Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 6


__ADS_3

Haifa Tazkia Shafira


Aku mahasiswi semester 7 fakultas management di salah satu universitas di kota Bandung.


Usiaku masih 20 tahun menuju 21 tahun.


Aku ini kebetulan anak bungsu dari 3 bersaudara dan semuanya wanita.


Jadi waktu itu aku sedang mendampingi keponakanku katanya di sekolahnya ada acara dan mengharuskan orangtuanya untuk hadir. Tapi teh Hani (Biasa aku memanggil kakak ku) kebetulan tidak bisa mendampingi putranya (Arsyad keponakanku) dan teh Hani minta tolong agar aku bisa mendampingi Arsyad. Sebagia auntynya yang baik hati tentu aku tidak menolak karena kebetulan jadwalku sedang kosong hari itu.


Satu kejadian terjadi hari itu. Saat aku mengejar Arsyad yang katanya mau jajan. Tiba tiba anak kecil yang kutaksir usianya dibawah Arsyad menabraku dan es krim yang ia pegang jatuh mengenai gamis yang kupakai. Aku sama sekali tidak marah kesal pun tidak bagaimana bisa kesal ataupun marah saat aku lihat yang menabraku adalah gadis kecil yang menggemaskan. Dan aku pikir itu juga salahku yang terlalu fokus mengejar Arsyad hingga tak melihat sekitar.


Aku masih fokus melihatnya.


"Eh aunty maafin adek ya." ucap Anak kecil lagi aku taksir mungkin dia kakak dari anak ini.


"Eh iya gak apa apa sayang. Aunty gak apa kok. Adek juga gak apa apa kan?" tanyaku sambil berjongkok menyamakan posisinya dengan anak kecil ini.


Didekati seperti itu dia malah menangis.


"Loh kok nangis." kataku sambil mengusap pipinya. Sebenarnya melihat dia menangis aku takut. Takut orang mengira aku orang jahat yang menjahati nya atau apalah.


"Maaf Aty." kata dia sambil menangis. Aku merasa gemas sendiri dan langsung ku peluk gadis kecil itu.


Lagi lagi diluar ekspektasi. Jika biasanya anak sekecil ini mungkin hanya akan menangis dan berlari ke orang tuanya. Tapi kedua bocah ini tidak lari mereka malah berani meminta maaf. Ah mungkin aku berlebihan. Tapi aku takjub sepertinya anak anak ini di besarkan dikeluarga yang luar biasa.


"Oke sayang. Aunty juga minta maaf ya. Oh iya adek namanya siapa?" tanyaku.


"Aina." jawabnya dengan suara pelan.


"Kalau ini abang, namanya Azzam ya." kataku sambil melihat abangnya. Bagaimana aku tau? Tentulah karena aku membaca name tag diseragamnya.


"Iya." jawabnya.


Tak berapa lama aku melihat dua orang dewasa menghampiri kami. Pikirku mungkin mereka orangtua dari anak anak ini.


Aku terlebih dahulu memperkenalkan diri agar orangtuanya tak berpikir macam macam padaku.


Tak banyak interaksi lagi setelah itu kami sama sama pamit. Aku kembali mencari Arsyad dan mereka juga entah kemana.


***


Kembali menjalani hari harinya sebagai mahasiswi. Kegiatannya setiap hari hampir sama setiap pagi hingga petang dirinya berada di kampis untuk kuliah. Kemudian jika tidak ada tugas biasanya Haifa bersama kawan kawan nya sering mengikuti kajian kajian atau jika tidak ada jadwal kajian mereka biasanya membuat liqo mandiri.


Ya seperti itu lah kegiatannya sebagai mahasiswi.


Hari ini pukul 07.45 Haifa dan Dinda sudah pergi ke kampus karena jadwal kuliahnya akan dimulai pukul 08.00. Kebetulan Haifa dan Dinda ini sekelas.


Ini juga kali pertama lagi Haifa bertemu dengan dosennya yang bernama Alvin setelah kejadian minggu lalu. Saat dirinya dipermalukan di depan teman temannya. Dan yang menyebalkan lagi dosennya itu mengatakan jika sebenarnya tidak ada kesalahan yang dilakukan Haifa, hanya saja dosennya itu mencari alasan agar bisa berbicara empat mata dengan jaminan nilai Haifa langsung A+. Dan dengan jelas Haifa menolak penawaran dosennya itu.


Kelasnya minggu ini kembali presentasi kali ini tidak ada kejadian makalah yang disobek seperti minggu lalu.


Kebetulan setelah mata kuliah Alvin tidak ada mata kuliah lagi Haifa berniat untuk membeli buku ke gramedia.


"Dinda ke gramed yuk mau enggak?"


"Aduh maaf Haifa tapi kayaknya gak bisa hari ini deh. Ada kegiatan di organisasi aku."


"Gitu ya. Yaudah deh."


"Maaf ya. Gak marah kan?"


"Haha dikira anak SD kali, begitu aja marah."


"Kamu sendiri? Ajakin Ina atau Aul deh. Kasian aku liat kamu sendiri kentara banget jomblonya." ledek Dinda.


"Tenang Dinda taun ini sebelum wisuda Haifa nikah duluan." ucap Haifa asal.


"Ucapan do'a loh." ucap Dinda.


"Ya biarin orang ngucapnya juga yang baik kan."


"Siap banget nikah ya? Mau nikah sama siapa? Raihan? Tapi katanya CV nya Raihan udah di tolak ya sama Papa kamu. Jadi sama siapa dong sama Pak Alvin?"


"Astagfirullah. Kamu ini ngarang ya Din. Belum tau Ina ngamuk." ucap Haifa.

__ADS_1


"Haha lagian aku heran loh. Yang nge bucin sama pak Alvin itu Ina. Tapi yang dikasih perhatiannya malah Haifa."


"Ya Allah Dinda, udah ah di denger orang gak enak tau. Dikiranya beneran, udah ya becandanya. Aku duluan ya Assalamualaikum." pamit Haifa kemudian bergegas meninggalkan Dinda. Jika tidak begitu Haifa akan susah pergi nantinya.


Berada di toko buku merupakan tempat paling menyenangkan bagi Haifa. Bagaimana tidak karena terlalu hobi membaca koleksi bukunya di rumah sudah seperti perpustakaan.


Beberapa buku sudah dipilih oleh Haifa dan hendak dibayar. Tidak lupa Haifa juga membelikan buku bacaan untuk Arsyad keponakannya. Karena bocah itu selalu meminta dibelikan buku setiap kali Haifa pulang.


Selesai membeli buku dan tujuan Haifa sekarang adalah makan. Lumayan lelahkan beberapa jam berkeliling toko buku.


Sambil menunggu pesanan Haifa mengisi waktu dengan membaca buku yang ia beli tadi.


Sementara itu dari sisi lain ada sepasang mata yang terus memperhatikan Haifa.


"Aty Zia." panggilnya.


"Iya sayang kenapa?"


"Tini." panggil Aina agar Zia mendekat.


"Apa sayang?"


"Tini bicik bicik."


"Mau bilang apa kok bisik bisik?" tapi kemudian Zia menurut dan mendekatkan telinganya ke bibir Aina.


"Aty itu aty tantik." bisik Aina.


Zia yang terkejut langsung mengedarkan pandangannya.


"Yang mana?"


"Itu aty. Duduk tana." kata Aina menunjuk dengan dagunya.


"Mau disamperin kesana?" tawar Zia. Zia tidak terlalu kaget karena sudah tau ceritanya jika Aina sering bercerita tentang aunty cantik.


Aina hanya mengangguk.


"Yaudah yuk. Abang Azzam mau ikut atau tunggu sini?"


"Assalamualaikum." sapa Zia lebih dulu.


"Wa'alaikumsalam." jawab Haifa.


"Mbak Haifa ya?" tanya Zia.


"Eh iya. Ini Mbak Zia kan yang waktu itu ketemu di sekolah?"


"Iya masih ingat ternyata."


"Hehe silahkan duduk mbak." ajak Haifa.


"Eh adek adeknya ikut juga." kaya Haifa sambil mengusap kepala Azzam karena yang paling dekat dengannya.


"Mbak sendiri aja?" tanya Zia.


"Iya kebetulan lagi kosong gak ada jadwal kuliah. Jadi bih abis dari toko buku" jawab Haifa.


"Oh masih mahasiswa, terus yang waktu itu di sekolah?"


"Keponakan kak hehe. Eh maaf saya panggil kakak."


"Haha gak apa apa usia kita gak beda jauh kok."


"Ini anak anaknya kak. Hai cantik sini yuk sama tante." ajak Haifa pada Aina.


Aina awalnya malu malu tapi akhirnya mau juga dipangku Haifa


"Iya. Ini Azzam anak saya. Dan itu Aina keponakan saya."


"Gak nyangka ya bisa ketemu lagi."


"Aina yang lihat lebih dulu. Ingatan dia kuat ternyata."


"Gemes banget sih. Berapa tahun usia sayang?" tanya Haifa pada Aina.

__ADS_1


"Tli aty."


"Gemesnya." kata Haifa sambil mencubit pelan pipi Aina.


"Gak apa apa kan kita gabung di sini? Tempatnya lagi penuh."


"Gak apa apa kak. Seneng malah Haifa jadi ada temennya."


Dan akhirnya seperti biasa jika dua atau lebih wanita sudah berkumpul baru kenal atau sudah kenal lama pasti tidak pernah sepi obrolan.


"Permisi bu ini pesanannya." ucap pramusaji.


"Oh iya makasih mbak."


Obrolan pun terpotong karena mereka sama sama menikmati makanan.


"Udah sore nih kak. Kebetulan dari sini ke kosan lumayan jauh. Jadi Haifa pamit duluan ya."


"Oh gitu. Yaudah kalau gitu."


"Aty au pulang?" tanya Aina.


"Iya sayang aunty pulang dulu ya."


"Boleh kiss aty?" tanya Aina pelan.


Haifa hanya tersenyum kecil begitu juga dengan Zia.


"Boleh kok. Sini kiss. Aunty juga mau kiss Aina."


"Oh iya Azzam sama Aina suka baca buku enggak?" tanya Haifa.


"Suka aunty." jawab Azzam antusias.


"Tuka uga." ikut Aina.


"Wah pinter. Ini nih tadi kebetulan aunty abis beli buku dua. Ada kisah sahabat nabi sama kisah istri nabi. Nih aunty kasih buat Azzam sama Aina ya."


"Maksih aunty." ucap Azzam.


"Maatih aty."


"Sama sama Sayang."


"Loh Haifa kok jadi merepotkan."


"Gak apa apa kak. Haifa seneng kok. Hehe."


"Haifa maaf kalau lancang tapi boleh saya minta nomor handphone? Buat silaturahim aja nambah saudara."


"Iya boleh kak."


Zia memberikan handphone nya pada Haifa.


"Ini udah Haifa tulis ya kak."


"Oke makasih ya. Semoga lain kesempatan bisa ketemu lagi."


"Aamiin. Kak kalau gitu Haifa duluan ya. Adek adek aunty pulang duluan ya. Assalamualaikum." pamit Haifa.


"Wa'alaikumsalam."


"ikum talam."


...


"Seneng udah ketemu aunty cantiknya sayang?" tanya Zia pada Aina.


"Hehe teneng. Aina mau celita tama Papa."


'Selamat berjuang dan selamat makin penasaran Vin. Aina punya cerita baru sekarang.' ucap Zia dalam hati.


**To Be Continued...


See You Next Part**...

__ADS_1


__ADS_2