Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 55


__ADS_3

Happy Reading...


"Bun udah siap semua barang bawaannya?" tanya Alvin.


"Udah sih."


"Alhamdulillah kalau gitu. Kata mama besok subuh kita perginya. Jadi katanya mending malam ini kita tidur di rumah mama besok pagi barengan berangkatnya." kata Alvin.


Sesuai rencana hari pertama setelah lebaran Haifa dan keluarga besar akan pergi ke Pangandaran Jawa Barat. Karena disana masih ada nenek Haifa dari mamanya. Sekaligus akan asa acara pernikahan sepupu Haifa.


"Yaudah. Nanti malam aja kita ke rumah mamanya."


"Oh iya mas, Haifa juga udah dua hari lalu udah kasih tahu pak Surya."


"Kok kasih tahu pak Surya segala?"


"Ya kan biar mas gak capek nyetir."


"Sayang, ke Kuningan mah paling 5 jam udah sampai. Mas juga kuat. Belum tahu ya, kalau mas pernah nyetir mobil dari Bandung ke Surabaya." kata Alvin.


"Iya tahu. Tapi jangan salah mas, kalau lagi lebaran kayak begini macet dimana mana. Jangankan yang sopir. Penumpang aja yang cuma duduk capek. Lagipula musim lebaran begini yang biasanya perjalanan 5 jam bisa aja jadi dua kali lipat. Mas ini kayak gak ngerti aja." jawab Haifa.


"Apalagi kita bawa anak kecil dan bayi yang belum tentu bisa bersahabat selama perjalanan besok. Terus yakin deh ke Pangandaran ini pasti macet banget. Selain masih libur lebaran, di sana juga kawasan wisata. Jadi kan kalau pake sopir seenggaknya bisa gantian nyetir. Atau enggak mas bisa bantu Haifa kalau nanti anak anak rewel diperjalanan." tambah Haifa.


"Iya sayang iya. Yaudah sekarang kalau packing udah selesai semua mending kamu istirahat." kata Alvin.


"Jam berapa ini?" tanya Haifa.


"Jam setengah 3." jawab Alvin.


"Ah tanggung sebentar lagi juga ashar. Haifa mau ke bawah aja deh. Mau packing makanan buat bekal besok diperjalanan."


tok tok tok...


"Bunda..."


baru saja Haifa bersiap untuk ke bawah. Pintu kamarnya sudah diketuk. Aina yang tadi sedang tidur siang di kamarnya sudah bangun.


"Iya sayang." jawab Alvin sambil membuka pintu.


"Kenapa?" tanya Alvin.


Aina hanya menatap Alvin dengan tidak bersahabat. Kemudian masuk dan menghampiri Haifa tanpa mempedulikan Alvin.


"Bunda." rengeknya sambil memeluk Haifa.


"Kenapa?"


"Papa nakal." katanya.


"Loh kok papa tiba tiba jadi tersangka?" protes Alvin dan duduk disamping Haifa.


"Papanya kenapa? Kan kakak tadi bobo terus papa di sini sama bunda." kata Haifa.


"Tadi kakak lali lali dikejal kejal papa. Telus bug kakak jatuh. Telus papa gak tolong kakak. Papa malah ketawa." katanya sambil cemberut.


"Kakak mimpi ya?"


"Benelan bunda. Tadi pas bangun kakak di bawah tempat tidul. Telus ini sakit ini sakit." katanya sambil menunjuk tangan dan kakinya.


"Kakak mimpi itu terus jatuh dari tempat tidur. Mana yang sakit, sini bunda lihat. Kasian anak bunda." kata Haifa.


"Hahahaha kakak jatuh dari tempat tidur?" kata Alvin sambil tertawa.


"Huaaa bunda. Papa ketawa." katanya sambil menangis.


"Papa." tegur Haifa.


"Eh iya maaf sayang. Mana yang sakit sini papa cium biar sembuh."


"No. Gak mau sama papa."


"Kemarin sih kakak banyak main lari larian dan kejar kejaran sama abang Arsyad dan abang Dikta. Jadinya sampai kebawa mimpi. Mana lagi yanh sakit nak? Kepalanya sakit gak?" tanya Haifa sambil mengelus lengan dan kaki Aina yang katanya sakit.


Aina hanya menggeleng. Haifa tidak terlalu khawatir. Karena tempat tidur Aina bukan tempat tidur yang tinggi, kemudian di bawah tempat tidurnya juga sudah dialasi karpet busa dan dilapisi karpet berbulu. Untuk mengantisipasi kejadian seperti ini. Karena Aina termasuk anak yang tidak bisa diam ketika tidur.

__ADS_1


"Bunda mau ke bawah mau siap siap makanan buat besok. Kakak mau ikut? Apa mau di sini main sama dede sama papa?" kata Haifa sambil menunjuk Alvin dan Aidan yang baru saja terbangun ketika Aina menangis.


"Mau sama bunda."


"Yaudah kita ke bawah ya."


"Papa jangan ikut." kata Aina sambil melihat kearah Alvin.


"Siapa juga yang mau ikut. Papa lagi main sama adek, seru." kata Alvin tanpa melihat Aina.


"Ih sebel." katanya sambil menghentakan kaki.


Haifa hanya geleng geleng kepala. Anak dan bapak yang satu ini kalau dekat pasti ribut. Tapi kalau papanya lagi sama adeknya pasti cemburu dan cari perhatian.


"Udah kakak sama bunda aja yuk." ajak Haifa sambil menggandeng tangan Aina untuk keluar kamar.


***


Ba'da isya mereka sudah bersiap untuk pergi ke rumah mama.


"Bun, Papa ke bawah duluan ya. Mau bawa baranh barang ke mobil. Terus mau lohatvpak Surya udah datang belum." kata Alvin pada Haifa yang masih sibuk menyusui Aidan.


"Iya." jawab Haifa.


"Papa kakak ikut." kata Aina yang awalnya sedang duduk di samping Haifa.


"Ayok." kata Alvin.


"Kakak turun tangganya pelan pelan." kata Haifa.


"Iya bunda."


"Kakak, pelan pelan. Sini pegangan papa." kata Alvin.


"Enggak papa. Kakak bisa kok." katanya sambil berjalan cepat mendahului Alvin.


"Pelan pelan aja..."


Bug...


"Huaaaaa PAPA." Aina sudah tersungkur. Ditangga terakhir, entah terpeleset atau tersandung kakinya sendiri. Alvin bergegas menghampiri Aina. Selain Alvin, Haifa juga yang mendengar Aina menangis langsung turun.


"Jatuh." jawab Alvin.


"Ya Allah mas berdarah." kata Haifa ketika melihat bibir Aina berdarah.


Sementara Haifa mengambil obat. Alvin membawa Aina yang tak berhenti menangis untuk duduk di ruang keluarga. Tidak lama, Haifa muncul dengan kotak obat dan semangkuk batu es.


"Nih, papa pegang Aidan dulu." kata Haifa sambil melepaskan gendongan dan menyerahkannya pada Alvin.


Kemudian Haifa dengan hati hati mulai mengobati Aina.


"Sakit?" tanya Haifa saat mengompres bibir Aina dengan batu es agar tidak bengkak.


Aina mengangguk.


"Kok bisa jatuh?" tanya Haifa.


"Ka.. ka.. la.. li. " katanya terbata bata karena berbicara sambil menangis.


"Enak gak kak jatuh?" tanya Alvin.


Aina menggeleng.


"Terus kenapa gak hati-hati." kata Alvin lagi.


Aina hanya diam.


"Mana lagi yang sakit?" tanya Haifa.


Aina menunjuk lututnya. Dan benar saja, baru beberapa menit terjatuh tampak sudah lebam. Haifa mengolesinya dengan salep agar tidak menjadi lebih parah.


"Bunda kan udah bilang, Kakak jalannya pelan pelan. Hati hati. Kenapa kakak gak dengarkan?"


Aina hanya menunduk dengan sisa sisa tangisanya.

__ADS_1


"Lain kali kakak hati hati ya. Gak enak kan jatuh?" kata Haifa.


"Akibat kakak gak hati hati jadinya kakak jatuh. Kakak juga gak dengarkan kata papa dan kata bunda. Padahal bunda udah bilang biar kakak hati hati. Papa juga bilang hati hati, terus pegang tangan papa. Tapi kakak gak mau dengarkan. Sekarang kalau udah jatuh begini yanh sakit siapa?" kata Alvin.


"Kakak." jawabnya pelan.


"Enak?" tanya Alvin. Aina menggeleng.


"Jadi biar gak jatuh lagi kakak harus gimana?"


"Hati-hati." jawabnya pelan.


"Lain kali kakak harus hati hati ya. Kakak juga harus dengarkan apa yang dibilang papa sama bunda ya kak." kata Haifa yang sudah mulai melembut lagi.


"Maaf bunda." katanya.


"Bunda maafkan. Tapi kakak jangan ulang lagi ya."


Aina mengangguk.


"Plomise." katanya sambil mengulurkan jari kelingking.


Rencana untuk tidur di rumah mama pun terpaksa batal. Karena drama jatuh dari tangga ini membuat Aina jadi rewel karena mengeluh sakit di bibir dan lututnya.


***


Ba'da shalat subuh mereka segera bergegas ke rumah mama. Ketika sampai disana mereka pun sudah siap.


"Kenapa gak tidur di sini?" tanya mama.


"Malam udah siap siap. Tapi kemalaman ma. jadi yaudah gak jadi. Kalau kesini juga pasti udah pada istirahat." kata Alvin.


"Haifa sama anak anak udah di mobil?" tanya mama lagi.


"Iya di mobil. Anak anak pada tidur. Kalau di bangunkan takut pada rewel nanti." jawab Alvin.


"Udah siap semuakan? Langsung aja yuk. Nanti keburu macet." kata papa.


Mereka berangkat beriringan 3 mobil. Kenapa sampai 3 mobil, karena pulang dari Pangandaran masing masing punya agenda sendiri.


***


Tiga jam perjalanan. Tapi jarak yang mereka tempuh bisa dibilang belum sampai setengah perjalanan. Hari yang semakin siang membuat jalanan semakin padat.


Belum sampai setengah perjalanan tapi sejak tadi anak anak, terutama Aina sangat rewel. Baru sebentar Aina tenang setalah menangis karena merasakan sakit di bibirnya setelah makan. Sekarang giliran Aidan yang menangis karena haus.


"Kakak sama papa dulu ya. Bunda mau kasih minum dede dulu." kata Haifa sambil mengelus punggung Aina yang yang sejak tadi terus nemplok pada Haifa.


"Nggak mau."


"Masa kakak gak mau ngalah sama adiknya. Kasihan loh itu adiknya udah nangis. Kakak di depan dulu sama papa ya. Nanti kalau udah kakak sama bunda lagi. Ya anak baik, anak shalehah." bujuk Haifa.


"Tapi dedenya sebental aja."


"Iya sayang."


***


Totalnya 8 jam perjalanan mereka baru sampai di tempat tujuan.


"Alhamdulillah sampai juga." kata Haifa.


Bagi Alvin ini pertama kalinya datang ke rumah ini. Kalau dengan keluarga besar Haifa sih Alvin sudah bertemu ketika pernikahannya dulu. Tapi jujur saja hanya sekilas sekilas. Belum sempat mengenal lebih jauh. Ada rasa takut, takut mereka tidak bisa sepenuhnya menerima Aina. Apalagi kondisinya saat ini Aina sedang rewel. Kebiasaan Aina kalau sedang rewel itu pasti gak mau lepas dari Haifa.


"Mas. Kok diam?" tegur Haifa.


"Gak apa apa. Yaudah yuk turun." ajak Alvin.


***


Akankah ketakutan Alvin menjadi nyata?


To be continued...


See you next part...

__ADS_1


Jika ada kritik dan saran boleh disampaikan melalui komentar atau grup chat ya ☺


Terimakasih


__ADS_2