
Happy Reading...
Pagi ini seperti biasa, Haifa tinggal berdua bersama Aidan. Tapi bedanya, mulai dari 3 hari yang lalu bude selalu datang ke rumah untuk membantu Haifa menyelesaikan pekerjaannya rumah dan pulang pada sore harinya. Ini semuanya kehendak Alvin, Haifa bahkan tidak tahu apa-apa. Tiba-tiba aja senin pagi bude datang dan mengambil alih semua pekerjaan rumah kecuali memasak. Ternyata ini semua kehendak si kepala rumah tangga, yang katanya kali ini Alvin tidak mau dibantah dan menggunakan kekuasaannya sebagai suami untuk ambil keputusan.
Bahkan sampai sekarang, Haifa masih malas malasan untuk berbicara dengan Alvin. Ya, sebab Haifa merasa sebal aja Alvin ambil keputusan tanpa sepengetahuannya.
Seperti biasanya ketika dzuhur Alvin pasti akan pulang ke rumah bersama Aina yang selesai sekolah.
"Assalamu'alaikum bundaaa." teriaknya dari arah pintu depan dan langsung berlari mencari bundanya.
"Wa'alaikumsalam neng cantik."
"Budee, bunda mana?" tanya Aina ketika tidak menemukan Haifa di lantai bawah.
"Itu neng cantik bundanya di kamar boboin adek." jawab Bude.
"Oke deh. Kakak ke kamal dulu ya. Dadah bude." katanya kemudian mencium tangan Bude dan segera berlari ke arah tangga. Bude hanya mengangguk dan tersenyum, senang rasanya melihat Aina seceria sekarang ini. Bagaimana juga bude tahu ceritanya ketika Aina harus jauh dari Mamanya ketika ia masih sangat butuh kasih sayang Mamanya. Karena bude ini sudah bekerja bersama Alvin sejak Alvin menikah dengan Novia. Dan ketika Alvin sudah duda, bude hanya seminggu dua kali ke rumah Alvin untuk membereskan rumah.
"Assalamu'alaikum..." sapa Alvin yang baru masuk. Aina tadi memang buru buru masuk rumah dan meninggalkan papanya karena ini menunjukan hasil menggambarnya pada bundanua yang mendapatkan nilai yang bagus dari gurunya.
"Wa'alaikumsalam." jawab Bude.
"Aina kemana Bude?"
"Itu tadi langsung ke kamar nyari bunda katanya pak." jawab Bude.
"Yaudah saya permisi ke atas ya Bude."
"Iya pak."
"Bunda, nih gambal kakak kata ibu gulu bagus. Nilainya A kata papa kalau nilai A itu bagus." kata Aina yang Alvin dengar sebelum ia mengahampiri mereka.
"Assalamu'alaikum..." sapa Alvin saat memasuki kamar. Dilihatnya Haifa yang masih memakai mukena ya pasti saja Haifa baru selesai shalat dzuhur dan juga ada Aina yang duduk di depan Haifa sambil menunjukan kertas gambarnya.
"Papa sini, gambal kakak bagus kan pa?" tanya Aina.
"Iya bagus dong, anak papa kan pintar." puji Alvin sambil mengusap kepala Aina. Haifa mengambil tangan Alvin kemudian menciumnya.
"Iya gambar kakak bagus, nanti kita bingkai ya gambar kakak. Terus kita pajang di kamar kakak. Tapi sekarang kakak ganti baju dulu, terus shalat dan makan oke."
"Holee kakak mau gambalnya nanti disimpan di meja belajal kakak."
"Iya boleh. Yuk, ke kamar kakak." ajak Haifa sambil melepaskan dan membereskan alat shalatnya.
Alvin yang memang sudah tahu akan diabaikan memilih tidak banyak komentar dan segera ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan segera menunaikan shalat dzuhur sebelum makan siang lalu kembali ke kantor.
"Bunda, kakak mau makan sambil liat ikan di belakang." kata Aina setelah Haifa menyiapkan sepiring makanan untuknya.
__ADS_1
"Iya boleh nanti bun...."
"Kakak kalau makan di belakang ditemani sama Bude ya. Bunda biar di sini sama papa." kata Alvin.
"Aaaaa mau sama Bundaaa." rengek Aina.
"Enggak. Kalau mau sama Bunda berarti makannya di sini aja." tegas Alvin. Aina sudah cemberut bibir bawahnya sudah lebih maju dari pada bibir atasnya.
"Kakak makan di sini aja. Bunda suapin ya. Nanti udah makan baru main di belakang ya." tawar Haifa yang diangguki Aina. Haifa menyodorkan sepiring nasi dengan lauk pauknya ke hadapan Alvin, kemudian menyuapi Aina, "Baca do'a dulu kak."
Mereka menikmati makanan dalam diam kecuali Aina yang sesekali bercerita.
"Udah bunda." katanya.
"Ini tinggal satu lagi ayo aaa." kata Haifa.
"Enggak mau."
"Sayang makanan itu harus dihabiskan. Kalau sekarang kakak buang-buang makanan terus nanti Allah marah dan kakak gak dikasih makanan lagi sama Allah mau?" kata Haifa. Aina menggeleng. "Mangkanya, nih habiskan dulu, gak banyak kok tinggal sesuap lagi." kata Haifa. Aina mengangguk dan menerima satu suapan lagi dari Haifa, "Udah." katanya sambil menatap Haifa.
"Iya udah abis kok. Nih minum dulu terus baca do'a."
Padahal di ruang makan ini bukan cuma ada Haifa dan Aina, ada Alvin juga. Tapi ya begitu kalau lagi didiamkan tuh walaupun wujudnya ada juga ya dianggapnya gak kelihatan aja gitu, transparan.
"Kakak, tadi katanya mau main di belakang lihat ikan." kata Alvin.
"Sama Bude dulu. Papa mau ngobrol dulu sama Bunda." kata Alvin.
"Aaaa gak mau." rengek Aina.
"Kak." kata Alvin dengan nada yang tegas. Aina langsung cemberut.
"Kakak lihatin adek dulu gih di kamar udah bangun belum. Kalau udah bangun nanti kasih tahu bunda. Biar kita main sama sama." kata Haifa.
"Udah cukup belum diamkan suaminya?" tanya Alvin saat sudah tidak ada Aina diantara mereka. Haifa hanya menatap Alvin sekilas.
"Kamu udah tiga hari loh Yang diam begini sama Mas." kata Alvin.
"Gak kangen?"
"Katanya pengen liburan. Ayo dong ngobrol pengen pergi kemana?" pancing Alvin.
"Apaan sih." jawab Haifa.
"Yang udahan dong. Mau sampe berapa hari? Seminggu? Dua minggu? Sebulan? Dosa loh Yang." kata Alvin.
"Yang, kamu tahukan suami istri itu gak boleh gak saling bicara lebih dari tiga hari. Malah sebaiknya segala permasalahan itu bisa selesai saat itu juga, sebelum kita tidur. Karena gak ada yang tahu kalau kita bisa bangun lagi atau enggak besoknya."
__ADS_1
"Bisa enggak gak bahas sekarang. Aku lagi gak mood bahas ini. Ada anak-anak, ada Bude. Kamu juga mesti ke kantor lagi kan?"
"Selesaikan aja dulu urusan kamu hari ini. Baru setelahnya selesaikan masalah sama Aku. Biar fokus kerja." kata Haifa.
"Yaudahlah terserah kalau kamu maunya kayak begitu. Aku maksudnya cuma mau meluruskan, cuma pengen mencairkam suasana, cuma pengen ngajak ngobrol baik baik. Emang susah ngomong sama kamu kalau lagi keras kepala dan ngerasa bener sendiri. Terserahlah! Kalau emang kamu nyamannya begini yaudah aku ikuti. Aku berangkat. Assalamualaikum." pamit Alvin sambil berjalan.
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati." jawab Haifa tanpa mencium tangan Alvin. Karena Alvin sudah lebih dulu meninggalkannya. Haifa berjalan di belakang Alvin dan menunggu Alvin pergi sampai tidak terlihat lagi dari pintu rumahnya.
Setelah pamitnya Alvin untuk kembali ke kantor, membuat Haifa meraskan kekhawatiran pada Alvin. Sementara itu Alvin yang ikut tersulut menjadi semakin ingin meladeni apapun yang diinginkan Haifa. Termasuk acara diam mendiamkannya kali ini.
Tidak seperti biasanya, biasanya pukul 16.00 atau pukul 17.00 Alvin sudah sampai di rumah. Tapi kali ini bahkan sampai adzan maghrib berkumandang, Alvin belum juga sampai di rumah.
Haifa selesai shalat maghrib juga, Alvin belum sampai di rumah. Sekarang Haifa jadi panik sendiri, mau menghubungi duluan gengsi.
"Kakak jaga adek ya. Bunda mau ke bawah dulu." kata Haifa. Tenang walaupun meninggalkan Aidan berdua dengan Aina tapi aman kok karena di tempat tidur sudah dipasang bedtrail.
"Bunda mau kemana?" tanya Aina.
"Bunda ke bawah dulu ya, lihat papa udah pulang belum." kata Haifa.
"Lindu papa ya? hehe." kata Aina.
"Emang kakak enggak?"
"Lindu hehe."
"Yaudah bunda ke bawah dulu ya. Jaga adeknya ya." Aina mengangguk.
Haifa bergegas pergi ke arah pintu utama, untuk mengecek apakah Alvin sudah sampai di rumah atau belum. Tapi belum sampai membuka pintu, seseorang dari luar sudah membuka pintu lebih dulu.
Melihat Haifa yang masih mengenakan mukena, Alvin yakin kalau sejak tadi Haifa sudah khawatir menunggu Alvin pulang. Apalagi Alvin sama sekali tidak mengabari kalau akan pulang telat.
"Mencari saya?" tanya Alvin ketika sudah berada di depan Haifa. Lalu berjalan meninggalkan Haifa.
"Bisakan kalau mau pulang telat itu kasih kabar?" tanya Haifa.
"Bisa enggak gak bahas sekarang. Aku lagi gak mood bahas ini. Masih ada anak-anak juga belum tidur." jawab Alvin.
"Dan aku juga masih punya pekerjaan hari ini. Jadi biar aku fokus sama pekerjaan aku dulu. Setelah itu baru selesaikan masalah kamu." tambah Alvin lagi.
"Deal kan? Sesuai sama mau kamu kan?" tanya Alvin.
Haifa kehilangan kata-kata. Ucapannya kepada Alvin siang tadi saat ini diputar balikan oleh Alvin kepada dirinya.
...****************...
To be continued...
__ADS_1
See you next part...