Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 89


__ADS_3

Happy Reading...


"Oh iya Abang gak kerja?" tanya Haifa setelah sekian lama mengobrol dengan Abangnya.


"Baru sadar?"


"Ya Abang ngajak ngobrol terus, Haifa jadi gak kepikiran."


"Abang abis tugas ke luar kota. Jadi Papa kasih libur."


"Kota mana?"


"Bali."


"Wah, mana oleh olehnya?"


"Ada di mobil."


"Kok gak sekalian dibawa masuk?"


"Tadinya kalau Adek gak minta gak akan Abang kasih."


"Dih pelit. Mana sana ambil," pinta Haifa.


*


"Wah makasih Abang," ucap Haifa setelah menerima dua kantong oleh-oleh dari Keanu.


"Abang, Haifa nitip jagain Aidan dulu ya. Haifa mau beberes terus terus masak buat makan siang. Abang juga nanti makan disini aja ya."


"Aidan sekarang udah gak bisa di dudukin di kursi bayi terus dikasih mainan. Pengennya keliling terus," kata Haifa.


"Adek, marahan sama Alvin karena apa?"


"Hah? Ah enggak kok. Abang gak usah tahu. Haifa titip Aidan aja. Haifa mau masak banyak nih buat mas Alvin. Siapa tahukan dimaafin."


"Berarti Adek yang salah ya?"


"Abang diam aja. Haifa titip Aidan. Nanti Abang Haifa kasih makan," kata Haifa sambil meninggalkan Keanu dan Aidan.


Tidak lama, Haifa kembali lagi ke ruang keluarga.


"Gak jadi masak?"


"Mas Alvin gak akan makan siang di rumah, banyak kerjaan katanya."


"Terus Aina?"


"Haifa yang jemput."


"Yaudah gak usah sedih."


"Padahal dua hari diamin Haifa, mas Alvin itu selalu bawa pekerjaan ke rumah. Tapi masih banyak aja pekerjaannya."


"Nanti lagi deh mikirin urisan baikan sama Alvin. Sekarang siap-siap aja dulu sana. Kita jemput Aina, abis jemput Aina kita makan di luar aja. Sekalian ajak anak-anak main."


"Izin mas Alvin dulu tapi."


"Yaiyalah. Ngaco banget mau pergi gak izin dulu."


"Udah izin dulu cepat. Terus siap siap."


*


Sudah hampir pukul 16.00 tapi Haifa dan anak-anak masih dalam perjalanan pulang. Sementara itu Alvin sudah berada di rumah bahkan sudah sempat mandi.


"Mas maaf, jadi mas duluan pulangnya," kata Haifa setelah mencium tangan Alvin. Alvin diam saja.


"Tadi aku yang ajak Haifa pergi, soalnya tadi lihat wajah dia gak enak banget. Apalagi pas punya rencana mau masak banyak buat minta maaf tapi kamunya gak pulang buat makan siang," kata Keanu.


"Abang pulang kapan? Bukannya abis ke luar kota ya?" tanya Alvin mengalihkan pembicaraan.


"Kemarin."


"Gimana perkembangan disana?"


"Sempet gak stabil sih tapi masih bisa diatasi," kata Keanu.


Melihat Alvin malah asik mengobrol bersama Keanu, Haifa izin pergi ke atas untuk memandikan anak-anak. Karena percuma berada di satu ruangan pun kalau pria yang sama sama suka kerja ini sudah membahas pekerjaan pasti Haifa akan tidak terlihat.


"Bunda, kakak nanti mau main di sana lagi," kata Aina.

__ADS_1


"Iya nanti kakak bilang papa ya. Ajak papa main kesana lagi," kata Haifa sambil memandikan Aidan.


"Kakak gosok gigi dulu nih," kata Haifa sambil menyerahkan sikat gigi yang sudah diberi pasta gigi pada Aina.


"Kakak suka gosok gigi, soalnya ininya manis," kata Aina sambil menunjuk pasta gigi.


"Gak boleh ditelen ya kak biarpun manis juga."


"Kenapa? Kan enak kayak lasa pelmen," kata Aina sambil mengemut sikat giginya.


"Enggak boleh karena itu bukan makanan. Ayo gosok gigi yang betul."


Hayo ngaku, siapa disini yang kecilnya seneng ngemutin pasta gigi aneka rasa 🤣


Anak-anak sudah bersih, rapi dan wangi. Haifa membawa mereka ke bawah. Ternyata sudah tidak ada Keanu.


"Papa om Ken pulang?" tanya Aina.


"Iya." jawab Alvin.


"Kok gak pamit sama kakak?"


"Kan tadi kakak lagi mandi di atas."


Aina cemberut, Aina memang bisa dibilang cukup dekat dengan Keanu. Karena selain penyayang anak-anak, Keanu juga sangat pandai memanjakan keponakan-keponakannya dengan mengajaknya jajan dan beli mainan. Jadi tidak heran memang keponakan-keponakannya senang pada Keanu.


"Kok cemberut, emang belum puas main sama om nya?"


"Kan kakak mau main lagi."


"Yaudah main sama papa aja."


"Papapapa," celoteh Aidan sambil meronta dari gendongan Haifa.


"Apa sayang. Yuk sama Papa," kata Alvin sambil mengambil alih Aidan.


"Mas, titip anak-anak dulu ya. Haifa mandi dulu," kata Haifa. Alvin hanya mengangguk.


"Papa kok gak jawab?" tanya Aina.


"Jawab apa?" kata Alvin balik bertanya.


"Tadi papa udah angguk."


"Tapi kalau kakak jawab papa angguk atau geleng enggak boleh," protes Aina. Haifa diam-diam tersenyum. Dalam hatinya, 'rasain diprotes anak.'


Aina memang selalu diajarkan dan dibiasakan menjawab dengan kata-kata buka dengan isyarat seperti angguk, geleng dan sebagainya.


"Iya maafin papanya ya kak. Papanya gak jawab karena lagi sakit gigi. Biar aja, nanti sakit giginya kalau banyak bicara," jawab Haifa yang dibalas tatapan tajam dari Alvin.


"Papa gak suka gosok gigi ya, mangkanya sakit gigi. Ih jolok papa."


"Haha enggak, bunda bercanda. Udah ya kakak main sama Papa sama Adek dulu."


"Papa sakit gigi?" tanya Aina setelah Haifa tidak bersama mereka.


"Enggak."


"Kok Papa gak bicala bicala?"


"Papa lagi isengin bunda. Tapi kakak jangan bilang-bilang."


"Kenapa?"


"Jangan, nanti Papa aja."


"Telus kalau..."


"Kakak tadi darimana aja?" kata Alvin memotong ucapan Aina. Tidak baik memang, tapi daripada Aina terus membahas hal yang tidak seharusnya Aina ketahui kan malah semakin repot nantinya. Aina sekarang sudah semakin besar dan semakin kritis pula pemikirannya. Sepertinya Aina tumbuh menjadi gadis kecil dengan tingkat kepekaan yang tinggi.


Dengan semangat Aina menceritakan kegiatannya dari pulang sekolah tadi.


"Gitu papa. Selu, Adek juga suka. Iya kan dek?"


Aidan yang belum mengerti hanya berceloteh sesukanya.


"Kalau sama Papa pasti tambah seru," kata Alvin.


"Papa sih gak ikut."


Asik bermain, tidak terasa sudah hampir maghrib. Alvin harus segera bersiap ke masjid.

__ADS_1


Ba'da isya, Alvin baru pulang dari masjid. Ia melihat anak-anaknya sudah tidur. Ini pasti karena Aina dan Aidan tidak tidur siang dan juga capek jalan jalan.


Setelah mengganti baju koko dengan kaos dan mengganti sarung dengan celana pendek, Alvin berjalan keluar kamar. Haifa yang baru keluar dari kamar mandi, tahu Alvin sudah pulang karena ia bisa melihat baju koko dan sarung yang diletakan asal saja di pegangan sofa. Kebiasaan Alvin memang begitu sering asal meletakan barang, kadang sehabis mandi handuknya asal diletakan saja di atas sofa atau di atas tempat tidur.


Haifa segera keluar kamar dan mencari keberadaan Alvin.


"Mas ngapain?" tanya Haifa ketika melihat Alvin sedang berada di dapur.


"Mau masak apa?" tanya Haifa lagi sambil menghampiri Alvin.


"Ih jangan masak mie," kata Haifa sambil merebut mie instan yang hendak Alvin buka plastiknya.


"Itu tadi Haifa beli makanan. Mas duduk aja Haifa angetin dulu makanannya."


Bukannya mendengar, Alvin malah merebut kembali mie instan di tangan Haifa.


Haifa yang sudah tidak mau didiamkan lagi oleh Alvin langsung memeluk Alvin dari belakang.


"Mas atuh udahan diamnya."


"Haifa minta maaf."


"Mas, jangan diam aja," kata Haifa dengan suaranya yang bergetar. Iya cengeng memang Haifa itu.


"Mas Haifa minta maaf," katanya dengan suara pelan. Alvin tahu, kalau sudah pelan begini pasti sudah mulai menangis. Lama kelamaan gak tega juga Alvin.


"Kenapa nangis sih? Ini cara kamu kan? Nangis biar aku gak tega terus langsung luluh gitu?" kata Alvin sambil melepaskan pelukan Haifa dan membalikan badannya menghadap Haifa.


"Maaf." kata Haifa sambil menunduk.


"Enak enggak di diamin?"


Haifa menggeleng.


"Nah itu rasanya kalau kamu diamin aku."


"Haifa minta maaf."


"Kemarin siapa yang nantangin, diajak bicara baik-baik gak mau?"


Haifa diam.


"Iya Haifa salah Haifa minta maaf."


"Mau gitu lagi?"


Haifa menggeleng.


"Maaf. Jangan diam lagi."


"Ya gak usah nangis, jelek," kata Alvin sambil mengusap air mata Haifa. Haifa langsung memeluk Alvin.


"Dari tadi siang Haifa udah pengen nangis. Tadinya, waktu siang itu Haifa mau minta maaf, Haifa mau masak makanan yang mas suka gitu. Tapi Masnya gak pulang. Haifa jadi sedih Mas itu kayak gak mau banget baikan sama Haifa. Tadinya Haifa juga mau kantornya Mas, anterin makan siang sekalian minta maaf kayak begini. Tapi kata Abang jangan, karena kalau Mas nya lagi sibuk sama aja bohong karena gak akan ketemu," kata Haifa bercerita sambil memeluk Alvin.


"Jangan diam lagi. Haifa gak suka di diamin."


"Mas juga gak suka di diamin."


"Ayo buat kesepakatan," kata Alvin.


"Kesepakatan apa?" tanya Haifa sambil mendongak menatap Alvin.


"Karena kita sama sama tahu kalau didiamkan itu gak enak. Dan kita sama sama gak mau didiamkan. Mulai sekarang kita buat kesepakatan, kalau ada yang salah dari pasangan kita, kalau ada yang gak kita suka dari pasangan kita. Kita harus bilang, harus terbuka, harus cerita."


Haifa mengangguk.


"Telat gak sih kita baru buat kesepakatan begini?"


"Gak akan ada kata terlambat untuk memulai untuk menjadi lebih baik."


...****************...


To be continued...


See you next part...


*Yok yang mau kasih masukan berupa kritik maupun saran yang berhubungan dengan cerita silahkan yaa. Sampaikan dengan baik dan benar ya kakak. Biar sama sama enak. Jangan sungkan sungkan yaa.


*Author nextnya jangan lama lama, jadi lupa cerita nya. Aku berusaha kakak tapi tidak bisa menjanjikan, karena jujur aja aku gak 100% fokus ke nulis. Inspirasi juga kadang hilang timbul.


*Kalau mau sharing yuk boleh kita bergabung di grup chat Aina.

__ADS_1


__ADS_2