Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 74


__ADS_3

...Happy Reading......


Setelah pembahasan tentang Audi, semalam Alvin benar-benar di diamkan, tidur dipunggungi, cium kening gak boleh, Alvin tarik napas saja kayaknya sudah membuat Haifa naik darah.


"Yang udah dong jangan marah." kata Alvin saat menemani Haifa menyiapkan sarapan.


"Yang atuh, si Audi nya aja gak dibeli masa kitanya udah marahan sih." kata Alvin lagi yang terus membuntuti kemanapun Haifa berjalan.


"Yang gak adil dong buat mas. Kan semalam mas baru sebatas cerita, enggak sampai beli diam-diam. Kalau mas beli diam-diam dan pulang bawa si Audi itu. Baru deh sah-sah aja mau marah juga. Inikan enggak, mas cuma cerita kalau ada teman mas yang nawarin udah gitu aja." kata Alvin sambil terus mengikuti pergerakan Haifa.


"Mas bisa diam gak sih? Repot banget Haifa lagi masak diikutin begini." kata Haifa ketika berbalik dan menabrak badan Alvin yang berdiri di belakangnya.


"Gak bisa Yang. Mas gak mau nanti malam tidur dikasih punggung lagi." kata Alvin. Haifa tidak menanggapi. Ia malah menghindari Alvin dan melanjutkan masaknya.


"Yang atulah. Udah gak usah masak, kita ngobrol aja. Nanti aja sarapannya sekalian ke Cimahi."


"Terus kamu pergi kerja gak akan sarapan?"


"Sekarang hari minggu sayangku. Jangan marah-marah terus coba sampe lupa hari kan?" Haifa menatap Alvin tidak percaya.


"Nih lihat di handphone mas." kata Alvin sambil memberikan handphonenya pada Haifa.


"Percaya?" tanya Alvin.


"Yausah sana siap-siap. Bangunin anak-anak." kata Alvin.


"Yaudah sih santai. Masih jam 5 juga, bisa sarapan dulu di rumah biar hemat. Kan pengeluaran bulan ini bakal banyak banget pake beli Audi." sindir Haifa.


"Enggak Yang, enggak akan beli Audi. Janji."


"Ya beli juga terserah. Uang juga uang kamu kan?" ketus Haifa.


"Enggak Yang janji gak akan beli. Gak mau mas disuruh ngelonin Audi. Keras."


"Jangan marah terus dong, kan gak beli Audi."


"Awas aja beli diam-diam."


"Enggak Yang janji, serius gak akan beli Audi. Mas masih sayang diri sendiri kalau gara-gara Audi kamu jadi marah dan gak mau dekat-dekat."


"Beli diam-diam pisah ranjang kita!" ancam Haifa.


"Astagfirullah. Mulutnya." kata Alvin menuentil mulut Haifa.


"Ih sakit."


"Ya kamu bicaranya sembarangan."


"Haifa benaran gak setuju kalau sampe mas beli si Audi itu."


"Gak akan sayang."


"Siapa tahu kan. Dua bulan lalu aja kan tiba-tiba ada yang nganterin vespa matic baru, gak ada tuh yang izin sama Haifa mau beli vespa." sindir Haifa. Alvin mati gaya. Dua bulan lalu memang Alvin diam-diam membeli sebuah vespa matic, karena Alvin ini suka koleksi kendaraan dan itu yang paling gak disukai Haifa.


"Iya gak lagi Yang. Kapok mas dijudesin seminggu gara-gara vespa." kata Alvin.


"Bukan ngejudesin Haifa mah. Sengaja aja biat mas quality time tuh selama seminggu sama vespa kamu itu."


"Enggak enak sama vespa mah. Enakan sama kamu." kata Alvin sambil memeluk erat Haifa.


"Ih lepas."


"Baikan dulu yaa. Janji gak beli Audi."


Haifa mendongak menatap Alvin.


"Bener yaa."


"Iya enggak. Gantinya rolls royce aja gimana?"


"Apa?" kata Haifa langsung melepaskan diri dari Alvin.


"Becanda sayang."


"Iya janji gak akan beli mobil-mobil dulu. Kita banyakin beli kostan aja."


"Bagus."

__ADS_1


"Mau beli mobil juga boleh kok." kata Haifa lagi.


"Serius Yang? Gak akan marah? Mas gak akan dijudesin?"


"Enggak."


"Yes!"


"Tapi belinya mobil-mobilan hot wheels 26.000 an yang ada di izinmart." kata Haifa. Wajah Alvin yang awalnya bersih bersinar sunlight sekarang jadi butek kaya air rendaman cucian.


"Kenapa bete?" tanya Haifa sambil menepuk pipi Alvin.


"Yang benar aja Yang, masa mas disamain sama Aidan yang belinya mobil-mobilan hot wheels."


"Mas buat apasih koleksi mobil, motor? Yang mas pake sehari-hari juga yang itu-itu aja. Sayang tahu malah jadi penunggu garasi. Yang ada nanti malah cepat rusak bukannya investasi."


"Punya uang lebih tuh mending sini kasih istri, biar ditabung. Daripada beli-beli kendaraan terus."


"Aina sebentar lagi masuk SD loh mas. Dia bilang mau sama Abang Azzam. Tau kan biayanya di SDIT tempat Azzam sekolah?" Alvin mengangguk.


"Nah, mending kita persiapan buat sekolah Aina. Buat Aidan nanti."


"Kondisi ekonomi kan gak ada yang tahu mas. Iya sekarang kita lagi serba cukup. Sebulan kedepan? Setahun kedepan? Gak ada yang tahu kan?"


"Haifa gak larang kalau mas mau beli sesuatu yang mas mau sebagai reward mas yang udah bekerja keras. Tapi ya, yang masuk logika lah."


"Waktu dulu mas jadi dosen, Haifa inget banget tuh mas ada bahas tentang skala prioritas. Katanya dalam hidup ini kita harus punya prioritas dan jangan sampai salah menentukan prioritas. Nah sekarang prioritas kita sebagai orang tua apa sih? Anak kan?"


Alvin tersenyum lalu mencium kening Haifa.


"Pintar banget sih istri aku."


"Mas gak salah pilih ibu negara emang." kata Alvin sambil memeluk Haifa erat-erat.


"Ih udah. Bangunin anak-anak sana. Udah siang. Katanya mau ke Cimahi."


"Gak udah bawa anak-anak yaa. Berdua aja kita. Motoran pake vespa." kata Alvin.


"Terus anak-anak mau dikemanai sayang? Ngaco deh."


"Panggil apa tadi?"


"Bukan itu?"


"Terus?"


"Apa? Sayang?" Alvin tersenyum sumringah sambil menaik-naikan alisnya.


"Biasa aja dong ekspresinya jangan kaya om-om genit."


"Heh! Mulut." kata Alvin sambil menyentil kening Haifa.


"Ih KDRT terus. Tadi nyentil bibir, sekarang kening."


"Bukan KDRT sayang. Itu tuh tanda sayang."


"Mana ada tanda sayang nyentil."


"Terus maunya apa? Cium? Sini-sini mas cium. Mau dimana?"


"Mas Alvin apasih. Udah sana tolong bangunin anak anak. Terus tolong mandikan Aidan ya. Haifa mau buat sarapan ini, dari tadi gak selesai selesai."


"Yang gara-gara bujukin kamu. Minggu pagi ini mas gak olahraga tahu."


"Tanggung jawab loh." kata Alvin lagi.


"Oke Haifa tanggungjawab."


"Gimana carany?"


"Ya nanti, olahraga bareng sama Haifa mau gak?" kata Haifa sambil menyalakan kompor.


"Mau banget Yang. Gak usah nanti sekarang aja." kata Alvin langsung menggendong Haifa dipundaknya.


"Mas, mau ngapain?"


"Kan katanya olahraga bareng kamu."

__ADS_1


"Bukan itu maksudnya. Mas ih turunin itu kompor masih nyala."


"Enggak udah mas matiin."


"MAS ALVIN TURININ." kata Haifa sambil meronta.


"Tanggung jawab dong kamu yang nawarin."


"IH MAS TURUNIN." kata Haifa sambil memukuli punggung Alvin yang sedang membawanya menaiki tangga.


"HAIFA MALAS MANDI LAGI MAS."


"Mas mandiin."


"GAMAU DINGIN."


"Mas angetin."


"MAS ALVIIIIINNNNN!!!!"


*


Rencana berangkat pagi ke kota Cimahi pun sirna begitu saja. Karena ucapan Haifa yang disalah artikan oleh Alvin. Untungnya jam 08 pagi tadi Aina bangun dan gedor-gedor pintu kamar Papa dan Bundanya.


Pukul 10 hampir setengah 11 mereka masih dalam perjalanan menuju kota Cimahi. Jalanan Kota Bandung disaat weekend di beberapa titik terkadang macet parah.


"Papa, Bunda kakak lapal." kata Aina dari kursi belakang. Iya tadi saat pergi memang mereka belum sarapan. Tahu kan penyebabnya?


"Papa sih." kata Haifa pelan. Alvin hanya terkekeh.


"Cari tempat makan dulu." kata Haifa.


"Yaudah iya. Kakak mau makan apa?"


"Kakak mau makan ayam goleng."


"Depan tuh ada tempat makan ayam logo M mau disana enggak? Junkfood tapi gak apa apa?" tanya Alvin pada Haifa.


"Iya udah gak apa-apa lah gak sering ini. Kasian udah lapar. Jalanan juga macet susah nyari nya."


Mobil range rover putih milik papa Alvin terparkir rapi di halaman resto ayam logo M ini. Tidak terlalu ramai karena ini memang jam nanggung. Dibilang makan siang belum waktunya, dibilang sarapan sudah terlalu siang. Tapi yasudah yang penting mah kenyang.


"Kakak mau pesan apa?" tanya Alvin.


"Kakak mau ayam upin ipin, mau belgel sama es klim papa." kata Aina sambil menunjuk gambar yang terpasang. Aina termasuk jarang sekali makan di tempat makanan cepat saji seperti ini. Alvin maupun Haifa tidak melarang, hanya membatasi. Boleh-boleh saja, asal jangan terlalu sering. Cukup sesekali seperti saat mendesak seperti sekarang ini.


"Kentang goleng juga papa."


"Banyak amat kak. Harus habis loh." kata Alvin.


"Kan bisa buat nanti lagi. Buat di mobil buat kakak bial gak lapal." jawabnya.


Mereka menikmati makanan masing-masing. Sedangkan Aidan harus ikhlas menjadi penonton tanpa bayaran. Belum lagi kakaknya yang sesalu menggoda dan menyodorkan makanan ke dekat mulut Aidan. Tapi saat Aidan buka mulut, makannya malah masuk ke mulut kakaknya. Aina merasa puas dan tertawa terbahak. Tapi ia kasihan juga dengan adiknya.


"Bunda kasian Adek mau makan juga." kata Aina saat melihat Aidan yang duduk di baby chair mencoba menggapai makanan di meja.


"Adek belum boleh makan yang begini kak. Adek makan snack punya adek aja nih. Tadi bunda udah kasih." kata Haifa memberikan snacknya lagi pada Aidan.


"Sabal ya Adek." kata Aina.


"Kakaknya gak usah jail goda-godain adek juga. Gak usah suap-suapin Adek." kata Alvin.


"Hehe maaf papa. Kan kayak papa jail." kata Aina.


"Nah bener tuh jail kayak papa." sambung Haifa.


"Kok kayak papa." protes Alvin.


"Ya emang papa yang sering jail." kata Haifa lagi.


"Bunda juga kan suka jail."


"Papa, Bunda jangan belantem. Kayak anak kecil deh." kata Aina.


"Kakak aja yang masih kecil enggak belantem."


***

__ADS_1


To be continued...


See you next part...


__ADS_2