Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 67


__ADS_3

Happy Reading...


Hari ketiga Alvin berada di luar kota. Seharusnya hari ini hari terakhir Alvin berada di luar kota. Tapi sayangnya kemarin Alvin mengabari jika pekerjaannya molor karena satu dan lain hal, hasilnya Alvin dan yang lainnya harus rela menghabiskan waktu lebih lama untuk jauh dari keluarga.


Haifa sebetulnya keberatan. Tapi ia juga harus bisa mengerti. Walaupun berarti Haifa juga harus rela menemani anak-anak yang mendadak jadi sering rewel semenjak jauh dari Alvin.


Hari ini Alvin mendadak susah dihubungi, padahal biasanya Alvin selalu fast respon jika Haifa menghubungi. Tapi sekarang tidak, sajak pagi sampai saat ini pukul 20.00 belum ada satupun chat Haifa yang Alvin balas. Jangankan di balas, centang biru saja tidak.


"Ya Allah nak, papa kalian kemana sih?" kata Haifa sambil mengusap kepala kedua anaknya bergantian.


"Alvin masih susah dihubungi?" tanya Keanu.


Haifa mengangguk.


"Abang ipar adek tadi, pas adek konsul kondisi anak anak bilangnya gimana?" tanya Keanu lagi.


"Kalau sore demamnya belum turun juga langsung bawa ke rumah sakit."


"Ya terus kenapa masih di rumah. Ayo bawa aja ke rumah sakit. Abang gak tega jiga lihat kamu repot urus dua anak yang rewel karena demam dan karena jauh dari papanya."


"Tapi Haifa yakin ini tuh mereka demam gini cuma karena kangen aja sama papanya. Mereka, terutama Aidan belum pernah jauh berhari-hari sama papanya."


"Ya terus mau apa? Mau gimana? Sekarang aja Alvin gak bisa dihubungi kan? Mau nunggu apa? Nunggu anak anak kamu demamnya makin tinggi? Mau nunggu sampai kejang?"


Haifa menangis. Haifa panik, Haifa cemas. Tapi ia mencoba menyembunyikannya. Karena Haifa rasa jika menguris dua anak yang rewel karena sakit dengan keadaan panik. Maka yasudah bakal berantakan semuanya.


Keanu memeluk Haifa.


"Udah gak usah nangis. Abang tahu kamu juga khawatir sama Alvin yang dari pagi gak ada kabarnya. Tapi sekarang anak-anak lebih butuh kamu dek."


"Jangan nangis, kamu siap-siap barang seperlunya dulu. Biar abang yang jaga anak-anak. Sekarang kita bawa mereka ke rumah sakit dulu biar dapat penanganan." kata Keanu.


Haifa mengangguk.


"Bunda sakit." kata Aina saat dalam perjalanan ke rumah sakit sambil memegang kepalanya.


"Sabar ya sayang. Nanti kita tanya ke dokter kenapa kepala kakak sakit."


"Namau. Nanti suntik gitu sakit namau." katanya sambil merengek.


"Kakak mau sembuh gak?" tanya Keanu.


Aina mengangguk lemas.


"Yaudah kalau begitu sekarang kakak ikuti aja dulu apa kata bunda ya?" kata Keanu.


"Namau suntik, sakit tau." rengeknya.


"Kita periksa dulu sayang, gak langsung disuntik." kata Haifa.


"Mau sama papa." kata Aina.


"Bunda tepon papa." kata Aina lagi.


Haifa tidak banyak bicara ia langsung mencoba menghubungi Alvin. Lagi-lagi usahanya tidak berhasil. Penggilannya tidak berdering. Tapi tidak diangkat oleh Alvin. Aina jadi menangis ketika Alvin tidak mengangkat panggilannya. Belum lagi Aidan yang ikut menangis karena Aina menangis. Saat ini Haifa menjadi kesal dan marah kepada sosok papa yang bernama Muhammad Alvin Firmansyah ini.


Tidak lama mereka sampai di IGD. Situasi IGD yang tidak begitu ramai membuat Aina dan Aidan tidak lama menunggu untuk mendapatkan pelayanan.


"Sudah berapa hari bu demamnya?" tanya perawat.


"Mulai kemarin malam dok. Tapi sejak tadi pagi sampai sekarang dua duanya demamnya gak turun sus." kata Haifa.


"Saya cek ya bu."


Haifa mengangguk.


"Si kakak demamnya 38.8°C. Si adeknya 38.9°C. Ada keluhan lain gak bu?"


"Kalau kakaknya ada mual muntah terus gak nafsu makan dok. Kalau adeknya jadi gak mau minum makan sama sekali....." Haifa menjelaskan detail keluhan yang dialami kedua anaknya. Setelah mendengar cerita Haifa, suster permisi dari bilik yang ditempati Haifa. Suster nampak berdiskusi dengan dokter. Hingga tidak lama dokter dan suster yang tadi menghampiri Haifa kembali, dengan keputusan jika kedua anaknya harus dirawat inap.


Haifa tahu jika membawa kedua anaknya ke IGD maka resikonya memang harus rawat inap. Tapi tetap saja rasanya Haifa ikut sakit ketika mendengar kedua anaknya sakit. Dua loh ini bukan hanya satu, gimana Haifa gak kaget.


Keanu berusaha menenangkan Haifa. Setelah cukup tenang, Keanu meninggalkan Haifa dan pergi ke bagian administrasi, agar kedua keponakannya bisa cepat dilayani dan pindah ke ruangan rawat inap. Sementara Keanu mengurus Adm, Haifa kembali menhubungi Alvin. Kali ini saja ia benar-benar berharap Alvin mengangkat panggilannya. Sekali, dua kali, hingga panggilan ketiga tidak ada juga jawaban.


"Oke mas! Haifa bisa kok urus anak-anak sendiri!" kata Haifa sambil mencengkram erat handphone miliknya. Haifa tidak lagi merasa panik dengan keadaan Alvin yang tidak ada kabar. Yang ada diotaknya saat ini adalah kesal dan marah terhadap Alvin tidak peduli apa nanti alasan Alvin.


Satu jam di IGD akhirnya kedua anaknya pindah juga ke ruangan perawatan. Lagi-lagi Haifa dibuat stress dengan ruangan kamar Aina dan Aidan yang terpisah.


"Sus gak bisa ya ruangannya disatukan saja? Keduanya anak saya. Saya repot kalau kamarnya terpisah begini." kata Haifa bernegosiasi dengan perawat di ruangan perawatan anak.


"Gak bisa bu."


"Gini deh sus. Kami gak masalah kalau harus bayar dua ruangan karena pasiennya dua. Tapi saya minta tolong banget keponakan saya ini bisa sekamar. Kami susah jaganya sus. Karena keduanya sama-sama gak mau pisah sama bundanya kalau lagi rewel." kata Keanu.


Para suster sepertinya mulai mempertimbangkan. Karena alasan Keanu memang tidak dibuat-buat dan sangat masuk akal. Hingga sebuah keputusan menguntungkan Haifa. Kedua anaknya bisa di satu ruangankan dengan syarat dan ketentuan tentunya.


"Bang makasih ya udah bantu Haifa."


"Makasih segala sih dek."


Haifa hanya tersenyum.


"Alvin gimana udah bisa dihubungi?" tanya Keanu. Wajah Haifa yang semula tersenyum menjadi berubah.

__ADS_1


"Gak usah dibahas deh. Terserahlah dia mau pulang atau enggak." kata Haifa.


Keanu tidak membahas lagi.


"Anak-anak udah tidur karena abis dikasih obat. Kamu juga mendingan istirahat, biar gak ikut tumbang juga. Abang keluar dulu." kata Keanu.


"Kemana?"


"Abang mau beli air mineral sama cari buah atau apa gitu cemilan."


Keanu keluar ruangan, sebelum pergi mencari air mineral dan camilan. Ia lebih dulu mencoba menghubungi Alvin. Tapi hasilnya sama seperti Haifa. Tidak patah arah, Keanu mencoba menghubungi karyawan Alvin yang ia kenal dan kebetulan ikut kerja luar kota bersama Alvin. Tanpa basa basi Keanu meminta tolong pada orang itu untuk memberitahu pada Alvin jika kedua anaknya sakit dan dirawat.


***


Di pulau jawa sebelah timur, seorang pria sedang sibuk dengan handphonenya. Tidak salah lagi pria itu seorang papa bernama Muhammad Alvin Firmansyah. Saat ini ia nampak kacau, setelah mendapatkan kabar jika kedua anaknya sakit.


Setelah mendengar kabar kedua anaknya sakit, Alvin langsung per gi ke bandara mencari jadwal penerbangan ke kotanya. Tapi sayang sudah malam seperti ini tidak adalagi penerbangan menuju kota Bandung. Terpaksa Alvin harus sabar menunggu sampai besok pagi. Karena kalaupun Alvin nekat pulang sendiri malam ini menggunakan jalur darat. Waktu yang dibutuhkan jauh lebih lama.


Tapi saat ini Alvin justru dibuat khawatir berlebihan karena Haifa tidak dapat dihubungi dan Keanu hanya sekali mengangkat telepon Alvin dan mengkonfirmasi jika kedua anaknya memang betul dirawat di rumah sakit A.


"Ya Allah bunda, kamu kemana sih? Susah banget dihubungi."


"Yang ayo dong angkat."


"Argh.." kata Alvin berbicara dan marah-marah sendiri.


***


"Itu handphone kamu berisik dek, angkat dulu aja." kata Keanu.


"Berisik ya. Maaf deh nanti adek matikan aja."


"Dek itu Alvin loh yang telepon."


"Terus kenapa?"


"Angkatlah, tadi kamu khawatirkan waktu dia gak ada kaba?"


"Sekarang sih bodo amat terserah dia aja lah bang."


"Gak boleh begitu. Alvin pasti khawatir kalau kamu gak bisa dihubungi begini."


"Terus apa kabar Haifa? Haifa pagi siang sore terus-terusan hubungi dia. Tapi gak satupun yang dia angkat. Padahal anak-anaknya lagi pada rewel nyari bapaknya. Jadi, yaudah biar aja. Dia juga paling belum tahu anak-anak sakit."


"Alvin tahu dek."


"Abang kasih tahu?"


"Iya, tadi abang hubungi karyawan Alvin yang abang kenal."


"Sekarang dia udah tahu. Tapi mana coba gak ada usaha buat cepat pulangkan?"


"Gimana mau tahu, kalau telepon Alvin aja daritadi gak ada yang kamu respon."


"Bunda hiks... hiks..." rengek Aina sambil menangis, ia baru saja bangun tidur.


"Iya sayang bunda di sini." kata Haifa sambil mengelus kepala Aina.


"Masih sakit kepalanya?" tanya Haifa.


Aina mengangguk.


"Ni sakit." katanya sambil menunjuk tangan kirinya yang diinfus.


"Sini bunda usap ya biar gak sakit lagi."


"Kakak makan ya? Mau apa?" tanya Haifa.


"Namau." jawabnya pelan.


"Makan buah ya, tadi om Ken beli buah naga buat kakak."


Aina menggeleng.


Kalau sudah begini, Haifa rasa lebih baik dia sendiri yang sakit. Bukan cuma Haifa semua ibu pasti merasa lebih baik dirinya yang sakit daripada melihat anaknya sakit. Right? Apalagi kalau anak yang sakit masih masih kecil, masih bayi, karena meraka belum bisa menjelaskan mana yang sakit, apa yang terasa, cuma bisa nangis. Sebagai ibu kan Haifa bingung harus bagaimana.


***


Pukul 10 lebih sedikit Alvin baru sampai di rumah sakit. Ia langsung menuju ke ruangan rawat anaknya. Karena memang sudah diberitahu ruangannya oleh Keanu. Sampai sekarang sama sekali belum ada komunikasi dengan Haifa.


"Assalamualaikum." ucap Alvin saat memasuki ruangan. Di dalam ruangan ada Haifa yang sedang menyusui Aidan. Dan Aina yang sedang berbaring didampingi ibu. Iya memang Haifa sudah memberitahu keluarga. Untung saja saat ini ibu sudah tidak banyak komentar.


"Wa'alaikumsalam." jawab mereka.


Alvin menghampiri Haifa. Haifa mencium tangan Alvin dan Alvin mencium kening Haifa dan Aidan bergantian. Haifa tidak bisa menghindar karena ada ibu di sana.


"Ibu sejak kapan di sini?" tanya Alvin setelah mencium tangan ibu.


"Tadi pagi. Kamu kenapa baru pulang? Kenapa gak dari semalam? Gimana sih kamu ini. Istri kamu repot ngurus dua anak yang sakit dan rewel." semprot ibu pada Alvin.


Alvin melihat kearah Haifa. Tapi yang menjadi objek penglihatan Alvin malah terkesan bodo amat dan tidak peduli.


"Sepenting-pentingnya pekerjaan. Tapi ya kalau dengar anak sakit cepat pulang bisa kan?"

__ADS_1


"Alvin bukan gak mau cepat pulang bu. Tapi Alvin baru tahu anak-anak sakit pas malam. Itu juga Alvin langsung ke bandara, ngecek barangkali masih ada penerbangan ke Bandung. Tapi udah gak ada dan baru ada lagi pagi. Kalau Alvin pake mobil atau kereta itu bakal lebih lama." kata Alvin.


"Yaudah mau gimana, yang penting sekarang kamu udah ada di sini." kata ibu.


"Oh iya Haifa, mama kamu udah dimana?"


"Tadi katanya udah di jalan bu 15 menitan lagi kalau gak macet. Ibu kalau mau pulang gak apa apa kok. Tadi katanya ada kondangan sama ayah."


"Iya. Gak apa ya ibu tinggal. Udah ada Alvin juga." kata Ibu.


"Iya bu."


"Yaudah ibu pamit ya. Aina nenek pulang dulu ya. Cucu nenek yang cantik cepat sembuh ya."


Aina hanya mengangguk.


"Haifa, kalau anak anak rewel lagi, biar aja sama Alvin aja."


"Iya bu. Ibu hati-hati ya."


"Iya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Sepeninggalan ibu kamar rawat Aina menjadi sepi. Aina juga tampak masih lemas dan tidak bersemangat.


"Anak papa cepat sembuh ya. Maaf ya papa cepat pulang." kata Alvin sambil duduk di atas tempat tidur yang sama dengan Aina.


Haifa yang selesai menyusui Aidan sampai tertidur, meletakan Aidan di tempat tidurnya yang hanya berada di samping Aina.


"Bunda mau mana?" panggil Aina pelan.


"Bunda ke kamar mandi sebentar ya?"


Aina mengangguk.


Setelah dari kamar mandi, Haifa menghampiri Aina. Meraba kening Aina. Masih terasa panas walau tidak sepanas kemarin kemarin.


"Kakak pake dadah panas lagi ya, kayak dede tuh." kata Haifa.


"Mau ya, kan enak dingin terus ada kenyal-kenyal nya." kata Haifa lagi.


"Mau." jawabnya.


Haifa langsung mengambilkan dadah panas (plaster komplesan).


"Udah deh. Sekarang kakak makan lagi mau?"


"Namau."


"Makan buah?"


Aina menggeleng.


"Makan ya sama papa disuapi mau? Sambil papa gendong." kata Alvin ikut membujuk Aina untuk makan. Padahal Alvin sendiri sejak pagi belum makan. Dan Haifa sama sekali tidak bertanya pada Alvin.


"Mau susu aja." jawab Aina.


"Boleh bu?" tanya Alvin pada Haifa.


Haifa hanya mengangguk. Sambil menuangkan susu ke dalam botol untuk Aina.


Minum susu sambil digendong oleh papa Alvin yang terhitung empat hari tidak bertemu, sepertinya membuat Aina nyaman bahkan sudah tertidur sebelum susunya habis.


Dirasa sudah cukup nyenyak Aina tidur dengan sangat pelan Alvin meletakan Aina di tempat tidur.


Setelahnya Alvin menghampiri Haifa yang duduk di sofa bed.


"Yang..." panggil Alvin.


Haifa diam saja sambil mengoperasikan handphonenya.


"Yang..." panggil Alvin lagi.


"Sayang..."


"Bun..."


"Bundaaa..."


"Haifa..."


Haifa tidak menanggapi. Alvin yang mulai geram langsung merebut handphone milik Haifa dan memasukannya ke dalam saku celana.


"Apa sih. Sini Hp aku." kata Haifa.


Alvin diam 'Aku' tidak biasanya Haifa memanggil diri sendiri dengan sebutan aku.


"Kamu kenapa?" tanya Alvin.


***


To be continued...

__ADS_1


See you next part...


__ADS_2