Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 79


__ADS_3

Happy Reading...


"Assalamu'alaikum..." ucap Alvin ketika masuk rumah.


"Wa'alaikumsalam mas Alvin udah..." jawab bude yang langsung Alvin potong dengan pertanyaan, "Haifa dimana bude?"


"Oh itu mbak Haifa di kamar tadi, boboin si adek."


"Alvin ke atas dulu bude." kata Alvin.


Ketika Alvin hendak masuk kamar, Haifa keluar lebih dahulu.


"Kamu bener gak jemput Aina?" tanya Alvin.


"Enggak mas. Kan tadi pagi mas sendiri yang bilang bisa jemput Aina. Kalau Haifa jemput, pasti Haifa izin dulu sama mas."


"Terus sekarang Aina kemana dong?" tanya Alvin dengan nada khawatir.


"Mas tenang dulu."


"Aina gak ada loh. Kamu bilang tenang? Kamu Bundanya loh. Anaknya hilang diam aja?"


"Kamu juga daritadi di telpon susah banget. Kemana aja sih? Ngapain aja di rumah?" tanya Alvin dengan nada yang tidak bersahabat.


"Maaf handphone Haifa di bawah, sementara Haifa di kamar sama Aidan. Tadi juga bude yang antar handphone Haifa. Kalau gak gitu Haifa gak tahu ada telepon dari mas."


"Bukan cuma ada telepon! Saya berkali-kali nelepon kamu!"


"Iya maaf. Tadi itu soalnya Haifa dapat telepon dari teman SMA yang bikin kesal mangkannya Haifa simpan handphone sembarangan."


"Telepon? Temen SMA? Bikin kesal? Siapa? Mantan kamu?" tanya Alvin.


"Nanti Haifa cerita. Sekarang kita fokus ke Aina dulu aja ya." kata Haifa.


"Mas, kita coba tanya Ibu, kak Zia, Mama atau keluarga yang lain siapa tahu Aina di jemput mereka."


"Kamu tanya sana ke semua, yang ada mereka bakal ngira kita gak bisa ngurus anak!"


"Ya daripada gak ada langkah sama sekali. Sekarang mas marah-marah. Aina ketemu gak?" kata Haifa.


"Mas coba hubungi keluarga. Haifa mau coba hubungi orang tua temannya Aina yang Haifa tahu. Tadi juga udah Haifa coba hubungi sebagian."


*


"Mas..." panggil Haifa yang berada di ruang kerjanya sambil mencoba menghubungi beberapa orang.


"Ada hasilnya?" tanya Alvin.


"Belum."


"BUANG WAKTU! SARAN KAMU ITU BUKAN SOLUSI!"


"Bukan cuma mas yang khawatir. Haifa juga khawatir. Gak ada yang mau juga kejadian seperti ini. Sekarang mas marah, wajar. Tapi bukan berarti kita harus ributkan?"


Alvin tidak menanggapi, ia langsung pergi meninggalkan Haifa. Belum tahu kemana tujuannya. Tapi rasanya Alvin memang tidak bisa diam saja.


Haifa tidak bisa menahan, semakin ditahan Alvin pasti akan semakin emosi. Tapi Haifa juga khawatir jika Alvin tidak fokus berkendara dalam keadaan emosi.


"Assalamu'alaikum abang." sapa Haifa dari sambungan telepon.


"Wa'alaikumsalam. Kenapa dek kok kamu kayaknya panik banget?"

__ADS_1


"Abang tolongin Haifa."


"Kenapa?"


"Aina hilang."


"HAH? Kok bisa?"


"Tadi waktu mas Alvin jemput, Aina udah gak ada di sekolahnya."


"Terus dijemput siapa bukannya di sekolahnya Aina gak bisa sembarangan orang yang jemput ya? Kalau Abang yang jemput aja ribet." kata Keanu.


"Makanya itu. Sekarang mas Alvin pergi mau cari Aina gak tahu kemana? Mas Alvin juga marah sama Haifa gara-gara tadi Haifa sempat nahan mas Alvin nyari Aina. Maksudnya Haifa kita coba hubungi orang terdekat dulu gitu. Tapi setelah gak ada hasilnya mas Alvin jadi marah banget. Haifa bingung, pengen nangis tapi udah gak bisa nangis. Haifa khawatir sama Aina, Haifa juga khawatir sama mas Alvin yang pergi dalam kondisi marah gitu."


"Yaudah tenang dulu. Abang bisa bantu apa?"


"Lapor polisi gimana bang?"


"Setahu Abang kalau belum 24 jam gak bisa deh."


"Terus gimana?"


"Dek coba ingat ingat yang kemungkinan dekat sama Aina selain keluarga besar Alvin, kita terus siapa lagi?" tanya Keanu.


"Hm siapa ya?"


"Mana Abang ta..."


"Abang antar adek ke Cimahi sekarang."


"Ngapain?"


"Oke nanti Abang coba izin ke Papa."


"Alhamdulillah. Makasih Abang. Yaudah Haifa siap-siap dulu ya. Assalamualaikum."


Setengah jam Haifa menunggu Keanu menjemputnya. Haifa juga sudah beberapa kali menghubungi Alvin. Tapi usahanya tetap nihil.


Tin... Tin...


"Bude, Haifa pergi dulu ya. Haifa minta tolong bude di sini dulu ya, sampai Haifa pulang. Takutnya nanti mas Alvin pulang terus Haifa gak ada di rumah." kata Haifa.


"Iya mbak. Mbak juga hati hati ya. Semoga si Kakak cepat ketemu."


"Aamiin. Makasih bude."


Haifa bergegas keluar sambil membawa Aidan yang tertidur.


"Aidan tidur kok dibawa kasian loh." kata Keanu.


"Gak apa apa. Justru kalau ditinggal lagi tidur nanti bangunnya rewel."


"Udah izin Alvin?"


Haifa menggeleng.


"Izin dulu lah. Walaupun tujuannya cari Aina. Yang namanya istri keluar rumah itu harus izin walau cuma 10 langkah."


"Ya gimana, Haifa telepon berulang-ulang gak sekalipun diangkat."


"Ya chat dong dek. Gimana sih."

__ADS_1


"Gak mungkin dibaca."


"Ya seenggaknya ketika nanti Alvin buka Hp dia bisa lihat. Atau ketika nanti Alvin nanya kenapa gak izin. Kamu punya bukti kalau kamu udah izin."


"Iya ini Haifa chat."


"Kalian ini kenapa sih kalau ribut itu tema nya selalu aja sama tentang komunikasi yang gak baik." kata Keanu sambil mulai menjalankan mobilnya.


Satu jam perjalanan dengan ciri khas kemacetan saat jam makan siang. Haifa yang diantar Keanu sudah sampai di kota Cimahi.


"Ini kemana lagi?" tanya Keanu.


"Kayaknya belok kanan deh."


"Kok gak yakin?"


"Haifa baru sekali kesini. Haifa belum terlalu hapal."


"Ini emang mau kemana?"


"Ke rumah uti dan akungnya Aina."


"Hah, kamu yakin datang sendiri tanpa Alvin dek?"


"Gak yakin sebetulnya. Tapi bismillah aja. Soalnya, pernah ada kejadian uti sama akungnya Aina itu minta Aina tinggal sama mereka."


"Kenapa gitu?"


"Gak apa apa. Mungkin uti dan akungnya Aina cuma rindu sama cucunya."


"Bukan karena mereka gak nerima kamu kan?"


"Hah mm enggak kok, mereka baik."


"Abang tahu kamu gak jujur. Tapi Abang juga harus ngerti kalau kamu menutupi tandanya kamu gak mau diikut campuri. Tapi, kalau suatu saat adek butuh tempat cerita, Abang akan selalu ada." kata Keanu sambil mengusap kepala Haifa yang terbalut kerudung.


"Makasih Abang. Abang paling baik yang selalu bisa jagain Haifa dan teteh-teteh."


"Harus dong. Selama Abang bisa."


"Bang, itu tuh. di masuk ke gang itu." tunjuk Haifa.


"Oh oke."


Berulang kali Haifa memencet bel di rumah bercat putih berlantai dua tersebut.


"Kok gak ada ya bang."


"Lagi gak di rumah mungkin."


"Terus kalau Aina gak di sini Aina dimana dong." kata Haifa dengan suara yang bergetar. Serius Haifa sangat berharap Aina ada di rumah ini.


"Janga nangis. Udah ayo kita masuk mobil lagi. Kamu coba telepon Alvin lagi, tanya dia udah cari kemana aja. Nanti kita cari ke tempat yang belum Alvin cari."


...----------------...


To be continued...


See you next part...


Note : Alvin punya sopir kok. Tapi Alvin emang terbiasa nyetir sendiri. Udah kebiasaan pas masih bujangan, pas jadi duda biasa sendiri. Jadi meskipun sekarang sudah menjadi seorang atasan. Untuk beberapa hal yang pribadi ia lebih baik sendiri. Semoga tidak jadi masalah lagi ya. Atau mau kita bahas satu part tentang sopir? 🤣

__ADS_1


__ADS_2