
Weekend, seperti biasanya Alvin selalu memanfaatkan waktu untuk bersama Aina.
"Aina mau pergi kemana sama Papa?" tanya Alvin yang masih berada di atas kasur bersama putrinya.
"Emm Aina mau beli buku papa."
"Boleh tapi sekarang Aina mandi dulu. Yuk mandi."
"tendili." jawab Aina.
"Jangan dong papa belum berani lepas Aina sendiri di kamar mandi."
"Bita kok."
"Yaudah Aina mandi sendiri tapi papa temenin ya."
Aina mengangguk. Alvin menggendong Aina untuk segera ke kamar mandi yang masih berada di dalam kamar.
"Ayo baca do'a dulu."
D'oa masuk kamar mandi
“Allahumma Innii A’uudzubka Minal Khubutsi Wal Khobaaitsi”
Artinya
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan dan kotoran”
Selesai dengan acara mandi pagi. Mereka sudah bersiap untuk pergi.
"Loh kok jilbabnya dibuka?" kata Alvin melihat Aina sudah melepas jilbabnya dan menampakan rambutnya yang berantakan.
"Gelah papa."
"Yaudah sini papa sisir lagi rambutnya Aina."
"Mau iket tu papa." kata Aina sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari pada Alvin.
"Oke sayang."
"Dah siap yuk kita berangkat."
Perjalanan di hari weekend ini cukup padat.
"Papa." rengek Aina yang mulai bosan.
"Kenapa? Sabar Yaa."
"Lama." jawab Aina sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sabar dong. Orang sabar di sayang Allah." ucap Alvin sambil mengusap kepala Aina dengan sebelah tangannya.
"Itu tadi di tas Aina bawa susu sama buah kan. Mau dimakan?"
"Mau ini tutu toklat papa." jawab Aina sambil menunjukan sekotak susu coklat yang baru diambil dari tasnya.
"Yaudah diminum aja. Sini papa bukain."
"Maatih papa."
"Sama sama Sayang."
Mobil Alvin sudah terparkir rapi di depan toko buku yang dituju.
"Yuk turun."
"Gendong." jawab Aina sambil merentangkan tangannya.
"Gak malu di gendong?"
"Aina kan matih ketil."
"Iya anak ketil." jawab Alvin sambil mencubit gemas pipi Aina.
"Ih Papa takit." kata Aina sambil berusaha menyingkirkan tangan Alvin.
"Abis putli papa ini gemes banget sih." Alvin lagi lagi mencubit pipi Aina.
"Aaaaa Papa." rengek Aina.
"Haha Yaudah yuk." kata Alvin mencium Aina kemudian menggendongnya.
"Aina mau beli buku apa?" tanya Alvin setelah berada di dalam toko buku.
"Buku celita papa."
"Oke yuk cari."
__ADS_1
Alvin sudah membawa beberapa buku ke kasir.
"Udah?" tanya Alvin memastikan.
Aina hanya mengangguk.
Alvin dam Aina kembali berada di dalam mobil.
"Mau kemana lagi? Playground?"
"No."
"Kenapa?"
"Kalau libul banak yang tama mamana, Aina dak mau kan dak tama mama." jawab Aina.
Alvin dibuat kaget dengan ucapan Aina.
"Aina kan sama papa."
Aina tidak menjawab.
"Yaudah kalau gak mau ke playground. Jadi mau kemana?"
"Beli mainan Papa." kata Aina dengan semangat.
"Mainan Aina udah banyak loh. Yang di beliin uncle Adam sama aunty Vina kemarin aja belum dibuka."
Bukan Alvin tak sanggup atau tak mau menuruti. Tapi Aina harus belajar jika tidak semua keinginan bisa terpenuhi.
"Aaaa Aina mau boneka jali kayak abang."
"Kan udah pernah beli sama papa."
"Aaa mau lagi papa. Kan kan jali Aina kan ada tepuluh. Aina balu puna 3."
"Emang harus semua jari terisi boneka?"
"Halus. Ayo Papa plis papa. Ya papa ya." bujuk Aina.
"Kalau kata Papa enggak gimana?"
"Heem Ayo papa plis. Papa Avin yang baik. Hehe."
"Enggak ah."
"Ya Papa Ya."
Alvin diam ia ingin tau usaha putrinya.
"Papa." panggil Aina dengan muka yang sangat menggemaskan menurut Alvin.
"Ayo papa. Plis papa." raya Aina lagi dengan ekspresi sama, menatap Alvin dengan bibir yang semberut sambil matanya berkedip kedip menahan tangis.
"Aduh gemes banget sih nak." Alvin kalah dan menciumi wajah Aina.
"Oke. Papa kasih beli mainan. Tapi sebagian mainan Aina yang di rumah yang udah jarang Aina pake main harus Aina share ke temen temen Aina. Gimana?"
"Okay Papa."
"Oke good girl kalau gitu."
Sementara itu di toko buku yang tadi Alvin kunjungi tampak tiga orang wanita yang sedang memilah buku.
"Haifa tadi yang kita liat beneran pak Alvin bukan sih?" tanya Aulia.
"Iya. Aku juga liat kayak pak Alvin. Tapi kok sama anak kecil ya?" tambah Dinda.
"Untung Ina gak ikut. Kalau ikut potek dia." kata Aulia.
"Mau itu pak Alvin atau bukan. Masalahnya apa coba?" ucap Haifa.
"Ya gak ada masalah cuma aneh aja kok sama anak kecil. Dia bukan pedofil kan?" celetuk Dinda.
"Astagfirullah. Dinda mulutnya." tegur Haifa.
"Hahaha iya maaf. Abisnya kalau bener pak Alvin berarti dia sama siapa?"
"Ya gak tau Haifa gak liat. Mungkin keponakannya. Pak Alvin kayaknya belum nikah." ucap Haifa. Kalimat terakhir sepertinya terucap tanpa sadar.
Aulia dan Dinda sama sama melihat Haifa.
"Cie merhatiin pak Alvin." senggol Aulia.
"Hah? Emang Haifa bilang apa tadi?"
"Haifa tadi bilang kalau pak Alvin itu baik, ganteng, ramah, masih muda, belum nikah. Gitu." ucap Dinda.
__ADS_1
"Hah enggak enggak Haifa gak bilang gitu. Mana ada baik, ramah. Orang dia gak bisa menghargai orang lain."
"Haha masih aja kesel gara gara waktu itu neng?" tanya Dinda.
"Jangan kesel kesel nanti suka." tambah Aul.
"Kalian ini kenapa sih. Udah Ah Haifa udah dapat bukunya. Haifa duluan ya bye."
Haifa berjalan meninggalkan Dinda dan Aulia.
"Eh Pak Alvin." ucap Dinda.
Spontan Haifa yang sudah berada beberapa langkah di depan mereka kambali menoleh.
"Mana pak Alvin?" tanya Haifa katika tidak menemukan keberadaan Alvin.
"Cie nyariin hahaha" goda Dinda dan Aul bersamaan kemudian berbalik jadi mereka yang meninggalkan Haifa. Haifa hanya bisa elus dada dengan keusilan temannya itu.
Setelah kegiatan setengah hari ini diisi dengan jalan jalan bersama Aina. Tepatnya pukul 13.30 Alvin sudah kembali berada di rumah bersama sang putri.
"Aina sekarang mandi ya." bujuk Alvin pada putrinya yang sedang asik membongkar mainan barunya.
"No Papa."
"Nanti lagi dong mainnya mandi dulu."
"Nanti papa."
"Sekarang sayang."
"Nanti Papa."
"Sekarang atau gak lagi papa kasih beli mainan?"
Aina langsung menatap Alvin sambil cembelut.
"Nakal." ucap Aina sambil melirik Alvin.
"Biarin. Aina juga nakal gak mau mandi."
"Ayo mandi dulu ya. Nanti malam kan kita mau ke rumah nya abang Azzam ada acara di sana."
"Tapi bawa." kata Aina sambil menunjukan mainannya.
"Boleh kalau mau mainanya langsung rusak."
"No. Papa."
"Papa hitung sampe tiga ya. Kalau Aina gak mau mandi mainanya papa kasih sama orang." kata Alvin lalu meninggalkan Aina sambil menghitung.
"Satu."
"Dua."
"Aaaa Papa sebental."
"Ti..."
"Tigg..."
Aina langsunh berlari ke arah Alvin.
"Tiga."
Greep Aina memeluk kaki Alvin.
"Nah gitu dong." Alvin langsung mengangkat Aina dan membawanya ke kamar mandi di kamar Aina.
Sore harinya ba'da ashar Alvin sudah berada di rumah Abangnya menghadiri acara kajian rutin yang kebetulan rumah Arvan yang menjadi tempatnya.
"Sayang nanti sampe acaranya selesai. Aina sama aunty Zia, aunty Vina atau nenek ya. Jilbabnya dipakai dulu ya."
Aina mengangguk.
Setelah menitipkan Aina pada para wanita. Alvin berjalan ke arah luar rumah untuk mempersilakan tamu tamu yang baru datang.
Dirasa semua tamu sudah masuk. Alvin dan Arvan hendak masuk ke dalam juga karena acara kajian akan segera dimulai.
"Mas...Mas tunggu mas." panggil seseorang dari arah gerbang. Alvin dan Arvan sama sama berbalik.
Alvin dibuat kaget melihat siapa yang datang. Alvin tau kajian ini memang terbuka untuk umum. Tapi biasanya jika kajian diadakan di rumah. Kajian sifatnya lebih tertutup dan pesertanya biasanya lebih terbatas.
Tidak kalah kagetnya dengan Alvin. Sosok tamu yang baru datang pun. Nampak langsung diam.
**To Be Continued...
See You Next Part**...
__ADS_1