Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 51


__ADS_3

Happy Reading...


Banyak typo.


Seperti ramadhan sebelumnya setiap buka puasa hari pertama, ibu dan ayah selalu meminta anak, menantu dan cucunya berkumpul di rumahnya. Rutinitas itu terjadi setiap tahunnya.  Haifa yang baru pertama dan saat ini kedua kalinya merasa masih perlu penyesuaian. Apalagi hubungannya dengan ibu mertuanya bisa dibilang tidak semanis gula.


"Kita berangkat jam berapa mas ke rumah ayah ibu?" tanya Haifa.


"Sehabis ashar gimana? Soalnya kalau kesorean macet pasti."


"Oke kalau gitu. Anak anak biar pada tidur dulu. Mas jangan ganggu mereka ya." kata Haifa sambil beranjak dari duduknya.


"Mau kemana?" tanya Alvin sambil melepas sarungnya. Mereka memang baru selesai berjamaah shalat dzuhur kemudian tadarusan.


"Haifa mau ke dapur. Siapa tahu ada yang bisa dimasak buat bawaan ke rumah ayah ibu." jawab Haifa sambil menjepit rambutnya.


Saat berada di dapur, Haifa membuka kulkas dan lemari yang digunakan sebagai penyimpanan stok makanan. Dilihatnya kulkas dan lemari tersebut secara bergantian. Menimbang nimbang kira kira apa yang bisa Haifa buat dan yang sekiranya cocok di lidah ibu mertuanya. Stok bahan makanan yang masih penuh membuat Haifa bingung akan membuat apa. Bukan hanya itu saja yang membuat Haifa bingung, Haifa juga dibuat bingung karena sejauh ini masalah masak memasak cukup sensitif bagi Haifa dan ibu mertuanya. Haifa memang sudah banyak belajar dari mamanya. Tapi belum cukup percaya diri untuk membawanya kepada ibu mertuanya.


Merasa tidak memiliki ide yang bagus. Haifa terduduk di kursi meja makan sambil memainkan handphone untuk mencari cari reperensi.


"Lagi apa?" tanya Alvin kemudian duduk di samping Haifa.


"Cari inspirasi." jawab Haifa.


Kening Alvin mengkerut.


"Haifa bingung harus masak apa." kata Haifa.


"Gak usah masak sayang. Ibu juga di rumah pasti udah masak." kata Alvin sambil mengelus rambut Haifa.


"Ya justru itu. Masa iya orang tua di sana udah siap siap. Sementara kita datang dengan tangan kosong. Gak enak lah. Apalagi Haifa, menantu perempuan." kata Haifa sambil terus menatap dan menggulirkan layar ponselnya.


Alvin mengerti sangat mengerti apa yang ada di pikiran Haifa.


"Maafkan ibu ya."


"Mas gak boleh gitu. Haifa gak apa apa, Haifa cuma bingung harus buat apa."


Alvin tersenyum, ia menangkup wajah Haifa dan mengarhkan agar menatap Alvin.


"Gini deh. Sekarang bahan bahan yang ada di rumah apa?" tanya Alvin.


"Banyak. Hampir stok makanan ada, mas lupa ya kemarin kita baru belanja bulanan." kata Haifa.


Alvin kembali tersenyum.


"Kenapa sih malah senyum senyum?"


"Sayang, kamu kan jago bikin kue. Kenapa gak bikin kue aja?"


"Haifa juga kepikiran bikin kue. Tapi bikin kue apa? Kue kan rata rata manis. Semntara ibu dan ayahkan gak boleh terlalu banyan manis karena diabetes." kata Haifa.


Alvin diam sejenak.


"Gimana kalau kita buat pie. Cocok buat buka puasa. Gak terlalu manis juga. Nanti kita pake gulanya yang aman buat diabetes ada kan?"


Haifa mengangguk.


"Nahkan. Yaudah yuk kita eksekusi."


"Mas bantu ya?" kata Haifa sambil menatap Alvin penuh harap.


"Bantu apa? Bantu ngicip?"


"Ih mas."


"Iya iya. Yaudah yuk." ajak Alvin.


Haifa sedang menyiapkan bahan bahan dan menimbang bahan tersebut sesuai kebutuhan. Sejauh ini Alvin masih sebatas berdiri dan memperhatikan Haifa sambil tersenyum.


"Mas, itu tolong dong ambilkan gulanya." kata Haifa.


Tidak ada reaksi dari Alvin.


"Mas Alvin." panggil Haifa.


"Mas Alvin ih malah bengong sambil senyum senyum mikir apa coba?" kata Haifa yang sambil berdiri menghadap Alvin.


"Mas Alvin hey. Mikir apa sih?" tanya Haifa sambil menepuk pelan pipi Alvin.


"Eh apa sayang?"


"Huh benerkan bengong. Mikir apa hayo?"


"Kamu." jawab Alvin.


"Ish genit."


"Haha tapi senangkan?"


"Gak."


"Bohong banget, segitu pipi udah merah juga."


"Enggak ya." kata Haifa sambil menutupi pipinya dengan tangan.


"Haha jangan begini di depan orang lain ya." kata Alvin sambil mengusap kepala Haifa.


"Kenapa?" tanya Haifa.


"Ya jangan lah enak aja. Kalau yang gemes gini kasih unjuknya di depan suami aja."


"Huh dasar."

__ADS_1


"Apa? Suka suka mas lah. Mas suami kamu."


"Ish."


Alvin tersenyum puas.


"Udah ah. Gak beres beres nanti. Haifa minta tolong ambilkan gula ya." kata Haifa.


"Yang. Pie nya di buat 2 rasa aja gimana? Buah buahan sama vanilla."


"Boleh. Di kulkas juga ada strawberry, kiwi, mangga sama anggur. Cocok buat pie."


"Di jamin laris deh. Apalagi banyak anak anak."


"Semoga deh ya."


Satu jam lebih mereka berkutat di dapur dan pie mereka sudah jadi tinggal di masukan ke kulkas.


"Makasih ya, udah bantu Haifa."


"Sama sama sayang."


"Mas gak nyangka loh sayang." kata Alvin tiba tiba.


"Hm. Gak nyangka kenapa? Gak nyangka mas bisa buat pie?"


"Bukan itu."


"Terus?"


"Sini deh." Alvin menarik Haifa untuk duduk di meja makan.


"Apa sih mas?"


"Gak nyangka ya. Ini ramadhan kedua kita setelah menikah. Pernikahan kita juga udah satu tahun lebih malah. Sekarang udah ada Aidan."


"Iya ya. Mas bahagia gak punya istri kayak Haifa."


"Harus banget ditanya?"


"Oh iya dong. Biar Haifa bisa evaluasi kinerja Haifa sebagai istri selama setahun ini."


"Bagus kok. Kinerja nyonya Alvin selama satu tahun ini. Sangat bagus malah. Berhasil jadi ibu dan istri yang baik."


"Sayang. Terimakasih." kata Haifa.


"Tahun depan kedua tahun pernikahan ada adeknya Aidan ya sayang."


"Hah. Udah ah terserah mulai ngaco. Bye." kata Haifa sambil meninggalkan Alvin.


Alvin tersenyum sambil melihat Haifa yang semakin menjauh dari pengelihatannya.


Sudah pukul 15.45 mereka masih bersiap siap. 


"Kakak siap." kata Aina sambil berlari ke arah Alvin.


"Bundanya mana kak?"


"Bunda ambil tas dulu katanya."


"Papa kakak cantik kan?" kata Aina sambil berputar di depan Alvin. Gadis kecil itu menggunakan gamis berwarna peach dan dengan jilbab yang senada.


"Cantik sekali dong." kata Alvin.


"Kakak bajunya samaan sama bunda." bangganya.


"Oh iya?"


"Iya dong."


"Udah yuk." kata Haifa yang baru menghampiri mereka.


Setengah jam perjalanan mereka sampai di rumah ayah dan ibu. Keluarga Arvan sudah datang lebih dulu ternyata.


"Sini Aidannya." kata Alvin setelah membukakan pintu mobil disamping Haifa.


Mereka berjalan beriringan.


"Assalamualaikum." ucap mereka serentak.


"Wa'alaikumussalam."


"Kakek, Nenek." kata Aina sambil berlari ke arah kakek dan neneknya.


Alvin dan Haifa bergantian mencium tangan ayah dan ibu. Serta menyalami yang lain yang ada di ruangan tersebut.


"Oh iya bu. Ini kami bawa pie." kata Haifa.


"Wah. Alhamdulillah, kebetulan belum ada camilan yang manis." kata ibu.


"Haifa simpan di kulkas ya bu?"


"Oh iya." kaya ibu. Haifa bergegas untuk menyimpannya di kulkas sedangkan ibu sudah asik dengan cucu barunya.


"Macet Vin di jalan?" tanya Arvan.


"Merayap bang. Apalagi tadi ada jalan yang ditutup karena ada galian." kata Alvin.


"Kakek kakek tadi di jalan itu ada mobil telbalik ban nya di bawah." lapor Aina pada sang kakek.


"Ban kan emang di bawah dek." koreksi Azzam.


"Eh salah. Ban nya di atas gitu. Iya kan pa?" kata Aina pada sang papa.

__ADS_1


"Iya."


"Ada kecelakaan?" tanya ayah.


"Iya kayaknya. Tadi mah tinggal bangkai mobilnya aja di pinggir jalan." kata Alvin.


"Aty Zia abang kembal mana?" tanya Aina karena sejak tadi tidak melihat sikembar.


"Di atas sama adek Fika. Mau kesana?"


Aina mengangguk.


"Abang ke atas yuk." ajak Aina pada Azzam.


"Ayok."


"Haifa puasa?" tanya ibu pada Haifa.


"Iya,  puasa bu."


"Boleh emang?" tanya ibu lagi.


"Boleh lah. Vina aja tahun lalu puasa." kata Vina menjawab ibu.


"Haifa juga udah konsul ke dokter. Katanya boleh aja kalau gak ada efek ke ASI nya."


"Lagi hamil ataupun menyusui, puasa itu gak dilarang bu. Cuma bagi yang sedang hamil dan menyusui itu, tergantung kondisi ibu dan bayinya. Kalau di bawa puasa gak ada masalah ya kenapa enggak. Tapi kalau emang kondisinya kesehatan gak memungkinkan itu baru dokter bakal kasih saran buat gak puasa." kata Arvan menjelaskan.


"Yaudah. Tapi kalau sekiranya karena puasa ASI nya jadi kurang, mending jangan deh. Kan kasihan Aidannya." kata ibu.


"Iya bu. Haifa juga gak akan memaksakan kalau memang nanti setelah beberapa hari puasa produksi ASI nya berkurang."


"Ya syukurlah kalau begitu."


"Oh iya kalian pada nginep kan?" tanya ibu.


"Kita Insya Allah nginep kok bu." jawab Arvan.


"Alvin?" tanya ibu.


"Iya, Alvin juga Insya Allah nginep."


Tidak teras kurang dari 30 menit lagi sudah buka puasa. Para wanita kecuali ibu sedang sibuk menata makanan di meja makan.


"Yang handphone mas dimana?" tanya Alvin pada Haifa.


"Di tas Haifa. Tasnya di kamar mas." kata Haifa.


"Ya Ampun si Alvin hp aja kamu yang bawa?" tanya Vina.


"Iya begitu. Malas bawa tas dia. Kalau di suruh di simpan di kantong alasannya gak enak ngeganjel."


"Kayaknya sama deh si Ayah juga begitu." kata Zia.


"Iya emang Abang sama Alvin sama aja kelakuannya. Berasa yang kembar tuh mereka berdua. Bukan aku sama Alvin." kata Vina.


Belum selesai mereka membicarakan kedua lelaki itu.


"Bun, dompet ayah mana?" tanya Arvan pada sang istri.


"Kan sama aja kan?" kata Vina.


"Heuh untung aja mereka dapat istrinya yang baik, sabar, pengertian dan lemah lembut kaya kalian." tutur Vina.


Pukul 17.48 wib. Adzan maghrib berkumandang. Semua sudah berkumpul di meja makan, termasuk anak anak yang sangat antusias hendak buka puasa.


"Holee buka puaca." kata Aina.


"Emang Aina puasa?" tanya Arvan.


"Iya dong. Aina puasa uncle."


"Sampe maghrib?" tanya Arvan.


Aina mengangguk.


"Serius?" tanya Arvan lagi.


"Iya. Tapi Aina udah sahul dua kali. Tadi siang Aina minum susu tapi  tapi Aina gak makan." kata Aina.


Suara tawa serentak terdengar. 


"Uncle kaget loh sayang." kata Arvan.


"Uncle juga sahulnya dua kali ya?" tanya Aina.


"Haha enggak dong sayang." jawab Arvan.


"Gak heran emang anak Alvin ini sih." kata Arvan lagi.


"Ya emang iya anak Alvin."


"Aina anaknya bunda." jawab Aina.


"Iya kan berdua sama papa." kata Alvin.


"Kenapa halus beldua? Kenapa gak boleh anak sendili?" tanya Aina.


###


Alhamdulillah sampai di part 51.


Ada kritik dan saran untuk part ini?

__ADS_1


Terimakasih ♥


__ADS_2