
Happy Reading...
Sudah lebih dari tiga hari Alvin dan Haifa saling mendiamkan. Bahkan setelah mendapat penjelasan dari Ainapun rasanya belum cukup meyakinkan Alvin. Marahnya kali ini murni karena faktor cemburu tapi ada dua kecemburuan yang berbeda. Pertama mungkin karena kunjungan Rayhan dan yang kedua mungkin karena Haifa yang lebih fokus dan memprioritaskan kedua anaknya belakangan ini.
Aktivitas hari kerja seperti biasa, mereka sedang sarapan di satu meja. Dingin, tidak ada obrolan seperti sebelum sebelumnya.
"Papa sama bunda tumben gak ngoblol?" tanya Aina sambil memandangi kedua orang tuanya bergantian.
"Lagi makankan gak boleh banyak bicara." kata Haifa.
"Tapi biasanya suka ngoblol. Papa juga sekalang gak suka jail sama bunda." kata Aina. Putri mereka ini ternyata cukup peka dengan kondisi sekitar yang bisa dibilang sedang tidak normal.
"Udah. Kakak makan aja, biar cepat nanti kesiangan. Habiskan ya kak." kata Haifa.
Alvin daritadi sebetulnya sudah mencuri curi pandang pada Haifa. Tapi sayangnya tidak pernah di respon oleh Haifa. Bahkan Haifa tidak pernah mau melihat dan terkesan menghindari untuk melihat wajah dan bertatapan dengan Alvin.
***
Setelah mengantar Aina ke sekolah. Alvin tidak langsung pergi ke kantor. Sebelumnya Alvin sudah bicara dengan abang iparnya jika Hari ini Alvin akan menemuinya di kantor. Iya, Alvin ingin bertanya pada Keanu mengenai kejadian waktu itu.
Sudah puas dengan penjelasan dari Keanu, Alvin semakin yakin untuk segera menyudahi perang dinginnya dengan Haifa. Tapi tidak sekarang juga, saat ini Alvin masih punya tanggung jawab untuk pergi ke kantor dan menyelesaikan pekerjaannya hari ini.
Niatnya Alvin ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan segera pulang. Tapi sayangnya jadwalnya hari ini sangat padat hingga tepat pukul 21.30 ia baru sampai di rumah.
Sampai di rumah kondisi rumah sudah sepi. Haifa dan kedua anaknya sudah tidur dalam satu ranjang. Memang beberapa hari ini untuk menghindari interaksi dengan Alvin, Haifa sering tidur lebih cepat.
Rencana Alvin untuk mengakhiri perang dinginnya hari ini sepertinya harus tertunda.
***
Kembali lagi ketempat ini, tempat yang paling ingin Alvin hindari. Gedung bertuliskan pengadilan agama kota Bandung ini manjadi tempat yang harus Alvin datangi untuk mengurus urusan yang sama seperti beberapa tahun yang lalu. Sekuat apapun Alvin menghindari tapi tetap saja kenyataan menggiringnya untuk kembali berurusan di kantor ini.
Apakah Alvin harus kembali berusaha mendapatkan hak asuk anak ataukah membiarkan putranya bersama Haifa dengan catatan tidak menyulitkan Alvin untuk menemui putranya. Entahlah belum terpikir sampai kesana. Pasalnya perpisahan dengan Haifa pun tidak pernah Alvin bayangkan sebelumnya. Bisa dibilang saat ini rumah tangganya sedang berada diambang kehancuran. Untuk kedua kalinya dengan masalah yang berbeda. Kembali Alvin harus gagal. Entah apa kesalahan Alvin hingga harus mengalami kegagalan hingga dua kali.
Dengan berat hati Alvin melangkahkan kakinya menuju ke gedung tersebut untuk menghadiri agenda hari ini yang direncanakan akan diadakan proses mediasi. Alvin sangat berharap besar jika dalam proses mediasi ini Alvin berhasil membawa kembali Haifa pulang. Hampir satu jam proses mediasi belangsung.
Satu tamparan mendarat sempurna di pipi Alvin. Membuat Alvin membuka matanya dengan sempurna, nafasnya terengah engah saking terbawa emosi. Alvin melihat kesamping dan sangat bersyukur ketika Haifa masih tertidur pulas. Rupanya tamparan dari Haifa di ruang mediasi hanyalah mimpi. Karena pada kenyataannya yang menampar pipinya bukanlah Haifa melainkan kaki Aina yang sekarang posisinya sudah berada diatas tubuh Alvin.
Alvin segera bangun dari tidurnya. Mengusap wajah sekaligus membaca do'a ketika mimpi buruk. Matanya melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 01.45.Alvin tidak berniat untuk tidur lagi karena ia takut kejadian dalam mimpinya akan terulang. Ia beranjak untuk mengambil wudhu. Tapi sebelumnya ia sempatkan untuk mencium satu persatu orang orang tersayangnya.
"I love you." bisiknya ditelinga Haifa.
***
Pukul 05.00 Alvin baru pulang dari masjid setelah memunaikan shalat subuh. Tekadnya semakin bulat untuk mengakhiri perang dinginnya dengan Haifa. Entah siapa yang salah. Tapi Alvin rasa untuk memperbaikinya harus ada satu ego yang diturunkan, harus ada salah satu yang mau mengalah tanpa terus membahas siapa yang salah.
Alvin memulai kembali rutininitas yang beberapa hari ini ia tinggalkan, yaitu menghampiri Haifa di dapur ketika pulang dari masjid.
"Assalamualaikum." sapa Alvin sambil memeluk Haifa dari belakang.
Cukup mengejutkan bagi Haifa. Karena sebelumnya mereka masih sama sama saling mendiamkan.
__ADS_1
"Kalau ada orang yang ucap salam itu dijawab sayang." kata Alvin ditelinga Haifa ketika salamnya tidak dijawab oleh Haifa.
"Wa'alaikumussalam." jawab Haifa sambil mencoba melepaskan lilitan tangan Alvin di pinggangnya.
"Masak apa?" tanya Alvin sambil terus mendusel di leher Haifa.
"Martabak." jawab Haifa asal.
"Sejak kapan martabak berair?" tanya Alvin.
Pertanyaan Alvin tidak digubris oleh Haifa.
"Lepas." kata Haifa.
Kali ini perintah Haifa yang tidak diabaikan oleh Alvin. Alvin malah semakin mendusel dileher Haifa.
"Sayang masih lama masaknya?" tanya Alvin.
Lagi lagi Haifa tidak menjawab.
"Mas mau ngobrol dulu berdua, sebelum anak anak bangun." kata Alvin.
Kembali Haifa hanya diam saja.
"Duduk dulu yuk nanti lagi masaknya. Mas gak ke kantor kok hari ini buat sarapan Aina bisa buat sereal aja dulu." kata Alvin sambil mematikan kompor dan menarik Haifa.
Alvin menarik Haifa duduk di meja makan.
Haifa tidak menjawab.
"Kemarin mas ketemu bang Ken. Bang Ken udah jelaskan kejadian waktu itu."
"Maaf kalau tindakan mas berlebihan. Tapi jujur aja mas cemburu ketika pulang kerja melihat istrinya sedang bercengkerama dengan lelaki lain. Lain halnya kalau sebelumnya kamu cerita sama mas kalau dia bertamu. Mungkin kalau kamu minta izin sama mas setidaknya mas tidak akan berpikir yang negatif. Waktu itu juga mas merasa terabaikan karena kamu terlalu fokus sama anak anak. Mas itu ngerasa terabaikan sama kamu."
Haifa melirik ke arah Alvin. Dalam pikiran Haifa okelah jika Alvin cemburu dengan Rayhan. Tapi jika cemburu dengan anak anak itu sangat sangat aneh bagi Haifa.
"Tapi yaudah mas gak mau mencari cari siapa yang salah dan siapa yang harus minta maaf."
"Mas minta maaf ya. Udah cukup ya kita perang dinginnya." kata Alvin sambil menatap Haifa dengan tatapan yang penuh harap. Bayang bayang mimpinya semalam semakin menguatkan Alvin untuk sesegera mungkin menyudahi perang dinginnya bersama Haifa.
Haifa diam saja.
"Sayang." panggil Alvin.
Haifa balas menatap Alvin.
"Udahan ya diem diemannya. Iya mas kalah. Mas minta maaf." kata Alvin.
Haifa masih diam.
"Sayang."
__ADS_1
"Aneh ya mas tuh. Sama abang percaya. Tapi sama istri sendiri gak percaya. Penjelasan abang didengar tapi penjelasan istri gak mau didengar."
Sekarang Alvin yang bungkam.
"Coba kalau dari kemarin kemarin mas mau dengar penjelasan Haifa dan gak ambil kesimpulan sendiri pasti gak akan berlarut larut beginikan? Kalau kemarin mas mau dengar penjelasan Haifa. Pasti Haifa juga gak akan balik kecewa sama mas karena mas gak percaya sama Haifa."
"Terus apa tadi? Mas merasa terabaikan karena Haifa fokus sama anak anak? Terus Haifa harus gimana? Badan Haifa cuma segini kemampuan Haifa juga terbatas. Aina harus diperhatikan ditambah sekarang ada Aidan. Gak mungkinkan Aina atau Aidan yang harus mengerti situasi?"
Alvin diam. Haifa juga melihat Alvin benar benar menyesal. Entah apa yang sudah terjadi pada Alvin tapu Haifa jelas melihat ada rasa ketakutan juga terlihat diwajah Alvin.
Suara tangisan Aidan cukup mengejutkan bagi kedua orang dewasa yang bisa dibilang sedang berbicara serius itu.
"Haifa ke atas dulu." pamit Haifa.
Alvin mengekori Haifa.
"Bunda dedenya nangis." kata Aina sambil mengusap usap kepala Aidan.
"Iya dedenya haus kayaknya." kata Haifa sambil mengangkat Aidan.
"Bunda kasih ***** dede. Kakak Aina sekarang siap siap sekolah yuk sama papa." kata Alvin.
Aina menurut ia merentangkan tangannya untuk digendong oleh Alvin.
Alvin sudah berada dikamar Aina.
"Kakak papa mau cerita boleh?" tanya Alvin pada sang putri.
"Celita apa?"
"Kakak mau enggak bantu papa biar dimaafkan sama bunda?"
"Kok minta maaf? Papa nakal ya? Papa nakal sama bunda?"
"Iya kemarin papa gak sengaja nakal sama bunda. Kakak bantu papa minta maaf sama bunda ya. Mau kan?"
Aina mengetuk keningnya seperti sedang berpikir.
"Gimana kakak mau kan bantu papa?"
"Enggak ah. Papa nakal sih. Aina mau sama bunda aja." kata Aina sambil berlari kembali ke kamar orangtuanya.
Huh usaha Alvin tidak berhasil. Alvin benar benar harus berusaha sendiri sekarang.
###
Bagaimana part ini?
Ada kritik dan saran?
Terimakasih ♥
__ADS_1