
...Happy Reading......
Sudah pukul 01.00 dini hari. Tapi kedua manusia ini belum juga mengistirahatkan tubuhnya. Mereka masih nyaman terjaga dalam satu selimut.
"Mas..." panggil Haifa.
"Hm."
"Ih buka matanya dulu, Haifa beneran mau bicara."
"Apa sayang ku." kata Alvin sambil menatap Haifa.
"Haifa mau bicara."
"Apa? Ngenakin enggak?"
"Jangan gitu, ngenakin gak ngenakin dengerin pokonya."
"Iya apa sayang?" kata Alvin sambil semakin merapatkan tubuhnya ke arah Haifa dan mencium sekilas pipi Haifa.
"Jauhan jangan dempet banget."
"Enak gini anget." kata Alvin.
"Mas..."
"Iya apa katanya mau bicara."
"Moodnya udah baik kan?" tanya Haifa.
"Better setelah dapat obatnya dari kamu." kata Alvin.
"Dengerin ya baik baik jangan dipotong."
"Iya sayang."
"Semalam Haifa ngobrol sama Aina. Terus Aina cerita kalau dia kemarin dijemput sama mbak Novia, Aina juga dibawa ke rumahnya main sama adeknya. Haifa tanya apa Aina seneng? Dia jawab seneng, tapi waktu ingat belum izin papanya dia langsung nangis dan mau pulang."
"Kamu mau bujuk mas buat izinkan Aina sama mamanya ya?" tanya Alvin sambil menatap Haifa.
"Mas mungkin Aina juga kangen sama Mamanya."
"Yang, aku gak akan mempersulit kalau dia juga bisa menghargai aku. Tapi kemarin itu apa? Aku berasa gak ada harganya, dia main ambil anak aku begitu aja." kata Alvin.
"Tapi mbak Novia juga udah minta maaf."
"Kalau seandainya, Aina gak nangis nangis minta pulang, apa mau dia sukarela nganterin Aina? Aku gak yakin, kalau Aina gak nangis minta pulang mungkin sampe sekarang kita belum ketemu Aina." kata Alvin.
"Iya tapi mbak Novia juga mungkin ada alasan lain."
"Alasan dia cuma satu karena dia mamanya jadi merasa berhak sama Aina kapan aja. Bicara hak, aku juga papanya, berhak tahu anaknya pergi kemana, sama siapa." kata Alvin.
"Gimana kalau pagi nanti kita obrolin dulu sama Aina. Kalau misalkan Aina mau, mas harus kasih izin."
"Kamu kenapa sih ngotot banget biar mas kasih izin Aina sama Novia. Kamu capek ngurusin Aina iya? Kamu mau Aina kesana biar..."
"Jangan suudzon sayang." kata Haifa sambil mengaitkan tangannya di leher Alvin lalu mencium Alvin sekali lagi.
__ADS_1
"Haifa gak capek ngurusin Aina. Haifa malah senang. Aina anak yang baik, menyenangkan, penurut. Kamu papa yang hebat." kata Haifa kembali mencium Alvin.
"Aina itu anak kecil mas. Jangan paksa dia buat mengerti orang dewasa, sebelum waktunya. Seorang anak rindu sama ibunya wajarkan? Jangankan Aina yang masih kecil. Haifa aja yang udah jadi istri, udah jadi ibu. Tetep aja suka kangen sama mama, apalagi Anak sekecil Aina."
"Udah ada kamu Yang." kata Alvin.
"Meskipun udah ada Haifa, status Aina dan mbak Novia gak akan berubah. Aina pernah ada di dalam rahimnya mbak Novia, gak sebentar mas 9 bulan. Sejauh apapun jaraknya pasti rasa saling menyayangi diantara mereka itu akan selalu ada."
"Mas tahu, sebelum menikah sama mas. Haifa banyak dapat nasihat tentang anak. Salah satu nasihat nya, adanya Haifa itu harus bisa menjadi penghubung antara Aina dan mamanya. Bukan malah memutus hubungan Aina dan mamanya."
"Aina itu udah luar biasa loh mas. Masih kecil, tapi dia sudah bisa berhati besar menerima kalau dia punya dua ibu dan dua ayah. Gak semua anak bisa loh mas."
"Jadi sekarang kamu maunya gimana?" tanya Alvin.
"Kita libatkan Aina ya. Kita ajak dia ngobrol. Kalau Aina bilang dia mau sama mbak Novia, mas kasih izin aja. Mas gak usah takut Aina pasti balik lagi ke mas. Mas itu udah punya tempat spesial di hati Aina. Buktinya, waktu dia sadar pergi tanpa seizin mas aja dia langsung nangis mau pulang. Takut papanya cariin dia. Tadi waktu dia pulang, dia juga langsung cari mas kan. Dia langsung peluk mas dan minta maaf sama mas. Sebegitu sayangnya Aina sama mas. Ikatan kalian itu begitu kuat."
"Percaya sama Haifa kalau papanya ini segalanya buat Aina." kata Haifa sambil mengusap pipi Alvin. Alvin balas menatap Haifa.
"Aku beruntung banget ya, dapat istri kamu."
"Oh iya jelas." kata Haifa.
"Makasih ya sayang." Haifa mengangguk.
"Yaudah tidur yuk. Haifa ngantuk."
"No no no."
"Mas ngantuk, mau apa lagi sih?" tanya Haifa. Alvin menjawab dengan isyarat yang hanya diketahui mereka berdua artinya.
*
Ba'da subuh seperti biasanya Haifa sudah berkawan dengan segala jenis alat masak.
"Assalamualaikum..." sapa Alvin yang baru pulang dari masjid dan langsung menghampiri Haifa di dapur.
"Waalaikumsalam." jawab Haifa lalu mencium tangan Alvin.
"Mas kira, kamu bakal tidur lagi."
"Pengennya sih gitu. Punya suami gak punya belas kasihan sih. Masa istrinya gak boleh tidur." omel Haifa sambil terus memasak.
"Ya mas kan cuma nepati janji."
"Ya tapi gak sampe gitu juga. Kan ngantuk mau tidur." omel Haifa.
"Udah jangan ngomel. Semalam aja gak ngomel. Masa baru sekarang ngomelnya."
"Sebel."
"Jangan ngomel sayang. Nanti kegiatan yang harusnya berpahala malah jadi gak berkah kalau kamunya ngomel terus." bisik Alvin.
"Mas sana ganti baju. Terus cek anak anak."
"Siap nyonya." kata Alvin.
*
__ADS_1
Saat ini mereka sudah selesai sarapan.
"Kakak ingat ya. Nanti kalau papa atau bunda belum jemput, jangan pulang dulu. oke." kata Alvin.
"Iya papa. Plomise." katanya.
"Kakak masih mau main sama mama sama daddy gak?" tanya Haifa. Aina melihat ke arah Alvin. Alvin hanya tersenyum lalu mengusap kepala Aina.
"Kalau kakak mau, papa kasih izin. Tapi jangan terlalu lama ya. Nanti papa nya kangen sama kakak." kata Alvin. Aina mengangguk.
"Satu minggu ya." tawar Alvin pada Aina.
"Dua." jawab Aina.
"Dua apa?" tanya Alvin tidak terima.
"Papa." tegur Haifa.
"Dua hali papa. Kayak kakak kalau nginep di lumah nenek. Hali sabtu sama hali minggu." kata Aina.
"Tapi mana mau mama kamu cuma dua hari nak." kata Alvin pelan.
"Apa papa?" kata Aina.
"Enggak. Yaudah, semaunya kakak aja ya. Nanti kalau udah mau pulang minta sama mama sama daddy telepon papa atau bunda ya. Nanti dijemput." kata Alvin.
"Oke papa."
"Udah bereskan makannya? Ayo kita berangkat." Aina mengangguk.
Haifa mengantar Alvin dan Aina hingga ke teras.
"Baik baik di sekolah ya sayang."
"Iya bunda. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Papa berangkat ya." kata Alvin sambil mencium Haifa dan Aidan bergantian.
"Hati-hati. Kalau gak bisa jemput kabari cepat ya. Biar kakak gak nunggu lama."
"Iya bun. Oh iya, kamu jangan kasih tahu mereka duluan kalau mereka gak nanya ya. Syukur kalau mereka lupa."
"Pa..."
"Gak usah protes. Papa juga punya satu hal lagi yang mau dibahas sama bunda."
"Apa?"
"Ya nantilah rahasia."
......................
To be continued...
See you next part...
__ADS_1