Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 56


__ADS_3

Happy Reading...


Kondisi rumah sudah sangat ramai. Bayangkan saja anak nenek itu ada 3 masing masing sudah berkeluarga. Ditambah lagi ada cucu cucu yang sudah berkeluarga. Ada juga cicit cicitnya. Jadi terbayang kan betapa ramainya.


Bahkan saking ramai dan banyak teman Aina yang sejak berangkat selalu rewel. Sekarang seperti sudah kembali ke mode normal karena banyak teman bermain.


Untungnya rumah nenek yang memiliki model bangunan yang tradisional sangat luas. Jadi tidak membuat sesak. Walaupun tetap saja tidak leluasa.


Aidan yang menjadi cicit paling kecil untuk saat ini pun menjadi perhatian. Belum ada dua jam di rumah ini. Tapi Aidan sudah berkali kali pindah tangan. Haifa hanya bisa pasrah jika nanti malam Aidan akan rewel karena pegal pegal. Karena melarangpun rasanya tidak tega. Sebab ada beberapa sodara memang yang belum sama sekali melihat Aidan.


"De, pegal pegal loh nanti anak kamu di oper oper terus begitu." kata Hanni berbisik mengingatkan Haifa.


"Iya gimana ya. Mau diambil gak enak. Aidannya juga gak nangis. Kalau nangis mah kan Haifa punya alasan." jawab Haifa.


"Mending ambil aja dek. Bilang mau disusui. Kalau nanti malam dia sampe pegal pegal dan rewel emang kamu gak akan capek nanganinya? Belum lagi besok kita ada acara loh."


Benar juga. Dengan Alasan mau disusui akhirnya Haifa berhasil mengambil Aidan dari sepupunya.


"Yah padahal baru sebentar main sama bayi ganteng ini." kata salah satu sepupu Haifa.


"Hehe nanti lagi ya ateu dede gantengnya mau minum susu dulu." kata Haifa.


"Ma, adek mau nyusui Aidan. Ada kamar gak yang kosong?" kata Haifa berbicara pelan pada sang mama.


"Emang gak bawa celemek buat nyusui?" tanya mama.


"Ada tapi di mobil."


"Mau ke rumah aja sekarang?" tanya mama.


"Kenapa neng?" tanya bibi Aisa adiknya mama Haifa.


"Nyari kamar kosong dia Is. Mau nyusui." jawab mama.


"Yaudah itu pake aja dulu kamar bibi." katanya.


"Eh gak apa apa bi."


"Atuh neng meuni jiga ka saha wae. (Atuh neng kayak sama siapa aja)." jawab bibi.


"Yaudah atuh bi Haifa pinjam kamrnya sebentar ya.


"Mangga. Dikunci aja biar gak ada yang masuk." kata bibi.


"Siap bi. Nuhun (Siap bi. Terimakasih)." jawab Haifa.


"Adek haus enggak sih? Bunda sampai harus bohong biar adek gak capek dioper oper." kata Haifa saat sedang di kamar bersama Aidan.


***


"Umi bunda mana?" tanya Aina yang baru muncul dari halaman belakang setelah bermain.


"Lagi nyusui adek. Kenapa, sini sama umi." kata Mama.


"Ini anaknya Alvin?" tanya wa Ami kakaknya mama.


"Iya. Aina salam sama mbah udah belum?" tanya Mama.


Belum sempat Aina menjawabnya sudah lebih dulu dipotong oleh wa Ami.


"Jangan panggil mbah lah."


"Terus apa atuh teh. Orang teteh dipanggil sama cucu cucu mbah." kata mama.


"Ya kan ini mah cucunya beda." jawabnya.


"Astagfirullah." ucap mama.


"Aina cari bunda kan? Yuk sama aunty ikut ke bunda." kata Hilya. Sambil segera membawa Aina pergi dari sana.


Tok tok


"Dek... Ini teh Hilya." panggil Hilya.


"Iya teh sebentar." jawab Haifa.


"Nih Aina nyari bundanya." kata Hilya.


"Oh iya."


"Dek, jangan bawa Aina dekat dekat ke wa Ami ya."


"Hm kenapa?"


"Udah jangan. Pokonya. Tau kan wa Ami mah mulutnya."


"Iya teh. Makasih ya teh."


***


Karena merasa sudah sangat lelah. Haifa dan keluarga dari Bandung pamitan untuk ke rumah mereka. Iya memang papa punya rumah di sini. Karena setiap bulan papa dan mama selalu kesini untuk menjenguk nenek.


Ba'da isya semua penghuni rumah ini sudah masuk ke kamar masing masing. Karena terlalu lelah sehabis perjalanan.


"Mas gak tahu loh kalau papa punya rumah di sini." kata Alvin sambil membaringkan badannya di atas tempat tidur.


"Iya emang mas baru pertama kali kesini."


"Yang." panggil Alvin.

__ADS_1


"Hm."


"Kan udah lebaran."


"Terus?"


"Berarti gak puasa."


"Iya terus kenapa?"


"Mumpung suasana baru."


"Suasana baru apa?"


"Tau ah. Malas." jawab Alvin sambil merubah posisinya menjadi membelakangi Haifa.


Yasudahlah ya. Haifa juga tidak mengerti. Hari ini sudah sangat melelahkan apalagi besok ada acara nikahan. Pasti akan melelahkan lagi. Jadi lebih baik sekarang tidur cepat. Sebelum tidur Haifa selalu menyempatkan untuk mencium kening dan membisikan do'a ditelinga anak anaknya. Agar kelak anak anaknya menjadi anak yang shalih dan shalihah. Kebiasaan ini Haifa tiru dari suaminya sendiri yang selalu begitu pada Aina ketika mereka awal awal menikah dahulu.


***


Pukul 04.00 Haifa baru saja terbangun. Lebih siang dari biasanya mungkin karena kelelahan. Haifa juga melihat Alvin sudah rapi dengan baju koko dan sarung. Seperti Alvin tidak tidur lagi setelah menunaikan shalat malam.


"Mas kok gak bangunkan Haifa?"


"Gak tega. Kamu tidur pulas banget." jawab Alvin.


"Cepat mandi Yang. Kita berjamaah subuh di musola." kata Alvin.


"Iya sebentar."


***


"Bun kaos kaki papa mana?" tanya Alvin pada Haifa yang sedang memakaikan Aina baju."


"Itu di koper papa. Semuanya masih di koper."


"Gak ada bun."


"Ada."


"Gak ada. Ini udah dicari."


Haifa hanya mendengus sebal. Alvin selalu saja begitu.


"Ini apa? Cari itu pakai mata bukan pakai mulut papa." kata Haifa.


"Iya maaf. Tadi papa cari gak ketemu. Kaos kakinya aja genit. Giliran dicari cewek cantik langsung nongol."


"Alasan aja. Mana pake acak acak koper segala lagi." kata Haifa.


"Udah jangan ngomel bunda. Udah siap kan. Ayo kita turun terus ke rumah bibi nanti telat kita gak lihat akadnya." kata Alvin.


***


"Yang lapar." kata Alvin yang baru saja selesai membersihkan diri dan menghampiri Haifa yang sedang menidurkan Aina.


"Oh iya mas belum makan lagi ya. Sebentar ya." kata Haifa sambil bangun perlahan agar tidak membangunkan Aina.


"Haifa ke dapur dulu ya. Lihat ada apa." kata Haifa sambil berjalan keluar kamar.


Tidak lama, setelah berpakaian Alvin menyusul Haifa.


"Bikin apa?" tanya Alvin.


"Mas, bahan makanannya sedikit."


"Mie instant sama sawi ada gak?" tanya Alvin.


"Ada."


"Yaudah mie instant aja."


"Ih gak boleh tahu sering sering makan mie instan."


"Kan gak sering Yang. Sesekali aja. Daripada masak nasi lama. Terus gak ada yang makan juga karena yang lain pasti udah makan di sana."


"Iya juga sih."


"Yaudah gak apa apa mie instant aja."


"Beneran mas gak apa apa?"


"Gak apa apa sayang."


"Yaudah Haifa buatkan dulu."


"Telurnya dua dan sawinya yang banyak ya Yang."


"Iya. Udah mas duduk aja tunggu."


Beberapa menit kemudian Alvin sudah menyantap mie instannya dengan lahap.


"Kalau ibu tahu pasti Haifa kena marah deh karena kasih makan mas mie instan."


Uhukk uhukk... tiba tiba Alvin tersedak.


"Hati hati dong Mas."


"Ya kamu. Lagi pula sebelum menikah sama kamu mas sering makan mie instant. Setiap lapar malam malam pasti larinya ke mie instant."

__ADS_1


"Ya tapi kan itu mas masih sendiri. Kalau sekarang udah ada istri pasti nanti dibilangnya istrinya malas ya, gak bisa masak ya."


"Emang siapa yang bilang begitu?"


"Ya gak ada. Tapi Haifa mengakui sendiri, Haifa belum terlalu jago masak. Terus jadi ibu rumah tangga juga masih alakadarnya."


"Maafkan ibu ya."


"Kok jadi ke ibu sih. Haifa kan gak bicara tentang ibu."


"Iya. Tapi yang paling suka menilai kamu kan ibu. Dan kamu gak bisa bohong sama mas. Kamu memang selaku bilang Haifa gak apa apa mas. Tapi mas tau kamu sebetulnya gak nyaman kan?"


"Yang, mas itu gak perlu perlu amat istri yang jago masak. Karena mas juga belum punya rencana buat buka restaurant. Kamu yang katanya gak katanya jago masak aja setiap hari selalu masak dengan menu yang berbeda beda enak lagi. Itu aja udah cukup."


"Udah ah makan lagi cepat. Haifa ngantuk pengen cepat tidur."


"Mau?" kata Alvin sambil menyodorkan sesendok ke dekat mulut Haifa.


"Enggak, Haifa gak lapar."


***


Hari ketiga berada di Pangandaran, rencananya hari ini keluarga besar akan mengadakan acara liwetan di rumah nenek. Sejak pagi mereka sudah berkumpul di rumah nenek. Para wanita sedang sibuk memasak di dapur. Para lelaki berada terpisah pisah ada yg mengobrol di ruang tamu ada yang bermain game dan sebagainya.


Sedangkan anak anak sedang bermain di halaman belakang. Melihat lihat hewan hewan peliharaan kakek buyut mereka seperti ikan, kura kura dan beberapa hewan lainnya.


"Akbal Aina mau kasih makan ikannya boleh?" tanya Aina pada Akbar atau anak dari sepupu Haifa.


"Boleh nih." katanya sambil menyerahkan toples tempat makanan ikan pada Aina.


"Yeay telimakasih."


"Dikta mau. Dikta mau." kata Dikta.


"Akbar, mama bawa kerak telor nih." kata Fitri.


"Yeay mana ma. Akbar mau."


Saat Akbar sedang disuapi makan kerak telor oleh mamanya. Tidak sengaja Aina menabrak mereka yang menyebabkan makananya jatuh. Tadi Aina berlari karena ditakut takuti cacing oleh Arsyad.


"Yah jatuh." kata Akbar.


"Heh kalian itu kenapa sih lari lari? Lihat itu makannya jadi jatuh. Gak bisa dimakan lagi." kata Fitri dengan nada yang cukup tinggi.


"Maaf tante." kata Aina, Arsyad dan Dikta bersamaan.


"Kamu juga Aina anak perempuan kok bandel banget. Main lari larian."


"Maaf tante." kata Aina.


"Tante jangan marah sama Aina. Tadi Arsyad dan Dikta yang takut takuti Aina pakai cacing jadi Aina lari."


"Arsyad kamu itu jangan bela dia. Dia kan bukan sepupu kamu."


"Aina itu sodara Dikta sama Abang Arsyad tante."


"Bukan. Kamu masih kecil gak ngerti." jawab Fitri.


"Kenapa sih teh?" tanya Keanu yang awalnya sedang bermain game tidak jauh dari mereka.


"Nih keponakan tiri kamu. Anak perempuan mainnya lari lari. Bandel banget sih. Udah gitu rewelan lagi. Kemarin aja diacara nemplok terus sama Haifa. Dipikir dia anak Haifa kali. Lagian mau mauan Haifa nikah sama duda. Haifa itu masih muda belum pernah punya anak sok sokan nikah sama duda yang udah punya anak. Akhirnya gini kan anaknya jadi bandel gak keurus." cerocos Fitri.


"Ada apa sih bang? Rame banget sampai dapur." kata Haifa. Aina langsung berlari ke arah Haifa dan memeluk kaki Haifa.


"Teteh udah cukup ngomongnya? Atau masih ada yang mau dibicarakan lagi?" kata Keanu.


"Kenapa si bang?" tanya Haifa.


"Kamu tanya sama teh Fitri. Abang mau main sama anak anak. Buar gak STRES." kata Keanu sambil menggendong paksa Aina yang sedang memeluk kaki Haifa.


"Ayo Arsyad, Dikta. Ikut om." mereka pun mengekori Keanu termasuk Akbar.


"Vin, dicari Haifa tuh di halaman belakang." kata Keanu saat melewati ruang tamu dan melihat Alvin sedang mengobrol bersama papa dan yang lainnya.


Alvin langsung permisi untuk menghampiri Haifa.


"Kenapa sih teh? Kok bang Ken kayaknya kesel banget?" tanya Haifa.


"Anak tiri kamu tuh penyebabnya." kata Fitri.


"Bisa enggak ucapannya diperhalus teh?"


"Kenapa emang benarkan. Dia itu anak tiri kamu. Kamu itu ya Haifa, kok mau mauan nikah sama duda udah punya anak lagi. Sebanyak apa sih uangnya. Nih ya, kamu itu masih muda. Masa depan kamu masih panjang. Teteh juga yakin kamu bisa dapat yang lebih dari suami kamu sekarang. Kamu itu belum pernah punya anak. Sok sokan nikah sama duda beranak, begini kan jadinya. Anak tiri kamu jadi bandel, rewelan dan manja banget sama kamu. Dipikir dia itu anak kamu."


Haifa diam. Jujur saja ia kaget, sepupunya sendiri bisa berbicara seperti itu. Rasanya tidak menyangka sangat tidak menyangka.


"Teh. Teteh itu..."


Belum sempat menjawab Haifa sudah ditarik dari belakang.


***


To be continued...


See you next part...


Kritik dan saran boleh disampaikan dikomentar atau grup chat ya kawan kawan.


Terimakasih ❤

__ADS_1


__ADS_2