Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 92


__ADS_3

Happy Reading...


"Mas hari ini Bunda izin mau ke rumah Umi boleh ya?"


"Boleh. Jam berapa?" tanya Alvin.


"Siangan kayaknya jam 10 atau 11."


"Tapi Papa enggak bisa nganter."


"Enggak apa apa. Nanti bisa sama sopir."


"Bunda mau mana?" tanya Aina.


"Bunda mau ke rumah Umi."


"Kakak mau ikut ke lumah Umi," kata Aina yang sedang menghabiskan sarapannya.


"Kakak kan harus sekolah," kata Alvin.


"Enggak. Kakak mau main lumah Umi aja."


"Sekolah dulu ya," bujuk Haifa.


"Enggak."


"Kakak sekolah dulu. Nanti pulang sekolah baru Papa antar ke rumah Umi," kata Alvin.


"Iya kakak sekolah dulu ya. Abang Arsyad sama Abang Dikta nya juga kan sama sekolah dulu," kata Haifa.


"Kan ada dede Ditta sama dede Alika," kata Aina.


"Iya nanti mainnya sepulang sekolah. Bunda lama kok di rumah Umi," kata Haifa.


"Bobo di lumah Umi?"


"Enggak. Nanti sore kalau Papa pulang kita juga pulang."


"Mau sampe malam juga boleh kalau kakaknya sekolah dulu," kata Alvin.


"Kakak enggak mau sekolah capek, mau main lumah Umi sama dede Ditta sama dede Alika. Plis Papa. Plis Bunda. Kakak mau main lumah Umi aja. Plis."


"Kakak sekolah dulu ya. Sebentar lagi juga kan Kakak sekolahnya libur," kata Alvin mencoba membujuk Aina.


"Gini deh, nanti bunda ke rumah Uminya bareng bareng Kakak. Kakak sekolah dulu. Nanti Bunda jemput Kakak. Kita bareng-bareng ke rumah Umi ya," kata Haifa.


"Baleng-baleng?"


"Iya bareng-bareng."


"Bunda jangan tinggal kakak. Gak boleh."


"Enggak dong nanti Bunda jemput Kakak di sekolah."


"Papa ikut lumah Umi?"


"Enggak, nanti Papa jemput Kakak, Adek sama Bunda pulang aja."


"Huh Papa enggak selu."


"Kan Papa harus kerja sayang."


"Papa kelja telus."


"Kan Papa cari uang buat kita semua."


"Buat jajan Kakak?" tanya Aina.


"Iya."


"Kakak enggak jajan. Tapi Papa jangan kelja kelja telus. Papa main aja sama Kakak."


"Papa kan sekalang enggak seling seling main sama Kakak sama Adek," protes Aina.


Alvin dan Haifa sama sama diam. Aina sudah bisa protes sekarang. Protes pada Papanya yang sering sibuk bekerja.


"Nanti ya. Nanti kan kita mau jalan-jalan. Kakak puas puasin main sama Papa. Iya kan Pa?" kata Haifa sambil mengelus kepala Aina yang terbungkus kerudung.

__ADS_1


"Iya. Nanti kita jalan-jalan. Papa gak kerja. Papa main aja sama Kakak sama Adek."


"Hole jalan jalan. Kakak mau pelginya ke kebun binatang boleh? Kakak mau lihat jelapah, telus mau lihat gajah, mau lihat Kucing besal,"


"Macan sayang," koreksi Haifa.


"Ehehe abisnya milip kucing. Telus belang-belang."


"Kalau yang belang-belang itu harimau kak," koreksi Haifa.


"Kakak kebalik balik telus," katanya sambil cemberut.


"Gak apa apa. Nanti belajar langsung sambil lihat di kebun binatang ya," kata Haifa.


"Iya. Boleh kan Papa jalan-jalan ke kebun binatang?" tanya Aina.


"Iya boleh dong. Tapi sekarang Kakak berangkat sekolah dulu yuk. Nanti terlambat."


"Oke Papa."


*


"Bunda jemput Kakak. Main lumah Uminya baleng-baleng," kata Aina setelah berpamitan pada Bundanya.


"Iya sayang."


"Bunda jangan tinggal Kakak. Nanti Kakak cali cali Bunda... Bunda... telus nangis. Gitu."


"Iya Kakak enggak Bunda tinggal. Nanti Bunda jemput Kakak di sekolah."


"Plomise," kata Aina sambil mengangkat jari kelingkingnya.


"Promise," kata Haifa tersenyum lalu mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Aina.


"Hehe. Kakak sekolah dulu ya Bunda. Dadah. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Dadah Papa dadah Kakak," kata Haifa sambil menggoyang goyangkan tangan Aidan.


"Dadah Adek," teriak Aina dari jendela mobil ketika mobil Alvin hendak keluar pagar.


"Papa buka kacanya," kata Aina ketika Alvin sudah menutup kaca mobilnya.


"Tutup aja bahaya," kata Alvin.


"Tapi Kakak mau dibuka. Kakak mau kena angin-angin nanti keludung Kakak telbang-telbang.


"Jangan ah. Nanti tangan Kakak keluar keluar bahaya. Nanti mata Kakak bisa kelilipan juga," kata Alvin.


"Nanti mata Kakak pelih?"


"Iya nanti mata Kakak juga merah."


"Sakit matanya?" tanya Aina.


"Iya."


"Jadi enggak boleh buka buka ini?" kata Aina sambil menunjuk kaca."


"Iya enggak boleh."


"Kakak mau belajal supil supil kayak Papa boleh?"


"Boleh. Tapi nanti kalau Kakak udah besar."


"Sekalang Kakak kan udah besal."


"Masa?"


"Iya."


"Tapi semalam kok bobonya di kamar Papa?"


"Kemalin kan Kakaknya mau bobo sama Bunda. Kata Bunda juga boleh," jawab Aina.


"Iya boleh kok," kata Alvin sambil tangannya terulur mengelus kepala Aina.

__ADS_1


"Papa nanti Kakak mau bobo lumah Umi, boleh?"


"Kakak mau main sama Abang sama Om Ken juga."


Aina itu selalu antusias jika diajak main bersama sepupu sepupunya, baik itu sepupu dari keluarga Alvin maupun sepupu dari keluarga Haifa. Karena ketika main bersama mereka itu yang Aina rasakan pasti selalu ada saja permainan baru. Selain itu Aina juga nyaman karena meresa dijaga oleh sepupu sepupu laki-lakinya itu.


"Emang Abang-Abangnya Kakak mau bobo di rumah Umi?" tanya Alvin.


Aina menggeleng. " Kakak enggak tahu."


"Yaudah Kakak cari tahu dulu. Nanti kalau udah tahu kasih tahu Papa. Biar Papa pikir-pikir dulu."


"Kalau Abang bobo lumah Umi, Kakak juga bobo lumah Umi ya Pa?"


"Nanti Papa pikir-pikir dulu."


"Papa jangan pikil-pikil. Papa bilang Iya aja gitu."


"Kalau bobo di rumah Umi, berarti Papa bobo sama Bunda ya. Kakak bobo di tenda tendaan aja ya sama Abang."


"Enggak boleh. Kakak bobo sama Bunda. Papa bobo di tenda. Papa kan udah besal. Kakak kan masih kecil."


"Loh, bukannya tadi Kakak bilang kalau Kakak udah besar?"


"Enggak. Kakak masih anak kecil jadi halis bobo sama Bundanya."


"Hahaha bisa aja."


*


Sementara itu di rumahnya, Haifa sudah mulai mencicil packing keperluan untuk keberangkatan mereka lusa.


"Dadada," ucap Aidan sambil menyodorkan mainannya.


"Apa? Adek mau bawa mainan ini?" tanya Haifa sambil menerima mainan kuda yang disodorkan Aidan.


Aidan bertepuk tangan ketika mainan yang ia sodorkan diterima oleh Haifa. Dan bocah berusia satu tahun itu kembali merangkak cepat menjauhi Haifa.


Aidan itu sudah mulai bisa berjalan, tapi kadang kalau ingin cepat, Aidan lebih memilih merangkak.


Aidan merangkak ke arah box yang terisi penuh mainannya. Dengan sekuat tenaga Aidan mulai mengeluarkan satu persatu mainannya. Saat ini Aidan memang sedang hobi menghambur-hambur mainan, bukan hanya mainan, bahkan ketika melihat lemari pakaian terbuka Aidan akan berusaha berjalan araupun merangkak ke arah lemari lalu menarik narik apapun yang tergapai oleh tangan mungilnya.


"Masyaa Allah Adek aktif banget sih nak. Belum ada lima belas menit Bunda beres-beres mainan Adek. Udah dihambur lagi aja," kata Haifa. Haifa tidak marah karena melihat anaknya aktif begini justru ia bersyukur. Karena tandanya Aidan sehat dan tumbuh dan berkembang dengan baik.


"Aduh aduh Adek kok mukanya begitu?"


"Lagi ngeden ya?" tanya Haifa ketika melihat kening Aidan sampai berkerut dan bibirnya sampai monyonh-monyong.


Duttt...


"Adek lagi mau poop ya?"


"Ayo ke kamar mandi yuk. Adek kan udah boleh diajarkan toilet trainning," kata Haifa sambil menggendong Aidan ke kamar mandi.


*


Pukul 11.00 waktu jam rumah Haifa. Haifa sudah bersiap menjemput Aina.


"Bude, Haifa mau jemput Aina. Abis itu langsung ke rumah Mama. Haifa belum tahu bakal pulang jam berapa. Kalau sore Haifa belum pulang. Bude pulang aja enggak apa apa. Kasian nanti kalau kemalaman suami Bude nunggu di rumah."


"Haifa pergi dulu ya Bude. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya Mbak Haifa sama Adek."


"Iya Bude. Adek salam dulu sama Bude."


"Dadada," kata Aidan sambil melambaikan tangan.


"Dadah anak ganteng."


...****************...


To be continued...


See you next part...


*Aina datang lagi nih. Kaget enggak next cepat? Aina lagi aemangat cerita nih kakak kakak.

__ADS_1


__ADS_2