
Satu jam perjalanan mereka sampai di klinik.
"Aina sayang bangun yuk." panggil Haifa untuk membangunkan Aina.
Tampak Aina mulai menggeliat. Jangan salahkan Aina jika sepanjang perjalanan ke rumah sakit ia hanya tertidur. Karena memang saat ini adalah jam tidur siangnya.
"Sudah sampai sayang. Turun yuk."
Aina belum sepenuhnya bangun ia masih mengusel di dada Haifa.
Haifa membukakan sebotol air mineral lalu menyodorkannya pada Aina.
"Nih minum dulu." Haifa memang selalu membiasakan setiap kali bangun tidur harus minum terlebih dahulu.
Haifa merapikan rambut Aina yang sedikit berantakan.
"Aina mau pake kerudung enggak?" tawar Haifa.
Aina menggeleng. Haifa tidak mempermasalahkan begitu juga Alvin.
"Yaudah bunda ikat di belakang ya rambutnya?"
Aina mengangguk.
Seperti yang lainnya Alvin dan Haifa pun melakukan pendaftaran kemudian mendapat nomor antrian dan mereka juga harus sabar menunggu sampai nomor mereka dipanggil.
Cukup lama menunggu akhirnya sekarang giliran Haifa untuk berkonsultasi dengan dokter. Saat masuk Haifa lebih dulu dilakukan penimbangan berat badan, tinggi badan, dan tekanan darah. Setelah itu, dokter menanyakan apakan ada keluhan keluhan selama ini. Barulah meteka ke ruang periksa untuk dilakukan USG.
Alvin sudah menggendong Aina agar bisa melihat lebih dekat dengan monitor.
"Mana dedenya?" tanya Aina sambil mendongak menatap Alvin.
"Ini nih. Ini calon dedenya Aina." kata dokter sambil menunjukan gambar di monitor."
"Ketil tekali. Tuma tegini." kata Aina sambil mengukurnya menggunakan ibu jari dan jari telunjuk. Membuat tiga orang dewasa yang berada di sana tersenyu gemas dengan tingkahnya.
"Iya masih kecil tapi nanti juga tumbuh besar." jelas dokter.
"Aina juga dulu sekecil itu." tambah Alvin.
"Nanti lama lama betal?" tanya Aina sambil menatap Alvin.
"Iya dong. Apalagi kalau makannya banyak."
"Nanti Aina harus ikut terus yaa tiap bunda ke dokter. Soalnya nanti tiap bunda ke dokter dedenya pasti tambah besar." kata dokter.
"Aina mau." jawabnya.
"Satu dok?" tanya Alvin.
"Sejauh ini sih saya lihat satu." jawab dokter.
"Maunya langsung dua ya?" tanya dokter.
"Haha ya siapa tahu dok. Soalnya saya kembar. Dan diantara saya dan saudara kembar saya belum ada yang dapat kembar lagi. Tapi gak masalah asalkan sehat."
"Ini perkembangannya bagus kan dok?" tanya Haifa.
"Bagus. Ini ukurannya juga sesuai usia. Nanti bulan depan kontrol lagi. Insya Allah kita udah bisa dengar detak jantungnya."
Jangan lupakan Aina yang sejak tadi selalu memandangi layar monitor dan sesekali menyentuhnya.
Selesai dengan USG Mereka kembali ke meja dokter.
"Bulan depan tanggal berapa dok?" tanya Alvin.
"Bisa awal bulan saja sekitar tanggal 10 an kalau bisa."
"Ingat tandain, kosongin jadwal tanggal 10." ucap Haifa sambil melirik Alvin.
"Iya nanti di alarm." jawab Alvin.
"Dia semenjak hamil sensi banget dok sama saya. Pengennya jauh jauh terus. Dipeluk sebentar aja bilangnya bau, mual. Padahal saya udah mandi udah pakai parfum." keluh Alvin.
"Mas ih." kata Haifa malu malu.
"Haha sabar dong Vin. Namanya juga ibu hamil banyak perubahan hormon."
"Sabar sih dok. Tapi ya nelangsa saya tuh."
__ADS_1
"Mas Alvin apa sih."
Dokter hanya tersenyum melihat mereka berdua. Dokter memang sudah mengenal Alvin karena bisa dibilang keluarga mereka sudah langganan dengan dokter ini.
"Oh iya dok ada vitamin enggak yang bisa menunjang biar kandungannya lebih kuat gitu."
"Ada ini saya resepkan."
"Dok kalau sekedar gendong gendong Aina ini gak masalahkan?" tanya Haifa sambil mengusap rambut Aina yang berada di pangkuan Alvin.
"Gak masalah selama abis gendong gak merasa ada keluhan. Asalkan jangan dalam durasi yang lama. Misalkan lagi jalan di mall sambil jalan jalan sambil gendong berjam jam. Nah itu sih sebaiknya jangan."
"Tuh kan boleh." kata Haifa pada Alvin.
"Iya. Mas kan cuma khawatir. Kan katanya usia awal itu masih rawan. Terus kan katanya bisa aja janinnya belum melekat sempurna. Ya gak salah dong kalau menjaga." jawab Alvin.
"Iya memang sampai 3 bulan itu masih sangat rawan. Tapi bukan berarti jadi gak bisa dan gak boleh melakukan apapun." jelas dokter.
"Kadang mitosnya kalau lagi hamil tuh harus diam jangan banyak gerak jangan olahraga dan banyak jangannya. Sebetulnya selama si ibu tidak ada keluhan soh sah sah saja. Justru olahraga bagus kok buat persiapan persalinan. Asal olah raga yang ramah bumil."
"Kalau makanan sendiri dok gimana? Ada yang dilarang gak? Kalau mitosnya kan jangan makan durian, nanas begitu. Gimana tuh dok?"
"Sebetulnya kalau tidak berlebihan itu tidak masalah. Kalau cuma sebiji durian atau sepotong nanas sih kalau emang sebelumnya gak ada keluhan ya boleh boleh aja. Tapi sebiji satu biji yaa bukan satu buah. Ada keluahan emang sama makanan?" tanya dokter.
"Enggak ada sih dok. Walaupun sambil mual mual tapi masih bisa dipaksain." jawab Haifa.
"Nah memang begitu harus dipaksakan. Walaupun sedikit sedikit yang penting ada yang masuk."
"Ada yang ingin ditanyakan lagi?"
"Cukup dok sepertinya." jawab Haifa.
"Yasudah kalau begitu. Nanti kalau mau bertanya diluar jadwal konsul bisa lewat WhatsApp saja ya."
"Iya baik dok."
"Ini resepnya ya."
"Iya dok terimakasih. Kalau begitu kami permisi dok. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Mas, kita sekalian belanja bulanan aja yuk gimana?" tanya Haifa.
"Gak cape emang?"
"Hm justru sekalian keluar kan. Nanti susah lagi cari waktu sama mas. Emang mas kasih izin kalau Haifa belanja bulanan sendiri?"
"Beneran gak cape? Kita makan dulu deh ya gimana?"
"Tapi makannya di mobil aja ya. Belinya take away aja."
"Kenapa gitu?"
"Takut mual mas. Nanti yang ada pengunjung yang lain malah jijik."
"Yaudah kamu mau makan apa?"
"Seafood enak kayaknya mas."
"Mau seafood aja? Aina mau makan apa sayang?" tanya Alvin pada putrinya.
"Aina mau tama kayak bunda."
"Yaudah seafood berarti yaa." kata Alvin memastikan.
Setelah mendapatkan yang diinginkan mereka makan bersama di dalam mobil dan di tempat parkir tentunya. Bukan di dalam mobil sambil berkendara ya.
Benar yang Haifa takutkan baru beberapa suapan saja dirinya sudah tidak berselera lagi. Selanjutnya Haifa hanya menyuapi Aina saja.
"Makan lagi sayang." bujuk Alvin sambil menyudorkan sendok ke mulut Haifa.
"Enggak mas. Udah mual nanti malah muntah repot." tolak Haifa.
"Iya tapi kamu baru makan berapa suap coba."
"Gak apa apa sedikit yang penting masuk. Gak di muntahkan lagi."
Alvin hanya pasrah.
__ADS_1
"Yaudah terus mau makan apa?"
"Enggak pengen apa apa."
"Sayang mas mah rela dimintain beli ini dan itu daripada liat kamu susah makan begini."
"Iya udah. Sekarang juga kan Haifa udah makan walaupun sedikit. Nanti kalau mau apa apa lagi juga bilang kok."
"Alhamdulillah. Abis makannya. Pintar anak bunda. Gimana do'anya sayang kalau udah makan?" ucap Haifa saat kotak makanan milik Aina sudah tidak bersisa.
“Alhamdu lillaahil ladzii ath’amanaa wa taqoonaa wa ja’alnaa muslimiin” ucap Aina sambil mengangkat tangan kemudian mengusapkannya ke wajah. (Ini versi Aina ya mangkanya jadi wa taqoona).
"Anak shalehah." ucap Alvin sambil mengelus kepala Aina dengan tangan kirinya.
Alvin juga sudah menyelesaikan kegiatan makannya.
"Papa liat sini." panggil Haifa sambil memegang pipi Alvin agar menghadap ke arahnya.
"Belepotan." kata Haifa sambil mengelap bibir Alvin menggunakan tisu.
"Hehe. Makasih bunda."
"Sini di buang dulu kotak makanan yang sudah habisnya."
Selesai makan mereka melanjutkan kegiatan yang tidak direncanakan yaitu belanja bulanan.
"Aina mau duduk di trolly atau mau jalan sendiri sayang?" tanya Alvin.
"Mau jalan tendili." jawabnya sambil melompat-lompat dan berjalan memasuki supermarket mendahului kedua orang tuanya.
"Kamu aja yang naik ke trolly sayang biar gak cape."
Malas menanggapi keanehan suaminya Haifa berjalan mendahului Alvin.
Mereka sudah mendapatkan hampir semua barang yang dibutuhkan.
"Bunda tolong Aina mau itu." katanya sambil menunjuk snack rasa jagung berukuran besar yang berada di bagian atas dan tidak terjangkau oleh dirinya.
"Mau berapa?" tanya Haifa.
"Dua." jawabnya.
Haifa mengambilkan sesuai dengan permintaan putrinya. Tidak dilebihkan ataupun tidak dikurangi.
"Telimakatih bunda." ucapnyaa.
"Sama sama sayang."
Saat hendak menuju ke kasir. Alvin seperti melihat seseorang yang tidak asing baginya.
"Sayang..." panggil Alvin.
"Kenapa? Ada yang ketinggalan belum kebeli?"
"Bukan, ini udah kan?"
"Udah kok kecuali mas ada yang mau dibeli lagi."
"Enggak ada. Yaudah kamu ke mobil aja duluan sama Aina ya. Biar mas yang ke kasir. Nih kuncinya." kata Alvin sambil menyerahkan kunci mobil.
"Loh kenapa."
"Sayang udah deh nurut aja dulu sama mas. Ke mobil duluan yaa bawa Aina."
"Iya tapi kenapa? Mas kenapa sih?"
"Sayang please cepet ke mobil."
"Tapi mas ini..."
"HAIFA KE MOBIL SEKARANG!"
"Yaudah iya. Gausah marah marah malu!" kata Haifa sambil menggendong paksa Aina dan menyambar kunci mobil dari tangan Alvin lalu berjalan keluar supermarket.
***
**To be continued...
See you next part**...
__ADS_1