
Mereka sudah berada di ruang keluarga, ibu masih menunggu jawaban dari Alvin dan Haifa.
"Silahkan bu." kata Haifa sambil meletakan secangkir minuman di hadapan ibu.
"Terimakasih." jawab ibu.
Haifa mengangguk dan langsung duduk disamping Alvin.
"Jadi gimana? Aina dimana?" tanya ibu.
Alvin dan Haifa saling pandang.
"Ibu tanya, Aina dimana?"
Alvin menarik napas.
"Jadi gini bu. Beberapa waktu lalu itu, Novia datang terus dia...."
"Kalian serahin Aina ke Novia? Iya gitu Alvin kamu dengan mudah kasih Aina ke Novia?" kata Ibu dengan nada yang meninggi.
"Bukan begitu, ibu dengar Alvin dulu."
"Novia lagi hamil tua. Dia juga sekarang pindah ke Swedia. Jadi katanya Novia mau saat dia melahirkan ada Aina di sampingnya. Dia juga mau kalau Aina itu bener bener merasakan punya adik bukan hanya sekedar tau kalau dia punya adik. Karena sekarang Novia di Swedia dan punya baby. Jadi dia entah akan berapa tahun sekali pulang ke sini mangkanya dia pengen deket sama Aina."
"Awalnya Alvin sama Haifa juga berat. Alvin juga awalnya gak mau Aina dibawa Novia. Tapi Alvin gak bisa egois, Novia berhak atas Aina dan Aina juga berhak atas mamanya. Iya walaupun sekarang Aina udah dapat sosok ibu. Tapi Alvin tetep gak mau Aina lupa sama mamanya. Kalau Aina sampe gak mau sama Novia nanti yang ada muncul masalah baru, yaitu kecemburuan Novia sama kedekatan Aina dan Haifa. Kalau udah begitu Alvin rasa malah semakin sulit. Bisa aja nantinya Novia malah nekat buat rebut Aina dari Alvin. Alvin gak mau." Alvin menjeda ucapannya.
"Alvin mau semuanya baik baik aja. Jadi yaudah Alvin kasih izin. Tapi Alvin juga tetep nanya sama Aina, dia mau enggak ikut Novia, dan Novia juga gak maksa kalau memang Ainanya gak mau."
"Semudah itu kamu kasih izin buat Novia bawa Aina? Kamu gak inget waktu kamu perjuangkan dia di pengadilan? Kamu ngurus sendiri. Dan sekarang semudah itu kamu percaya sama mantan istri kamu? Kalau itu semua cuma alasan Novia gimana? Kalau ternyata dia perginya ke tempat yang lain dan gak pernah balikin Aina ke kamu gimana?" tanya ibu dengan nada yang tetap tinggi.
"Alvin gak sebodoh itu bu. Sebelum Alvin kasih izin juga Alvin dan Haifa juga udah bicara serius sama Novia dan suaminya. Setiap hari juga Alvin selalu video call sama Aina. Kalau emang Novia punya niat buruk gak akan lah dia kasih izin Aina buat selalu hubungi Alvin dan Haifa. Karena mereka juga pasti mikir kalau dari nomor telepon saja bisa diusut keberadaan mereka. Udahlah ibu gak usah suudzon. Insya Allah minggu depan juga Alvin sama Haifa bakal pergi ke sana buat jemput Aina." kata Alvin.
Pernyataan Alvin kali ini berhasil membuat Haifa menatap sempurna ke arah Alvin. Bagaimana tidak kaget, Haifa tidak pernah diberitahu sebelumnya. Haifa tetap tak mau banyak berharap ia takut ini hanya alasan Alvin untuk meredam emosi ibu.
"Kamu gak lagi bohong sama ibu kan?"
"Penting Alvin bohong sama ibu"
"Kamu gak cari alasan kan? Dan ini bukan karena kalian udah mau punya anak jadi kalian gak mau lagi nguris Aina kan?" tanya ibu dengan segala perasaan buruk sangkanya.
"Astagfirullah. Bu, seburuk buruknya Alvin, Alvin papanya Aina. Alvin gak pernah punya pikiran seperti itu. Alvin malah gak nyangka ibu bisa berpikir begitu."
Lain Alvin yang masih bisa menjawab ibu, lain dengan Haifa yang sudah menunduk rasanya Haifa sudah ingin pergi dari tempat ini kemudian menangis sepuasnya.
"Ya ibu cuma takut kalian begitu. Kamu gak begitu kan Haifa? Kamu mendukung Alvin buat membiarkan Aina ikut Novia bukan karena kamu gak mau ngurus Aina kan?" tanya ibu pada Haifa.
"Bu, udah ya. Alvin sama Haifa gak pernah punya pikiran seperti itu. Ibu aja yang berpikir terlalu jauh. Justru Haifa yang sekarang paling kehilangan Aina. Dia yang minta ke Alvin buat pergi ke Swedia jemput Aina."
"Ibu jangan berburuk sangka terus dong sama istri Alvin." kata Alvin mencoba untuk tetap meredam emosinya.
"Ibu cuma takut. Bagaimana pun Haifa kan ibu sambung. Apalagi sekarang udah mau punya anak sendiri."
"Sayang kamu ke kamar sekarang!" perintah Alvin.
"Mas." kata Haifa coba menenangkan Alvin.
"Ke kamar sekarang Haifa!" perintah Alvin dengan tegas.
"Kamu kenapa sih Vin?" tanya ibu.
"Haifa ke kamar sekarang!" lagi lagi Alvin memerintah dengan tegas.
Haifa melihat wajah Alvin sudah tidak bersahabat. Tidak ada pilihan selain mengikutinya.
"Permisi bu, Haifa ke kamar dulu. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam."
Alvin memastikan jika Haifa sudah benar benar pergi ke kamar.
"Kamu kenapa sih Vin mendadak marah marah begitu?"
"Harusnya Alvin yang nanya, ibu kenapa sih kok selalu berburuk sangka terus sama istrinya Alvin?"
"Ibu gak berburuk sangka, ibu cuma menyampaikan apa yang ibu takutkan."
"Iya tapi yang ibu takutkan itu gak benar. Dan Alvin jamin yang ibu takutkan itu gak akan pernah terjadi. Haifa itu sayang banget sama Aina bu. Jadi gak mungkin kalau cuma gara gara dia hamil dan mau punya anak dia jadi gak mau ngurusi Aina."
"Manusia itu gak ada yang tau Vin. Jangan terlalu percaya."
"Salah Alvin percaya sama istri Alvin sendiri? Bu, hitungan bulan Alvin berumah tangga sama Haifa. Alvin gak perbah tuh dapat pertanyaan pertanyaan aneh dari mertua Alvin."
__ADS_1
"Maksud kamu apa membandingkan ibu sama mertua kamu? Ibu ini ibu kandung kamu Vin."
"Alvin tau dan alvin sadar sesadar sadarnya. Alvin juga tau kalau surganya Alvin itu pada ibu. Tapi Alvin malu bu, kalau sampai kedua orang tuanya Haifa tau kalau ibu selalu usil sama keluarganya Alvin. Apa kata mereka? Sementara mereka gak pernah sama sekali bertanya tentang urusan rumah tangga kita."
"Harusnya mereka yang punya khawatir lebih tinggi. Haifa perempuan dan Haifa juga anak bungsu. Tapi mereka gak pernah ikut campur bu mereka percaya sama Alvin. Mereka benar benar menyerahkan tanggung jawab atas Haifa kepada Alvin. Padahal mereka juga belum lama kenal Alvin."
"Kalau ibu gak mau Alvin jadi duda lagi. Tolong ibu juga jangan terlalu ikut campur urusan rumah tangga Alvin ya bu. Jangan lagi terus memojokan Haifa. Alvin nikah sama Haifa juga bukan sembunyi sembunyi dari ibu kan? Alvin juga menikahi Haifa dengan restu ibu. Jadi tolong percaya sama Alvin dan Haifa kalau kami bisa mengurusi rumah tangga kami sendiri."
"Alvin minta tolong banget sama ibu. Kondisi Haifa sekarang lagi hamil muda kalau ibu lupa. Emosinya kadang gak stabil. Alvin sengaja suruh dia ke kamar. Karena Alvin gak mau Haifa merasa terpojok dengan ucapan ucapannya ibu yang nantinya bisa buat Haifa stress dan berpengaruh ke kandungannya."
"Kamu kok sampai hati bilang begitu sama ibu Vin? Kesannya ibu itu jahat banget sama keluarga kalian. Padahal ibu kan hanya mau mengingatkan dan kasih nasihat buat kalian. Ibu juga gak akan setega itu, bikin calon cucu ibu kenapa kenapa."
"Iya maafkan Alvin kalau ucapan Alvin tadi terlalu tajam buat ibu. Tapi Alvin minta tolong biar Alvin sama Haifa menata kehidupan kami sendiri ya bu. Alvin tahu sangat tahu kalau ibu begini karena ibu terlalu sayang sama Alvin. Tapi tolong ibu percaya sama Alvin kalau Alvin juga bisa berdiri sendiri. Kalau ibu anggap Haifa belum bisa jadi istri yang baik, maka secara tidak langsung Alvin juga salah karena Alvin belum bisa mendidik dan mengarahkan istri Alvin dengan baik. Karena itukan tugasnya suami untuk mendidik dan mengarahkan istrinya."
"Sekali lagi Alvin minta maaf kalau ibu tersinggung. Tapi tolong percaya kalau Alvin bisa membangun rumah tangga Alvin sendiri, ibu jangan takut karena sebelumnya Alvin pernah gagal. Karena insya Allah Alvin sudah banyak belajar dari kegagalan Alvin."
"Yaudahlah terserah kamu. Ibu mau pulang. Assalamualaikum." pamit ibu sambil berjalan ke arah pintu utama.
"Wa'alaikumsalam."
Setelah mengantar ibu sampai ke depan dan melihat ibu sudah keluar dari rumahnya. Alvin segera ke kamar, ia juga harus melihat keadaan Haifa.
"Sayang..." panggil Alvin saat masuk kedalam kamar.
"Iya?" jawab Haifa yang sedang mengeringkan rambut menggunakan handuk.
Alvin berdiri di belakang Haifa yang sedang duduk menghadap meja rias.
"Sini mas bantu." kata Alvin sambil menggantikan tangan Haifa untuk mengeringkan rambutnya.
"Maafkan ibu yaa." kata Alvin pelan.
Haifa tersenyum sekilas. Lalu memutar tubuhnya menghadap Alvin.
"Udah ya mas jangan dibahas. Haifa udah adem abis mandi. Haifa gak mau jadi kesel lagi. Sekarang mending mas juga mandi ya biar jadinya adem kayak Haifa. Dah sana mandi." kata Haifa sambil mendorong pelan tubuh Alvin.
"Sayang." kata Alvin memastikan.
"Udah mas. Percaya sama Haifa, Haifa gak apa apa. Mandi ya, nanti kalau mas gak mandi Haifa gak mau deket deket karena mas bau."
Alvin tersenyum.
"Yaudah iya mas mandi." kata Alvin sambil beranjak ke kamar mandi.
Pukul 21.30 mereka sudah sama sama berada di atas tempat tidur. Haifa sedang memainkan rambut Alvin yang sedang tidur di pahanya sambil menciumi perut Haifa yang sedikit demi sedikit sudah mulai terlihat menonjol.
"Mas." panggil Haifa sambil tetap memainkan rambut Alvin.
"Hm." jawab Alvin.
"Haifa mau tanya boleh?"
"Tanya aja. Nanti mas jawab."
"Tadi siang..."
"Masalah ibu?" tanya Alvin memotong ucapan Haifa.
Haifa menggeleng.
Alvin menarik nafas lega.
"Jadi apa?" tanya Alvin.
"Mas bilang minggu depan kita bakal ke Swedia buat jemput Aina, itu apa maksudnya? Bukannya kemarin kemarin mas keukeuh gak mau ya?"
"Yah gagal deh kejutannya."
"Hah maksudnya?"
Alvin merubah posisinya menjadi duduk.
"Iya tadinya mas mau kasih kejutan. Karena setelah menikah kita belum pernah honeymoon jadi sekarang anggap aja babymoon. Mas juga udah kosul ke doktet dan dokter juga udah oke. Katanya nanti bakal dikasih vitamin vitamin aja gitu. Tapi ya karena ada kejadian tadi jadi terpaksa mas buka deh. Biar ibu gak makin suudzon." jelas Alvin.
"Mas serius?" tanya Haifa.
"Kita bakal ke Swedia?"
"Iya sayang. Mas juga udah beli tiketnya."
"Alhamdulillah. Makasih ya masku sayang." kata Haifa sambil menatap Alvin dan mengalungkan tangannya di leher Alvin.
__ADS_1
"Makasih aja nih?" tanya Alvin sambil mengedipkan matanya.
"Genit ih."
"Sama istri sendiri ini."
"Awas aja kalau berani sama yang lain."
"Satu aja manisnya gak abis abis."
Haifa tersenyum malu lalu menyembunyikan wajahnya di leher Alvin. Beberapa menit mereka kuat dalam posisi seperti itu.
"Mas." panggil Haifa.
"Iya sayang."
"Mas cape gak?" tanya Haifa.
Alvin sudah mulai peka arahnya akan kemana.
"Enggak kok kenapa?"
"Bener gak cape?"
"Iya enggak. Kenapa mau apa?"
"Jasuke yang ada di depan izinmart kayaknya enak ya mas. Masih ada gak ya?"
"Jam setengah 10. Mas ke sana dulu deh ya. Semoga masih ada."
"Ikut."
"Jangan dong. Udah malam sayang. Anginnya jahat."
"Gak mau Haifa mau ikut. Haifa pengen makan di sana."
"Yaudah. Tapi pake jaket ya."
Haifa mengangguk.
Alvin akan mengeluarkan mobil.
"Jangan pake mobil mas."
"Terus?"
"Pake vespa aja. Asik kayaknya jalan jalan malam pake motor."
"Enggak ya. Ini udah terlalu malam."
"Please mas. Haifa udah pake jaket juga. Lagian ke depan paling juga 15 menit. Kalau pake mobil yang ada susah parkirnya aja."
Alvin pikir betul juga.
"Yaudah iya."
"Gitu dong. Kan seneng Haifa."
15 menit mereka sampai di depan izinmart dan untungnya penjual jasuke itu masih ada dan yang lebih penting lagi yang di jualnya pun masih ada.
"Saya pesen dua ya mas." kata Alvin.
"Iya pak."
"Mas Haifa beli minum dulu ya?" kata Haifa.
"Yaudah sana."
"Minta uangnya Haifa gak bawa dompet."
Alvin memberikan Haifa selembar uang seratus ribu.
Haifa segera memasuki izinmart ia mencari minuman yang ia inginkan.
"Haifa?" panggil seseorang sambil menghampiri Haifa.
Haifa menoleh. Tapi seketika Haifa menjadi gugup.
***
**To be continued...
__ADS_1
See you next part**...