Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 69


__ADS_3

Happy Reading...


Obrolan menegangkan antara Haifa dan Alvin hari ini tidak berujung baik. Haifa masih dikuasai emosi. Untung saja Alvin masih sabar menghadapinya. Setelah obrolan yang berakhir menggantung itu, Haifa keluar kamar. Niat awal ingin beres-beres rumah sirna. Saat ini Haifa lebih ingin menenangkan diri. Tubuhnya lelah, pikirannya juga lelah. Di depan Alvin ia bisa marah-marah. Tapi saat sendiri rasanya ia butuh yang menguatkan. Buktinya saat sendiri di dalam kamar Aina, Haifa tidak bisa menahan untuk menangis.


Jika Alvin tidak membuat Haifa kesal dan marah sebelumnya. Pasti sekarang ini yang terjadi bukan Haifa yang marah pada Alvin, melainkan Haifa yang rapuh yang memeluk Alvin yang membutukan Alvin sebagai penguatnya sebagai sandarannya. Tapi sayang emosi yang menguasai menjadikan gengsi semakin dominan.


Lelah menangis sendiri, Haifa memejamkan mata. Tidur sejenak mungkin bisa membuatnya sedikit lebih baik.


Di kamar mereka Alvin juga sama, memilih menenangkan diri denga. tertidur sebelum waktunya shalat ashar.


Suara adzan yang terdengar dari handphone membangunkan Alvin. Tubuhnya lumayan segar setelah tidur sekitar satu jam. Alvin hendak mengambil air wudhu.


'Haifa dimana ya?' kata Alvin menghentikan langkahnya di depan pintu kamar mandi. Kemudian melangkah keluar kamar untuk mencari Haifa. Haifa tadi begitu emosi, Alvin takut selama ia tidur Haifa pergi meninggalkan Alvin.


Pertama, yang Alvin cari di lantai bawah, ruang keluarga, ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar-kamar, area kolam, ruang olahraga, halaman belakang dan halaman depan. Alvin belum juga menemukan Haifa. Tapi Alvin cukup tenang karena ketika bertanya pada pak Surya yang jaga di luar. Beliau tidak melihat Haifa keluar rumah.


Saat Haifa tidak ada di semua ruangan di lantai bawah, tujuan Alvin mengerucut ke satu tempat. Benar dugaan Alvin, Haifa tertidur di kamar Aina. Alvin terduduk di tempat tidur Aina. Memandangi wajah istrinya. Wajah yang beberapa hari ini ia rindukan. Tapi sayang ketika bertemu Alvin tidak bisa bebas melepas rindu. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, mumpung Haifa tidur. Alvin mencuri kesempatan untuk sekedar mencium kening Haifa. Sekali, tidak ada reaksi apapun dari Haifa. Dua kali, belum ada reaksi juga. Tiga kali, Haifa mulai menggeliat. Alvin menghentikan aksinya, takut nanti Haifa bangun dan lebih marah padanya.


"Yang..." panggil Alvin sambil mengusap pipi Haifa. Haifa yang tadi menggeliat sekarang sudah membuka mata. Saat sadar ada Alvin di dekatnya dan tangan Alvin berada di pipinya Haifa langsung bangun dan menjauhkan diri.


"Udah waktunya shalat ashar." kata Alvin.


Haifa melihat jam dinding, sudah hampir pukul 4 sore.


"Mama juga tadi udah telepon. Habis shalat ashar kita langsung ke rumah sakit. Kamu siap-siap ya. Bawaan anak-anak udah mas siapkan kok. Tadi mama juga udah kasih list apa aja yang harus dibawa." kata Alvin. Alvin tidak bohong sebelum tidur tadi ia sudah menyiapkan bawaan yang dicatat oleh Mama. Ini juga salah satu usaha Alvin, ia harus lebih peka agar Haifa tidak merasa kalau dirinya sendirian.


"Kita shalat ashar berjamaah ya." kata Alvin.


Setelah shalat ashar mereka pergi ke rumah sakit. Sampai di kamar perawatan Aina dan Aidan, Haifa sudah disuguhkan dengan suara tangisan Aidan.


"Assalamualaikum." ucap Haifa dan Alvin.


"Wa'alaikumsalam. Eh kalian udah datang."


Haifa langsung menggendong Aidan.


"Kenapa Ma? Kok Aidan nangis?"


"Tadi lagi anteng. Terus ada dokter diperiksa nangis. Mau dikasih ASI udah abis. Untung kamu cepat datangnya.


"Kasih ASI dulu." kata Alvin saat Aidan masih saja menangis.


Haifa berjalan ke arah sofa.


"Sini tasnya." kata Haifa meminta tas perlengkapan anak-anak yang dibawa Alvin.


"Mau ambil apa?" tanya Alvin.


"Celemek." jawab Haifa.


Alvin tidak memberikan tasnya, ia malah langsung mengambil yang diminta Haifa dan menyerahkannya pada Haifa.


"Ini." kata Alvin.


"Makasih!" jawab Haifa dengan juteknya. Haifa mulai memakai celemek untuk menyusui dan langsung menyusui Aidan.


"Tadi dokter bilang apa Ma?" tanya Alvin sambil berjalan kearah tempat tidur Aina.


"Oh iya, kata dokter tadi demamnya masih naik turun belum stabil. Terutama si kakak. Tadi juga masih tinggi." kata Mama. Alvin langsung meraba kening Aina. Benar saja masih terasa hangat.


"Kakak pusing gak?" tanya Alvin pada Aina. Aina menggeleng.


"Kakak minum yang banyak, makan juga yang banyak. Biar cepat sembuh, cepet pulang. Mau sembuhkan?" tanya Alvin. Aina mengangguk. Ya begitu Aina kalau sakit hilang bawelnya. Hanya angguk, geleng dan nangis.


"Hasil tes darahnya udah keluar belum Ma?" tanya Haifa.


"Udah. Katanya sih dua-duanya trombositnya turun."


"Terus gimana?"


"Aina harus banyak minum air putih, jangan makan sembarangan dulu, banyakin sayuran yang mengandung zat besi, terus minum jus jambu juga bagus. Kalau Aidan sih katanya ASI aja yang banyak. Tapi kamunya juga makannya harus bener harus yang sehat."


"Bunda.." rengek Aina.


"Iya sayang."


"Mau bunda." katanya pelan.

__ADS_1


"Sebentar ya sayang. Bunda kasih dede minum susu dulu."


"Kakak tadi siang makannya abis gak?" tanya Haifa dari kejauhan. Aina menggeleng.


"Kenapa?"


"Na enak." jawabnya pelan.


"Tadi katanya mau makan banyak." kata Alvin sambil mengelus kepala Aina. Aina menggeleng.


"Dek, Mamaa sama Abang pulang ya? Gak apa-apa kan?" tanya Keanu.


"Iya bang gak apa apa. Makasih ya, abang sama Mama udah bantu jaga."


"Oh iya bang. Ini kunci mobilnya. Makasih ya." kata Alvin sambil merogoh saku celananya dan memberikan kunci mobil pada Keanu.


"Kalian berarti gak bawa mobil?" tanya Mama.


"Bawa. Tadi pak Surya bawa mobil kita. Tapi udah lagi. Alvin pesankan taksi online tadi. Biar langsung pulang ke rumahnya aja."


"Besok kalau Alvin ke kantor, kamu telepon Mama aja. Nanti bunda kesini." kata Mama.


"Nggak apa apa Ma. Alvin izin aja sampai anak-anak diizinkan pulang." kata Alvin.


"Yaudah kalau gitu Mama sama Abang pulang ya."


"Iya Ma. Hati-hati bang." kata Alvin setelah mencium tangan bunda.


"Kalian juga baik-baik disini. Tau tempat ada anak-anak." kata Keanu.


"Cantik. Om ganteng pulang dulu ya. Kakak harus cepat sembuh oke. Nanti om ganteng belikan mainan." kata Keanu.


"Benelan?"


"Iya dong. Tapi sembuh dulu kakaknya ya?" kata Keanu sambil mengusap kepala Aina. Aina mengangguk.


"Umi pulang ya sayang." kata Mama kemudian mencium kening Aina.


"Pamit ya Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Bunda.." rengek Aina.


"Iya sebentar sayang. Ini dedenya udah kok minum susunya." kata Haifa sambil merapikan diri. Haifa berjalan ke tempat tidur Aina.


"Nih, gendong Aidan." kata Haifa pada Alvin. Alvin tidak banyak protes, ia langsung mengambil Aidan dari Haifa. Aidan itu jika tidak tidur, tidak pernah mau diletakan di box bayi. Apalagi kalau sedang sakit. Pasti maunya digendong terus.


Haifa naik ke tempat tidur Aina, kemudian tidur menyamping menghadap Aina.


"Kakak makan lagi ya. Bunda suapi." kata Haifa. Aina menggeleng.


"Itu bunda tadi beli anggur, biasanya kakak suka anggur. Mau ya?" Aina kembali menggeleng.


"Minum susu mau? Ada susu rasa coklat sama strawberi mau?" Aina menggeleng lagi.


"Kalau kakak gak mau makan terus. Nanti kakak gak sembuh-sembuh. Kalau kakak sakit bundanya sedih." kata Haifa sambil tidak berhenti mengelus kening hingga kepala Aina.


"Kakak sakit, dede sakit. Bundanya jadi sedih banget. Kakak sama dede harus cepat sembuh ya."


"Oh iya, tadi kata dokter kan kakak harus makan jambu. Bunda belikan jus jambu buakita ya. Biar cepat sembuh. Biar bunda gak sedih lagi lihat kakak lemes begini."


"Mau ya jus jambu buakita." Aina mengangguk.


"Alhamdulillah. Yaudah bunda beli dulu ya."


"Bunda di sini aja sama anak-anak. Papa aja beli." kata Alvin sambil menyerahkan Aidan pada Haifa.


"Gak usah." kata Haifa.


"Udah. Ini pegang aja Aidannya." Haifa tidak membantah lagi. Di hadapan anak-anak bukan saat yang tepat untuk berdebat dengan Alvin. Apalagi hanya perihal membeli jus jambu buakita.


Alvin keluar untuk membeli jus jambu buakita. Sedangkan Haifa ia sedang mengobrol bersama anak-anaknya. Aina memandang Haifa dengan begitu dalam.


"Kenapa kok kakak lihat bundanya begitu?"


"Bunda cantik." katanya sambil tersenyum dengan bibir pucatnya..

__ADS_1


Haifa tersenyum geli, "Bisa aja nih. Kayak papa aja. Tapi kakak lebih cantik. Anak bunda ini yang paling cantik. Apalagi kalau udah sembuh. Udah bisa main lagi, lari-lari lagi, bawel lagi. Pasti tambah cantik." kata Haifa sambil mencubit pelan pelan pipi Aina.


"Bunda mana jusnya?" katanya.


"Eh iya papa kemana ya, kok lama." Terlalu banyak mengobrol, mereka melupakan Alvin yang hampir satu jam belum kembali. Padahal di dekat rumah sakit ini juga ada izinmart, tidak perlu menghabiskan waktu selama ini.


"Sebentar ya, bunda telepon papanya dulu. Takutnya papa lupa jalan pulang." kata Haifa.


"Papakan udah besal." kata Aina.


"Bukan besar lagi sayang, papa udah tua. Jadi sering lupa." kata Haifa. Aina tertawa. Senangnya Haifa melihat Aina sudah bisa kembali tertawa.


Haifa lupa handphone miliknya dari tadi masih berada di tangan Alvin.


"Yah kak, handphone bundanya sama papa. Jadi gak bisa telepon papa. Tunggu ya mungkin sebentar lagi.


Di gedung yang sama tapi di ruang yang berbeda, Alvin tidak sengaja bertemu Abang setelah dari izinmart tadi.


"Aina itu sejak bayi kalau demam selalu tinggi. Jadi pas Abang dengar dari Haifa demamnya udah 39 ya Abang suruh langsung bawa ke rumah sakit aja. Kalau di diamkan nanti takut kejang, bahaya."


"Iya bang. Makasih untung ada Abang sama kak Zia yang bisa Haifa tanyai. Karna waktu kemarin posisinya Alvin lagi gak ada di rumah." kata Alvin.


"Iya Abang tahu. Abang gak sengaja dengar waktu Haifa cerita sama kakak kamu. Kamu juga gak bisa dihubungi kan?"


"Vin, istri itu di rumah, kalau suami atau anaknya gak ada dipandangan matanya itu rasa khawatir yang mereka punya lebih besar. Kadang mereka itu mikirnya sudah ke segala arah. Abang tahu, karena Abang sering diperlakukan begitu sama kakak kamu. Kalau lagi cek-cok juga dia sering bilang kalau dia itu khawatir kalau Abang gak bisa dihubungi."


"Abang pikir mungkin Haifa juga sama. Apalagi kemarin anak-anak sakit dan kamu sebagai orang yang harusnya ada di samping Haifa malah gak ada dan susah dihubungi. Abang gak menyalahkan kamu. Karena Abang tahu kamu kerja dan Abang juga tahu kamu kalau udah fokus dan gila kerja kayak gimana."


"Kamu jangan balik lagi ke kebiasaan kamu dulu dong gila kerja. Sekarang ada anak ada istri. Handphone juga itu penting. Apalagi kamu seorang pimpinan masa ia bawa handphone aja lupa."


"Bang, masalah handphone, Alvin emang ada dua. Satu pekerjaan satu buat pribadi. Karena kalau digabung pusing Alvin jadi cepat full juga penyimpanannya. Jadi ya kadang lupa aja. Alvin juga kemarin itu di sana. Emang sengaja dipadatkan jadwalnya. Karena pekerjaan di sana waktunya udah ngaret. Sementara di sini juga pekerjaan udah nunggu. Ya alasan lain Alvin padatkan jadwal di sana juga salah satunya biar Alvin bisa cepat pulang, sama-sama anak istri lagi. Boro-boro ada niatan Alvin mau macam-macam." kata Alvin.


"Yaudah sekarang fokus aja dulu sama anak-anak. Itu kamu beli apa?"


"Oh ini. Astagfirullah tuh kan Alvin lupa. Pasti Aina udah nunggu. Ini Alvin beli jus jambu buakita sama jajanan. Udah ya Bang. Alvin ke kamar rawat Aina dulu. Sebelum perang dunia ke 3."


"Vin, Aina jangan makan sembarangan loh."


"Enggak, ini jajananya buat nyogok bundanya. Udah ya Alvin pamit. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Alvin bergegas ke kamar Aina secepat mungkin.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Lupa jalan pulang?" sambar Haifa.


"Enggak bunda. Tadi papa ketemu uncle Arvan. Jadi malah ngobrol." jawab Alvin sambil meletakan kantong belanjaan yang berisi banyak kotak jus jambu buakita berukuran sedang.


"Ni, kakak minum ya." kata Alvin menyerahkan satu kotak yang sudah ia tusuk dengan sedotan.


"Cuma beli satu? Yang ukuran segitu? Mana ada pengaruhnya." kata Haifa..


Arvin tersenyum, sudah hapal jika sedang kesal, pasti apapun yang Alvin lakukan harus benar. "Enggak, beli banyak kok. Tadi mau beli yang besar enggak ada soalnya. Papa juga beli jajanan buat bunda." kata Alvin. Mereka memang membiasakan memanggil papa dan bunda ketika di depan anak-anak. Karena selain Aina sempat protes, Aidan juga mulai besar. Daripada nanti Aidan ikut-ikutan kan panggil Alvin mas dan panggil Haifa sayang.


"Papa juga tadi belikan 'psstt' " kata Alvin berbisik di telinga Haifa. Haifa terkejut.


"Sok tahu."


"Bunda lupa? Hp bunda kan ada di papa. Tadi alarmnya bunda bunyi. Kata alarm hati ini itu siklus bunda terima tamu. Tapi papa gak lihat bunda bawa roti buat tamunya jadi papa belikan."


"Emang tahu?"


"Tau dong. Yang bisa terbang. Terus yang lebih panjang dari penggaris kan?" Duh Haifa jadi malu.


"Papa loti yang bisa telbang itu apa? Kakak mau." kata Aina.


Hayo loh Alvin.


***


Hayo tau gak Aina dan Aidan sakit apa yang buat trombosit jadi turun, dan gejalanya demam disertai mual, muntah dan untuk sebagian orang biasanya disertai diare?


To be continued...

__ADS_1


See you next part...


__ADS_2