Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 29


__ADS_3

Haifa sudah ingin memejamkan mata tapi ditengah keheningan karena dirinya hanya seorang diri ada satu kalimat yang menggema untuk Haifa.


"Emang mas pernah bilang sayang sama kamu?"


Kata kata Alvin barusan menjadi sulit dilupakan oleh Haifa.


Haifa mencoba mengingat-ingat mencari jawaban. Apa pernah Alvin mengatakan sayang padanya? Ya setelah diingat Haifa tidak menemukan memori yang menunjukan hal itu. Alvin hanya sering memanggilnya sayang bukan mengatakan kalau dirinya sayang pada Haifa.


"Cuma panggilan ya. Tanpa perasaan. Terus buat apa perlakuan manisnya. Mungkin hanya untuk menunjukan jika ia suami yang baik, bertanggungjawab, penyayang." kata Haifa pada dirinya sendiri.


"Haifa cuma kegeeran ternyata. Haha Haifa lemah emang. Inget Haifa dipanggil sayang bukan berarti kamu di sayang."


Begitulah Haifa sekarang matanya terpejam tapi tak tidur. Ia akui perkataan Alvin sangat berpengaruh pada dirinya. Walau katanya cuma bercanda tapi Haifa rasa itu sungguhan karena nyatanya memang tak pernah ada momen yang menunjukan Alvin pernah mengungkapkan rasa sayangnya.


Beberapa  hari ini kondisi Haifa semakin membaik, Alvin juga sudah berani meninggalkannya ke kantor.


"Mas berangkat dulu, antar Aina terus ke kantor."


"Ya." ucap Haifa setelah mencium tangan Alvin.


Alvin heran beberapa hari ini Haifa selalu begitu, irit bicara. Awalnya Alvin kira karena Haifa masih sakit. Tapi sepertinya tidak begitu, karena Haifa bisa berbicara panjang lebar pada Aina. Justru saat sakit Haifa tak seirit bicara ini.


"Kamu kenapa?" tanya Alvin.


"Gak apa apa. Udah berangkat sana keburu siang."


"Bener?"


"Ya."


"Yaudah mas berangkat. Assalamualaikum." ucap Alvin.


"Bunda Aina belangkat tekolah dulu ya. Attalamualaikum bunda." setelah mencium tangan Haifa.


"Wa'alaikumussalam. Baik baik di sekolahnya ya sayang." ucap Haifa sambil berjongkok di hadapan Aina kemudian mencium kening dan pipi Aina.


Alvin gak salahkan, Haifa kenapa sikapnya pada Alvin sangat berbeda. Tapi yasudahlah Alvin pikir mungkin Haifa sedang dalam mood yang kurang baik.


"Maaf bukan mau kurang ajar dengan cara mengabaikan suami. Haifa cuma lagi belajar biar gak mudah kege-eran dengan perlakuan manis yang mas berikan." ucap Haifa setelah mobil yang ditumpangi Alvin dan Aina sudah tidak terlihat.


Sekitar jam 1 siang Alvin sampai di rumah setelah menjemput Aina.


"Mau langsung atau mau makan di rumah?" tanya Haifa setelah mencium tangan Alvin.


"Kamu masak?"


Haifa mengangguk.


"Kan mas udah bilang istirahat aja gak perlu masak. Ini mas juga tadi beli makanan di perjalanan." ucap Alvin sambil menungukan kantong yang ia bawa.


"Yaudah makan aja itu."


"Kamu ini kenapa sih hm? Dari beberapa hari lalu jadi aneh sama mas."


"Kamu kenapa?" tanya Alvin sekali lagi.


"Nggak." jawab Haifa.


"Sayang kita ganti baju dulu yuk." ajak Haifa pada Aina sekaligus untuk menghindari keributan dengan Alvin.


Alvin benar benar tidak mengerti ada apa sebenarnya. Ia juga tidak merasa telah melakukan sesuatu kesalahan.


Setelah makan siang dan shalat dzuhur di rumah Alvin memutuskan untuk tidak pergi lagi ke kantor. Alvin menghampiri Haifa dan Aina yang sedang bermain di kamar Aina.


"Bun." panggil Alvin.


Haifa menoleh sekilas. Awalnya Haifa mengira Alvin akan berpamitan.


"Gak pergi lagi?" tanya Haifa.


"Enggak, pengen ngobrol sama bunda." kata Alvin.


Sepertinya situasi dan kondisi berpihak pada Alvin. Aina tampak sudah menguap.


"Ngantuk?" tanya Haifa.


Aina mengangguk.

__ADS_1


"Yaudah ayo bunda temenin bobo." ucap Haifa kemudian berbaring bersama Aina sambil mengusap punggung Aina.


Dirasa Aina sudah cukup lelap dan Haifa juga ikut memejamkan mata. Tapi Alvin tau istrinya itu tidak tidur. Alvin rasa ini saatnya ia yang beraksi.


"Sayang." panggil Alvin sambil mengusap pipi Haifa.


Haifa masih bertahan untuk memejamkan mata.


"Pindah ke kamar yuk. Mas pengen ngobrol sama kamu."


Haifa masih belum mau menanggapi.


"Sayang, mau pindah sendiri atau mau mas gendong?"


"Mas hitung sampe tiga ya. Kalau gak bangun dan gak pindah sendiri berarti mas gendong."


"Satu."


"Dua."


Haifa bingung sendiri jika ia bangun ia belum siap untuk berbicara empat mata dengan Alvin. Karena Haifa tau Alvin pasti akan bertanya mengenai mengapa beberapa hari ini Haifa seperti mendiamkan Alvin. Tapi jika Haifa tidak bangun Haifa juga pasti Alvin akan melakulan apa yang ia katakan.


"Ti..." Alvin sudah bersiap.


Tapi sedetik kemudian Haifa bangun dan berjalan sendiri menuju ke kamar. Alvin terkekeh melihatnya, kadang istrinya ini menjadi sebelas dua belas seperti putrinya. Alvin menyusul Haifa pergi ke kamar. Saat masuk ke kamar ia melihat Haifa sudah duduk di tepi tempat tidur.


"Kamu kenapa?" tanya Alvin sambil duduk di samping Haifa.


"Gak apa apa. Udah kan nanya itu aja? Yaudah Haifa mau tidur." jawab Haifa.


Alvin menahan tangan Haifa yang hendak berbaring.


"Jangan tidur tanggung ashar. Mas juga belum selesai."


"Dengan kamu kayak gini mas makin yakin kalau ada apa apa."


"Sekarang bilang kenapa? ada apa? Mas ada salah?"


"Enggak."


"Dibilang enggak."


"Jujur sayang, kalau mas salah biar mas bisa introspeksi."


"Mas merasa bersalah?"


"Sebenarnya sih enggak. Tapi mas yakin kalau begini pasti ada yang salah. Mungkin aja kan yang menurut mas betul belum tentu menurut kamu betul. Jadi sekarang jelasin ada apa? Tolong jangan jawab lagi gak ada apa apa."


Haifa hanya diam.


"Sayang..." panggil Alvin.


"Sayang. Kok malah diem."


"Kalau mas salah mas minta..."


"Mas gak usah panggil sayang sayang lagi sama Haifa."


"Loh kenapa? Gak salah dong kita mahram udah menikah. Yang di luar sana juga yang belum mahram berani panggil sayang sayangan. Kenapa mas gak boleh?"


Haifa kembali diam.


"Kenapa? Coba kasih alasan yang realistis."


"Kasih mas alasan kenapa mas gak boleh panggil sayang sama istri sendiri."


"Kamu risih mas panggil sayang?"


"Jawab sayang."


"Haifa gak mau mas panggil sayang."


Sekarang giliran Alvin yang diam.


"Karena mas bilang sayang, sayang itu hanya ucapankan? Udah mas please, Haifa tau sebelum menikah kita juga belum lama kenal. Haifa maklum kalau emang mas belum ada rasa apa apa. Tapi tolong jangan memperlakukan Haifa dengan manis seakan akan mas yang paling sayang dan mas yang paling peduli. Biar mengalir aja. Haifa gak mau kegeeran lagi. Haifa gak mau kecewa lagi ketika Haifa kira mas beneran sayang sama Haifa tapi kenyataan enggak. Haifa malu."


Alvin diam. Tapi bibirnya tak pernah berhenti tersenyum sambil memandangi Haifa.

__ADS_1


"Kenapa mas senyum senyum. Kekanakan ya? Haifa kekanakan karena seakan akan maksa mas buat sayang sama Haifa. Maaf kalau menurut mas kekanakan. Haifa cuma gak mau mas terus terusan pura pura."


"Siapa yang pura pura sih?" tanya Alvin.


"Mas gak pernah pura pura. Apa yang mas lakuin itu emang yang ingin mas lakukan bukan paksaan dari siapapun. Termasuk panggilan mas buat kamu itu mas yang mau."


"Mas gak usah maksain deh."


"Ini pasti ada kaitannya sama malam waktu itu kan?" tanya Alvin.


Haifa hanya diam saja.


"Menurut kamu kenapa kemarin mas marah gak jelas pas kamu sakit? Kenapa mas mau repot repot nginep di rumah sakit. Pindah tempat kerja ke rumah sakit? Karena apa?"


"Karena mas sayang, karena mas peduli, karena mas mau kamu merasa mas selalu ada buat kamu."


"Tapi mas gak pernah bilang. Malam itu aja mas ngerasa kalau mas gak pernah bilang."


"Oh iya mas lupa. Mas kan nikah sama sama anak gadis ya. Yang belum pernah pacaran. Pasti maunya kan tiap hari bilang aku sayang kamu. I love you. Kangen. Udah makan belum. Gitu kan?" tanya Alvin


"Apaan sih."


"Haha. Kalau ucapan penting banget nih sekarang mas bilang. Ini tanpa paksaan jangan dibilang nanti gak serius lagi."


"Ekhem ekhem." Alvin berdehem sebelum berbicara.


"Ngapain sih."


"Diem biar merdu ngomong sayangnya."


"Dih."


"Haifa Tazkia Shafira Firmansyah, Mas sayang sama kamu. Sayang bukan sekedar S A Y A N G. Tapi sayang beneran sayang dari hati. Walaupun mungkin baru diungkapkan sekarang itu pun karena ditodong. Bukan berarti gak sayang, karena buat mas rasa sayang itu bukan sebatas diucapkan aku sayang kamu. Tapi dibuktikan dengan perlakuan. Jujur mas seneng pas kamu bilang kalau kamu merasa mas sayang sama kamu. Itu tandanya perlakuan mas selama ini nyampe dan diterima dengan baik oleh kamu."


"Tapi jawaban mas gak gitu waktu itu."


"Iya karena mas ini suka iseng seneng kalau liat kamu lagi kesel kesel. Gemes liatnya. Tapi mas salah kayaknya sampe keselnya kelamaan. Maaf ya."


"Mas gak lagi drama buat nutup nutupin kan?"


"Buat apa? Untungnya apa? Nanti yang ada kalau ketahuan mas bohong mas didiemin lagi."


"Haifa cuma gak mau mas terpaksa."


"Mas gak terpaksa. Mas gak sejahat itu. Kalau memang mas belum ada perasaan apapun mas gak akan berani sentuh kamu. Sekalipun itu hak mas dan kewajiban kamu."


Haifa diam. Tapi ia berpikir benar juga yang dikatakan Alvin. Saat pertama Alvin meminta haknya pun ia berkali kali bertanya, memastikan kesiapan Haifa dan Alvin sama sekali tidak memaksa.


"Maaf ya mas. Haifa kekanakan, padahal Haifa tau mas iseng suka becanda. Tapi kayaknya waktu itu gak tau kenapa kesel aja dengernya. Malu,  rasanya kayak Haifa yang kegeeran."


"Emang sesekali mengungkapkan perasaan itu perlu. Biar gak salah faham lagi kayak sekarang."


"Sini biar makin percaya mas buktiin lagi kalau mas benar benar sayang sama kamu."


Alvin semakin mendekat pada Haifa, hanya tersisa beberapa senti lagi.


"Sakit." cicit Haifa.


"Hm? Belum di apa apain udah sakit?" tanya Alvin tanpa menjauhkan wajahnya.


"Ma... Maksudnya Haifa masih sakit."


"Haha. Emang kamu berpikir mas mau ngapain?"


"Ya mau ngapain kalau udah deket deket gini?" tanya Haifa.


"Cuma mau ini." ucap Alvin lalu mendaratkan bibirnya di kening Haifa.


"Mas masih kuat kalau nunggu malam."


"Tapi gak tau kalau nunggu besok."


***


**To be continued...


See you next part**...

__ADS_1


__ADS_2