
Happy Reading...
Pagi ini mereka sedang sarapan bersama sambil menemani Aina menonton kartun.
Sejak perdebatan kemarin belum ada lagi obrolan diantara mereka.
Haifa fokus menyuapi Aina yang sedang fokus menonton acara kartun.
"Enak makannya?" tanya Haifa saat melihat Aina makan dengan lahap. Padahal menu sarapan pagi ini hanya telur dadar + sayuran serta nasi putih dan kecap. Ya maklum lah berada di negara orang jadi hanya seadanya.
Aina mengangguk sambil mengunyah.
"Aina mau cepat pulang ke rumah atau mau di sini dulu sama papa dan bunda?" tanya Alvin.
"Telselah tapi Aina mau tama papa tama bunda." jawabnya.
"Aaa bunda." katanya lagi sambil membuka mulutnya.
"Papa mau jalan jalan Aina mau ikut gak?" tanya Alvin.
"Mau. Aina mau." Jawab Aina dengan cepat.
"Yaudah Aina cepat habiskan makanannya ya nanti kita pergi." kata Alvin sambil mengacak rambut Aina.
Selesai sarapan Haifa langsung membawa Aina ke kamar dan mengajaknya bersiap siap.
"Dah siap. Aina sekarang tinggal ke Papa." kata Haifa.
"Bunda?" tanya Aina. Karena Haifa sama sekali belum bersiap.
"Aina ke papa duluan ya." kata Haifa kemudian mencium pipi Aina.
Aina mengangguk ia berjalan keluar kamar untuk menghampiri Alvin.
"Papa..." sapanya sambil mendudukan diri di pangkuan Alvin.
"Wah putri papa sudah siap ya. Tapi kok sendirian, bundanya mana?"
"Di kamar."
"Tapi udah siap siap kan?" tanya Alvin.
Aina menggeleng.
"Loh kok?"
Aina mengangkat bahu, menandakan ia tidak mengerti.
"Aina tunggu di sini ya. Papa mau ke bunda dulu."
"Oke."
Alvin berjalan ke arah kamar. Ia melihat Haifa sedang duduk di sofa sambil memainkan handphone.
"Kok belum siap siap?" tanya Alvin yang sudah berdiri di depan Haifa.
"Loh kok belum berangkat?" kata Haifa balik bertanya sambil menatap Alvin.
"Kenapa kamu belum siap siap?"
"Ya emang Haifa mau kemana?"
"Kan tadi dibilang kita mau jalan jalan."
"Emang mas ada bicara sama Haifa? Emang mas ajak Haifa? Bukannya sejak kemarin mas marah ya sama Haifa? Mas gak mau bicara kan sama Haifa? Yaudah daripada nanti jalan jalannya jadi gak berkesan mending gak usah sama Haifa kan?"
"Terus kamu mau jauh jauh ke Swedia cuma diam di kamar?"
"Lebih baik daripada selama jalan Haifa didiamkan terus."
Alvin mencubit hidung Haifa.
"Ish lepas." kata Haifa sambil menyingkirkan tangan Alvin dari hidungnya.
"Gak boleh suudzon sama suami."
"Siapa yang suudzon sih. Mas kan marah sama Haifa kan gara gara dalam menyikapi kejadian kemarin kita gak sepemikiran. Yaudah iya Haifa salah. Haifa minta..."
"Udah ya jangan dibahas lagi. Sekarang cepet siap siap."
"Mas tunggu 10 menit. Harus udah siap ya."
***
Seharian ini sejak pagi hingga hampir tengah malam mereka menghabiskan waktu untuk mengunjungi beberapa tempat wisata di negara tersebut yang ramah anak anak pastinya.
Aina juga sudah jauh dari kata murung. Putri kecil mereka iti tampak sudah melupakan kejadian sebelumnya.
"Putri papa senang?" tanya Alvin saat dalam perjalanan pulang ke hotel.
Aina yang energinya sudah hampir habis hanya mengangguk sambil terus mendusel di dada Haifa. Gadis kecil itu sepertinya sudah mengantuk karena kelelahan.
"Capek banget ya nak?" kata Alvin sambil mengusap kepala Aina.
Sudah tidak ada jawaban sepertinya putri kecilnya sudah benar benar tertidur.
"Kamu juga capek? Kalau capek tidur aja nanti mas bangunkan kalau udah sampai di hotel." tanya Alvin pada Haifa.
"Enggak kok." jawab Haifa. Tapi sedetik kemudian Haifa tiba tiba menguap. Alvin tersenyum kecil melihatnya.
"Udah tidur aja sayang."
"Mas capek ya? Apalagikan dari awal kondisi mas udah kurang fit."
"Gak apa apa. Terbayar kok dengan bisa lihat Aina gak murung lagi."
Hampir tengah malam mereka baru sampai di hotel. Setelah sampai, Alvin segera mengambil alih untuk menggendong Aina. Mereka berjalan beriringan menuju kamar mereka yang letaknya di lantai 3.
__ADS_1
Sampai di kamar Alvin langsung membawa Aina ke kamar tidur untuk menidurkan Aina. Alvin duduk di samping tempat tidur sambil memijat keningnya. Kegiatan Alvin tersebut tertangkap oleh mata Haifa yang baru masuk ke kamar sambil membawakan secangkir madu jahe.
"Capekan? Nih diminum dulu, Haifa ambil dulu obatnya."
"Makasih ya."
"Sama sama. Nih diminum obatnya. Besok kita gak usah ke mana mana ya. Kita istirahat aja di kamar. Kayaknya tadi juga udah cukup mewakili tempat wisata yang ada di kota ini." kata Haifa.
"Kamu udah minum vitamin?"
"Udah kok. Yaudah sekarang mas ganti baju terus istirahat. Haifa mau gantikan baju Aina dulu."
***
Tidak terasa besok mereka sudah harus pulang ke Indonesia.
Haifa baru saja selesai mengemasi barang bawaan mereka.
"Mas malam ini kita ke rumah mbak Novia dan pak Brian dulu ya." ajak Haifa.
"Mau apa lagi sih?"
"Pamitan dong mas. Mereka tahu kita ada di sini masa iya kita pulang gak pamitan."
"Gak usahlah. Mas takutnya kalau kita ke sana nanti malah bikin Aina murung lagi."
"Sebentar, cuma pamitan aja mas. Aina juga ke sana sama kita gak akan lama."
"Kalau gak pamitan dulu kasihan sama mbak Novia. Kan belum tau dia kapan lagi bisa ketemu Aina."
"Yaudah iya kita kesana tapi gak usah lama lama."
"Lagian mau apa lama lama. Mangkanya Haifa ngajaknya nanti malam biar gak lama."
***
Malam ini mereka sudah berada di rumah Novia.
"Kami kesini cuma mau berpamitan. Karena besok pagi kami harus kembali ke Indonesia." kata Alvin.
"Oh begitu ya. Jam berapa kalian harus ke bandara? Biar nanti kami yang antar." kata Brian menawarkan diri. Sedangkan Novia hanya diam. Sejujurnya ia belum puas bersama Aina. Tapi ia juga tidak bisa memaksa daripada Aina di sini tapi selalu murung dan tertekan.
"Terimakasih tawarannya. Tapi kami sudah dapat fasilitas dari hotel untuk antar jemput ke bandara." jawab Alvin.
"Aina sini sama mama nak."
Aina menurut ia menghampiri Novia.
"Aina gak mau lebih lama di sini sama mama?" tanya Novia.
Alvin tidak menyangka dengan pertanyaan Novia.
"Aina sudah sebulan di sini." kata Alvin.
"Aina mau tama papa." jawab Aina sambil menengok ke arah Alvin.
Alvin sudah hampir ingin menarik Aina tapi Haifa menahan.
"Aina mau tama papa."
"Aina gak sayang mama?"
"Tayang."
"Tapi kok Aina gak mau sama mama?"
"Aina mau tama papa."
Aina masih terlalu kecil untuk bisa mengutarakan yang ia rasakan. Ia belum bisa berargumen panjang. Yang ia rasakan hanya Aina ingin bersama sang papa dan Aina merasa lebih nyaman bersama papa dan bundanya.
"Novia, kamu ingatkan dengan janji kamu sebelum kamu membawa Aina." kata Alvin berusah tidak terpancing emosi.
"Iya aku tahu. Tapi satu bulan ini rasanya aku belum bisa membahagiakan Aina. Gak bisa ya kasih aku waktu lebih lama?"
"Niat kami kesini cuma mau pamitan. Kayaknya sudah cukup ya. Sekarang kami mau pamit pulang." kata Alvin langsung menarik Aina.
"Kami pamit Assalamualaikum." kata Alvin sambil menggendong Aina. Alvin lebih dulu keluar meninggalkan Haifa. Novia tau dan Novia mengerti mengapa Alvin jadi seperti ini maka dari itu Novia dan Brian merasa tidak bisa berbuat apa apa.
"Mbak Novia, Pak Brian. Kalau begitu kami pamit ya. Assalamualaikum." kata Haifa sambil berdiri dan hendak bersalaman dengan Novia.
"Wa'alaikumsalam. Sampaikan maaf kami pada Alvin ya. Aku titip Aina. Sepertinya kamu bisa lebih baik menjaga Aina daripada aku." kata Novia sambil memeluk Haifa.
"Insya Allah mbak. Mbak gak usah risau ya. Kalau mbak kangen sama Aina mbak bisa hubungi Haifa."
Novia mengangguk. "Iya. Terimakasih ya."
"Sama sama mbak. Yaudah kalau begitu Haifa pamit ya Mbak Novia, Pak Brian."
Haifa sudah menyusul Alvin dan Aina ke mobil.
"Kenapa lama?" tanya Alvin dengan wajah yang sangat datar.
"Enggak. Tadi Haifa pamitan lagi. Sini Aina sama bunda." kata Haifa mengambil Aina yang awalnya duduk di pangkuan Alvin di kursi kemudi.
Alvin kembali diam seperti beberapa hari lalu.
Pukul 07.00 waktu setempat mereka sudah dalam perjalanan menuju ke Indonesia.
Perjalanan yang sangat melelahkan dan perbedaan waktu membuat mereka merasakan jet lag. Efeknya saat sampai di rumah mereka langsung tepar terutama Aina.
Sehari setelah kepulangan mereka dari Swedia, Alvin sudah harus kembali bekerja. Alvin masih kuat mendiamkan Haifa.
Haifa tau Alvin masih kesal karena malam itu mereka berpamitan ke rumah Novia itu juga karena Haifa yang menyarankan.
"Hati-hati di jalan ya. Semoga nanti pulang kantor istrinya udah gak di diamkan lagi ya." kata Haifa setelah mencium tangan Alvin.
Alvin hanya diam sambil berjalan ke mobilnya. Ia tidak tau salah atau benar ketika ia mendiamkan Haifa. Tapi Alvin belum bisa sejalan dengan cara Haifa yang selalu mendekat pada Novia padahal sudah jelas Aina saja tidak nyaman dengan mereka. Saat ini membahas Aina dan Novia sepertinya memang sedang sangat sensitif (bukan merk test pack) bagi Alvin.
__ADS_1
"Huh papanya lagi marah nak sampai lupa sama dede." kata Haifa pelan sambil mengelus perutnya yang sudah mulai tampak membuncit karena Alvin melupakan kebiasaannya untuk mengelus dan mencium perutnya untuk berpamitan pada baby mereka.
Alvin yang belum terlalu jauh masih bisa mendengar. Ia kembali berbalik untuk mengelus dan mencium perut Haifa.
"Makasih." kata Haifa sambil tersenyum. Tapi Alvin tak menanggapi. Ia langsung bergegas ke mobil.
Terkadang Alvin berpikir, ini permasalahan dirinya dengan Novia. Tapi kenapa rasanya selalu Haifa yang terkena imbasnya. Ingatkan saat pertama kali lagi Alvin bertemu Novia?
Saat di kantor, Alvin tak bisa benar benar fokus.
Alvin tau niat Haifa baik hanya ingin menjaga hubungan baik antara mereka dan keluarga Novia. Entahlah sepertinya Alvin masih belum bisa terima dengan perlakuan mereka pada Aina. Walaupun Alvin sendiri tahu jika Novia dan Brian sangat baik pada Aina. Tapi Alvin masih belum terima karena ia merasa Brian dan Novia tidak bisa membuat anak mereka menerima Aina atau setidaknya berlaku baik pada Aina.
Pukul 14.00 Alvin sudah pulang karena di kantor pun ia merasa tidak produktif. Di rumah ia melihat Haifa sedang di dapur bersama Aina. Alvin langsung memeluk Haifa.
"Aduh." kata Haifa yang merasa terkejut dengan tindakan Alvin.
"Papa." kata Aina.
"Loh mas kok udah pulang?"
"Maaf." ucap Alvin pelan di telinga Haifa.
"Papa jangan peluk peluk. Bunda lagi buat kue tama Aina." katanya sambil memukul mukul kaki Alvin.
"Kamu lagi buat kue?" tanya Alvin sambil melepaskan pelukannya.
"Hem. Lagi buat chocolate chip cookies. Buat nyogok mas tadinya." kata Haifa.
"Nyogok?" tanya Alvin.
"Haha enggak kok. Tadi Aina udah bosan main. Jadi yaudah Haifa ajak buat kue yang gampang."
"Tapi serius sayang mas minta maaf. Sepertinya setiap kali mas ada masalah sama Novia kamu yang selalu kena imbasnya." kata Alvin serius sambil menatap Haifa.
"Iya udah ya. Nanti lagi bahasnya. Gak baik ada Aina." kata Haifa sambil menunjuk Aina yang sedang memakan kue yang baru saja dibuatnya.
"Kok mas udah pulang?" tanya Haifa sambil kembali melanjutkan membuat kue bersama Aina yang sejak tadi sibuk memakani choco chip.
"Di kantor juga gak produktif. Mas merasa bersalah diamkan kamu."
"Padahal Haifa yang salah loh."
"Kamu gak salah. Niat kamu baik. Cuma mas yang gak bisa melihat sisi baiknya karena mas udah keburu emosi." kata Alvin.
"Udah ah. Mas mau Haifa buatkan teh?"
"Enggak usah. Kamu lanjut aja. Mas mau ganti baju dulu."
***
Mereka sudah berkumpul di ruang tamu sambil menikmati kue yang baru saja Haifa buat.
Sedang asik menikmati sambil mengobrol.
"Sayang kita mau buat acara 4 bulananya kapan? Dan acaranya mau dibuat seperti apa?" tanya Alvin.
"Haifa sih maunya cuma semacam pengajian aja gitu mas, berdo'a bersama buat kelancaran dan keselamatan sampai melahirkan nanti. Kalau waktunya sih ya fleksibel aja sebisanya mas."
"Kalau dua minggu lagi gimana?"
"Emang mas kosong jadwalnya?"
"Kalau dua minggu lagi mas bisa minta atur sama Abrar. Kalau minggu ini kayaknya gak bisa soalnya kemarin habis ditinggal seminggu pastinya padat minggu ini."
"Yaudah. Tapi jangan mendadak ya. Kita kan harus pesen makanan sama kasih tahu keluarga biar kosongkan jadwal juga."
"Iya sayang. Ini enak loh. Gimana ceritanya kok bisa bikin kue buat nyogok mas."
"Ya biar gak didiamkan terus sama mas. Haifa bingung soalnya kalau di diamkan mas."
"Bingung?"
"Iya. Semalam aja Haifa rasanya pengen banget makan sama ikan bakar. Tapi mas lagi marah yaudah jadi Haifa tahan aja."
"Kenapa gak bilang? Semarah marahnya mas pasti belikan."
"Iya tapi ya gak enaklah. Mas pasti capek ditambah lagi marah juga."
"Maaf ya. Terus sekarang masih mau?"
"Enggak. Udah kok."
"Udah?"
"Iya."
"Kamu delivery?"
"Enggak."
"Terus?"
"Hehe semalam Haifa buat di status whatsapp. Eh tiba tiba tadi ada yang kasih ke rumah."
"Kasih? Ke rumah?" tanya Alvin.
"Iya."
"Siapa?"
"Jugo." jawab Haifa tanpa beban.
***
***To be continued...
See you next part***...
__ADS_1