Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 26


__ADS_3

Jam dinding menunjukan pukul 20.00 WIB. Keluarga kecil mereka sedang berada di ruang keluarga. Menemani Aina yang sedang bermain juga Alvin yang sedang menonton suatu acara yang membahas tentang bisnis.


"Bunda." rengek Aina sambil menghampiri Haifa.


"Kenapa sayang? Ngantuk?" tanya Haifa.


Aina mengangguk.


"Yaudah kita rapihkan mainannya dulu yuk. Abis itu baru kita siap siap bobo." ajak Haifa.


Seperti biasa sebelum tidur Aina sudah dibiasakan oleh Alvin untuk kencing, gosok gigi, cuci tangan dan kaki. Barulah boleh naik ke tempat tidur.


Kebiasaan Aina juga setiap akan tidur selalu meminta dibacakan buku cerita. Biasanya peran itu dilakukan oleh Alvin tapi sekarang sudah diambil alih oleh Haifa.


Aina sudah tampak menguap.


"Baca do'a dulu sayang." ucap Haifa sambil mengelus rambut putrinya.


Aina menurut ia mengangkat tangan mungilnya untuk berdo'a kemudian mengusapkannya ke muka.


Haifa masih terus membacakan cerita sambil mengusap kepala Aina sampai Aina benar benar tertidur. Tidak butuh waktu lama Aina sudah benar benar tertidur.


Tugasnya menidurkan Aina sudah selesai. Haifa kembali ke bawah tepatnya ke ruang keluarga. Untuk melihat apakan Alvin masih disana. Ternyata benar Alvin masih disana dengan acara yang sama.


Haifa mendudukan dirinya disamping Alvin.


"Mas."


"Hm. Aina udah tidur?"


"Udah."


"Yaudah diem di sini temenin."


"Mau nanya boleh gak?"


"Minta izin segala, mau tanya apa?" ucap Alvin tapi pandangannya tetap ke acara tv.


"Waktu pertama ngajak Aina main ke taman itu. Haifa kenalan sama tetangga disini. Namanya mbak Fitri. Terus dia bilang mas baru tinggal di perumahan ini sekitar 1 tahunan beneran?"


"Iya." jawab Alvin sambil mengangguk.


"Kok bisa?"


"Kenapa enggak. Orang hidup wajarlah berpindah pindah."


"Bukan gitu maksudnya."


"Pasti kamu mikirnya. Rumah ini dulu ditempati sama mas dan mamanya Aina ya?"


"Enggak juga sih. Haifa memastikan aja daripada menduga duga. Berarti sebelumnya mas tinggal dimana? Sama ibu?"


"Enggak. Sebelumnya mas tinggal di apartemen daerah x. Itu permintaan mamanya Aina. Karena waktu itu dia pengen ngelanjutin kuliah magister di Universitas P. Jadi kalau disini kejauhan."


"Iya sih jauh. Pantesan pas pertama Haifa ke sini, Haifa gak nemu apapun tentang mamanya Aina."


"Jadi kamu diem diem cari tahu tentang mamanya Aina?" sekarang pandangan Alvin sudah benar benar terfokus pada Haifa.


"Ya abis mas gak ngenalin. Jadi Haifa cari tahu sendiri. Gimanapun juga Haifa kan harus tahu tentang mamanya Aina. Haifa gak mau kalau nanti dikiranya karena udah ada Haifa jadi menjauhkan Aina dari mamanya."


"Eh tunggu. Tapi mas udah kasih tahu mamanya Aina kalau mas udah menikah kan?"


"Iya mas udah kasih tahu. Selain itu mas juga udah jelasin lewat telepon yang lumayan panjang durasinya. Pas mas kasih tau sih dia bilang selamat, terus dia sempet nanya juga apa calonnya mas bisa nerima Aina. Ya mas jawab kalau mas yakin yang bakal jadi istri mas bisa nerima dan bisa jadi partner mas buat membesarkan Aina. Dia bilang  ya syukur kalau begitu terus dia juga titip pesen buat kamu katanya titip Aina."


"Kalau masalah ngenalin ke kamu atau bawa kamu buat ketemu sama dia. Mas bingung harus gimana, dia gak tinggal di indonesia. Terus juga kayaknya dia orang yang sibuk banget. Kadang tiap kali Aina nelepon aja jarang diangkat. Paling lewat chat dia bilang maaf lagi meeting atau apalah gitu. Nanti udah rencanain kalau misal ada kesempatan dia pulang ke sini..."


"Ke sini?" tanya Haifa memotong ucapan Alvin.


"Ke Indonesia maksudnya. Ke rumah orangtuanya. Bukan ke sini ke rumah ini. Haha cemburu ya?"


"Enggak. Lanjut gimana?"


"Bilang aja kalau cemburu."


"Enggak mas. Lanjut gimana?"


"Ah malu malu."


"Mas Alvin ih."


"Haha oke. Jadi iya mas udah bilang sama dia kalau ada kesempatan pulang ke Indonesia. Mas minta dikabari. Bukan buat apa apa tapi Aina tetep perlu berhubungan baik sama mamanya dan mas juga mau ngenalin kamu ke dia." ucap Alvin


"Tapi kayaknya dalam waktu dekat belum ada rencana pulang ke Indonesia."


"Kok mas tau?"


"Haha ya kan dia jawab langsung waktu itu."


"Oh gitu. Yaudah kalau gitu."

__ADS_1


"Jadi kalau kamu mau tau tentang mamanya Aina. Tanya langsung aja jangan cari tahu sendiri. Apalagi cari tahunya di rumah ini pasti gak akan dapet apa apa."


"Haifa takut kalau mas nantinya merasa masa lalu mas selalu diungkit. Padahal niat Haifa gak begitu Haifa cuma mau tahu dan Haifa rasa Haifa perlu tau tentang dia sebagai mamanya Aina ya. Bukan mau tau dia sebagai mantan istri mas."


"Yaudah ah. Haifa ke kamar ya." pamitnya pada Alvin.


"Enggak. Diem temenin disini satu jam lagi selesai nih acaranya."


"Mas besok jadi ke rumah ibu? Katanya kak Zia juga mau kesana. Kalau jadi biar enak aja gitu ngumpul semua. Gemes juga pengen ketemu Fiqri (bayinya Vina yang lahir sebulan sebelum nikahan Alvin)"


"Awas nanti Aina cemburu loh."


"Ya masa cemburu sama sepupunya sendiri."


"Eh jangan salah loh. Aina itu sekarang lagi dalam euforia bisa punya sosok ibu. Buktinya sekarang ngapain aja maunya sama kamu kan? Jadi gak menutup kemungkinan juga kalau nanti Aina bakal cemburu."


"Tinggal kasih penjelasan pelan pelan."


"Gak semudah itu sayang. Orang dewasa aja kalau lagi bahagia itu mendadak susah dibilangin. Apalagi anak kecil."


"Mas tadi minta ditemenin nonton acara kan. Tapi sekarang acaranya malah gak ditonton."


"Abisnya kamu sih mengalihkan duniaku." ucap Alvin.


"Euh mulai. Sebel kalau udah begini."


"Sebel sebel pipi merah." ucap Alvin.


"Enggak ya."


"Mau mas beliin kaca?"


Haifa tidak menanggapi lagi ia lebih memilih memainkan handphonenya sedangkan Alvin kembali fokus ke acara di televisi.


Satu jam berlalu, Alvin bahkan sudah mematikan televisi. Tapi Haifa nampaknya masih asik dengan handphonenya.


"Asik banget. Lagi ngapain sih?" tanya Alvin sambil melihat ke handphone Haifa.


"Kamu baca artikel artikel tentang parenting?" tanya Alvin saat mengetahui apa yang menjadi fokus Haifa.


"Hm. Haifa belum punya pengalaman tentang mengurus anak. Kalaupun belajar dari mama atau teteh pasti sekilas sekilas. Jadi Haifa rasa harus lebih banyak belajar."


"Masya Allah. Mas emang gak salah pilih bunda dan istri buat Aina dan mas."


"Lebay. Udah ah Haifa mau ke kamar. Minta tolong ya mas kunci pintu, jendela sama matiin lampu." ucap Haifa kemudian bergegas ke kamar. Tapi sebelumnya ia sempatkan dulu pergi ke dapur untuk mengambil air minum.


Alvin yang baru saja masuk ke kamar melihat Haifa baru keluar kamar mandi dan sudah berganti pakaian. Entah apa yang ada di kepala Alvin tapi membuat Alvin jadi mengingat sesuatu.


***


Pukul 00.23 mereka masih terjaga dengan posisi seperti biasanya.


"Jam berapa?" tanya Haifa sambil memejamkan mata.


"Jam setengah satu. Lumayan masih ada waktu tidur aja." ucap Alvin sambil memainkan rambit Haifa.


Alvin merasakan Haifa mengangguk di dadanya.


"Papa... Bunda..." panggil yang sudah sangat mereka hafal.


Alvin dan Haifa sama sama kaget. Haifa langsung mengambil pakaiannya kemudian bergegas ke kamar mandi.


"Mas cepet pake baju terus buka pintunya." teriak Haifa dari dalam kamar mandi.


Alvin hanya bisa tersenyum dalam hatinya sudah berkata 'Untung Aina datangnya baru sekarang.'


Sementara itu diluar Aina sedang mengetuk pintu sambil berjinjit untuk mencapai gagang pintu dengan tangan mungilnya. Tapi sayang tangannya masih belum sampai.


"Papa... Bunda..." panggilnya sekali lagi dengan suara yang lebih kencang.


"Iya sayang." ucap Alvin yang baru membuka pintu.


Aina yang dalam keadaan mengantuk langsung merentangkan tangannya.


"Kenapa kok tumben bangun jam segini?" tanya Alvin sambil menggendong Aina dan membawanya masuk ke dalam kamar.


"Aina mimpi." ucapnya sambil mengucek mata.


"Mimpi apa sayang?" tanya Alvin lalu menidurkan Aina ditempat tidur.


"Bunda mana?" tanya Aina saat menyadari tidak ada Haifa disana.


"Bunda di kamar mandi. Aina mimpi apa?"


"Aina mimpi dikejal kejal guguk. Aina panggil papa tama bunda tapi papa tama bundana gak ada."


"Haha. Cuma mimpi gak apa apa sayang. Sekarang kita ke kamar Aina papa temenin sampe Aina bobo lagi yuk." ajak Alvin.


Aina menggeleng.

__ADS_1


"Mau bobo tini." ucapnya.


"Hai sayang kok bangun?" tanya Haifa yang baru keluar dari kamar mandi.


"Aina mau bobo tini." ucapnya.


"Yaudah yuk bobo sama bunda." ucap Haifa lalu membaringkan tubuhnya di samping Aina.


"Peluk bunda." pinta Aina yang langsung dikabulkan oleh Haifa.


Tak butuh waktu lama. Aina sudah kembali tertidur.


"Ngapain malah ngeliatin?" tanya Haifa ketika sadar Alvin masih duduk sambil memandangi mereka.


"Cepet tidur mas. Nanti pagi susah bangun Haifa tinggal." ucap Haifa.


"Yaudah peluk." ucap Alvin sambil membaringkan tubuhnya.


"Mau Aina kegencet?"


"Heuh. Yaudah iya ngalah sama anak." ucap Alvin kemudian mencium kening Haifa dan Aina bergantian sebelum tertidur.


Setelah semalam pertama kalinya mereka tidur bertiga dan ada pertama kali yang lain bagi Alvin dan Haifa. Sekarang mereka sedang sarapan sebelum nantinya mereka akan pergi ke rumah ibu.


"Mas salah gak sih setelah menikah kita baru sekarang ke rumah ibu?" tanya Haifa.


"Insya Allah gak apa apa. Lagian kita baru nikah 10 hari awal awal repot sama pindahan dan tiga hari kebelakang juga mas udah mulai kerja." jawab Alvin.


Jujur pertama kali berkunjung dwngan status sebagai menantu dan mertua membuat Haifa merasa bingung. Haifa bingung bagaimana nanti ia harus bersikap takutnya yang Haifa lakukan tidak berkenan di mata ibu mertuanya.


Haifa menggeleng mencoba mengusir segala ketakutannya.


'Astagfirullah kok Haifa jadi suudzon sih. Padahal beberpa kali ketemu juga ibu orang baik.' ucap Haifa dalam hatinya.


Setengah jam perjalanan mereka sudah sampai di rumah orangtua Alvin. Tampak masih sepi, mungkin keluarga abangnya belum datang.


"Yuk turun." ajak Alvin.


Haifa menarik nafas terlebih dahulu.


"Tegang banget sih." ucap Alvin sambil mengusap pipi Haifa.


"Maaf." ucap Haifa karena takut Alvin tersinggung dengan sikapnya.


"Gak apa apa wajar kok."


Mereka berjalan beriringan.


"Assalamualaikum." ucap Alvin sambil mengetuk pintu.


"Wa'alaikumussalam. Eh Alvin, Haifa,  Wah cucu nenek udah datang. Yuk masuk." ajak ibu sambil menuntun Aina.


Mereka duduk di ruang keluarga. Disana juga kebetulan sudah ada ayah.


"Assalamualaikum yah." sapa Alvin lalu mencium tangan ayah kemudian diikuti oleh Haifa.


"Wa'alaikumussalam." jawab Ayah.


"Gimana Haifa, Alvin gak bandel kan?" tanya ayah.


"Eh. Hehe enggak kok yah." jawab Haifa.


"Enggak lah baik Alvin mah." ucap Alvin membela diri


"Baik sih baik. Tapi kalakuan sok aneh aneh maneh teh Vin."


"Atuh Yah."


"Aina sekarang jarang main ke rumah nenek ya." kata ibu pada Aina.


"Hehe Aina kan teneng main di lumah tama bunda. Kemalin Aina main di taman. Banak temen telu nenek." ucap Aina.


"Iya tapi jangan lupa sama nenek dong. Masa karena ada bunda jadi lupa sama nenek." kata ibu lagi.


Deg... Salahkan kalau Haifa merasa sedikit tidak enak dengan perkataan ibu barusan?


"Ibu ini. Baru juga 10 hari belum sebulan gak ketemu udah dibahas." jawab Alvin.


"Ya justru itu kalau baru beberapa hari udah jarang ke sini apalagi lama kelamaan kan."


"Bu, kan gak mesti mereka yang ke sini kalau mau ketemu mah bisa ibu yang kesana." ucap Ayah.


"Ya masa Orangtua yang nyamperin." ucap ibu.


Sementara Haifa hanya diam. Ia bingung, mau menjawab takutnya dikira membela diri, tidak menjawab takutnya dikira tidak mau menanggapi obrolan ibu.


***


**To be continued...

__ADS_1


See you next part**...


__ADS_2