
Happy Reading...
Sabtu pagi seperti biasanya, Alvin yang libur bekerja akan menghabiskan waktu paginya dengan berolahraga. Katanya, papa dua anak ini ingin tetap menjaga badannya agar tidak semakin mengembang. Karena ia juga takut kehilangan roti sobek yang sudah dibentuk sekian lama.
"Yang..." panggil Alvin menghampiri Haifa yang sedang mencuci piring di dapur.
"Anak-anak belum bangun?" tanya Alvin yang sudah berdiri di belakang Haifa.
"Belum, kakak tadi tidur lagi." jawab Haifa.
"Udahan olahraganya?" tanya Haifa.
"Udah ah capek udah keringetan banyak." jawab Alvin.
"Ilang gak roti sobeknya?"
"Ngejek ceritanya?" kata Alvin sambil memeluk Haifa.
"Ih jangan peluk peluk, mas keringetan. Gak mau Haifa udah mandi." protes Haifa sambil berusaha melepaskan tangan Alvin dari pinggangnya. Alvin semakin mengeratkan pelukannya.
"Diam bunda jangan banyak protes."
"Ish. Lepas, susah gerak ini."
"Mas mandi sana. Terus bangunkan kakak, kita sarapan." kata Haifa.
"Yang..." panggil Alvin sambil mengendus rambut Haifa.
"Hm."
"Yang..."
"Hm."
"Sayang..."
"Apa?"
"Gitu dong jawaban apa hm hm..."
"Iya ada apa papa?"
"Hari ini mas libur kerja."
"Iya udah tahu." jawab Haifa sambil mengubah posisi menjadi menghadap Alvin.
"Jalan yuk." ajak Alvin.
"Kemana?"
"Kemana gitu yang enak."
"Gimana ya, jujur aja Haifa tuh masih ngerasa agak repot kalau harus pergi pergi bawa bayi. Perlengkapannya banyak." kata Haifa.
"Jangan bawa anak anak." jawab Alvin.
"Terus anak anak sama siapa dong? Ngaco deh."
"Titip dulu lah sebentar di rumah mama atau di rumah ibu. Mereka pasti gak akan keberatan."
Haifa tidak menjawab.
"Yang kita itu perlu waktu berdua tahu."
"Sadar gak sejak menikah itu kita jarang banget punya waktu berdua. Apalagi setelah ada Aidan."
"Mungkin akhir akhir ini juga kenapa kita sering selisih faham. Itu karena kita sama sama capek dengan kegiatan masing masing. Sampai kita gak punya waktu buat sekedar saling cerita."
"Bahkan kebiasaan kita buat ngobrol sebelum tidur, hampir gak pernah lagi kan."
"Kita quality time berdua. Mau ya?"
Haifa nampak masih menimbang nimbang.
"Mau ya?"
"Tapi Aidan nanti ASI nya gimana?"
"Yang, kamu kan suka pumping di kulkas juga ada kan stok ASI Aidan?"
"Mau ya? Gak berhari hari kok."
"Kenapa gak sama anak anak aja sih?"
"Sayangku, kalau ajak anak anak nanti pasti fokus kamu bukan ke mas begitu juga sebaliknya. Insya Allah gak anak anak gak apa apa kok."
"Mau ya?" bujuk Alvin.
"Emang mama atau ibu bisa dititipi anak anak?"
"Bisa kok. Mas udah telpon mama tadi. Mama udah oke."
"Oh jadi mas udah ngomong dulu sama mama?"
"Iya dong biar nanti kamu gak banyak alasan. Jadi mau ya?"
Haifa tampak masih berpikir.
"Mikir apa lagi sih?" tanya Alvin.
"Mau ya?"
__ADS_1
"Perginya mau kemana?" tanya Haifa.
"Ya suka suka kita mau kemana." jawab Alvin.
"Mau ya?" tanya Alvin.
Akhirnya Haifa mengangguk.
"Nah gitu dong. Lama banget mikirnya. Padahal mau diajak jalan jalan." kata Alvin.
"Ih kan gak biasa jalan tanpa anak anak."
"Mangkanya harus kita biasakan lagi. Mulai sekarang kita harus selalu jadwalkan buat pergi berdua ya?"
"Kenapa kok mas tumben banget?"
"Ya mas tuh ngerasa akhir akhir ini kita sering banget ribut karena masalah kecil. Padahal usia rumah tangga kita makin lama. Dan mas baru sadar kalau belakangan ini, kita jarang banget ngobrol empat mata, ngobrol dari hati ke hati. Padahal dulu kita kan sering banget ngobrol santai berdua sebelum tidur. Mungkin salahfahamnya kita itu hanya karena kepenatan kita dan kurang komunikasinya kita." kata Alvin.
"Maaf ya. Haifa malah gak sadar."
"Gak perlu minta maaf sayang. Yaudah, sekarang mas mandi dulu. Kamu siap siap, kita sarapan terus berangkat ke rumah mama."
"Mas mandikan Aina ya? Haifa mandikan Aidan sama beres beres perlengkapan mereka."
***
Pukul 10.00 mereka baru keluar dari rumah. Tidak sampai 1 jam mereka sudah sampai di rumah mama.
"Ayo tulun bunda." ajak Aina.
"Iya sebentar sayang." jawab Haifa.
"Kakak duluan aja masuk. Tapi salam sama umi sama kai, sama semua yang ada di sana." kata Alvin.
"Oke." kata Aina langsung berlari ke dalam rumah.
"Attalam alaikum." kata Aina ketika sampai di dalam rumah dan bertemu dengan umi serta kai nya. Tidak lupa Aina juga cium tangan.
"Wa'alaikumsalam. Eh ada cucunya umi." kata mama sambil mengusap kepala Aina.
"Papa sama bundanya mana sayang?" tanya papa.
"Matih di mobil. Bundana lepot papa juga lepot. Kata papa kakak matuk aja sendili gitu." jawabnya.
"Pintar ya cucunya Kai."
"Hehe iya dong." jawab Aina yang sudah duduk dipangku oleh Kai nya.
"Abang Acad tama Abang Dita mana?" tanya Aina.
"Belum kesini. Nanti katanya sebentar lagi." jawab umi.
"Kakak bawa banak mainan buat main tama tama abang."
"Mau. Tapi nanti tama abang juga."
"Iya dong."
"Assalamu'alaikum." kata Alvin dan Haifa bersamaan.
"Wa'alaikumsalam." jawab Mama dan Papa.
Aidan sudah langsung diambil alih oleh uminya.
"Katanya teteh mau pada kesini juga ma?" tanya Haifa setelah salim kemudian duduk disamping mama.
"Cuma teh Hanni aja. Sama Arsyad sama Dikta."
"Mama gak apa apa kami titip anak anak?" tanya Alvin.
"Ya gak apa apa lah. Seneng malah cucu cucu pada kumpul."
"Ini Aidan baru tiga bulan tapi udah panjang begini ya. Udah berat lagi." kata mama yang sedang memangku Aidan.
"Ya mama lihat aja. Papanya aja modelan tiang listrik begini."
"Kamu jangan begitu sama suami."
"Biar aja ma. Dia mah gak afdol kalau sehari gak ngejek Alvin." kata Alvin.
"Emang mas gak suka ngejek Haifa?"
"Kalian ini." kata Papa sambil geleng geleng kepala.
"Umi, Kai kalau di lumah papa tuka jail tau tama bunda, tama kakak juga." adunya.
"Eh kok kakak ngadu." protes Alvin.
"Bialin. Kai papa cebulin aja ke kolam ikan Kai. Bial di gigit ikan. Hihi."
"Jangan dong. Nanti ikan ikan kai pada mabok kalau dikasih makan papa Alvin." kata Haifa.
"Ikannya juga males kak gigit papa. Dagingnya alot." kata Haifa lagi.
"Tuh ma pa. Ngejek terus senengnya."
"Udah udah. Keburu siang loh." kata Mama.
"Kai..." panggil umi.
"Eh iya, kakak temani Kai kasih makan ikan yuk." ajak Kai pada Aina.
__ADS_1
"Nanti kakak mau tunggu abang abang dulu kai."
"Masih lama sayang. Ikan ikannya Kai nanti keburu lapar."
"Sekarang aja yuk." bujuk Kai lagi.
"Emm. Iya deh."
"Bunda, papa kakak ikut kai katih makan ikan ya." pamit Aina.
Haifa dan Alvin sama sama hanya mengangguk.
"Udah sana. Nanti keburu siang." kata Mama.
"Rewel gak ya nanti Aina sama Aidan."
"Enggak. Apalagi nanti ada Arsyad sama Dikta. Pasti asik main terus." kata mama.
"Tapi ma..."
"Vin udah sana kalian pergi." kata mama.
"Mama ngusir Haifa sama mas Alvin?" protes Haifa.
"Iya. Bosen mama lihat kalian. Mama mau main sama cucu cucu. Dah sana sana pergi." kata Mama.
"Mama mah ih."
"Cepat Haifa, Alvin. Sebentar lagi juga Arsyad sama Dikta datang."
"Yaudah iya."
"Ini Ma. Perlengkapan Aidan di tas yang ini. Terus punya Aina di sini. Ini juga ada ASIP nya Aidan ada botol sama alat sterfilisasi botol susunya Aidan." kata Haifa.
"Oke. Udah tenang aja." jawab Mama.
"Maaf ya ma. Alvin sama Haifa jadi merepotkan mama."
"Gak apa apa. Malah seneng mama mah. Sering-sering aja ya."
"Makasih ya ma. Kalau gitu kami pamit ya ma."
"Iya udah sana."
"Mama mah ngusir terus. Yaudah ayo mas udah diusir kita." kata Haifa.
"Pamit ya ma. Assalamualaikum." kata Alvin kemudian mencium tangan mama.
***
"Sekarang mau kemana kita?" tanya Haifa.
"Kamu maunya kemana?"
"Ke TSB aja yuk mas. Kita main semua wahana."
"Yakin semua berani emang?"
"Beranilah."
"Benar ya. Kalau ada satu aja wahana yang kamu gak naik. Mas hukum kamu."
"Ih kok gitu."
"Tadi yang nantang buat main semua wahana siapa?"
"Iya udah iya. Tapi kalau mas yang gak berani. Mas yang aku kasih hukuman ya?"
"Deal ya?" kata Alvin sambil mengulurkan tangannya.
"Deal." kata Haifa sambil menerima uluran tangan Alvin.
"Aku nunggu mas dihukum." kata Haifa.
"Emang apa hukuman buat mas?"
"Rahasia dong. Masa hukuman dikasih tahu." kata Haifa sambil menepuk pelan pipi Alvin. Alvin mengambil tangan Haifa dan membawanya ke depan bibirnya untuk di cium.
"Mas juga udah siapkan hukuman buat kamu." kata Alvin sambil kembali mencium punggung tangan Haifa.
"Apa?"
"Eh rahasia dong."
"Haha iya deh iya."
"Seneng gak punya waktu berdua?" tanya Alvin sambil menatap Haifa ketika sedang berhenti di lampu merah.
"Belum tahu sih. Kan kita belum melakukan apa apa. Siapa tahu kan nanti mas tiba tiba ngeselin." jawab Haifa.
"Bisa aja." kata Alvin sambil mengusap kepala Haifa.
***
**To be continued...
See you next part...
Part ini itu terinspirasi dari sebuah artikel tentang rumah tangga.
Kalau ada yang kurang sesuai dengan dunia nyata mohon koreksinya ya kakak kakak.
__ADS_1
Terimakasih 🤗**