Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 47


__ADS_3

Happy Reading...


Saat sampai di rumah, Alvin melihat di garasi luar terdapat sebuah mobil yang asing bagi Alvin. Dapat Alvin simpulkan bahwa di rumah sedang ada tamu.


"Assalamualaikum..." kata Alvin saat masuk ke rumah.


"Wa'alaikumsalam." jawab Haifa sambil menghampiri dan mencium tangan Alvin.


"Ada tamu?" kata Alvin.


"Iya mas ini..."


"Saya Rayhan." katanya sambil mengulurkan tangan pada Alvin. Alvin hanya menerima uluran tangan Rayhan tanpa berkata apapun. Tunggu Rayhan? Alvin mengingat sesuatu. Bukankah Rayhan itu? Alvin melirik Haifa sekilas. Lalu kembali melihat kearah Rayhan.


"Saya kesini cuma niat untuk menjenguk bayi kalian. Karena saya dapat kabar kalau Haifa baru saja melahirkan." kata Rayhan menjelaskan.


"Oh iya terimakasih. Maaf jadi merepotkan. Silahkan duduk." kata Alvin mempersilakan Rayhan untuk duduk kembali.


"Aina mana?" tanya Alvin.


"Di dalam main sama bang Ken." jawab Haifa.


"Ada bang Ken juga? Kok gak kelihatan mobilnya?" tanya Alvin.


"Saya datang kesini sengaja mengajak Keanu." kata Rayhan yang menjawab pertanyaan Alvin.


"Yasudah kalau begitu kalian lanjutkan saja ngobrolnya. Saya permisi ke dalam." pamit Alvin.


"Eh mas..." kata Haifa mencoba menahan Alvin. Tapi sepertinya Alvin memang tidak ingin berada disana. Ia segera pergi kamar.


"Haifa sepertinya sudah sore. Sebaiknya saya pamit."


"Oh iya. Sebenarnya aku panggil bang Ken dulu."


Sepeninggalan Rayhan dan Keanu dari rumah mereka. Sikap Alvin menjadi dingin pada Haifa.


Setelah menidurkan Aina, Haifa kembali ke kamar. Ia melihat Alvin sedang menggendong Aidan.


"Aidan nangis ya?" tanya Haifa.


Alvin hanya diam lalu menidurkan Aidan di tengah tempat tidur mereka. Lalu Alvin pergi keluar kamar. Haifa mengikuti Alvin hingga Alvin masuk ke ruang kerjanya.


"Mas..." panggil Haifa.


"Mas kenapa sejak tadi pulang kantor kok jadi diam begini?" tanya Haifa


"Kenapa?" tanya Alvin sambil fokus membuka buka berkas pekerjaannya.


"Iya kenapa? Mas tiba tiba diam begini? Haifa salah?"


"Kamu merasa bersalah gak?" tanya Alvin.


Haifa diam.


"Enggak? Yaudah kalau enggak jadi apa yang harus dipermasalahkan?" tanya Alvin lagi.


"Mas mau kerja. Kamu mendingan istirahat sama Aidan." kata Alvin tanpa mengalihkan pandangannya dari pekerjaannya.


Haifa pikir mungkin Alvin sedang sibuk dan tidak ingin diganggu.


"Yaudah Haifa ke kamar ya. Mas jangan tidur kemalaman." kata Haifa kemudian mencium tangan Alvin.


***


Sudah dua hari berlalu tali sikap Alvin masih sama dinginnya dengan beberapa hari sebelumnya.


Awalnya Haifa kira Alvin sedang sibuk dengan pekerjaannya. Tapi jika sampai berhari hari seperti ini kemungkinan besar bukan itu penyebabnya. Haifa mulai mengingatkan kembali berbagai macam kejadian beberapa hari yang lalu. Ingatan Haifa tertuju pada beberapa hari lalu setelah kedatangan Rayhan ke rumah mereka.


Oke Haifa bertekad untuk membicarakannya malam ini bersama Alvin.


Malam ini setelah Aina dan Aidan tidur. Haifa menghampiri Alvin ke ruang kerjanya.


"Assalamualaikum." kata Haifa saat memasuki ruang kerja Alvin.


"Wa'alaikumsalam."


"Mas lagi sibuk ya?" tanya Haifa.


"Kelihatannya?" tanya balik Alvin.


"Mas Haifa mau minta waktu sebentar boleh?"


"Ada apa?" kata Alvin tanpa melihat Haifa.


"Mas marahkan sama Haifa?"


"Kamu merasa melakukan sesuatu yang membuat saya marah?"


"Haifa gak tahu. Tapi semenjak Rayhan bertamu buat melihat Aidan mas jadi dingin begini. Mas marah kan?"


"Menurut kamu saya berhak marah?"


"Mas, kenapa jadi muter muter sih. Haifa cuma mau coba menyelesaikannya."


"Apa yang mau diselesaikan kalau kamu tidak ada merasa bersalah."


Haifa yang awalnya mencoba tenang terpancing juga dengan sikap Alvin. Kondisinya yang baru beberapa hari setelah melahirkan, ditambah harus mengurus bayi dan Aina serta mengurusi Alvin serta mengurus rumah. Sepertinya membuat kesabaran Haifa menipis dan mudah terbawa emosi.


"Justru itu seharusnya sebagai suami yang baik. Mas beritahu Haifa, kalau Haifa gak merasa bersalah tapi menurut mas Haifa salah. Jangan malah mas diamkan Haifa begini. Berhari hari mas diamkan Haifa juga gak akan selesai masalah." kata Haifa dengan suara yang sedikit keras.


"Sebagai istri yang baik kamu juga seharusnya bisa berpikir dan instrospeksi."

__ADS_1


"Menurut mas karena apa sekarang Haifa mau bahas ini sama mas?"


"Haifa udah berpikir dan Haifa yakin ini semua berawal dari saat Rayhan bertamu kan?"


"Iya karena itu. Tapi kamu sama sekali gak merasa bersalahkan?"


"Kamu menerima tamu dan membawa masuk laki laki ke dalam rumah tanpa seizin saya. Apa itu benar?"


"Haifa cukup tahu sebagai seorang istri menerima tamu laki laki tanpa seizin suami itu memang gak boleh. Tapi kemarin kondisinya dia datang sama bang Ken. Dia juga datang dari jauh dan niatnya baik mau nengok anak kita. Apa harus Haifa usir?"


"Tapi setidaknya kamu bisa hubungi saya."


"Jangan karena terlalu asik mengobrol dan nostalgia jadi lupa sama suami. Apalagi kalian hanya berdua di ruang tamu sementara bang Ken di kamar sama Aina dan Aidan."


"Udah suudzonnya? Mas gak tau kondisinya gimana kan?"


"Saya tahu. Kamu berdua di ruang tamu dan bang Ken di kamar sama anak anak."


"Yaudah terserah mas. Kalau emang yang mas yakini seperti itu yaudah terserah." kata Haifa sambil meninggalkan ruang kerja Alvin.


"Begini caranya menyelesaikan masalah sama suami?" tanya Alvin yang membuat Haifa berdiri diambang pintu.


"Percuma. Mas gak mau dengar juga kan?" ucap Haifa sambil menutup keras pintu ruang kerja Alvin.


Sementara Alvin ia membanting tubuhnya ke kursi kerjanya memejamkan mata sambil menarik nafas.


Alvin hanya diam di ruang kerja. Tidak ada kegiatan yang dilakukan selain diam dan terus menarik nafas untuk menenangkan dirinya sendiri.


Beberapa hari ini memang ia merasa dirinya labil. Ia merasa kesal sekarang Haifa lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengurusi Aidan dan Aina. Ditambah lagi kejadian dimana Haifa menerima tamu tanpa seizinnya diperparah dengan tamu yang datang adalah sang mantan.


Pukul 23.30 Alvin baru masuk ke kamar. Ia berharap Haifa sudah tertidur. Emosinya belum cukup stabil jika harus kembali berhadapan dengan Haifa. Keinginan Alvin terwujud, saat dirinya masuk Haifa sudah tertidur menghadap ke arah Aidan yang berada di tengah secara otomatis menghadap ke posisi Alvin. Alvin membaringkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Haifa. Haifa belum sepenuhnya tidur karena beberapa menit lalu baru saja menyusui Aidan, ia tau ketika Alvin membuka pintu, masuk kamar dan berbaring membelakanginya juga Haifa tahu. Jika saja tidak ada Aidan di tengah tengah mereka. Sudah pastilah Haifa juga akan tidur membelakangi Alvin.


Pagi pagi seperti biasanya, Haifa pergi ke lantai bawah untuk menyicil pekerjaan rumah sekaligus menyiapkan sarapan. Sedangkan Alvin sedang bersiap untuk pergi ke masjid.


Pulang dari masjid tidak ada Alvin yang menghampiri Haifa di dapur. Alvin langsung menuju ke kamar dan mengganti pakaian. Sebelum membangunkan Aina.


"Sayang. Kakak Aina bangun yuk." kata Alvin sambil menepuk pelan pipi Aina. Bukannya bangun Aina malah berubah posisi menjadi tengkurap.


"Kakak Aina. Bangun yuk, kakak belum shalat kan." kata Alvin.


"Udah." jawab Aina asal tanpa membuka mata.


"Udah? Kapan?"


"Udah tadi sama Papa. Iyakan papa kan?" katanya lagi.


"Kapan? Perasaan papa baru pulang dari masjid?"


"Tadi kemalin." jawabnya semakin melantur.


"Jadi tadi atau kemarin?"


"Sayang. Ayo bangun dong shalat dulu. Aina harus rajin shalat biar nanti bisa ajari dedenya shalat."


"Aaa ngantuk papa."


"Kakak bangun. Shalat dulu terus bobo lagi deh. Kan libur sekolahnya."


"Libul?" katanya langsung membuka mata.


"Iya."


"Hali apa?"


"Sekarang hari sabtu."


"Yee libul. Kakak mau main sama dede."


"Iya. Tapi shalat dulu ya."


"Aina mau sama bunda."


"Sama papa aja yuk."


"Mau sama bunda papa. Please."


"Bunda masih masak sayang. Sama papa aja yuk. Nanti waktu shalatnya keburu habis."


"No. No. No.  Aina mau sama bundaaaaaa." katanya merengek.


"Sama papa ya." kata Alvin sambil hendak mengangkat tubuh Aina.


"AAaaaa Papa Kakak mau sama bunda huaaaa" katanya berteriak lalu menangis kencang.


Kebetulan Haifa sedang berada di depan kamar Aina, ia mendengar teriakan Aina. Sebetulnya Haifa tadi hendak membangunkan Aina. Tapi saat membuka pintu ia melihat sudah ada Alvin yang membangukan Aina. Jadi Haifa mengurungkan niatnya untuk membangunkan Aina.


"Kakak! Berisik nanti dede bangun repo!" tegur Alvin dengan suaranya yang tegas bahkan lebih terdengar membentak.


Mendengar itu Haifa merasa tak terima.


"Gak usah bentak bentak anak bisa kan? Anaknya dibentak orang gak terima. Tapi sendirinya bentak bentak anak." sinis Haifa sambil menenangkan Aina.


Alvin yang tidak mau berdebat di depan anak memilih keluar dari kamar Aina.


"Sayang. Udah ya nangisnya, nanti kalau nangis terus hidungnya mampet, kakak jadi susah nafas. Kan nanti kakak yang capek sendiri mau?"


Aina menggeleng.


"Yaudah kalau gitu udahan ya nangisnya."


"Papa nakal." adunya pada sang bunda.

__ADS_1


"Nanti bunda bilang papa biar gak nakal lagi. Sekarang kakak shalat dulu ya. Berdo'a sama Allah biar papa gak nakal."


"Sama bunda."


"Iya."


Hari sabtu, Aina libur sekolah begitu juga Alvin libur bekerja. Rutinitas saat libur, setiap pagi Alvin selalu berolahraga di mini gym yang di buat di satu ruangan dekat kolam renang.


"Sarapan dulu." kata Haifa lalu segera meninggalkan Alvin.


Alvin menghentikan aktivitasnya kemudian mengelap keringat lalu berjalan masuk ke arah ruang makan.


Di meja makan sudah disiapkan oleh Haifa sepiring nasi dengan lauk pauknya untuk Alvin. Hanya ada Aina yang sedang sarapan dengan dua telur mata sapi dan sayur wortel, brokoli kesukaannya.


"Bunda mana kak?" tanya Alvin pada Aina.


Aina hanya mengangkat bahunya.


"Papa tanya loh kak. Kok gak di jawab?"


"Atas." jawab Aina.


"Gak temani kakak Aina sarapan?" tanya Alvin lagi.


Author : Vin sebenernya kamu kan yang pengen sarapannya di temenin?


Alvin : Iya kenapa? Salah?


Author : Yaudah minta maaf biar beres.


Alvin : Nanti deh. Kalau sekarang gak asik hahaha.


"Gak." jawab Aina.


"Dedenya nangis?" tanya Alvin lagi.


"Nanya telus." jawab Aina.


"Kok kakak begitu sama papa?"


"Bialin papa juga nakal." jawabnya.


Alvin mengalah, ia tidak lagi mengajak Aina berbicara dan fokus menikmati sarapan yang sudah disiapkan oleh Haifa.


"Kakak udah selesai belum sarapannya?" tanya Haifa sambil menghampiri Aina.


"Udah bunda." jawabnya sambil meletakan gelas yang sudah kosong di samping piringnya.


"Pintarnya. Ke atas yuk, bunda mau unboxing kado kadonya dede." ajak Haifa pada Aina.


"Mau." katanya antusias sambil berusaha turun dari kursi.


"Bunda tolong." rengeknya meminta dipegangi oleh Haifa karena kursinya yang cukup tinggi. Setelah berhasil, Haifa dan Aina hendak ke atas.


"Bunda tunggu." cegah Alvin.


"Kakak ke atas duluan ya. Nanti papa sama bunda susul."


"Kakak mau sama bunda."


"Kakak nurut sama papa!" tegur Alvin.


Haifa berjongkok di depan Aina. "Kakak ke atas duluan ya. Jaga dedenya. Nanti bunda susul." kata Haifa dengan lembut.


"Bunda gak lama?"


"Enggak sayang."


Aina menurut ia berjalan meninggalkan kedua orangtuanya.


"Bisakan gak usah bicara pake nada tinggi terus sama anak?" kata Haifa.


"Kamu terlalu manjakan dia. Jadi dia merasa selalu dibela." ucap Alvin.


"Jangan mengada adakan masalah yang sebelumnya gak ada. Jelas jelas kita udah sepakat dengan pola asuh yang kita terapkan dan sebelumnya baik baik aja." jawab Haifa.


"Oke fine. Kita kembali ke masalah kita."


"Apa yang mau kamu tanya?" kata Haifa.


"Kamu bilang mau unboxing kado. Apa salah satunya ada dari mantan kamu itu?"


"Ya." jawab Haifa.


"Saya gak mau nerima kado dari dia. Lebih baik kamu kembalikan atau jual saja kado dari dia."


"Mas, dia cuma berniat baik kasih kado buat Aidan. Masa ia harus dikembalikan? Gak enaklah!"


"Gak ada salahnya kan. Siapa tahu yang dia kasih juga bermanfaat."


"Saya masih sanggup beli."


"Gak ada yang bilang mas gak mampu beli."


"Tapi ingat menghargai orang lain juga itu harus!" kata Haifa sambil pergi meninggalkan Alvin sendiri di meja makan.


***


***To be continued...


See next part***...

__ADS_1


__ADS_2