
Happy Reading...
Sudah satu minggu Aina bersama Mamanya. Awalnya memang Aina hanya mau beberapa hari. Tapi dengan iming-iming yang Novia tawarkan, seperti beli mainan, jajan es krim, coklat, dan banyak lagi, akhirnya gadis kecil itu mau juga. Jangan marahi Aina ya, wajar anak kecil kena iming iming dikit langsung mau.
Walaupun Aina sedang bersama Mamanya, tapi jangan salah setiap malam Aina selalu video call dengan Alvin dan Haifa sampai tidur. Pernah sekali ketika Alvin dan Haifa tidak mengangkat panggilannya, Aina sampai menangis dan ingin pulang saat itu juga.
Hari minggu ini, Alvin dan Haifa berencana untuk berbelanja keperluan sehari-hari sekaligus belanja pakaian Aidan karena banyak yang sudah tidak sesuai dengan ukuran tubuh Aidan saat ini.
"Mas bawa Aidan nunggu di bawah ya," kata Alvin pada Haifa yang masih bersiap.
"Iya, ini sekalian tolong bawain tasnya Aidan juga," kata Haifa.
"Oke. Jangan lama Yang. Keburu siang nanti jadi gak santai waktunya." kata Alvin.
"Ini Haifa tinggal pake kerudung sama kaos kaki aja udah beres."
"Cepat ya."
"Iya Papa. Udah sana turun bawel."
Dua puluh lima menit kemudian Haifa baru turun menyusul Alvin.
"Yuk berangkat." kata Haifa.
"Sebentarnya wanita itu gak bisa kurang dari 10 menit ya?" tanya Alvin.
"Maaf sayang. Udah yuk, katanya gak mau keburu siang."
"Loh, Aidannya kok malah dibiarin ngeberantakin mainan." kata Haifa saat melihat Aidan yang sedang duduk dikelilingi oleh mainan.
"Kamu itu lama Yang. Aidan 5 menit digendong aja udah gak betah."
"Haifa kan tadi cuma 5 menit." elak Haifa.
"Lima menit bapakmu."
"Ya mertua kamu."
"Kok jadi bawa bawa papa?" tanya Alvin.
"Ya mas tadi."
"Udah ah ayo berangkat malah bahas yang gak jelas."
"Yang mulai siapa?"
"Iya mas yang mulai. Mas yang salah. Udah ayo, ambil Aidannya."
Satu jam perjalanan mereka sampai disalah satu pusat perbelanjaan.
"Sini Aidan sama Papa." kata Alvin mengambil Aidan dari Haifa. Karena Aidan ini sudah mulai berat jadi Alvin kasihan kalau harus melihat Haifa menggendong Aidan sambil keliling pusat perbelanjaan.
"Papaaa..." panggil seseorang sambil berlari ke arah Alvin.
"Loh kakak." kata Alvin dan Haifa bersamaan.
"Sama siapa?" tanya Alvin.
"Sama Mama sama daddy." jawab Aina.
"Kebetulan sekali keremu di sini." kata Brian ketika sudah berada di dekat Alvin dan Haifa.
"Papa jalan jalan gak ajak kakak." kata Aina sambil cemberut di depan Alvin.
"Kan kakak lagi sama Mama sama Daddy." kata Haifa membantu menjawab.
"Halusnya papa sama bunda telepon kakak. Nanti kakak pelginya sama papa aja." kata Aina dengan polosnya. Mendengar perkataan Aina, Haifa jadi tidak enak hati dengan Novia.
__ADS_1
"Kalau gitu kita pergi bareng-bareng aja." usul pak Brian.
"Eh, gak perlu makasih. Kami punya tujuan sendiri." kata Alvin. Ya walaupun demi Aina, tapi pasti akan jadi kurang nyaman pergi ramai-ramai dengan mantan.
"Yaudah ayo kakak sama Mama. Tadikan katanya mau beli mainan." kata Novia.
"Kakak mau sama papa." kata Aina sambil mendekat ke antara Alvin dan Haifa.
"Sayang kan lagi sama mama."
"Enggak. Kakak mau sama papa. Kemali, kemalin, telus kemalin lagi kan kakak udah sama mama." kata Aina.
"Aina, ayo sama mama." kata Novia.
"Sama papa." kata Aina ngotot.
"Kakak ayo sama mama. Nanti kakak boleh beli mainan apa aja sama mama." Aina menggeleng.
"AINA!" kaya Novia dengan suara yang meninggi. Aima yang kaget langsung memeluk kaki Haifa.
"Mom!" tegur Brian pada istrinya.
"Vin, kamu setiap hari sama Aina. Tolong Vin tinggal beberapa hari lagi aku di sini. Kamu sama Haifa tolong jangan mengganggu waktu kami dulu." kata Novia.
"Ganggu?" tanya Alvin.
"Iya." kata Novia.
"Sebelah mana saya ganggu waktu kamu sama Aina? Saya pergi ke sini, bukan untuk menemui kalian dan mengacau rencana kalian. Bukan. Saya kesini juga punya tujuan sendiri. Mana saya tahu kalau kalian juga pergi ke sini."
"Aina sendiri tadi yang manggil saya. Bahkan tanpa saya mengajak, Aina sendiri yang mau pergi dengan saya. Dimana letak kesalahan saya?"
"Mas," kata Haifa.
"Biar Yang. Kalau Aina gak mau sama kamu, harusnya itu kamu ya instrospeksi diri. Bukan nyalahin orang. Apalagi maksa dan ngebentak anak. Kalau begini saya juga jadi mikir dua kali buat kasih izin Aina lebih lama lagi." kata Alvin.
"iya betul. Tapi sekarang Aina gak mau kan?"
"Udah udah kalian kenapa malah diskusi di parkiran basement begini. Memding kita masuk, cari tempat yang enak buat ngobrol." kata pak Brian.
"Terimakasih atas tawarannya pak Brian. Tapi sepertinya tujuan kami hari ini cukup untuk menjemput Aina saja."
"Vin, Aina biar sama aku." kata Novia.
"Ayo Aina." kata Novia menarik tangan Aina. Tapi Aina malah semakin erat memeluk kaki Alvin bahkan sudah mau menangis.
"Mbak maaf. Tapi menurut Haifa biar Aina sama kami..."
"Saya Mamanya! Saya yang lebih tahu anak saya!" kata Novia.
"Maaf." kata Haifa.
"Kenapa kamu minta maaf? Kamu lebih ngerti Aina Haifa!" kata Alvin.
"Ayo pulang!" ajak Alvin sambil menuntun Aina dan membawanya masuk ke dalam mobil. Sedangkan Haifa masih berdiri di hadapan Novia.
"Haifa maaf." kata Novia. Haifa tersenyum.
"Mbak, biar Aina pulang sama kami dulu ya. Nanti Haifa coba bujuk Aina dan mas Alvin lagi ya." kata Haifa. Novia mengangguk.
"Haifa maaf saya gak bermaksud."
"Iya Haifa tahu."
"HAIFA!" panggil Alvin dari dalam mobil.
"Mbak, Pak. Haifa duluan yaa."
__ADS_1
"Maaf yaa sudah membuat tidak nyaman." kata pak Brian. Haifa mengangguk.
"Permisi. Assalamualaikum." kata Haifa.
"Kamu ngapain sih masih ngeladenin mereka?" tanya Alvin saat Haifa sudah dalam mobil.
"Sini dulu Aidannya, nanti papa susah nyetir sambil gendong Aidan." kata Haifa sambil mengambil Aidan beserta gendongannya dari Alvin. Alvin menghela napas dalam.
"Maaf ya. Jadi gak enak gini." kata Alvin.
"Gak apa apa." kata Haifa.
"Kakak mau minum?" tawar Haifa pada Aina yang sudah duduk rapi di kursi belakang. Aina hanya menggeleng.
"Kalau gitu nih papa aja yang minum. Biar adem." kata Haifa sambil membuka botol hausware dan menyerahkan pada Alvin.
"Jadi mau kemana?" tanya Alvin setelah minum.
"Diam aja dulu sampe gak ada rasa marah marah lagi. Bahaya kalau nyetir dalam keadaan emosi." kata Haifa.
"Yang..." panggil Alvin.
"Udah gausah bahas di depan anak-anak. Ini juga bukan pertama kalinya Haifa lihat Mas emosi adu argumen sama mbak Novia."
Alvin mengusap kasar wajahnya. Ya begitulah Alvin ketika bersama Novia. Sejak masih berumahtangga pun mereka itu sama sama keras. Dan barangkali itu juga yang membuat pernikahan mereka tidak sampai menginjak usia 2 tahun.
"Bundaaa." panggil Aina dari arah belakang.
"Iya sayang."
"Kakak nakal ya?"
"Hem? Kata siapa?" tanya Haifa.
"Tadi mama malah malah telus talik talik tangan kakak." kata Aina.
"Tangan kakak sakit?" tanya Alvin. Aina menggeleng.
"Kakak mau jalan-jalan gak?" tanya Haifa mengalihkan pembicaraan. Alvin menatap Haifa.
"Sama papa sama bunda sama adek?" tanyanya.
"Iya dong."
"Mau kakak mau."
"Kakak mau jalan-jalan kemana?" tanya Alvin.
"Kakak mau petik stlawbeli boleh?" tanya Aina.
"Boleh dong."
"Ayo papa belangkat ke kebun stlawbeli." kata Aina dengan antusias. Alvin tersenyum.
"Makasih yaa." kata Alvin sambil mengusap kepala Haifa.
"Iya sayang. Udah gak marah kan? Yuk jalan." kata Haifa.
"Capek Yang kalau jalan. Naik mobil aja."
"Bodo Ah."
...****************...
To be continued...
See you next part...
__ADS_1