
Happy Reading...
Satu bulan setelah ujian di keluarga mereka. Sekarang semuanya perlahan membaik, kondisinya secara fisik dan psikis sudah seamin membaik. Hanya saja masih ada satu hal yang belum Alvin ceritakan. Haifa juga tidak pernah bertanya.
Saat ini fokus mereka sedang pada tumbuh kembang anak-anak terutama si kecil Aizar Zhafran Firmansyah. Anak berusia 2 tahun ini beberapa beberapa waktu lalu sempat tidak terpantau tumbuh kembangnya oleh Haifa.
Berhubung hari libur, setelah shalat subuh tadi Alvin, Haifa dan anak-anak kembali tidur dalam satu tempat tidur. Pukul 07.00 Haifa yang terbangun lebih dulu, ia menikmati sekali posisinya dikelilingi oleh orang-orang yang ia cintai. Di sebelah kanan ada suaminya dan di sebelah kiri ada ketiga anaknya.
Melihat suaminya yang masih tertidur, menimbulkan sedikit keinginan Haifa untuk menjaili Alvin. Pertama, ditatapnya wajah suaminya itu lekat-lekat. Wajah Alvin itu bersih tanpa kumis dan janggut. Alvin memang termasuk golongan pria yang tidak ditakdirkan untuk berkumis dan berjenggot. Bukan Alvin rajin mencukurnya, hanya saja sepertinya kumis dan janggut yang enggan tumbuh di wajah Alvin. Puas memandang suaminya, Haifa tergerak untuk mencium pipi Alvin. Awalnya sekali lalu Haifa kembali memandang Alvin.
Haifa terkadang merasa tidak adil pada Alvin, semenjak ada Aidan kemudian ada Aizar. Sepertinya Haifa lebih fokus pada ketiga anaknya.
"Kasihan," kata Haifa sambil mengelus pipi Alvin lalu kembali menciumnya, sekali, dua kali.
"Cuma pipi?" tanya Alvin.
Haifa yang masih memandang Alvin jadi terkejut.
"Mas udah bangun ya?"
"Enggak ini lagi ngigau," kata Alvin masih dengan mata terpejam.
"Ih sebel."
"Sini peluk?" kata Alvin sambil merapat ke arah Haifa dan memeluknya.
"Lepas, Haifa mau masak. Mau buat sarapan."
"Alasan, dari tadi juga enggak gerak dari tempat tidur malah mandang suaminya terus."
"Enggak enak aja."
"Hm gengsi."
Mereka terdiam saling menikmati posisinya.
"Udah ah. Haifa mau buat sarapan."
"Enggak usah buat sarapan. Kamu siap siap aja sana. Mas bangunkan anak-anak. Kita cari sarapan sambil jalan jalan pagi aja," kata Alvin.
"Tapi ini udah siang Mas."
"Belum Yang masih jam 07.00. Lagian enggak perlu mandi lagi, kan tadi subuh udah mandi. Keramas juga kan," kata Alvin.
"Mas, ih."
"Iya benarkan? Udah mandi dong? Atau mau dibuat mandi lagi?" tanya Alvin.
"Mas!"
"Hahaha, iya enggak. Udah sana siap siap duluan."
"Yaudah lepas jangan dipeluk."
"Aduh udah nempel susah lepas gimana dong Yang?" goda Alvin sambil mengeratkan pelukannya.
"Ya udah begini aja. Enggak usah kemana-mana," kata Haifa sambil membalas memeluk Alvin.
"Yang?"
"Hm."
"Mau mandi lagi enggak?"
"ENGGAK!"
"Ih udah lepas Haifa mau siap siap," kata Haifa sambil memukul lengan Alvin.
"Mandi lagi aja deh Yang biar segar."
"ENGGAK! Awas!" kata Haifa sambil beranjak dari tempat tidur.
"Biasa aja dong enggak usah salting," ledek Alvin.
"Bangunin anak-anak," kata Haifa kemudian berlalu ditelan pintu kamar mandi.
***
Bubur ayam menjadi menu sarapan mereka hari ini kecuali Aizar yang berbeda sendiri dengan makanan yang dibekal dari rumah.
__ADS_1
Setelah sarapan mereka tidak langsung pulang, mereka bermain-main dulu di taman dekat rumah mereka, tidak jauh masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Alvin dan Haifa duduk berdampingan sambil mengawasi ketiga anaknya yang sedang bermain dengan anak-anak yang lain.
"Yang."
"Apa?"
"Nanti siang, Bang Ken sama Kak Winnie mau ajak anak-anak pergi katanya."
"Hah? Anak-anak kita?"
Alvin mengangguk.
"Tiga-tiganya?" tanya Haifa
"Iya sayang, mereka kangen katanya. Terus kata Bang Ken sekalian latihan ngurus anak. Biar mereka cepat dipercaya buat jadi orang tua sama Allah."
"Iya tapi nanti mereka kewalahan loh."
"Insya Allah enggak. Aina sama Aidan kan udah besar. Kalau di rumah aja mereka udah bisa dipercaya buat jaga adeknya."
"Kasih izin aja ya. Udah lama Abang enggak ketemu sama anak-anak."
Haifa menatap Alvin, "Ada apa sih? Kok kayaknya Haifa mencium gelagat gelagat yang aneh dari Mas."
"Mencium apa sih Yang? Memcium bau keringat nih yang ada."
"Ya abis Mas bilangnya dadakan. Terus Abang sama Kakak juga enggak bilang sama Haifa."
"Iya kan bilangnya sama Mas. Sama aja dong kita kan suami istri jadi sepaket enggak perlu izin ke dua duanya. Kasih izin aja ya? Mas juga udah jawab iya ke Abang."
"Ih Mas enggak nanya Haifa dulu," protes Haifa.
"Kan sekarang bilang."
"Baru sekarang bilangnya."
"Ya Abangnya juga baru semalam bilang ke Mas."
"Ya Mas kenapa enggak bilang dari semalam?"
"Lupa Yang. Semalam tuh ingatnya cuma misi yang harus dituntaskan."
"Kalau Haifa enggak kasih izin giman?" tanya Haifa.
"Iya enggak enaklah Yang. Orang Mas udah iyain."
Haifa cemberut, "Enggak apa apa Yang. Anak-anak nanti sama Om dan Tante nya sendiri. Lagian menguntungkan buat kita jadi punya waktu berdua iya kan?"
"Maunya Mau itu sih?"
"Iya emang Mas mau dua duaan. Kangen," kata Alvin.
"Haifa enggak."
"Benar ya? Terus semalam siapa yang meluk terus bilang. Haifa kangen deh sama Mas." kata Alvin sambil meniru percakapannya dengan Haifa semalam.
"Terus semalam juga ada yang tiba-tiba..."
"Ih Mas mah udah jangan cerita di sini malu tempat umum, masa mau cerita yang begitu."
"Mangkanya kasih izin ya. Masa sama Abang sendiri enggak percaya? Lagipula Abang enggak akan ngajak anak-anak main ke tempat yang aneh-aneh."
"Ya udah. Tapi harus tahu dulu Abang bawa anak anak kemana."
Alvin berbohong. Bukan Keanu dan istrinya yang meminta waktu bersama anak-anak. Tapi Alvin, Alvin yang datang pada Keanu meminta pendapat agar Alvin bisa jujur pada Haifa tentang ujian sebulan lalu. Karena sampai saat ini Alvin belum sanggup jujur dan tidak mungkin juga Alvin selamanya akan menyembunyikan dari Haifa. Sampai muncul ide dari Keanu jika Alvin harus punya waktu santai berdua. Dan Keanu beserta istrinya menawarkan jasa sebagai baby sitter bagi ketiga anak Alvin.
"Tuh anak-anak udah pada capek kayaknya udah nyamperin kita," kata Alvin saar melihat ketiga anaknya beriringan berjalan ke arah mereka.
"Bunda, puang yuk," kata Aizar, putra mereka yang paling kecil.
"Capek ya?" kata Haifa sambil mengusap kening Aizar yang berkeringat.
"Papa endong," katanya sambil merentangkan tangannya pada Alvin.
"Bunda tunggu, Adek sama Kakak mau beli permen kapas dulu di sana boleh ya?" izin Aidan.
Aizar yang mendengar itu langsung meronta minta diturunkan kembali.
__ADS_1
"Au pemen," katanya.
"Nanti sakit kalian sakit gigi loh nak, sakit tenggorokan, batuk. Mau?"
"Dikit aja Bunda," bujuk Aina.
"Iya Bunda dikit aja," kata Aidan ikut membujuk.
"Iya boleh nih. Beli satu aja buat sama-sama," kata Alvin sambil memberikan selembar uang dua puluh ribu pada Aina.
"Yeyyy makasih Papa," kata Aina dan Aidan bersamaan.
Aina dan Aidan langsung berlari, "Huaa dede itut," kata Aizar menangis karena tertinggal.
"Kakak, Abang ini adeknya ikut,"
"Hehe. Ayok De," kata Aina yang balik lagi lalu menggendong Aizar.
"Kak nanti uangnya jangan kembalian ya. Buat bapaknya aja kembaliannya."
"Iya Papa."
"Mas kenapa sih kasih izin mereka. Haifa susah susah loh kasih pengertian ke mereka biar enggak jajan sembarangan," omel Haifa ketika anak-anak sudah menjauh.
"Biar aja Yang sesekali. Enggak setiap hari kok mereka jajan begitu."
"Bapak-bapak itu kenapa sih selalu kayak gitu. Iya iya terus sama apa yang anak mau. Nanti tuh mereka kebiasaan Mas. Tiap enggak dikasih izin sama Haifa, mereka bakal lari ka Papanya biar dituruti," omel Haifa lagi.
"Hahaha. Enggak lah Yang. Enggak tiap saat juga Mas begitu."
"Anak-anak juga harus minimal pernah nyoba gitu jajanan-jajanan. Biar enggak pilih-pilih makanan nantinya."
"Lagian itung-itung membantu mereka yang mencari nafkah melalui berjualan itukan."
"Coba Yang sekarang alasan kamu larang mereka jajan itu karena apa?"
"Ya karena itu tuh gula semua Mas. terus warna warni begitu kita enggak tahu itu pewarnanya aman atau enggak."
"Insya Allah enggak apa apa Yang."
"Anak-anak itu semakin dilarang justru akan semakin penasaran Yang. Kamu juga pasti tahu itu kan?"
"Daripada dilarang mending kasih izin sesekali biar mereka coba. Seperti biasanya, kamu larang mereka makan coklat. Tapi bukan berarti enggak boleh sama sekali. Kamu bolehin jugakan. Tapi kamu kasih pengertian kalau makannya jangan banyak-banyak dan setelah itu langsung gosok gigi. Clear kan mereka jadi tahu alasannya."
"Begitu juga dengan sekarang. Kamu larang mereka, di sini, di tempat umum yang ada mereka nanti bakal terus membujuk kamu. Karena mereka tahu kalau di tempat umum Bundanya enggak akan bisa marah-marah."
"Kenapa sih hari ini, masih pagi udah selisih pendapat terus sama kamu," kata Haifa merajuk.
"Hahaha gemes amat ngambeknya. Kalau ada yang lihat, pasti enggak akan percaya kalau kamu ini udah jadi ibu-ibu tiga anak."
"Empat!" ralat Haifa.
Alvin diam. Takut Haifa membahas mangenai calon anak mereka yang sudah gugur.
"Sama Kamu!"
...****************...
To be continued...
See you next part...
Apa kabar teman-teman, kakak, adik semuanya hari ini? Baik kan?
Semoga semua sehat sehat yaa 🤗
Lama ya tidak menyapa 😁
Masih ada yang nunggu enggak nih? Atau udah pada bosan nunggu? Maaf yaa.
Bukan enggak mau nulis, atau males nulis ya, kadang mah ide udah keliaran gitu di kepala lagi nulis status pasien juga suka muncul ide.
Tapi ya kita tugas di rumah sakit kan enggak bisa mantengin terus handphone atau laptop buat nulis ya.
Nulis sedikit-sedikit di kertas. Sampe rumah mau disalin lupa itu kertas dimana.
Yah, malah cerita. Maaf lagi yaa.
Intinya, terimakasih banyak buat yang sabar menunggu up cerita ini yang waktunya tidak pasti.
__ADS_1
Selamat Malam,
Salam sehat, 💪🏻