
Jadwal Alvin hari ini terlalu padat hingga pukul 22.30 Alvin baru sampai di rumah Arvan untuk menjemput Aina.
"Assalamualaikum." ucap Alvin bertepatan dengan munculnya Arvan dari balik pintu setelah sebelumnya Alvin sudah memencer bel.
"Wa'alaikumsalam. Masuk Vin."
"Bang maaf ya Alvin ganggu. Alvin jemputnya kemaleman."
"Abang sih mending malam ini kamu nginep aja di sini. Aina juga udah tidur kalau dibangunin diajak pulang takutnya malah rewel. Kamu juga kan cape bolak balik begini."
"Iya juga sih."
"Yaudah istirahat sana. Aina tidurnya sama Azzam tadi. Kalau mau liat masuk aja."
"Makasih ya bang."
Selepas subuh Alvin langsung membawa Aina pulang. Walau bocah itu masih terkantuk kantuk tapi tetap saja harus pulang.
Hari ini Alvin ingin menebus salahnya kemarin yang sibuk dari pagi hingga larut jadi tidak sempat bertemu dan bermain dengan Aina. Jadi rencananya Alvin akan membawa Aina ke kantor karena jadwal hari ini sedikit, kemudian mengajak putrinya jalan jalan.
"Kasian putli papa masih ngantuk ya. Bobo lagi aja sayang." kata Alvin sambil mengusap kepala Aina dengan sebelah tangannya karena masih harus fokus mengemudi.
Aina tidak menanggapi apapun ia masih galau antara mau bangun atau tidur lagi.
Sampai di rumah Alvin langsung menggendong putrinya untuk turun.
"Kok gak bobo lagi?" tanya Alvin.
Aina hanya menggeleng.
"Aina hari ini ikut papa ke kantor ya. Abis itu kita jalan jalan mau?"
"Au."
"Oke berarti sekarang Aina mandi ya."
"Dingin papa."
"Pake Air hangat mau?"
Aina hanya mengangguk.
"Let's go girl kita mandi." kata Alvin sambil menggendong Aina di pundaknya.
"Papa kemalin Aina temu lagi tama aty tantik." ucap Aina saat Alvin sedang memandikannya.
"Oh iya? Ketemu dimana?" ucap Alvin mencoba sebiasa mungkin.
"Kemalin kan Aina ikut aty Zia jemput Abang. Telus makan, telus Aina liat ada aty tantik, telus Aina ketana. Temu deh."
"Oh gitu. Auntynya masih inget emang sama Aina."
"Matih tau. Aina dudukna tama aty di tini." kata Aina sambil menepuk pahanya.
"Aina yang minta dipangku aunty."
"No Papa. Aty na yang mau Aina duduk tini." kata Aina sambil kembali menepuk pahanya.
"Aina juga dikatih buku tama aty. Nanti papa batain ya."
"Hem buku apa?"
"Buku itli itli nabi. kalo abang dikatih buku tabat tabat nabi."
"Tantik papa atyna."
"Cantikan putli papa dong."
"Tama papa tantikna tama taya Aina."
Alvin menautkan alisnya merasa heran.
'Tumben biasanya kalau dibilang cantiknya sama protes.' gumam Alvin.
"Apa?" tanya Aina yang mendengar samar samar gumaman Alvin.
"Enggak sayang udah yuk selesain mandinya jangan main air."
"Nah Aina udah cantik. Sekarang giliran Papa. Aina mau tunggu di sini atau ikut ke kamar papa?"
"Ikut Papa."
__ADS_1
Alvin dan Aina sudah berada dalam perjalanan menuju ke kantor.
"Papa."
"Kenapa?"
"Mama tepon?"
"Aina mau telepon mama?" tanya Alvin.
Aina menggeleng.
"Ga angkat." jawabnya.
"Siapa tau sekarang diangkat mau coba?"
"No. Akut." jawab Aina.
"Kok takut. Gak apa apa coba ya."
Aina mengangguk pelan. Alvin mendial nomor mama Aina.
"Nih pegang ya."
Hingga panggilan ke sekian tapi belum ada satupun yang di angkat.
"Dah ah." kata Aina sambil menyerahkan handpohe pada Alvin.
"Papa tepon aty tantik aja." rengek Aina.
"Papa gak punya nomor nya sayang."
"Aaa tepon aty tantik papa."
"Iya tapi gimana papa gak punya nomornya sayang."
"Aaa ayo papa tepon aty tantik."
"Aina jangan gitu dong. Kalau bisa papa ikutin maunya Aina. Tapi sekarang beneran gak bisa sayang."
"Tapi Aina mau tepon aty tantik papa." kata Aina terus merengek.
"Aina." tegur Alvin.
"Tolly papa." ucapnya pelan. Setelah
itu tidak ada lagi ocehan Aina.
Alvin melirik ke arah putrinya. Wajah Aina benar menjadi murung sekarang.
"Maafin Papa ya sayang. Tapi papa beneran gak bisa ikuti maunya Aina sekarang. Nanti yaa." kata Alvin sambil mengusap kepala Aina.
"Udah sampai. Turun yuk." ajak Alvin.
Aina menggeleng.
"Ini kan udah di kantor Papa."
Aina kembali menggeleng.
"Terus Aina maukemana?"
"Puang." jawab Aina pelan.
"Kok pulang. Maafin papa ya. Yuk kita masuk dulu sebentar nanti kita jalan jalan."
Aina menggeleng.
"Beli es krim?"
"Banak."
"2"
"Banak." paksa Aina.
"Iya banyak. Tapi sekarang masuk dulu ya."
"Endong. Inggi."
"Siap princess."
__ADS_1
Sesuai janji siang ini Alvin mengajak Aina jalan jalan. Jika biasanya jika di ajak jalan jalan bocah kecil ini akan minta ke play ground, time zone atau toko mainan. Tapi kali ini Aina meminta jalan jalan ke mall yang kemarin di kunjunginya bersama Zia. Mungkin pikirnya berkunjung ke tempat yang sama akan bertemu juga dengan orang yang sama.
"Tu Papa kemalin temu aty tantik di tana. Aty tantik na duduk tana. Telus Aina, abang tama aty Zia matuk. Telus Aina liat ada aty tantik. Telus Aina bicik bicik tama aty Zia." kata Aina sambil menunjuk tempat yang sama.
"Tapi tekalang aty tantiknya gak ada papa." rengek Aina.
"Emang aunty nya kerja di sini?" tanya Alvin.
"Ih no papa. Aty tantiknya makan di tana."
"Oh ya mungkin aunty nya hari ini gak makan di sini saya."
"Ih papa nakal." ucap Aina sambil cemberut.
"Kok jadi papa yang nakal?"
"Papa nakal." kata Aina lagi.
"Haha oke oke iya papa nakal. Yaudah sekarang Aina mau apa lagi?"
"Puang."
"Makannya gak jadi?"
"No."
"Beli es krim."
"Jadi. Banak."
"Yaudah yuk beli es krim."
"Bei buat aty tantik juga ya pa."
"Emang kapan Aina ketemu lagi?"
"Gak tau."
"Haha cair dong sayang. Buat Aunty nya nanti lagi ya kapan kapan."
"Janji." kata Aina menyodorkan kelingkingnya.
"Janji gak yaa?"
"Ihhh papa daa." rengek Aina.
"Haha iya iya sayang gemes banget sih. Emang auntynya punya apa sih kok Aina kayak nye pengen banget sama dia."
"Aty papa bukan dia."
"Iya aunty."
"Aty nya baik. Tayang tama Aina."
"Emang udah ketemu berapa kali. Kok tau sayang?"
"Dua."
"Emang beneran sayang?"
"Ihh tayang Papa."
"Kalau enggak sayang?"
"Hiks hiks papa nakal." kata Aina sambil memukuli Alvin.
"Iya iya becanda sayang. Cup cup jangan nangis dong. Nanti kalau Aina ketemu auntynya lagi ajak papa dong. Biar kenalan sama aunty. Siapa tau aunty nya bisa jadi bundanya Aina."
"Mau Aina mau aty na jadi bunda Aina. Benel ya Papa."
"Hah."
'Mampus kau Alvin salah ngomong kan. Rasain kau pasti ditagih terus.' ucap Alvin merutuki dirinya sendiri dalam hatinya.
"Benel ya papa."
"Hah apa sayang."
"Papa ih Apa apa telus."
Alvin tersenyum kaku.
__ADS_1
**To Be Continued...
See You Next Part**...