadis di sebrang telepon sana gelisah tak jelas.


***


**To be continued...

__ADS_1


See you next part**...


__ADS_2