
Happy Reading...
Hari pertama pasca operasi, Alhamdulillah kondisi Haifa semakin membaik. Haifa sama sekali belum bertanya mengenai operasi apa yang dijalani, dan Alvin sama sekali belum menjelaskan apapun pada Haifa.
"Mas," panggil Haifa pelan ketika Alvin baru selesai shalat dhuha dan sedang meletakkan sajadahnya di sofabed yang ada di kamar rawat inap Haifa.
"Kenapa? Ada yang sakit?"
Haifa menggeleng, "Haifa kangen anak-anak."
Alvin tersenyum lalu mengusap kepala Haifa, "Anak-anak juga pasti kangen banget sama kamu Yang. Sabar ya, Insya Allah nanti siang anak-anak dibawa kesini sama Mama."
"Belum boleh pulang ya?" kata Haifa pelan.
"Kamu masih perlu perawatan Yang. Mending di sini sampe sembuh."
"Mas tapi kalau tinggal recovery gini di rumah juga bisa."
"Di rumah juga ada Bude, ada Mbak," kata Haifa.
"Enggak Yang. Kamu harus di sini sampe sembuh total. Sampe benar-benar dokter sendiri yang merekomendasikan kamu untuk pulang."
"Mas,"
"Yang nurut ya. Kamu belum pulih, tenaga kamu belum sekuat biasanya kalau mau bertengkar sama Mas," kata Alvin sambil kembali mengusap kepala Haifa.
"Mas, Haifa cuma mau pulang aja kok. Haifa juga bukan sakit parah kan? Ya kalau emang Haifa bel sembuh totalkan bisa rawat jalan."
"Udah ya Yang. Apapun alasan dan pembelaan kamu, keputusan Mas sama aja."
"Mas Haifa enggak apa apa. Haifa bosen di sini, kalau di rumah kan seenggaknya ada anak-anak yang kegiatannya bisa jadi hiburan dan semangat buat Haifa."
"Nanti anak-anak ke sini."
"Iya tapi cuma sebentar pasti. Abis itu pulang lagi."
"Sabar sayang, kalau emang perkembangan kamu terus menunjukan ke arah yang lebih baik pasti dokter juga bakal cepat kasih izin pulang."
"Haifa udah baik Mas. Haifa udah enggak apa apa. Enggak sakit lagi. Mas jangan khawatir berlebihan deh."
Alvin diam, "Khawatir berlebihan ya? Aku enggak boleh khawatir waktu tiba-tiba lihat istri aku pingsan di rumah?"
"Aku bawa kamu ke rumah sakit dalam keadaan kamu enggak sadarkan diri Yang. Di perjalanan kamu baru mau buka mata, itupun wajah kamu udah pucat, penuh keringat kamu juga selalu mengeluh sakit."
"Sampai di UGD, kamu bahkan sempat sesak napas, kamu sampai harus dipasang oksigen. Dokter pegang perut kamu sedikit aja, kamu udah nangis, kamu ngeluh sakit."
"Waktu di ruang perawatan aja, di tubuh kamu bahkan sampai harus dipasang monitor Yang. Waktu suster mau kasih obat melalui infus aja kamu terus terusan bilang sakit. Sampai harus Aku pengang tangan kamu. Sampai di sini Aku enggak boleh khawatir Yang?"
"Ya maaf kalau kamu anggap berlebihan. Tapi aku enggak bisa biasa aja waktu lihat kamu pingsan, waktu lihat kamu kesakitan. Aku enggak sanggup Yang. Nunggu kamu di luar ruangan operasi selama 1,5 jam aja. Rasanya aku udah takut enggak bakal bisa lihat kamu buka mata lagi Yang."
"Astagfirullah," ucap Alvin sambil mengusap wajahnya.
"Aku merasa jadi suami paling bodoh waktu Mama tanya kamu sakit apa bisa sampai pingsan? Dan aku enggak bisa bilang apa apa. Karena aku enggak tahu kalau kamu ngerasa sakit belakangan ini."
"Sekarang kamu bilang, jangan khawatir? Aku enggak bisa. Aku khawatir, Aku enggak mau kejadian kemarin terulang lagi," kata Alvin.
Haifa diam sambil menunduk, air mata sudah turun bebas. Alvin yang melihat itu jadi merasa bersalah, merasa sudah memarahi Haifa. Padahal sebenarnya Alvin tidak marah. Hanya tidak suka ketika Haifa menyuruhnya untuk jangan khawatir, sementara keadaan Haifa kemarin kemarin sangat mengkhawatirkan. Alvin langsung menangkup wajah Haifa dan mengangkatnya agar melihat Alvin.
"Jangan nangis. Maaf ya. Mas enggak marah. Cuma Mas enggak bisa kalau harus enggak khawatir sama kamu," kata Alvin kemudian mencium kening Haifa.
"Haifa yang minta maaf."
"Udah buat Mas khawatir," kata Haifa lagi.
"Enggak perlu minta maaf Sayang. Yang sekarang menimpa kita ini bukan maunya kita. Tapi kehendak Allah yang enggak bisa kita hindari."
"Terimakasih ya, udah berjuang buat sembuh lagi," kata Alvin sambil mengusap pipi Haifa lalu mencium keningnya untuk yang kesekian kali.
"Mau peluk," rengek Haifa.
"Sini," kata Alvin sambil mendekat dan memeluk Haifa, Haifa balas memeluk Alvin dengan tangan kanannya yang tidak terpasang infus.
"Maaf ya Mas," kata Haifa dalam pelukan Alvin.
"Maaf juga ya, Mas enggak peka sama kondisi kamu dari awal."
"Haifa enggak apa apa," ucap Haifa sambil melepaskan diri dari pelukan Alvin.
"Yang,"
__ADS_1
"Denger dulu. Haifa enggap apa apa. Kemarin kemarin setelah keguguran itu, Haifa cuma sempat ngerasa sakit perut aja, sama enggak enak badan. Haifa kira cuma asam lambung yang kambuh. Sampai pas hari itu rasanya lemas banget, badan makin enggak enak, perut juga makin sakit."
"Kenapa enggak cerita?"
"Ya karena Haifa kira cuma asam lambung. Haifa enggak mau Mas khawatir cuma gara gara asam lambung Mas."
"Tapi kenyataannya sekarang kamu buat Mas jadi lebih khawatir Yang."
"Iya maaf."
"Lain kali, sekecil apapun sakit yang kamu rasa, bilang ya. Jadikan Mas ini suami yang kamu butuhkan, jadikan Mas ini suami kamu yang ada gunanya."
"Mas jangan gitu. Haifa bisa lihat dunia lagi juga karena do'a Mas."
"Jangan nangis," kata Haifa sambil mengusap pipi Alvin.
"Janji ya jangan begini lagi."
"Haifa usahakan."
"Janji Yang! Mas enggak bisa lihat kamu kayak kemarin. Rasanya itu kayak hancur duniaku Yang."
"Jangan gitu."
"Janji ya, jangan kaya kemarin lagi."
"Mas."
"Janji Yang!"
Haifa mengangguk, "Iya janji."
Alvin mengembuskan napas lega sambil menciumi kepala Haifa.
"Ada pengen sesuatu enggak?" tanya Alvin pada Haifa.
"Pengen buah naga Mas, segar deh kayaknya."
"Yaudah Mas titip sama Vina sama Adam. Mereka mau kesini katanya."
"Sama anak-anak enggak?"
"Enggak Yang. Aina sama Aidan sekolah. Vina sama Adam sekalian lewat abis ada acara katanya."
"Apa ya? Nasi padang boleh ya Mas. Bosan makan bubur rumah sakit."
"Enggak."
"Mas please. Enak kayaknya makan nasi padang."
"Kalau kamu udah sembuh. Mau beli nasi padang sama warung warungnya juga Mas kasih Yang. Tapi enggak buat sekarang."
Haifa langsung cemberut, "Ngambek, kayak Aina kalau enggak diizinin beli coklat. Kaya Aidan kalau enggak diizinin beli permen kapas."
"Apaan sih," kata Haifa sambil menepis tangan Alvin yang sedang mencolek dagunya.
"Ayo mau apalagi Yang. Ini Vina keburu nyampe nanti."
"Enggak usah nawarin, paling nanti juga enggak boleh lagi."
"Ya tergantung maunya apa. Kalau yang emang sehat ya kenapa enggak."
"Jadi mau apa?"
"Roti bakar."
"Pagi pagi nyari yang jual roti bakar pinggir jalan dimana Yang?"
"Mau roti bakar mah nanti deh sorean mas belikan. Dekat rumah sakit ini juga ada yang jual roti bakar."
"Mau apalagi ayo? Yang lain."
"Enggak mau apa apa udah. Daritadi enggak boleh terus."
"Yaudah Mas aja yang titip."
"Mas enggak boleh titip makanan yang Haifa mau tapi enggak boleh Haifa makan ya. Awas aja."
"Kenapa? Terserah Mas dong."
__ADS_1
"Ih jangan nanti Haifa mau."
...****************...
Pukul 14.30 anak-anak pertama kalinya datang ke rumah sakit untuk menjenguk Haifa.
Aidan sudah mendekat ke tempat tidur Haifa, sedangkan yang paling kecil sudah digendong oleh Alvin. Sementara Aina, ia malah menggenggam erat tangan Uminya dan sama sekali tidak mendekatkan diri ke arah Haifa.
"Kenapa Kak? Tadi katanya kangen sama Bunda," kata Mama Anna yang menyadari ada yang aneh dengan tingkah Aina.
Haifa yang sedang mendengar cerita yang dibawa Aidan, langsung mengalihkan fokusnya pada Aina.
"Kakak kenapa?" tanya Haifa.
Aina menggeleng.
"Sini dong deketan sama Bunda. Kakak enggak rindu emang sama Bunda?" tanya Haifa.
"Umi Kakak mau pulang," bisik Aina pada Mama Anna.
"Hah kok pulang?"
"Ayo Umi."
Mama Anna yang tangannya ditarik oleh Aina hanya bisa mengikuti.
"Loh Kak. Kakak," panggil Haifa yang sama sekali tidak digubris oleh Aina.
"Adek Kakak kenapa?" tanya Haifa pada Aidan.
"Kakakkkk..." panggil Aidan sambil mengejar Kakak dan Uminya.
"Sebentar sayang, Kakak kenapa?" tanya Umi mengajak Aina duduk di kursi yang ada di depan kamar Haifa.
"Kakak mau pulang Umi."
"Iya kenapa? Tadi semangat banget pengen ketemu Bunda."
"Kakak enggak mau Bunda sakit lagi."
"Enggak sayang. Bundanya Kakak udah sembuh. Lihatkan tadi bundanya udah bisa duduk di tempat tidur."
"Tapi nanti kalau Kakak mau sama Bunda, nanti Bunda capek. Nanti Bunda sakit lagi."
"Bunda sakit karena capek urusi Kakak ya Umi? Bunda juga capek karena Kakak masih suka nakal ya Umi?"
Umi tersenyum, "Enggak sayang. Bunda itu sayang sama Kakak, sama Adek, sama Dede sama semuanya Bunda sayang. Bunda sakit itu karena emang Allah yang kasih Bunda sakit. Allah mau Bunda tahu kalau sakit itu enggak enak. Mangkanya Allah kasih Bunda sakit biar Bunda bisa belajar jaga kesehatan."
"Kakak jangan sedih, Bunda sayang Kakak. Adek juga sayang Kakak. Muach," kata Aidan sambil mencium pipi Aina. Bocah kelas 1SD ini memang sangat manis sekali pada Kakaknya.
"Ayo Kakak masuk, nanti Bunda sedih. Bunda kan kangen sama kita," ajak Aidan sambil menarik tangan Aina.
"Yuk masuk. Tadi kan semangat mau ketemu Bunda," kata Mama Anna.
"Ayo Kakak," ajak Aidan.
"Kakak kenapa?" tanya Haifa ketika Aina sudah berdiri di samping tempat tidurnya tapi Aina masih diam saja.
"Kakak enggak kangen sama Bunda?"
"Kakak enggak mau peluk Bunda?" tanya Haifa.
Tidak lama setelah Haifa berbicara, Aina langsung memeluk Haifa sambil menangis.
"Kakak kenapa kok nangis? Bunda salah ya? Bunda minta maaf ya."
"Bunda jangan sakit lagi," kata Aina sambil menatap Haifa.
Haifa tersenyum, "Ini kan Bunda udah bangun."
"Kakak janji enggak nakal lagi. Tapi Bunda jangan sakit. Kakak sayang Bunda."
"Kakak enggak nakal Sayang. Anak-anak Bunda semuanya anak Shalehan dan Shaleh enggak ada yang nakal. Bunda juga sayang sama semua anak-anak Bunda."
"Adek kenapa kedip kedip gitu?" tanya Haifa ketika melihat Aidan tampak memaksa mengedip ngedipkan matanya dengan sekuat tenaga.
"Adek pengen nangis kayak Kakak sama Bunda biar bisa pelukan. Tapi air mata Adek enggak mau keluar. Jadi ini mau Adek paksa," katanya sambil terus mengedip-ngedipkan matanya.
...----------------...
__ADS_1
To be continued...
See you next part...