Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 52


__ADS_3

Happy Reading...


Setelah menghabiskan waktu beberapa menit untuk membatalkan puasa. Mereka shalat maghrib berjamaah. Anak anak juga sangat antusias mengikuti shalat berjamaah.


Makan bersama keluarga besar memang bisa dibilang kenikmatan tersendiri. Apalagi ketika satu persatu sudah memiliki kesibukan masing masing.


"Mas mau makan sama apa?" tanya Haifa setelah menyendokan nasi untuk Alvin.


"Mau sama sup ikan patin sama tempe goreng." kata Alvin.


Haifa langsung mengambilkan sesuai permintaan Alvin. Para istri yang lain pun sama melakukan tugasnya seperti yang Haifa lakukan.


"Bahagia Ayah lihatnya, kalian sudah bahagia dengan keluarga masing masing." ucap ayah.


"Padahal rasanya baru kemarin kalian itu apa apa ibu apa apa ibu." kata ibu.


"Ya semuanya kan ada masa nya bu." kata Arvan menanggapi.


"Iya dan masa itu sekarang tiba." kata ibu.


"Udah udah kita makan. Ngobrol terus gak makan makan nanti." kata ayah menyudahi pembicaraan.


Adzan isya berkumandang, para penghuni rumah sedang bersiap siap untuk pergi tarawih ke masjid yang paling dekat  dengan rumah. Kecuali Haifa, sepertinya tahun ini Haifa harus rela untuk tidak tarawih berjamaah di masjid karena terlalu riskan jika tarawih sambil membawa bayi yang usianya baru 8 minggu itu.


Sekarang di rumah hanya ada Haifa, bude (sang asisten rumah tangga) serta Fiqri dan Aidan yang sudah tertidur.


Hingga pukul 20.00 satu persatu penghuni rumah tersebut mulai berdatangan.


"Assalamu'alaikum." kata Alvin dan Arvan yang pertama kali datang.


"Wa'alaikumsalam." jawab bude yang membukakan pintu.


Alvin dan Arvan pergi ke kamarnya masing-masing.


"Assalamu'alaikum." kata Alvin ketika membuka pintu kamar.


"Wa'alaikumsalam." jawab Haifa kemudian menyalami tangan Alvin.


"Aina mana?" tanya Haifa.


"Tadi sama Vina sama kak Zia." jawab Alvin.


"Kok Aidan bangun lagi?" tanya Alvin sambil mengusap kepala Aidan.


"Kan udah jamnya dede minum susu papa." jawab Haifa.


"Udah minum susunya?"


"Udah tapi dia belum mau tidur lagi."


"Dede mau main sama papa ya? Yuk sama papa." kata Alvin hendak mengambil Aidan dari Haifa.


"Mas ganti baju dulu deh."


Setelah mengganti baju, Alvin membawa Aidan ke ruang keluarga. Kebetulan semuanya sedang berkumpul di sana.


"Papa bunda mana?" tanya Aina ketika melihat Alvin menuruni anak tangga.


"Di kamar. Sana kakak simpan dulu mukenanya."


Aina pun menurut, ia pergi ke kamar.


"Assalamu'alaikum bunda." sapa Aina kemudian mencium tanyan Haifa.


"Wa'alaikumsalam sayang. Sini mukena kakak bunda bereskan dulu."


"Bunda, kakak mau main ya di kamal main sama abang Azzam, abang kembal, sama Fika." izin Aina.


"Iya boleh tapi mainnya harus rukun ya."


"Iya bunda."

__ADS_1


Sesudah membantu Aina membereskan peralatan shalatnya, Haifa turun bersama Aina.


"Ayo main." ajak Fika pada sepupu sepupunya.


"Ayo!" jawab yang lain serentak.


"Mau main dimana?" tanya Arvan.


"Di kamar bermain ayah." jawab Azzam. Kamar bermain itu memang sengaja disediakan oleh sang nenek dan kakek untuk cucu-cucunya. kamar itu awalnya adalah ruangan game milik Arvan dan Alvin. Tapi karena sekarang sudah ada cucu jadi sang nenek dan kakek merubahnya menjadi kamar bermain yang penuh dengan mainan anak.


Sementara anak-anak bermain, para anak dan menantuberkumpul di ruang keluarga.


"Ini bayi embul kok bangun lagi?" tanya Vina sambil menciumi pipi Aidan yang sedang digendong Alvin.


"Iya biasa aunty udah jamnya minum susu." jawab Haifa.


"Gimana ASI nya lancar gak? Banyak?" tanya ibu yang juga ikut berkumpul di sana.


"Alhamdulillah bu." jawab Haifa.


Obrolan terus berlangsung dengan berbagai macam topik pembicaraan.


"Anak anak kok sepi ya?" tanya Alvin.


"Sebentar Haifa cek dulu." kata Haifa sambil beranjak ke kamar bermain.


Tidak lama Haifa sudah kembali lagi ke ruang keluarga.


"Udah pada tidur ya?" tanya Vina.


"Iya udah. Lagi pada main kemah kemahan kayaknya tidurnya di dalam tenda semua." jawab Haifa.


"Pantesan udah gak pada bersuara." kata Ayah.


"Mangkanya kenapa ibu suka rewel banget sama kalian buat ngumpul setiap bulannya ya biar begini. Biar anak anak bisa main bareng, bisa dekat, saling sayang. Terus kalian juga bisa ketemu bisa kumpul bisa sharing.  Kalau enggak dipaksa belum tentu juga kalian ketemu setiap bulan kan? Kalian kan sibuk." kata ibu.


"Mumpung ayah dan ibu masih hidup jadi seenggaknya masih ada alasan buat maksa kumpul. Biar ibu dianggap rewel, bawel dan gak pengertian juga. Karena kalau ibu ayah udah gak ada pasti kalian makin susah dan makin jarang ngumpul." kata ibu lagi.


"Ibu tuh cuma mau. Anak, menantu dan cucu ibu itu bisa dekat. Gak sekedar saling mengenal dan sebatas sapa menyapa. Kalau kalian sudah sering dan disempatkan kumpul setidaknya nanti kalian jadi terbiasa dan merasa kehilangan kalau sudah lama gak kumpul. Kalau kalian enggak, ya mungkin anak anak akan merasa saling rindu ketika udah lama gak kumpul dan main bareng. Ibu tuh gak mau kalau ibu ayah udah gak ada hubungan anak anak dan cucu cucu jadi menjauh. Logikanya gimana bisa saling sayang kalau bertemu saja jarang. Anggap aja kumpulnya kalian ini sebagai cara untuk menguatkan pondasi keluarga kita. Biar kita semua gak mudah selosih paham dan jauh jauhlah dari masalah." kata ibu lagi.


"Ibu kenapa sih tiba tiba bicara begitu?" tanya Vina.


"Ibukan cuma bicara ketakutan ibu. Soalnya banyak keluarga, ketika orang tuanya udah gak ada mereka jadi jauh. Ribut, masalah harta warisan, salah paham, segala macam. Ibu gak mau itu terjadi sama kalian." jawab ibu.


"Insya Allah enggak bu. Lagian kami juga tinggal gak berjauhan." jawab Arvan.


"Iya sekarang. Kedepannya gak ada yang tau. Ibu mah cuma ingin membiasakan." kata ibu lagi.


"Iya bu. Nanti kita patenkan jadwal setiap bulan harus kumpul. Ya syukur syukur kalau setiap kumpul bisa nambah anggota keluarga." jawab Alvin yang sudah kembali dengan gamenya.


"Maksudnya gimana mas?" kata Haifa.


Alvin melirik Haifa sambil memamerkan deretan giginya.


"Hehe. Siapa tahu bulan depan ada yang nambah anak gitu sayang. Kan jadi nambah anggota keluarga." jawab Alvin lalu tersenyum begitu manis.


"Halah alesan. Pasti tadi maksudnya gak begitukan?" kata Vina sambil menyambitnya dengan bantalan sofa.


"Aduh sakit Vina. Yang itu Yang Viva. Masa mas disambit pakai bantal sofa." adunya pada Haifa.


"Salah sendiri becanda begitu." jawab Vina.


"Udah kalian tuh bercanda terus." lerai ibu.


"Ini bayi embul kok gak mau bobo sih hm. Emang biasa tidur jam berapa?" tanya ibu sambil menciumi Aidan yang sedang asik bermain dengan jari jari dan mengecap ngecap air liurnya sendiri.


"Dari siang kan udah tidur terus bu. Ini aja baru bangun habis isya tadi." jawab Haifa.


"Oh pantesan aja masih melek."


Hampir tengah malam, Alvin baru masuk ke kamar. Sedangkan Haifa sudah lebih dulu masuk ke kamar karena Aidan sempat rewel dan waktunya minum susu.

__ADS_1


"Anak papa udah bobo." kata Alvin setelah mencium Aidan yang tidur di tengah ranjang mereka.


"Gak usah diganggu." ucap Haifa ketus.


"Kenapa?" tanya Alvin saat mendengar Haifa berbicara ketus.


"Gak!" jawab Haifa.


"Sebentar mas bersih bersih dulu. Baru kita ngobrol." kata Alvin lalu beranjak ke kamar mandi.


"Kenapa? Sini cerita." kata Alvin mendudukan diri di samping Haifa setelah keluar dari kamar mandi.


"Gak!" jawab Haifa.


"Masa? Tapi kok ketus jawabnya?"


"Terserah akulah." jawab Haifa.


"Yakin gak ada apa apa? Mas gak bakal tahu loh Yang kalau kamu gak bilang." kata Alvin.


"Ya pikirlah." ucap Haifa.


"Sebentar mas mikir dulu." jawab Alvin sambil mengetuk ngetuk kening seperti sedang berpikir yang berat.


"Lama." ketus Haifa sambil hendak berbaring. Tapi kemudian ditahan oleh Alvin.


"Becandaan yang tadi di bawahkan? Mas cuma bercanda sayang." kata Alvin.


"Iya tahu. Tapi gak perlu mengarah ke situ juga kan? Atau jangan jangan itu isi hati mas?"


"Astagfirullah. Jelek banget pikirannya."


"Mas yang mancing Haifa buat berpikir begitu."


Alvin hanya tersenyum.


"Kenapa senyum? Jangan jangan beneran ya?"


"Astagfirullah. Enggak sayang. Beneran mas itu cuma becanda. Refleks aja begitu. Gak ada niat apa apa."


"Bohong." sambar Haifa.


"Demi Allah enggak sayang. Kalau mas haus wanita. Mungkin gak kuat hampir 3 tahun mas sendiri." jawab Alvin.


"Ya bisa ajakan."


"Emang mau mas begitu?" tanya Alvin.


"ENGGAKLAH!"


"Yaudah gak boleh berpikiran dan bicara begitu dong. Karena kadang yang ada dalam pikiran dan yang terucap itu jadi do'a yang gak disadari."


"Sini deh." Alvin menarik Haifa agar lebih dekat ke pelukannya.


"Mas itu udah bersyukur bisa ketemu kamu, bisa menikah sama kamu. Kamu itu udah yang terbaik yang Allah kasih. Yang paling penting itu kamu baik dan sayang banget sama Aina. Gak ada alasan mas buat main main, apalagi sekarang udah ada Aidan. Belum tentu juga mas dapat yang lebih baik dari kamu." kata Alvin.


Haifa menatap mata Alvin dengan intens.


"Gak usah bepikir yang aneh aneh ya. Berpikirnya yang baik baik aja buat keluarga kita."


"Ya mas juga gak usah becanda yang mancing mancing."


"Iya sayang maaf. Tapi mas seneng loh kamu akhirnya cemburu. Biasanya mas terus kan yang cemburu."


"Dih. Emang yang begini cemburu?"


"Iya kan? Eh bukan deng. Bukan cemburu tapi takut kehilangan. Iya kan?" kata Alvin sambil menaik turunkan alisnya.


###


Alhamdulillah BUA 52.

__ADS_1


Bagaimana part ini? Ada kritik dan saran? Kalau ada sertakan aja di komentar ya 😁


Terimakasih ♥


__ADS_2