
Weekend ini Alvin tak ada rencana untuk mengajak anak istrinya pergi kemanapun. Alvin rasa menghabiskan waktu di rumah juga tidak buruk. Banyak yang bisa dilakukan asalkan bersama anak dan istrinya. Yeu Alvin bucin! Yee Author ngiri 😂
Pukul 09.00 mereka bertiga masih bergelut di dalam selimut.
"Papa belenang yuk." ajak Aina sambil melihat Alvin.
"Hm." jawab Alvin tapi masih tidak bergerak.
"Papa ayo." ajak Aina sambil menggoyangkan tangan Alvin.
"Papaaaa." rengek Aina.
Alvin masih belum menanggapi.
"Bunda Papa nakal." adu Aina pada Haifa.
"Dibujuk dong yang baik Papanya." ujar Haifa.
Aina mengerucutkan bibirnya. Tapi sedetik kemudian Aina langsung terbangun sepertinya anak kecil itu baru saja mendapat ide.
"Papa ayo belenaaaang." ajak Aina sambil menduduki perut Alvin dan menghentak hentakan tubuhnya.
"Papa ayo belenaaanggg." ucapnya lagi sambil melakukan hal yang sama.
"Aduh sayang sakit dong perut papa." ucap Alvin sambil mengangkat Aina kemudian menggeliti perutnya.
"Aaaa papa geliii haha."
"Papa geliii aaaa." rengek Aina karena sudah tak berdaya digelitiki Alvin.
"Papa udah kegelian itu anaknya." ucap Haifa.
"Bunda mau papa buat geli?" ucap Alvin sambil melepaskan Aina. Aina langsung mendekati Haifa dan memeluknya.
"Bunda tu papa nakal." adunya lagi.
"Haha ngadu lagi."
"Balin wleee." ucapnya sambil memeletkan lidah pada Alvin.
"Yaudah gak akan papa temenin berenangnya ya."
Aina cemberut.
"Aina belenang tama bunda aja wlee."
"Enggak gak boleh. Nanti bunda sakit lagi." larang Alvin. Sebenarnya kejadian Haifa sakit itu sudah hampir sebulan lalu. Hanya saja tadi pagi Haifa mengeluh sedikit pusing dan mual pada Alvin.
Aina semakin cemberut.
"Bunda Aina mau belenang."
"Papa ayo dong." bujuk Haifa.
"Haha yaudah iya yuk kita berenang." akhirnya Alvin mengiyakan lalu bangkit dari tempat tidur.
"Tapi sebelum Aina sama Papa berenang. Kalian sarapan dulu ya. Bunda buatkan dulu." ucap Haifa.
"Aina mau celeal bunda."
"Yaudah bunda siapin. Papa itu anaknya di bantuin ganti bajunya nanti." pesan Haifa sebelum keluar kamar.
Setelah sarapan mereka tidak langsung berenang. Karena kata Haifa biar makanannya turun dulu. Toh mereka bisa berenang kapanpun dan berapa lamapun sesuka mereka.
"Papa ayo." ajak Aina sudah tidak sabar.
"Tanya bunda udah boleh belum?"
"Bunda boleh kan?"
"Iya boleh sayang."
Tak perlu lama Aina langsung menarik tangan Alvin keluar pintu samping yang langsung terhubung ke kolam renang mini berukuran 6 x 2 itu.
Alvin sudah masuk ke air sedangkan Aina masih duduk sambil kakinya menggoyang goyangkan kakinya di air.
"Ayo dong tadi ngajak berenang, sekarang malah gak mau turun." ucap Alvin sambil menarik narik kaki Aina dari air.
"Aaa dingin papa."
"Haha namanya juga di air sayang. Ayo Aina lompat nanti papa tangkap." ucap Alvin sambil merentangkan tangannya.
Aina menurut ia berdiri kemudian bersiap melompat.
Byurr
Aina sudah melompat dan ditangkap oleh Alvin. Aina memang sedikit sedikit sudah bisa berenang.
Anak dan Papa itu asik berenang berdua. Hingga lupa waktu, berenang dengan berbagai macam gaya sesuka mereka. Ada posisi ketika Alvin berenang dari ujung ke ujung dengan Aina nemplok dipunggungnya. Ada juga Alvin mengajari Aina agar semakin jago berenang.
Sudah hampir dzuhur mereka belum selesai juga. Haifa yang sedang membereskan rumah, segera menghampiri mereka dan meminta agar mereka segera berhenti.
"Papa, Aina udahan yuk berenangnya. Udah mau dzuhur." ucap Haifa yang sudah berdiri di samping kolam renang sambil membawa handuk untuk keduanya.
"Nanti bunda." jawab keduanya sangat kompak.
"Ayo dong. Udah mau dzuhur loh ini." bujuk Haifa.
Mereka kompak mengabaikan Haifa.
"Udah dua jam lebih loh berenang terus. Nanti masuk angin. Udahan yuk." bujuk Haifa lagi.
Masih sama saja. Aina dan Alvin asik berenanh saling mengejar.
Haifa menarik nafas panjang. Iya punya satu cara dan ia yakin kali ini akan berhasil.
__ADS_1
"Yaudah kalau gak mau berhenti. Nanti kalau Aina sama papa abis berenang terus lapar, bunda gak mau masakin ya." ucap Haifa sambil melangkah ke dalam rumah. Haifa sudah hafal kebiasaan mereka jika sudah berenang itu pasti lapar terus minta dibuatkan ini itu untuk mengisi perut mereka.
Gertakan Haifa sepertinya berhasil, Alvin dan Aina saling memandang kemudian segera menepi dan hendak berlari mengejar Haifa.
"Stop jangan masuk. Keringkan dulu badannya. Tuh handuknya udah bunda simpen di kursi." ucap Haifa sambil menunjuk kursi disamping kolam.
Alvin dan Aina menurut, mengambil handuk masing masing.
"Mau makan apa?" tanya Haifa pada keduanya saat sedang mengelap tubuh mereka dengan handuk.
"Sup jagung." jawab mereka bersamaan.
"Apalagi?"
"Aina mau ikan doli klicpi."
"Papa?"
"Udah itu aja."
Merasa sudah tidak terlalu basah. Alvin menggendong Aina untuk masuk ke dalam rumah.
"Bun." panggilnya mencari keberadaan Haifa.
"Papa cepet mandi, Aina juga mandi sama papa ya."
Alvin lebih dulu memandikan Aina. Barulah ia mengurus diri sendiri. Tidak butuh waktu lama kedua orang tersebut sudah berada di meja makan.
"Belum mateng bun?" tanya Alvin.
"Sebentar lagi sabar ya." ucap Haifa.
"Lapal bunda." rengek Aina.
"Sebentar ya sayang. Ini tinggal bunda masukin mangkuk." ucap Haifa sambil mematikan kompornya.
Haifa tersenyum bahagia saat melihat suami dan anaknya makan dengan lahap.
"Enak?" tanya Haifa sambil menatap keduanya.
Keduanya hanya mengangguk.
Jika sedang di rumah dan tidak dikejar waktu. Aina memang sudah dibiasakan makan sendiri. Prinsipnya biarpun makannya harus lama dan berantakan yang penting prosesnya dan Aina belajar.
Ditengah kehangatan mereka di meja makan terdengar suara bel dari luar. Haifa langsung berjalan untuk membukakan pintu gerbang.
"Assalamualaikum." ucap tamu tersebut.
"Wa'alaikumussalam. Ibu, masuk bu." ucap Haifa setelah mencium tangan ibu mertuanya.
"Alvin sama Aina di rumah kan?"
"Iya bu ada kok. Lagi makan, mereka abis berenang."
Ibu hanya mengangguk.
"Bun mau lagi." ucap Alvin sambil menyodorkan mangkuknya yang sudah kosong agar diambilkan lagi.
"Eh ada ibu." ucap Alvin yang baru menyadari kedatangan ibunya.
Alvin langsung menyalami ibu dan menyerahkan mangkuknya pada Haifa. Begitupun dengan Aina ia menghentikan sejenak acara makannya untuk menyalami sang nenek.
"Nenek mau makan? Enak." ucap Aina.
Ibu sudah duduk disamping Aina. Alvin dan Aina kembali menikmati makanannya.
"Ibu mau makan sekalian bu?" tawar Haifa.
"Enggak. Ibu udah makan. Ini ibu juga bawa rendang kesukaannya Alvin. Haifa belum bisa kan masak yang begini?"
Haifa mengangguk sambil tersenyum. Sedangkan Alvin ia menghentikan makannya. Tak menyangka ibunya akan berbicara begitu.
"Makasih banyak ya bu. Jadi ngerepotin ibu." ucap haifa sambil mengambil rengang dari tangan ibu. Kemudian menyiapkannya di meja makan.
Jujur saja Haifa memang belum bisa memasak masakan yang banyak mengandung bumbu. Haifa bisa memasak tapi batu sebatas masakan masakan rumahan yang simple.
"Haifa hari ini masak apa?" tanya ibu.
"Haifa buat sup jagung sama ikan dori krispi bu." jawab Haifa.
"Cuma itu?"
"Iya bu."
"Ini Alvin sama Aina yang minta kok bu." jawab Alvin.
"Enak. Nenek mau?" tanya Aina.
Ibu menggeleng sambil mengusap rambut Aina.
"Ini kalian baru makan dari pagi?"
"Iya bu. Tapi mas Alvin sama Aina tadi udah sempet sarapan kok sebelum berenang walaupun bukan makan nasi." jawab Haifa dengan Hati hati.
"Ibu sama siapa kesini?" tanya Alvin merubah topik obrolan.
"Sama sopir. Bosen ibu di rumah Ayah lagi gak ada. Vina sama Adam lagi ke rumah keluarganya Adam. Kalian libur bukannya main ke rumah ibu."
"Kan minggu kemarin kita udah kumpul di rumah ibu rame rame."
"Bun, abis." ucap Aina.
"Alhamdulillah. Cuci tangan yuk." ajak Haifa pada Aina.
Alvin membantu Aina turun dari kursi karena kursi makannya yang cukup tinggi.
__ADS_1
"Haifa permisi dulu bu."
"Kamu itu main ke rumah orangtua aja itung itungan." ucap ibu pada Alvin setelah Haifa tidak terlihat di meja makan.
"Bukan begitu bu. Tapi ibu harus ngerti sekarang Alvin udah punya keluarga kecil. Begitu juga abang dan Vina. Jadi gak salahkan kalau kita juga perlu waktu buat sama keluarga kecil kita." kata Alvin mencoba memberi pengertian.
Selesai makan sekarang mereka shalat dzuhur berjama'ah kemudian berkumpul di ruang keluarga.
"Ayah lagi kemana emang bu?"
"Ayah kamu itu biar udah gak fokus di kantor tetep aja banyak kegiatannya."
"Ibu kayak gak kenal ayah." jawab Alvin.
"Kalian kapan mau kasih ibu cucu?" tanya ibu tiba tiba.
Alvin dan Haifa sama sama diam.
"Secepatnya." jawab Alvin dengan tenang. Alvin tampak tenang, lain dengan Haifa yang sudah tegang.
"Ibu waktu Alvin bilang kamu sakit itu karena hamil. Eh ternyata cuma sakit." jawab ibu.
"Pernikahan kita juga baru 4 bulan bu. Tenanglah, Alvin juga belum tua masih kuat. Tenang aja." jawab Alvin tidak ingin membuat Haifa terpojok.
"Tapi kalian gak nunda kan? Haifa gak pengen nunda kan?" tanya ibu.
"Eh enggak kok bu. Enggak nunda. Kita mah mengalir aja." jawab Haifa.
"Ibu pertanyaannya aneh aneh aja." ucap Alvin.
"Ya bukan begitu. Haifa masih muda siapa tau mau nunda gara gara masih harus ngurusin Aina."
"Enggak kok bu. Haifa malah gak ada kepikiran kesitu."
"Ya kalau gitu kalian usaha dong."
"Emang harus setiap kali Alvin mau usaha Alvi harus laporan sama ibu? Haha itu privasi Alvin dan Haifa lah."
"Mas ih."
"Bukan itu maksud ibu. Maksud ibu ya kalian coba cek ke dokter atau program. Biar tau kan, kalau Alvin sih ibu rasa gak ada masalah buktinya udah ada Aina." ibu berbicara semudah itu tanpa melihat Haifa.
"Astagfirullah. Bu, harus ibu tahu nih ya. Sebelum Ibu suruh juga itu udah kami lakukan. Dan dokter bilang alhamdulillah kami baik baik aja. Cuma perlu sabar nunggu waktu nunggu Allah kasih."
"Ya bagus kalau begitu."
Obrolannya tampaknya seperti obrolan santai. Tapi topiknya sungguh tidak santai bagi Haifa.
Kalau mau suudzon sepertinya niat ibu datang ke rumah mereka secara tiba tiba itu bukan karena rindu anak cucunya. Melainkan hanya ingin tahu bagaimana rumah tangga anaknya.
"Bunda, bobo." rengek Aina.
Akhirnya Haifa punya kesempatan untuk menghindari ibu mertuanya. Biarlah Haifa dikatakan menantu yang memiliki sikap baperan saat ini. Lagian siapa yang kuat jika sejak tadi obrolannya selalu memojokan Haifa.
"Yaudah bunda temenin Aina bobo ya. Aina pamit dulu sama nenek."
"Nenek Aina mau bobo dulu ya. Attalamu'alaikum." ucap Aina kemudian mencium tangan neneknya.
"Wa'alaikumussalam." ucap ibu sambil mencium kening dan pipi Aina.
"Haifa ke atas dulu bu." pamit Haifa.
Ibu hanya mengangguk.
"Ibu ini kenapa sih? Sebelum Alvin menikah sama Haifa ibu oke oke aja. Ibu juga bilangnya setuju. Kenpa sekarang ibu jadi seakan akan gak suka sama istri Alvin sih?"
"Ibu bukan gak suka. Ibu cuma mau tau dia bisa enggak jadi istri yang baik buat anak cucu ibu. Kalau ibu rasa belum bisa kan ibu bisa kasih tau ibu ngajarin." ucap ibu.
"Tadi aja kan udah siang dia baru masak. Dia biasa bangun siang ya?"
"Enggak. Biasanya weekend pagi itu kami jalan pagi terus ngajak main Aina di taman biar Aina bisa bergaul sama orang lain. Setiap hari juga Haifa masak kok. Cuma tadi memang kita gak jalan pagi karena mendung. Kita malah tidur tiduran bertiga sampe siang."
"Ya harusnya jangan gitu dong dia ibu rumah tangga. Harusnya bangun pagi, masak, beberes."
"Haifa itu ibu rumah tangga kan bu? Bukan asisten rumah tangga?"
"Jadi ya gak masalah dong, Alvin juga gak mempermasalahkan."
"Tolong lah bu. Jangan mojokin Haifa. Ibu tau gak. Setelah menikah sama Alvin banyak yang harus Haifa korbankan. Jauh dari orangtua, harus bisa cepat beradaptasi sama Alvin dan Aina, ngorbanin masa mudanya, dan sekarang harus menghadapi ibu."
"Maksud kamu?"
"Iya ibu, mertuanya yang sikapnya kadang berubah ubah."
"Ibu begini juga karena sayang sama anak anak ibu."
"Gak ada yang bilang ibu gak sayang sama anak anaknya. Tapi ketika kami sudah menikah tanggungjawab kami beda apalagi laki laki. Ibu juga gak bisa menunjukan kasih sayang ibu seperti pas kami masih sendiri."
"Kalau ibu sayang harusnya ibu bisa menghargai kami dan keluarga kecil kami."
"Kamu itu jangan terlalu manut sama istri Vin. Istri yang harus manut sama kamu." ucap ibu.
"Alvin manut sama istri kalau emang dia bener. Karena Alvin juga tau gak semua yang Alvin lakukan itu bener."
"Heuh susah ngomong sama kamu ngelawan terus. Udah ibu pulang ah. Assalamualaikum." ucap Ibu sambil mengulurkan tangannya pada Alvin.
"Wa'alaikumussalam. Hati hati bu." ucap Alvin sambil mengantar ibu sampai gerbang.
Melihat ibunya sudah pulang. Alvin cukup lega. Untung saja Haifa tidak mendengar. Alvin heran ibunya itu selalu saja usil dengan keluarga anak anaknya.
Saat Alvin akan pergi menyusul Haifa dan Aina ke kamar. Alvin melihat Haifa berdiri di dekat tangga. Haifa tampak mengusap pipinya kemudian kembali naik kelantai dua.
Alvin dibuat bertanya tanya, sejak kapan Haifa berada di sana?
***
__ADS_1
**To be continued...
See you next part**...