
Sebulan sudah berlalu Alvin dan Haifa sudah mengurusi persiapan persiapan untuk Aina pergi bersama Novia.
Besok sudah waktunya keberangkatan Novia, suaminya dan juga Aina. Malam ini Alvin dan Haifa akan mengantarkan Aina ke apartemen yang saat ini ditempati Novia dan suaminya. Satu koper dengan ukuran besar yang berisi keperluan Aina sudah dimasukan ke dalam bagasi mobil.
Saat ini mereka sudah dalam perjalanan ke apartemen.
"Aina baik baik ya di sana? Jangan lupa nanti sesekali telepon bunda sama papa di sini ya." kata Haifa sambil memeluk dan mencium Aina. Haifa berusaha menahan agar tidak menangis. Tapi rasanya sulit sekuat tenaga menahan tapi tetap saja matanya berkaca kaca.
Aina mengangguk lemah.
Alvin yang duduk disamping mereka langsung menarik Aina kepangkuannya lalu memeluknya erat. Alvin tidak mengemudi memang karena malam ini mereka pergi bersama sopir mereka.
"Aina nanti jangan lupa minta sama mama buat telepon papa sama bunda oke." Alvin kembali mengutarakan keinginan yang sama dengan Haifa.
"Papa tama bunda kenapa gak ikut?" tanya Aina.
"Papa kan kerja sayang." jawab Alvin.
"Libul aja." kata Aina.
"Gak bisa begitu dong sayang nanti papa dimarahi kakek." jawab alvin.
"Nanti Aina malahin kakek lagi." jawabnya.
"Haha emang Aina berani sama kakek?" tanya Alvin.
"Belani kakek kan tayang tama Aina."
"Tapi Mama maunya sama Aina dulu."
Aina menjadi diam.
"Jangan sedih dong. Kan Aina perginya sama Mama sama Daddy." kata Haifa sambil menegakkan wajah Aina yang tertunduk.
"Aina mau tama papa tama bunda juga." jawabnya pelan.
Tidak bisa menjawab Haifa dan Alvin hanya sama sama memeluk Aina.
Satu jam perjalanan mereka sampai di apartemen Novia.
"Sayang. Sini sama Mama." sambut Novia saat mereka sudah di depan pintu.
Novia langsung menuntun Aina dan mempersilahkan Alvin dan Haifa masuk.
"Dad, Ini mereka udah datang." panggil Novia pada sang suami.
Mereka mengobrol di ruang tamu.
"Melihat Aina beberapa waktu lalu yang sepertinya ingin sekali perginya bersama kalian. Kami gak keberatan sama sekali kalau kalian ikut serta." ucap Brian.
"Terimakasih. Tapi saya punya tanggung jawab di sini. Yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Mungkin nanti saya akan sering menghubungi kalian saja agar bisa berkomunikasi dengan Aina. Saya harap kalian tidak risih ketika nanti saya akan sering menghubungi kalian." ucap Alvin.
"Silahkan saja. Jangankan untuk menghubungi melalui telepon, skype atau apapun. Pintu rumah kami juga terbuka jika sewaktu waktu kalian ada waktu dan ingin berkunjung." jelas Brian. Novia memang menikah kembali dengan seorang duda. Jadi bagi suaminya bukan hal yang sulit untuk terbuka dengan keluarga mantan.
Sudahh pukul 21.30 Alvin dan Haifa pamit pulang. Mereka berpamitan bersama Novia dan Brian. Tidak dengan putri kecil yang sejak perjalanan tadi sangat pelit senyuman.
Tidak ada yang tau perasaan Aina yang sebenarnya. Tapi ekspresi wajah gadis kecil itu seperti menampakan ia tak ingin ikut. Tapi ia juga tak ingin mengecewakan mamanya.
"Sayang papa dan bunda pulang dulu ya. Aina baik baik di sana. Papa sama bunda pasti akan rindu sekali dengan Aina. Mangkanya nanti Aina jangan lupa telepon papa oke." pesan Alvin sambil berjongkok di depan Aina. Alvin sulit menyembunyikan kesedihannya karena ini pertama kali ia berpisah lama dengan Aina. Tapi Alvin harus ingat ia tidak boleh menampakan kesedihan di depan Novia. Karena kesedihan Novia mungkin saja lebih dari yang Alvin rasakan ketika berbulan bulan tidak bisa bertemu langsung dengan putrinya.
"Aina tanyang papa." ucapnya sambil memeluk Alvin.
"Papa lebih sayang Aina." ucap Alvin sambil mengurai pelukan mereka dan menciumi seluruh wajah Aina.
Aina mendongak menatap sang bunda yang berdiri di belakang Alvin.
"Bunda." panggilnya. Haifa ikut berjongkok di samping Alvin. Tanpa berkata Haifa langsung memeluk Aina. Haifa tidak mau berbicara karena ia takut ketika ia berbicara suaranya hanya akan bergetar dan ia akan menangis. Ia tidak boleh menangis di depan Novia dan suami Novia. Haifa sadar posisinya hanya ibu sambung. Walaupun yang Haifa rasa Aina sudah lebih dari sekedar putri sambungnya.
"Aina mau cium dede." ucapnya sambil mendekat ke perut Haifa yang belum nampak karena Haifa yang mengenakan gamis longgar.
"Udah?" tanya Alvin.
Aina mengangguk.
"Yasudah papa sama bunda pulang ya sayang. Assalamualaikum." ucap Alvin segera bangun dan berpamitan. Alvin sengaja terburu buru karena ia tidak ingin menjadikan suasana semakin haru. Ia tidak enak juga dengan Novia dan Brian.
Di dalam lift Haifa tidak bisa lagi menahan air matanya. Haifa berusaha menyeka dengan jilbabnya tapi belum mau juga berhenti. Hingga Alvin yang melihatnya langsung membawa Haifa kedalam pelukannya. Beruntunglah di dalam lift hanya tersisa mereka berdua.
Sampai di mobil Haifa belum berhenti menangis juga.
__ADS_1
"Udah sayang hidung kamu udah merah. Nanti yang ada malah pilek terus mampet jadi susah nafas nanti." kata Alvin sambil menyeka air mata Haifa.
"Haifa juga maunya udah. Tapi ini kran di matanya bocor. Jadi airnya ngalir terus." jawab Haifa.
"Sini mas tutup krannya." kata Alvin sambil mencium kelopak mata Haifa bergantian. Mereka melupakan situasi dan kondisi jika di depan mereka ada seorang sopir mereka.
Pukul 23.15 mereka baru sampai ke rumah. Karena tadi Haifa meminta mampir di Izinmart untuk membeli cokelat, katanya Haifa butuh coklat untuk meningkatkan hormon endorfin agar tidak terus menerus sedih karena ditinggal Aina.
***
Terasa sudah sangat lama Aina bersama Novia. Tapi rupanya jika melihat kalender barulah dua minggu Aina jauh dari mereka. Selama dua minggu ini mereka sempat beberapa kali berkomunikasi melalui skype. Selisih waktu Indonesia dan Swedia yang mencapai 6 jam tidak menjadi masalah untuk mereka. Biasanya mereka akan melakukan skype ketika malam hari sekitar pukul 20.00 WIB dan sekitar pukul 14.00 di Swedia.
Saat sedang melakukan skype, tidak jarang Aina mengatakan rindu dan ingin pulang. Bocah kecil itu sepertinya sulit beradaptasi di negara tersebut. Haifa dan Alvin hanya bisa menasihati Aina untuk sabar. Karena mereka juga merasa tidak enak dengan Novia dan Brian. Aina juga mengeluhkan makanan di sana tidak enak. Bukan, Aina bukan menilai tidak enak pada masakan Novia. Aina menilai tidak enak pada makanan makanan yang selalu Novia beli. Iya Novia bisa dibilang sangat jarang memasak apalagi kandungannya sudah semakin membesar dan hanya hitungan minggu ia akan melahirkan.
"Bunda, Papa, Aina lindu." ucapnya saat melihat wajah Alvin dan Haifa dari layar laptop milik mamanya. Terlihat bibirnya yang berkedut kedut seperti akan menangis.
"Papa sama bunda juga rindu. Aina sehat kan?" tanya Haifa.
"Aina tehat." jawabnya pelan. Tidak tampak Novia ataupun Brian di sana. Mereka memang sengaja memberikan ruang agar Aina bisa mengobrol leluasa. Seperti halnya ketika Novia menelpon Aina. Alvin tidak pernah ikut campur.
"Mama sama Daddy sehat juga kan?" tanya Haifa.
"Tehat." jawabnya.
"Sayang kemarin Papa sama bunda abis lihat dede loh." kata Alvin.
"Mana fotonya? Dede udah betal belum?" tanya Aina. Alvin menunjukan dua lembar foto hasil USG.
Iya kemarin memang ketiga kalinya Haifa konsul ke dokter dan pertama kalinya tanpa Aina. Beberapa waktu lalu saat konsul ke dua Aina sangat antusias karena sudah dapat mendengar detak jantung calon adiknya.
"Aina mau liat dede." ucapnya saat melihat foto tersebut. Nampak ukurannya sudah lebih besar dibandingkan yang terakhir Aina lihat.
"Iya nanti ya. Nanti kalau Aina udah pulang kita lihat dede lagi." kata Alvin.
"Oh iya Aina juga kan bisa lihat dede yang di perut mama." kata Haifa menambahkan.
"Dede di pelut mama, tuka tendang tendang. Mama tuka takit." jawabnya.
"Dede di perut bunda juga nanti bisa tendang tendang." jawab Alvin.
"Nanti bunda takit dong?" tanya Aina.
"Tapi Aina gak mau bunda takit." rengeknya.
"I'm okay baby." ucap Haifa meyakinkan.
"Kemarin papa ketemu abang Azzam sama abang kembar loh sayang. Katanya abang Azzam rindu sama Aina." Alvin berusaha mengalihkan.
"Aina juga lindu tama abang Azzam tama abang kembal, tama adek Fika, tama adek Fiqli." jawabnya.
"Kemalin Aina pelgi tama Mama tama Daddy buat beli baju dede. Aina juga beli mainan buat temuanya." jawabnya.
"Wah. Tapi Aina gak boleh merepotkan Mama sama Daddy loh sayang." kata Alvin mengingatkan.
"No. Papa itu Mama tama Daddy tendili yang pilih." jawabnya.
Jika sudah skype mereka ini bisa sampai lupa waktu. Selain keluhan rindu dan ingin pulang yang keluar dari bibir kecil Aina. Gadis itu juga selalu bercerita apa saja yang ia lakukan. Aina juga baru tahu kalau ternyata dirinya memiliki abang, dia adalah Beryl putra dari Brian usianya 7 tahun. Cukup jauh makanya Aina tetap merasa kesepian.
Pukul 22.00 mereka baru benar benar selesai melakukan skype bersama Aina. Aina sempat marah ketika mereka izin untuk mematikan skype. Tapi mereka juga memberikan pengertian. Alvin tidak enak dengan Novia, nanti takutnya dianggap mengganggu waktu quality time antara Novia dan Aina.
"Baru dua minggu ya mas. Tapi rasanya udah lama banget." keluh Haifa pada Alvin.
"Sama mas juga ngerasanya lama banget. Tapi yaudah sabar aja. Seperti yang kita bilang sama Aina. Harus sabar." kata Alvin.
"Yaudah kita tidur ya udah malam. Kamu jangan sering tidur larut malam apalagi bergadang. Gak baik buat dede." kata Alvin sambil mengusap perut Haifa.
"Mas..." panggil Haifa.
"Iya?"
"Haifa boleh gak minta sesuatu sama mas?" tanya Haifa.
"Kamu mau apa sayang? Mau roti bakar selai kacang kayak kemarin?"
"Bukan."
"Terus? Mau mie ayam mang asep?"
"Atau rujak bebek (rujak tumbuk dalam bahasa sunda) samping Indomei?"
__ADS_1
"Atau Nasi padang simpang lima?"
"Atau mau ciloknya bang Hanafi?"
"Atau mau telur gulung a geri?"
"Mau jus mangga pake yakult?"
Alvin mengambsen semua makanan yang pernah Haifa minta. Awalnya memang Haifa tidak ada permintaan aneh aneh. Tapi semakin kesini ada juga ternyata.
"Mas Alvin bukan ih."
"Ya terus mau apa atuh? Sok bilang."
"Tau Ah sebel." ucap Haifa sambil bergerak memunggungi Alvin.
"Kok jadi ngambek. Hei sayang ayo mau apa mas belikan." tawar Alvin Haifa tidak merespon.
"Sayang, yaudah mas minta maaf kalau udah bikin kesel. Sok sekarang mau apa?" tanya Alvin lagi.
"Ayo atuh mau apa sayang?"
Haifa masih diam. Haifa tidak marah, ia hanya kesal karena Alvin terus terusan berbicara. Sejak awal kehamilan memang Haifa sangat sangat mudah kesal dengan Alvin. Sebulan pertama bahkan seperti yang kalian tahu Haifa menjadi anti Alvin. Sekarang sudah lumayan hanya saja jika Alvin salah sedikit saja kekesalan Haifa pada Alvin seperti langsung muncul.
"Sayang ayo atuh mau apa. Sok lah mau apa aja mas turuti." ucap Alvin.
"Bener?" kata Haifa langsung berbalik badan.
"Iyaa. Tapi gak usah ngambek terus."
"Oke kalau gitu."
"Jadi mau apa?"
Haifa diam sejenak ia sedang berpikir.
"Haifa mau..."
"Mau apa?"
"Jangan dipotong bisa enggak sih?"
"Yaudah iya mau apa?"
"Haifa mau ketemu jugo, terus minta dipandu jalan jalan ke korea. Haifa pengen ketemu sama oppa oppa yang main di drama favorite nya Haifa. Terus..."
"Gak!" kata Alvin tegas.
"Tadi janjinya mau dituruti."
"Kalau ngidamnya pengen jalan jalan. Mending yang lebih bermanfaat. Daripada ke korea gak jelas tujuannya mending ke Swedia sekalian jalan bisa sekalian jemput Aina. Daripada ke korea apa lagi sama si ayam jago."
"Jugo mas."
"Bodo."
"Yaudah ayo."
"Ayo kemana?"
"Tadi katanya daripada ke Korea mending ke Swedia. Yaudah iya kita ke sana aja sekalian jemput Aina sekalian nengok babynya mbak Novia."
"Hah serius?"
"Beneran. Mas tadi janjinya apapun bakal di turuti kan?"
"Iya tapi..."
"Apa alesan apa?"
"Tapi kan..."
"Terserah ah mas Alvin banyak alesan." kata Haifa dan bergerak kembali memunggungi Alvin.
Alvin jadi bingung sendiri, sebenarnya lebih kearah tidak menyangka dengan keinginan Haifa.
***
**To be continued...
__ADS_1
See you next part**...