
Happy Reading...
اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ
Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar Allaahu akbar walillaahil hamd
Gema takbir berkumandang, menemani keheningan malam dan melengkapi kebahagian umat manusia dalam meraih kemenangan.
Malam ini mereka sedang berada di kediaman keluarga Haifa. Karena lebaran tahun lalu mereka merayakannya bersama keluarga besar Alvin. Jadi saat ini giliran bersama keluarga besar Haifa.
Seperti setiap malam lebaran pada umumnya. Mama Haifa beserta ketiga anak perempuannya sedang bahu membahu untuk membuat hidangan untuk esok hari.
"Mama rencana mau buat apa aja?" tanya Haifa.
"Mama rencana mau buat soto banjar karena itukan wajib dikeluarga kita. Terus mama mau buat opor ayam kampung, daging serundeng sama sambal goreng hati sapi." jawab mama.
"Wah makanannya berat semua ya ma." Kata Hanni, kakak tertua Haifa.
"Ya kan emang begitu teh makanan khas lebaran. Tapi ada soto kan yang lumayan seger."
"Yaudah dek berarti kita buat camilannya yang segar segar aja." kata Hilya, kakak kedua Haifa.
"Iya teh betul. Haifa niatnya mau buat puding aja teh. Puding susu buah naga sama puding mangga. Terus sama salad buah paling."
"Nah iya tuh harus banyak buah. Biar sehabis lebaran gak pada naik kolesterol Mama dan Papa." kata mama.
"Ma ini buat oporkan?" tanya Haifa.
"Iya."
"Sini sama Haifa aja."
"Loh tumben dek. Biasanya adek paling gak suka masak yang berbumbu gitu." Kata Hilya.
"Beda dong teh. Adek kan sekarang udah punya suami, ada keluarga suami juga. Jadi ya harus segala bisalah." kata mama.
"Kamu gak tau aja il, sebelum hamil dan punya Aidan. Adek kita ini setiap hari datang ke sini buat belajar masak sama mama." kata Hanni.
"Wah iya dek? Tuntutan mertua ya? Teteh juga gitu." kata Hilya.
"Sutt udah ah. Gak enak nanti di dengar suami kalian." kata mama.
Topik obrolan mereka memang tidak berhenti di situ. Mereka terus bercerita sambil mengerjakan job desk nya masing masing.
Pukul 01.30 waktu jam bagian kamar Haifa. Haifa sudah terbangun, seperti biasa alamnya adalah Aidan karena jam jam ini jadwalnya Aidan untuk menyusu.
Setelah berada di posisi yang nyaman untuk menyusui Aidan. Haifa mulai memberikan hak Aidan.
"Masya Allah sabar sayang. Bismillah dulu." kata Haifa ketika Aidan dengan sangat semangat menghisap sumber nutrisinya.
"Adek haus banget ya? Iya? Padahal semalam juga adek udah minum banyak loh dari bunda." katanya sambil mengelus kepala Aidan. Sementara yang diajak bicara hanya berkedip sesekali sambil terus menghisap sumber nutrisinya dengan kuat.
"Aduduh. Sabar sayang, gak akan ada yang ambil kok." kata Haifa ketika merasa Aidan menghisapnya dengan tidak sabaran.
Kurang lebih satu jam Haifa menyusui Aidan secara bergantian kanan dan kiri. Selama itu pula Haifa tidak berhenti untuk memberikan sentuhan sentuhan ringan serta mengajak Aidan mengobrol. Karena katanya saat menyusui ini adalaj moment yang paling tepat untuk bunda bisa berkomunikasi intens bersama buah hati. (lagi lagi katanya. Kata buku dan kata yang berpengalaman. Karena author belum mengalami hehe)
"Loh mas kok bangun?" kata Haifa saat hendak meletakan Aidan kembali ke boxnya dan melihat Alvin sudah bangun.
"Dari tadi kok. Cuma mas gak mau ganggu. Kamu lagi asik ngobrol sama Aidan." jawab Alvin.
"Eh. Berarti mas dengar dong?"
"Iya mas dengar." jawab Alvin.
"Apa coba?"
"Kamu bilang sama Aidan. Adek kenapa sih harus mirip papa banget. Padahal adek itu bunda yang mengandung 9 bulan. Tapi pas lahir wajahnya dirampas sama papa semua. Haha." kata Alvin menirukan apa yang Haifa ucapkan pada Aidan tadi.
"Ish. Sebal tau."
"Kenapa sih? Gak apa apa dong biar ganteng kayak papanya." kata Alvin.
"Hih dasar Babatuna." jawab Haifa.
__ADS_1
"Hah apa itu?"
"Bapak bapak tua narsis."
"Sembarangan. Mas masih muda ya." kata Alvin.
"Yayaya udah ah terserah mas. Haifa mau ke dapur bantu mama. Titip anak anak ya. Jangan digangu. Kalau ada yang bangun mas tanggung jawab sendiri."
"Apa yang bangun?"
"Anak anak mas."
"Oh mas kira apa."
"Dih. Udah ah." Haifa segera berjalan hendak keluar kamar.
"Pake kerudung sayang. Ini bukan di rumah." kata Alvin.
"Ih gak apa apa mas. Di rumah ini kan mahram semua." jawab Haifa.
"Yakin?"
"Iyalah."
"Terus abang abang ipar kamu?"
"Oh iya lupa." kata Haifa sambil menepuk jidat.
"Ganti juga jangan pake celana itu." kata Alvin.
"Ih kenapa sih? Piyama yang Haifa pakai juga udah panjang."
"Iya tau. Tapi yang kamu pakai itu tipis." (bukan tipis nerawang ya. Tapi tipis tipis piyama tidur gitu.)
"Ih iya iya. Mas kaya papa banget sih selalu protes masalah berpakaian."
"Iya kan emang adanya mas ini buat menggantikan tanggung jawabnya papa sama kamu. Lagian yang mas bilang juga buat kebaikan kamu."
"Iya mas ku sayang. Udah ya, Haifa ganti baju."
Pukul 05.45 anggota keluarga di rumah itu hampir sudah siap semua untuk pergi ke masjid. Karena semakin siang biasanya akan semakin penuh.
Setelah shalat raya, sebelum ke acara makan makan. Mereka terlebih dahulu melakukan sebuah tradisi yang identik dengan lebaran yaitu acara sungkeman.
Diawali dengan papa yang lebih dulu duduk di sofa disusul mama yang sungkem kepada papa kemudian dusuk di sampingnya. Dilanjutkan oleh keluarga kakak tertua Haifa dan diakhiri oleh keluarga Haifa.
Selesai itu sebelum mereka open house. Keluarga besar Haifa terlebih dahulu makan bersama. Berbagai menu khas lebaran yang semalam dimasak oleh mama dan ketiga putrinya sudah tersaji indah diatas meja makan.
"Ini gak ada yang mau ambilin masi buat Ken?" tanya Keanu ketika yang lain diambilkan nasi oleh pasangannya masing masinh.
"Oh iya papa lupa ada abang ya yang bekum nikah."
"Sini sini mama ambilkan. Mangkanya abang itu cepat cari calon istri. Jangan pengennya sekolah terus. Nyari gelar panjang panjang aja bisa. Sekarang cari istri dong biar gak sendiri terus."
"Nah benar tuh Ken kata mama, papa. Cepat nikah, jangan sekolah terus. Ya bagus sih sekolah yang tinggi. Tapi cari istri juga perlu. Pendidikan oke, pekerjaan bagus tapi kalau jomblo ya mengenaskan juga."
"Iya teteh iya besok Ken nikah." jawab Keanu sambil menerima piring yang sudah terisi dari tangan sang mama.
"Halah main besok besok aja. Sekarang aja masih jomblo. Papa jodohkan kamu mau gak?" kata sang papa.
"Enggak enggak. Ken masih laku juga pa. Banyak juga yg antri." belanya.
"Yaudahlah terserah kamu." kata papa.
"Kai Arsyad lapar." kata Arsyad.
"Aina juga."
"Dikta juga."
"Loh kok malah pada laporan sama Kai. Kalau lapar makan dong." jawab papa.
"Kan dali tadi belum baca do'a kai."
__ADS_1
"Iya Kai ngobrol terus sama om jomblo." kata Arsyad.
"Om Ken jomblo itu apa? Kenapa om ken jomblo." tanya Aina.
Ken yang ditanyai oleh Aina nampak tergagap.
"Udah udah. Kita makan ya." kata papa dan mulai memimpin do'a.
***
Keluarga Haifa memang terbiasa open house saat lebaran. Biasanya tetangga tetangga akan berdatangan.
Selesai makan tadi, Alvin dan Haifa pergi ke kamar. Jika di ruang keluarga tadi bisa dibilang sungkem masal. Maka di dalam kamar. Haifa kembali sungkem pada Alvin dengan situasi yang lebih privasi dan lebih bisa mengutarakan isi hati.
"Haifa minta maaf ya mas. Haifa selalu berusaha untuk menjadi istri dan ibu yang baik. Tapi hasilnya sangat jauh dari kata baik. Maaf kalau banyak tingkah laku Haifa yang tidak berkenan buat mas. Jangan lelah buat bimbing Haifa untuk menjadi istri dan ibu yang baik ya mas." ucap Haifa setelah mencium tangan Alvin.
Alvin menangkup wajah Haifa.
"Sama sama sayang. Mas juga minta maaf. Sebagai suami dan ayah mungkin banyak juga kewajiban yang belum mas jalankan sebagai mana mestinya. Buat mas kamu itu sudah sangat baik. Tidak sempurna. Tapi kamu mampu melengkapi sisi yang hilang. Mampu mengisi ruang yang kosong. Dan yang terpenting mau selalu belajar bersama untuk kedepan yang lebih baik. Itu sudah cukup. I love you." katanya. Kemudia langsung mencium kening Haifa dan dibalas pelukan erat oleh Haifa.
Sekarang giliran Aina, yang sejak tadi berdiri untuk menunggu giliran dan mengamati kedua orang tuanya.
"Ayo kakak sini." kata Haifa yang sudah duduk di samping Alvin."
Aina yang sangat patuh itu langsung berjongkok di hadapan Alvin dan mencium tangan papanya itu.
"Papa maaf ya. Kakak suka nakal. Tapi kakak sayang kok sama papa." katanya sambil menatap Alvin.
"Iya sayang. Papa juga minta maaf ya."
Aina mengangguk. Alvin menciumi Aina hampir di seluruh muka.
"Papa udah. Basah muka kakak." kata Aina sambil menepis nepis wajah Alvin.
Alvin hanya tersenyum.
Aina sudah beralih ke hadapan Haifa.
"Maaf bunda. Kakak suka nangis. Suka lewel sama bunda. Kakak sayang bunda. Sayang banget nget." kata Aina kemudian memeluk Haifa.
"Bunda juga sayang banget sama kakak. Jadi anak yang baik dan shalehah ya sayang. Jadi kakak yang baik buat adik adiknya. Maafkan bunda juga ya sayang. Bunda belum bisa jadi bunda yang baik buat kakak." katanya kemudian mencium kening Aina.
"Salanghaeyo bunda." kata Aina sambil mendongak menatap Haifa.
"Nado saranghae sayang." kata Haifa sambil mencium Aina.
"Kakak kok tahu. Itu apa tadi sarang apa?" tanya Alvin.
"Salanghaeyo papa." kata Aina.
"Iya kok kaka tahu itu?" tanya Alvin.
"Hehe bunda kan suka bilang itu sama kaka. Iya kan bunda?"
Haifa hanya mengangguk.
"Yah kalau begini mah bunda jadi punya sekutu deh buat nonton drama drama itu. Gak suka papa." kata Alvin.
"Haha. Udah dong pa. Baru juga maaf maafan."
"Iya nih papa."
"Iya iya udah papa kalah. Aidan cepat besar ya nak. Biar besar nanti jadi sekutu papa." kata Alvin berbicara sendiri. Jika bertanya kemanakah bayi dua bulan itu, jawabannya jelas sedang dikuasai oleh umi dan dipamerkan pada tamu tamu. Ya namanya juga cucu baru.
***
To be continued...
See you next part...
Mohon maaf ya, bila ada tradisi yang tidak sesuai.
Jika ada kritik dan saran boleh ya sampaikan saja dikomentar atau melalui grup.
__ADS_1
Terimakasih.