
Alvin dan Aina sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan. Alvin sedang mencari sesuatu untuk menjadi buah tangan kunjungan pertamanya ke keluarga Haifa. Walaupun belum ada ikatan resmi sebagai calon atau apapun itu. Tapi Alvin rasa datang dengan tangan kosong bukan pilihan yang tepat.
"Papa ini untuk apa?" tanya Aina sambil menunjuk beberapa belanjaan yang Alvin bawa.
"Ini untuk keluarganya aunty sayang."
"Kita mau ke lumah Aty tantik papa?"
"Iya sayang."
"Yeeee." ucap Aina sangat antusias.
"Seneng banget kayaknya putri papa ini?"
"Hehe."
Tidak butuh waktu lama Alvin sampai di tempat sesuai dengan Alamat yang dishare oleh Haifa. Letaknya ternyata tidak terlalu jauh dari rumah Alvin.
Alvin memarkirkan mobilnya di luar pagar rumah Haifa.
"Bismillah." ucap Alvin kemudian memencet bell yang ada di dinding pagar rumah.
Di dalam rumah, Mama dan Papa sudah berkumpul sambil mengobrol di ruang keluarga. Karena sebelumnya Haifa sudah memberitahu jika Alvin akan datang hari ini.
"Nah ada yang ngebell tuh. Udah datang mungkin. Bukain sana dek." kata Mama pada Haifa.
"Kok adek."
"Masa harus papa?" ucap Papa.
"Atau mama?" tambah mama.
"Cepet ah. Nanti gak papa restui loh."
"Papa ini udah kayak pak Alvin bakal bener bener ngajakin adek nikah aja. Belum tentukan orang dia datang cuma mau kenalan sama papa mama."
"Emang siapa yang bilang Alvin bakal nikahin adek? Papa cuma bilang nanti gak papa restui loh gitu." ucap Papa sambil tersenyum menggoda Haifa.
"Anak mama udah ngebet banget pengen ada yang nikahin ya?"
"Ih papa mama mah." rajuk Haifa.
"Udah gausah ngambek ngambek bukain sana. Kelamaan nanti balik lagi dikira gak ada orang." ucap mama.
Haifa beranjak dari duduknya dengan muka cemberut karena kesal sejak tadi di goda oleh mama dan papanya.
"Senyum dek. Jangan cemberut terus gak baik menjamu tamu begitu." tegur papa.
"Iya Papa." ucap Haifa sambil menunjukan senyum pada mama dan papanya.
Haifa berjalan keluar rumah untuk membuka gerbang.
Saat gerbang berhasil terbuka tampak Alvin dan Aina di depannya.
"Atalamualaikum aty." ucap Aina di tengah tengah kedua orang dewasa yang sama sama diam.
"Wa'alaikumsalam cantik udah lama ya. Masuk yuk." ajak Haifa.
Aina langsung berjalan ke arah Haifa. Mereka berdua berjalan masuk sementara Alvin masih dalam posisinya karena merasa diabaikan.
__ADS_1
"Cuma Aina aja nih yang kamu ajak masuk?" tanya Alvin.
Haifa yang masih beberapa langkah di depan Alvin pun kembali menoleh.
"Bapak udah dewasakan ya seharusnya mengerti sendiri." jawab Haifa.
"Tapi saya tamu. Kalau belum dipersilahkan tuan rumah maka belum berhak." ucap Alvin.
"Silahkan masuk pak Alvin." ucap Haifa sambil terus berjalan menggandeng Aina.
Alvin tersenyum. Walaupun mungkin dirinya dan Haifa masih sama sama kaku tapi setidaknya Aina dan Haifa sudah begitu akrab dan bisa saling menerima.
Mereka masuk beriringan. Mama dan papa sudah berdiri di depan pintu rupanya.
"Assalamualaikum." ucap Alvin saat melihat kedua orangtua Haifa. Kemudian langsung bersalaman dengan papa Haifa. Dan diikuti oleh Aina yang menyalami kedua orang tua Haifa.
"Wa'alaikumsalam." jawab mereka.
"Ini cantik namanya siapa?" tanya Mama sambil berjongkok di depan Aina.
"Aina ..." ucap Aina menggantung karena belum tau harus memanggil apa. Aina juga menoleh ke arah Haifa.
"Panggil aja umi sayang." ucap Mama pada Aina. Panggilan umi itu menyesuaikan dengan panggilan kedua cucunya.
"Yaudah. Silahkan masuk." ajak Mama.
Mereka pun masuk dan berkumpul di ruang keluarga. Kata papa sih katanya biar lebih santai.
"Oh iya om tante ini Alvin ada ini sedikit. Semoga berkenan." ucap Alvin sambil menyerahkan bawaannya.
"Ya Allah repot repot segala. Terimakasih ya pak Alvin." ucap Mama sambil menerima barang bawaan Alvin.
Alvin dan kedua orangtua Haifa sudah mulai berbincang dan Haifa ia sedang berada di dapur menyiapkan suguhan untuk tamunya.
"Silahkan di minum pak." ucap Haifa sambil menyodorkan secangkir minuman.
"Terimakasih." jawab Alvin.
Mereka kembali melanjutkan obrolan. Haifa hanya menjadi pendengar. Obrolan tampak santai namun berisi.
Hingga tanpa terasa suara adzan maghrib harus menghentikan obrolan mereka.
"Alhamdulillah udah maghrib. Gimana kalau kita sama sama shalat berjama'ah di rumah?" ajak papa.
"Tumben papa gak ke masjid." ucap Haifa.
"Ya kan lagi ada tamu masa papa tinggal." jawab papa.
"Ya sekalian aja sama pak Alvin ke masjid." kata Haifa lagi.
"Iya Om memang kan begitu seharusnya. Laki laki itu diutamakan untuk shalat di masjid. Begitu kan om?"
"Alhamdulillah kalau emang nak Alvin juga mau ikut ke masjid. Yaudah yuk nanti telat kita." ajak papa lagi.
"Mari om." jawab Alvin.
"Aina tunggu ya Papa ke masjid dulu jangan nakal ya sayang." kata Alvin sambil mengusap kepala Aina.
"Iya Papa."
__ADS_1
Alvin dan Papa sama sama pergi ke masjid yang tidak jauh dari kediaman Haifa. Sedangkan Haifa shalat di rumah besama Mama dan Aina.
Selesai shalat isya papa dan Alvin kembali ke rumah.
"Nak Alvin selalu berjama'ah di masjid?"
"Enggak selalu sih om. Cuma sebisa mungkin Alvin usahakan apalagi maghrib, isya dan subuh."
"Alhamdulillah."
Sampai di rumah Alvin dan Papa Haifa kembali ke ruang keluarga. Mereka tampak kembali mengobrol. Sementara itu Mama dan Haifa sedang menyiapkan makan malam.
"Pa, makanannya udah siap." ucap Haifa yang baru muncul dari arah ruang makan.
"Nah nak Alvin kebetulan makananya sudah siap jadi sebaiknya kita makan malam dulu ya. Nanti kita sambung lagi ngobrolnya."
"Aduh om maaf Alvin jadi merepotkan. Alvin juga sudah terlalu lama betamu mungkin lebih baik Alvin pamit saja."
"Oh enggak enggak. Enggak ada sejarahnya yang bertamu ke rumah ini pulang sebelum makan. Kita makan dulu, nanti kalau sudah makan terserah deh kalau mau pamit ya silahkan kalau masih betah mau di sini ya silahkan mau nginap juga silahkan." kata Papa.
"Papa." tegur Haifa.
"Haha iya maaf becanda yaa. Yaudah yuk makan dulu. Jangan nolak nanti om cabut lagi izinnya mau?"
"Eh. Jangan begitu om." kata Alvin dengan spontan.
"Haha becanda lagi. Tegang banget kayaknya. Udah ah yuk makan dulu." kata Papa sambil berjalan ke arah meja makan.
Alvin mengikuti di belakang Papa Haifa.
Tidak ada obrolan apapun saat di meja makan. Semuanya fokus terhadap makanan. Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar.
Selesai makan semua masih berkumpul di meja makan. Kecuali Haifa yang sedang bolak balik dapur untuk membereskan bekas makan mereka.
"Maaf om, tante sebelumnya pamit ada hal yang ingin Alvin bicarakan terlebih dahulu." ucap Alvin.
"Oh begitu sebentar ya saya panggilkan Haifa dulu." kata Papa.
"Adek sini dulu." panggil Papa.
"Iya ada apa pa?"
"Duduk dulu." perintah Mama.
Haifa menurut ia duduk di samping Mama.
"Begini Om, Tante dan Haifa sebelumnya Alvin ucapkan terimakasih karena sudah mau menerima dan mengizinkan Alvin dan Aina untuk bertamu dan berkenalan dengan keluarga Om. Mohon maaf juga jadi merepotkan keluarga Om karena kedatangan Alvin." ucap Alvin.
"Kami tidak merasa direpotkan kok, tenang aja nak Alvin." kata Papa.
Alvin membalas dengan tersenyum.
"Om, Tante. Jika diizinkan Alvin menginginkan perkenalan ini menjadi perkenalan yang lebih terarah. Alvin punya niat baik ingin menjadikan Haifa sebagai istri bagi Alvin dan ibu bagi Aina. Tapi mungkin terlalu cepat prosesnya."
"Jika Om dan Tante mengizinkan juga Haifa berkenan. Dan jika memang Haifa belum menjadi pinangan lelaki lain. Malam ini Alvin ingin memulai lebih mengenal keluarga om dan tante terutama Haifa dengan proses mungkin kurang tepat jika disebut ta'aruf karena setau Alvin ta'aruf tidak boleh seintens ini. Tapi yang jelas Alvin serius ingin mengenal lebih jauh tentang Haifa." ucap Alvin.
***
**To be continued...
__ADS_1
See you next part**...