Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 44


__ADS_3

Happy Reading...


Aina menghambur memeluk Alvin. Tapi kali ini tampak beda. Gadis kecil yang biasanya selalu ceria dan senang bercanda ketika dengan Alvin kini tampak murung. Seperti saat ini tanpa menyapa Alvin, Aina langsung memeluk Alvin dengan erat. Alvin yang semula duduk langsung membawa Aina duduk di pangkuannya. Tangan Aina tidak pernah lepas dari leher Alvin.


"Aina rindu gak sama papa?" tanya Alvin kemudian mencium rambut Aina. Haifa ikut mengelus punggung Aina.


Putri kecil itu hanya mengangguk di leher Alvin. Belum ada satu kata pun yang Alvin dengar dari bibir Aina. Saat melihat mereka pun wajah Aina tampak murung.


"Tapi kok Aina diam terus dari tadi? Gak senang ketemu papa?"


Alvin merasa Aina semakin mengeratkan pelukannya.


"teneng." jawabnya pelan.


Melihat interaksi antara Alvin dan Aina sejujurnya membuat bagian kecil di hati Novia sedih. Novia juga merasa bersalah. Bagaimana tidak, ketika ia membawa Aina, gadis kecil itu tampak sebagai putri kecil yang ceria. Tapi beberapa hari ini gadis kecil itu berubah menjadi pemurung.


"Kamu mau bawa Aina sekarang Vin?" tanya Novia.


"Saya gak masalah kalau Aina mau di sini dulu. Kami seminggu kok di sini." jawab Alvin.


Novia mengangguk dan tersenyum. Tentu Novia tahu jawabannya jika saat ini Aina ditanya ingin bersama dirinya atau Alvin.


"Aina mau tama papa." kata Aina semakin erat memeluk Alvin.


"Yaudah kalau Aina mau ikut sama papa sekarang. Tapi barang Aina nyusul ya. Aku belum sempat beres beres. Nanti kamu kasih alamat kalian selama di sini aja." kata Novia berusaha tidak menunjukan kesedihan.


Selama mereka di rumah Novia, Aina sama sekali tidak pernah mau lepas dari Alvin. Bahkan saat mereka melihat bayi Novia pun Aina selalu digendong Alvin. Apalagi saat melihat ada Beryl di kamar Aina langsung menyembunyikan wajahnya di pundak Alvin dan tidak mau sama sekali membuka wajahnya.


"Putri bunda kenapa? Kok daritadi diem terus?" tanya Haifa saat mereka sudah berada di hotel tempat mereka menginap.


"Iya ini putlinya papa kenapa sih?" tanya Alvin yang baru selesai mandi dan duduk di samping Aina.


Bukan menjawab Aina malah menidurkan dirinya di pangkuan Haifa. Lalu mencium perut Haifa.


"Aina tayang dede." katanya.


Alvin dan Haifa saling menatap.


"Harus dong dua duanyakan anaknya papa." kata Alvin sambil mengusap rambut Aina.

__ADS_1


"Aina gak mau tepelti abang."


"Abang?" tanya Alvin.


Aina mengangguk.


"Abang Azzam emang suka nakal sama Aina?" Aina spontan menggelang dan langsung duduk menghadap Alvin.


"Bukan abang Azzam papa."


"Terus?"


"Abang yang di rumah mama, pa."


"Emang Aina suka dia suka nakal?"


Aina mengangguk. "Dia malah malah telus tama Aina."


"Kenapa Aina baru bilang sekarang? Kenapa gak bilang dari kemarin biar langsung papa marahi dia." kata Alvin yang mulai emosi.


"Udah dimalahi tama daddy." jawabnya pelan.


"Mas udah deh gak usah emosi begitu. Mending kita makan aja yuk?" ajak Haifa.


"Ya gak bisa gitu dong sayang. Papa gak terima enak aja anakku diperlakukan gak baik."


"Ini udah siang waktunya Aina bobo siang kan? Aina ke kamar duluan ya nanti bunda susul." kata Haifa. Aina menurut, ia berjalan ke arah kamar. Haifa memantau pergerakan Aina. Ia memastikan Aina sudah benar masuk ke kamar.


"Mas udah dong, kata Aina juga kan abangya itu udah dimarahi sama pak Brian dan Haifa yakin pak Brian sama mbak Novia juga pasti bakal kasih tau anaknya. Kalau mas marahi dia yang ada hubungan kalian sesama orang tua yang jadi gak baik nantinya." kata Haifa setelah tidak ada Aina diantara mereka.


"Maksud kamu apa kok kamu jadi bela dia? Ini anakku loh. Anak kamu juga." kata Alvin.


"Haifa tahu. Tapi sama halnya dengan kita. Kita juga gak suka kan ketika anak kita diperlakukan tidak baik oleh orang lain? Mungkin begitu juga dengan pak Brian dan mbak Novia. Sekalipun anaknya salah tapi mereka belum tentu bisa terima ketika anaknya ditegur oleh orang lain. Kita percaya aja kalau pak Brian dan mbak Novia bisa mengarahkan dan memberitahu anaknya. Yang penting sekarang Aina udah sama kita." kata Haifa mencoba tetap tenang.


"Udah ya gak usah marah marah lagi. Mending sekarang mas juga istirahat Haifa tau mas belum sehat betul."


"Kamu tuh gak ngerti. Mas yang rawat Aina sendiri dari kecil sampai sekarang ada kamu yang bantu mas. Mas berusaha buat dia selalu bahagia walaupun cuma sama mas. Lihat Aina murung itu sedih rasanya. Apalagi yang menjadi penyebabnya adalah orang lain yang baru saja dikenalnya. Mas gak terima." kata Alvin dengan berapi api.


"Mas tapi dia itu anak kecil. Dia belum..."

__ADS_1


"Terus karena dia masih kecil semua yang dia lakukan itu harus selalu ditoleransi dan dibenarkan begitu?"


"Enggak begitu mas. Tapi kan Aina juga bilang kalau abangnya itu udah ditegur sama pak Brian."


"Mas harus tetap beritahu mereka kalau yang dilakukan anaknya itu sangat berpengaruh bagi Aina terutama buat psikisnya!"


"Dengan atau tanpa persetujuan kamu mas akan tetap bicara dengan Brian dan Novia. Kamu itu gak ngerti kamu baru masuk dalam kehidupannya Aina. Aku susah rawat Aina sendiri dari bayi. Mencari jawaban yang gak buat Aina sedih tiap kali dia nanya, dimana mama? Aina mau ketemu mama. Aku berusaha buat Aina gak pernah merasa kurang kasih sayang sekalipun dia jauh dari mamanya. Sekarang kamu suruh aku terima begitu aja ketika anakku diperlakukan tidak baik."


"Oke kalau itu udah jadi keputusan mas. Semoga gak malah membuat buruk hubungan kalian memburuk. Haifa permisi mau menemani Aina tidur siang." kata Haifa sambil pergi ke kamar meninggalkan Alvin yang masih duduk di ruang televisi. Memang hotel yang Alvin sewa ini bukan hanya satu kamar tidur melainkan juga terdapat ruang televisi dan juga dapur.


Hari ini mereka seharian hanya di rumah saja. Karena sebetulnya masih cukup melelahkan perjalanan dari Indonesia ke Swedia. Apalagi dengan kondisi Alvin yang saat ini kurang fit juga Haifa yang sedang mengandung menjadikan dirinya mudah lelah.


"Mas mau makan apa?" tanya Haifa pada Alvin yang sedang menonton tv bersama Aina.


"Terserah." jawabnya. Sepertinya suasana hati Alvin masih belum membaik.


"Aina mau makan sama apa?"


"Aina mau telul mata tapi (sapi) 2." katanya sambil menunjukan jari telunjuk dan jari tengah.


Haifa pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam sesuai permintaan Aina dan seadanya bahan di kulkas yang sempat mereka beli sepulang dari rumah Novia.


Pukul 21.30 mereka masih di ruang televisi sementara Aina sudah tertidur di pangkuan Haifa.


"Mas marah sama Haifa?"


"Haifa minta maaf kalau yang Haifa bilang siang tadi gak sesuai atau gak berkenan buat mas. Haifa cuma menyampaikan dari sudut pandang Haifa. Mau mas dengar atau enggak ya itu balik lagi sama mas. Keputusan ada di tangan mas."


"Kalau boleh jujur Haifa juga tersinggung sama kata kata mas tadi siang. Mas bilang Haifa orang yang baru masuk ke kehidupannya Aina. Iya memang betul, Haifa juga menyadari. Tapi bukan berarti karena Haifa orang baru Haifa gak mau yang terbaik buat Aina. Bukan berarti Haifa juga terima Aina diperlakukan tidak baik. Tapi ini bersangkutan sama mbak Novia. Kalau sampai hubungan mas sama mbak Novia jadi memburuk kan kasian juga Aina. Tapi semua terserah mas. Mas kan Papanya mas yang lebih tau segalanya."


"Haifa minta maaf. Yaudah Haifa ke kamar ya. Aina udah tidur. Mas jangan tidur terlalu malam, mas belum sehat betul." kata Haifa dan langsung ke kamar sambil menggendong Aina.


Tidak lama Alvin juga ikut masuk ke kamar. Aina dan Haifa sudah sama sama tidur. Seperti biasa Alvin mencium kening keduanya.


"Maaf."


***


**To be continued...

__ADS_1


See you next time**...


__ADS_2