Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 31


__ADS_3

Alvin segera menyusul Haifa. Dirinya yakin sedikit banyak Haifa mendengar perkataan ibu.


Alvin mencari Haifa di kamar Aina. Tapi tidak ada, hanya ada Aina yang sedang tertidur. Tapi untunglah waktu memasuki kamar Alvin mendengar ada suara gemericik air, Alvin yakin Haifa ada di dalam.


"Eh mas udah di kamar. Ibu udah pulang?" tanya Haifa saat keluar dari kamar mandi.


Alvin memandangi Haifa, wajahnya tampak segar karena pasti baru saja terkena air. Tapi matanya tidak bisa disembunyikan, Alvin tau Haifa baru menangis.


"Maaf ya Haifa gak sempet ke bawah lagi. Tapi abis boboin Aina, Haifa langsung ke air. Niatnya mau ke bawah eh mas udah ada disini hehe" ucap Haifa dengan senyumannya yang sok kuat.


Alvin langsung mendekat ke arah Haifa yang duduk disampingnya.


"Gak usah sok kuat di depan mas. Gak usah sok tegar. Tunjukin aja seapaadanya kamu. Mas mau merasa mas itu orang yang dibutuhkan waktu kamu lemah, mas mau merasa mas itu orang yang pertama kamu cari saat kamu butuh." ucap Alvin sambil menangkup wajah Haifa kemudian membawa Haifa kepelukannya.


"Maaf ya mas nyakitin kamu." ucap Alvin.


Alvin mendengar isakan kecil di dadanya. Ia juga melihat bahu Haifa bergetar. Sudah bisa dipastikan jika Haifa saat ini sedang menangis.


"Mas gak suka lihat kamu nangis. Tapi justru mas sendiri yang buat kamu nangis." ucap Alvin sambil mengeratkan pelukannya pada Haifa.


"Mas gak salah kok."


"Kamu denger apa aja tadi?" tanya Alvin.


Alvin merasakan Haifa menggeleng. Ia tahu Haifa tidak mau membahasnya lagi. Alvin juga tidak mau, karena jika dibahas maka akan semakin menyakiti Haifa.


"Mas besok kalau mas ke kantor, terus Aina sekolah. Setelah selesai pekerjaan di rumah Haifa minta izin mau ke rumah mama ya?"


Alvin menegang. Ia takut Haifa menceritakan kejadian ini pada mertuanya. Bisa bisa orangtuanya tidak percaya lagi pada Alvin.


"Mas gak usah mikir macem macem. Insya Allah Haifa gak akan bilang apa apa sama mama. Haifa cuma pengen belajar masak sama mama.  Biar semakin banyak yang Haifa bisa. Biar Haifa gak malu lagi di depan ibu. Biar Haifa juga bisa masak makanan yang mas suka yang belum bisa Haifa buat."


"Sayang, makanan yang mas suka itu apapun yang kamu buat. Sekalipun itu cuma telor mata sapi."


"Kamu tahu 4 bulan kamu selalu masakin mas dengan menu menu yang kamu bisa. Menu menu yang simple justru itu yang mas suka. Mas ngerasa yang kamu buat itu lebih sehat untuk sehari hari."


"Mas gak usah muji berlebihan buat nutupin kekurangan Haifa."


"Mas serius sayang. Kalau bicara kekurangan mas juga pasti banyak kekurangan sebagai suami. Cuma masalahnya kekurangan mas tertutupi karena tidak ada yang usil mengorek ngorek. Kalau di korek korek mungkin kekurangan mas jauh lebih banyak daripada kekurangan kamu."


"Sekarang gini. Kalau kita terus terusan hidup buat memuaskan orang lain, hidup kita akan susah sayang. Kita akan selalu merasa terbebani. Kita jalani apa adanya aja, kita bahagiakan dulu keluarga kecil kita."


"Tapi Haifa tetep harus belajar mas. Seenggaknya kalau Haifa bisa, kekurangan Haifa yang satu itu tidak akan terus diungkit oleh ibu. Boleh ya tiap hari Haifa belajar sama mama?"


Alvin menarik nafas panjang.


"Yaudah. Tapi jangan maksa jangan sampe kecapean. Soalnya kamu di rumah pasti udah cape ngurus mas sama Aina."


"Makasih ya." ucap Haifa sambil tersenyum menatap Alvin.


"Mas yang makasih. Karena kamu udah banyak berkorban buat keluarga kita."


"Apasi lebay."


"Haha. Gak sedih lagi dong?" tanya Alvin.


Haifa menggeleng.


"Tadi pagi kamu bilang pusing sama mual sekarang masih?" tanya Alvin.


"Udah enggak kok gak berasa sama sekali malah."


"Beneran?"


"Iya mas. Jangan berlebihan Haifa sakit udah sebulan yang lalu masa gak sembuh sembuh."


"Mas cuma khawatir sayang."


"Iya tapi Haifa gak apa apa."


"Yaudah."


"Aina tidur. Enaknya kita ngapain ya?" tanya Alvin.


"Hm, nonton yuk."


"Drama korea kamu itu?"


Haifa mengangguk.


"Gak!"


"Kenapa sih sensi banget kalau denger drama korea?"


"Ya abis ngapain kamu nonton yang begitu. Nontonin yang bukan mahram  bermesraan, ciuman. Ngapain coba mending kamu praktek sendiri kan?"


"Ih mas mah. Sekali aja temenin Haifa nonton ya. Siapa tau kan mas jadi suka."


"Kenapa sih kamu suka banget nonton drama drama korea itu?"


"Kenapa ya? Ya seru aja gitu seneng bisa liat oppa oppa yang ganteng ganteng." ucap Haifa tanpa sadar Alvin sudah menatap tajam kearahnya.


"Gak tau kenapa gitu kalau cowok cowok yang ada di drama korea itu mereka kelakuannya selalu sweet. Bikin meleleh, walaupun banyak juga yang karakternya coo, bahkan galak, tegas tapi kalau sama pasangannya mereka itu pada sweet seneng aja." sekali lagi Haifa menceritakan tanpa beban. Belum menyadari jika suaminya sudah benar benar menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Beneran karena itu?"


"Maksudnya?"


"Bukan karena biar inget sama mantan kamu yang keturunan korea itu?" tanya Alvin dengan tatapan tajamnya.


"Haha jadi mas larang Haifa nonton drama korea karena itu?"


"Kamu nonton drama itu biar inget sama dia kan? Karena wajahnya yang serupa?"


Haifa terkekeh sebentar. Ini suaminya sedang cemburu ya? Gak salahkan ini suaminya Haifa sedang cemburu?


"Mas cemburu?"


"Gak!"

__ADS_1


"Masa?"


"Hm."


"Cie cemburu."


"Gak!"


"Yah. Padahal Haifa seneng kalau mas cemburu." kata Haifa sambil menunjukan wajahnya yang cemberut seakan akan kecewa dengan Alvin.


"Yaudah iya."


"Iya apa?"


"Iya mas cemburu. Puas?"


"Haha gausah cemburu. Haifa sama Jugo gak pernah lebih dari sekedar saling mengal."


"Iya memang dia pernah bilang suka. Tapi kan gak Haifa tanggapin."


"Ya tapi gak menutup kemungkinan kalau dia tiba tiba datang lagi terus deketin kamu lagi gimana?"


"Ya enggaklah Haifa udah punya suami."


"Kalau dia nekat?"


"Ya kalau dia nekat Haifa mah tergantung mas."


"Kok?"


"Ya menurut mas gimana kalau dia nekat?"


"Ya saya gak akan ngebiarin lah istri saya didekati orang lain."


"Nah yaudah."


"Tapi mas sebenarnya kalau mas mau cemburu, itu kayaknya yang tepat bukan sama jugo."


"Terus?"


"Tapi sama Rayhan. Soalnya langkah dia udah lebih jauh dari Jugo. Dia udah datang ke Papa. Tapi waktu itu papa belum kasih lampu hijau karena Rayhan juga masih kuliah. Dia bahkan udah dua kali datang ke Papa."


Alvin kembali menatap Haifa dengan tatapan yang tak terbaca maksudnya.


"Cuma setelah yang kedua itu dia menghilang. Sampe sekarang gak tau kemana. Kemarin aja pas nikahan kita gak diundang soalnya Haifa gak tau dia dimana. Keluarganya juga sama gak ada. Entah pindah kemana gak ada kabar."


"Jadi kamu nunggu kabar dia?"


"Ngapain enggaklah. Ya maksud Haifa cerita tuh biar mas tau aja. Kan belum pernah cerita Haifa."


"Jadi dia belum tahu kalau kamu sudah menikah?"


"Ya Haifa gak tau. Mungkin belum."


"Yaudah mulai besok kamu gak boleh keluar rumah kalau gak sama mas."


"Kok gitu?"


"Hahaha Astagfirullah. Mas gini banget sih kalau lagi cemburu."


"Ya gak mungkin lah. Kalau ketemu dia ya Haifa tinggal bilang aja Haifa udah menikah. Apa susahnya?"


"Yakin kamu sampe hati bilang gitu sama dia? Gak takut orang yang kamu sayang sakit hati?"


"Haha Apa sih mas siapa yang sayang sama dia? Haifa gak pernah bilang sayang sama dia."


"Siapa yang tau kan kalai dia juga udah menikah. Dia orang baik, ganteng, pinter gak susah lah buat cari istri."


"Gimana saya gak cemburu kalau di depan suami saja kamu berani memuji dia." ucap Alvin sambil berdiri dan meninggalkan Haifa.


"Astagfirullah. Mas gak begitu maksudnya." ucap Haifa mencoba menahan Alvin. Tapi Alvin tetap memilih keluar dari kamar.


"Ini kenapa sih. Hari ini banyak banget ributnya." ucap Haifa pada diri sendiri.


Hingga malam sikap Alvin belum juga berubah. Haifa menyesal kenapa harus membahas Rayhan sih.


"Mas." panggil  Haifa sambil menatap Alvin yang tidur memunggunginya.


"Mas Alvin." panggil Haifa lagi.


"Gak ada udah tidur." jawab Alvin.


"Ih mas serius." ucap Haifa sambil menoel moel punggung Alvin.


"Diam." tegur Alvin.


"Bener nih gak mau hadap sini? Nyesel loh nanti." ucap Haifa asal. Padahal ia juga tak tahu hal apa yang akan membuat Alvin menyesal jika tidak menghadapnya.


"Gak!"


"Yaudahlah terserah."


"Kamu tuh suami lagi ngambek bukannya dibujuk malah di ngambekin balik. Mas juga kalau kamu ngambek berusaha buat bujuk kamu."


"Ya abis tadi mau dibujuk suruh balik badan gak mau. Yaudah males."


"Yaudah nih udah balik badan." ucap Alvin.


Sekarang giliran Alvin yang memandangi punggung Haifa.


"Sayang ini udah balik badan cepet mau dibujuk apa?"


Haifa pun membalik badan sambil tersenyum. Yeay berhasilkan haha.


"Sini deketan." pinta Haifa.


Alvin pun mendekat hingga hampir merapat tubuh mereka.


Haifa menangkup wajah Alvin.

__ADS_1


"Mas cemburu kan?"


Alvin mengangguk. Tolong lah Haifa sekarang seperti sedang membujuk Aina.


"Gak usah cemburu. Haifa gak sayang sama Jugo, Rayhan atau siapapun."


"Haifa itu sayangnya sama Papanya Aina. Mas tau gak siapa papanya Aina?"


"Gak tau." jawab Alvin asal.


"Yah padahal Haifa sayang sama dia."


"Yaudah kalau mas gak tau. Haifa titip pesen aja ya. Kalau nanti mas udah siapa papanya Aina, tolong bilangin kalau Haifa itu sayang sama dia. Idah gitu aja sekarang Haifa mau tidur. Tadinya sih gak mau tidur. Tapi karena papanya Aina gak ada mending Haifa tidur aja."


"Saya papanya Aina!" ucap Alvin sambil merapatkan tubuhnya pada Haifa.


"Oh ini papanya Aina."


"Papanya Aina, Haifa mau bilang akalau Haifa sayang sama papanya Aina."


"Bohong."


"Kok bohong."


"Buktinya apa?"


Cup..


Sebuah kecupan di pipi kanan.


"Kurang."


Cup..


Di pipi kiri.


"Lagi."


Cup..


Di kening.


"Sekali Lagi."


Cup..


Tapi saat Haifa akan menjauh Alvin langsung menahannya.


"Ih Papanya Aina nakal." ucap Haifa setelahnya.


"Hahaha. Kenapa sih ini pipi selalu merah gini padahal bukan pertama loh sayang." ucap Alvin sambil mengelus pipi Haifa.


"Papanya Aina. Tapi Haifa punya satu lagi." ucapnya pelan.


"Apa?" tanya Alvin sambil tersenyum jail.


"Sini bisik bisik."


"Nah kalau yang ini Papa suka, bunda." ucap Alvin dan author langsung dilarang cerita 😂😂😂


Pukul 03.30. Haifa bangun lebih dulu. Hampir sama seperti kemarin Haifa merasakan kepalanya sedikit berat ia juga merasa ada sesuatu mendesak yang ingin dikeluarkan dari mulutnya. Haifa bergegas ke kamar mandi sekalian mandi. Selesai mandi Haifa langsung membangunkan Alvin.


Alvin turun dari tempat tidur lalu menghampiri Haifa sedang mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.


"Sini mas bantu." ucap Alvin yang sudah berdiri di belakangnya dan mengambil alih handuk dari tangan Haifa.


"Tumben."


"Soalnya mas habis dapet hadiah sukarela."


"Emang sebelumnya pernah Haifa terpaksa?"


"Ya enggak tapi biasanya selalu mas yang ngode. Haha."


Haifa membalik duduknya menjadi membelakangi meja rias dan menghadap Alvin.


"Mas semoga kali ini benar benar bisa tumbuh ya. Biar kita bisa kasih kabar bahagia buat ibu, ayah, mama, papa." ucap Haifa sambil mendongak menatap Alvin.


"Jadi ini juga karena kamu masih kepikiran ucapan ibu?"


"Sedikit hehe. Maaf ya mas. Tapi beneran cuma sedikit kok."


Alvin hanya menarik nafas lalu menghembuskannya dengan kasar.


Menghilangkan atau melupakan sesuatu yang sudah terlanjur masuk ke dalam hati tidak akan semudah ombak meruntuhkan istana pasirkan?


Jadi tidak salahkan kalau Haifa masih terngiang dengan ucapan mertuanya?


"Yaudah mas cepetan mandi. Nanti telat subuh ke masjidnya."


Alvin melihat jam dinding dan segera menuju ke kamar mandi. Dan Haifa ia menyiapkan pakaian untuk Alvin pergi ke masjid. Sekaligus pakaian untuk Alvin bekerja nanti.


Saat sedang menyiapkan pakaian untuk Alvin lagi lagi muncul rasa bergejolak dari dalam perutnya. Tak mungkin menunggu Alvin keluar ia bergegas ke kamar mandi yang lain.


"Huh. Ya Allah aku ini kenapa sih? Rasa pengen muntah gak ketahan tapi di muntahin gak ada apa apa." ucap Haifa pada diri sendiri.


Sebenarnya sudah hampir seminggu Haifa merasakan seperti ini. Hanya saja Haifa baru berani bilang pada Alvin kemarin. Karena Haifa tak mau Alvin jadi terlalu khawatir.


"Kamu dari mana sayang?" tanya Alvin saat melihat Haifa memasuki kamar masih dengan menggunakan bathrobe nya.


"Itu tadi ngecek Aina." bohong Haifa.


Alvin hanya megangguk. Haifa tidak berusaha menunjukan yang ia rasakan di depan Alvin padahal percayalah gejolak itu kini kembali lagi dan kepala Haifa juga rasanya berat sekali.


"Kenapa?" tanya Alvin saat melihat Haifa buru burubke kamar mandi.


"Mau pipis." jawab Haifa asal.


***

__ADS_1


**To be continued...


See you next part**...


__ADS_2