Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 19


__ADS_3

Mendengar pertanyaa Haifa tadi entah kenapa membuat Alvin tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Haifa.


"Begini, mengenai hubungan saya dengan mamanya Aina itu sebenarnya sudah clear tidak ada apa apa lagi. Tapi saya tetap tidak bisa putus komunikasi dengan dia karena bagaimanapun juga ada Aina. Mamanya Aina juga hidup bersama keluarga barunya. Pertanyaan ini tidak salah karena memang ke depannya siapa tau dan kemungkinan itu mungkin ada walau dalam sekala kecil."


"Jika memang kemungkinan itu terjadi dan posisi saya sudah memiliki pasangan lagi. Insya Allah sebisa mungkin saya akan mempertahankan apa yang sedang saya jalani. Karena bagi saya, yang telah memberikan luka akan kalah dengan yang memberikan warna sekalipun warna itu hitam."


Setelah Alvin menjawab suasana seketika hening. Haifa masih menunduk.


"Pak Maaf." ucap Haifa


"Untuk?"


"Secara tidak langsung Haifa memaksa Bapak untuk membuka kembali masalalu bapak."


"Tidak masalah. Kamu berhak kok. Saya tidak ingin kamu memutuskan sesuatu tapi masih ada ganjalan ganjalan. Jadi apapun itu jika itu tentang saya silahkan kamu tanyakan pada saya. Jangan percaya dengan katanya. Silahkan sekarang ada lagi?" tanya Alvin.


"Insya Allah cukup."


"Kalau begitu bolehkan sekarang saya yang bertanya?"


Haifa mengangguk.


"Apa kamu sudah siap jika minggu depan saya datang bersama orangtua saya untuk melamar kamu? Sengaja saya putuskan minggu depan karena saya tidak ingin kamu merasa terbebani, kamu juga punya waktu satu minggu untuk mempertimbangkan. Dan selama seminggu itu saya sudah putuskan tidak akan menghubungi kamu dulu."


Spontan Haifa menegakan kepalanya dan menatap Alvin.


"Saya hanya ingin kamu tidak terganggu dengan saya ataupun Aina. Jadi biar kamu bisa mempertimbangkan benar benar keputusan yang akan kamu ambil. Dan keputusan memang yang kamu inginkan bukan berdasarkan paksaan, kasihan atau tak enak hati."


Haifa kembali diam menarik nafas sejenak.


"Iya boleh. Silahkan bapak datang bersama keluarga bapak minggu depan." ucap Haifa pelan. Membuat Alvin dan kedua orang tuanya menatap Haifa.


"Kenapa? Salah ya?" tanya Haifa.


"Kamu serius?" tanya Alvin.


"Kalau bapak serius maka jawaban saya tadi juga serius. Tapi kalau bapak main main maka anggap saja jawaban saya juga main main."


"Saya Serius." tegas Alvin.


"Yaudah kalau gitu." jawab Haifa.


"Alhamdulillah." jawab Alvin dengan senyum yang melekat di bibirnya.


"Udah nih tanya jawabnya? Papa mama merhatiin dari tadi kalian kaya yang lagi interview perkerjaan haha." kata Papa mencoba mencairkan suasana.


"Papa mah." rajuk Haifa.


"Iya becanda. Yaudah berarti silahkan aja yaa nak Alvin datang bersama keluarga. Nanti beritahu aja kira kira berapa orang yang datang. Biar kami di sini jelas persiapannya. Semoga juga Haifa benar benar sudah siap dengan jawabannya."


"Pak." panggil Haifa.


"Boleh gak kalau acarnya dikhususkan keluarga saja. Gak usah mengundang orang lain diluar pihak keluarga."


"Kenapa? Bukan biasanya perempuan itu inginnya acara yang meriah?" tanya Alvin.


"Tapi pak bukannya sebaiknya itu  Rahasiakanlah tunangan dan umumkanlah pernikahan?" tanya Haifa.


"Yasudah jika memang maunya begitu."


"Jadi udah nih Alvin dan Haifa deal yaa. Minggu depan dan acaranya terbatas untuk keluarga?" tanya Papa.


"Iya Om."


"Iya Pa."


"Yaudah jangan tegang tegang lagi. Sok diminum dulu itu dari tadi makanan dan minuman dianggurin loh." kata mama.


"Jangankan makanan ma. Papa sama Mama yang ada di sini aja mendadak gak kelihatan." tambah Papa.


"Papa ih." ucap Haifa.


"Eee Alvin minta maaf om tan."


"Haha udah gak apa apa. Om mah becanda aja. Justru seneng dengerinnya karena kalian sama sama mau terbuka." jelas papa.


"Om,  Tan mohon maaf nih kalau Alvin kurang sopan. Tapi ini sudah terlalu malam. Alvin juga harus jemput Aina di rumah ibu."


"Oh iya Aina kenapa gak di bawa aja sih nak Alvin?" tanya Mama.


"Alvin cuma gak yakin akan seterbuka tadi kalau Alvin bawa Aina. Iya maksud Alvin takutnya Haifa malah merasa gak enak ataupun kasihan sama Aina."


Kedua orangtua Haifa mengangguk mengerti maksud Alvin.


"Yasudah om tante kalau begitu Alvin pamit."


"Oh gitu. Yaudah kalau gitu."


"Assalamualaikum." kata Alvin  kemudian menyalami kedua orangtua Haifa.


"Wa'alaikumsalam." jawab mereka.


Setelah mengatakan Alvin sampai ke depan rumah. Haifa kembali ke kamarnya.


Pagi harinya saat sedang membantu Mama memasak untuk sarapan. Haifa dikagetkan dengan kedatangan sang kakak pertama.


"Cie yang mau lamaran."


"Eh teteh." kata Haifa langsung memeluk kakanya.


"Hutang cerita yaa sama teteh."


"Iya. Gimana kondisinya papa kak Ilham (kakak ipar Haifa)."


"Alhamdulillah udah  baik sekarang mangkanya teteh udah bisa pulang."


"Udah ah lanjut masak dulu yuk. Nanti abis sarapan teteh pengen kamu cerita. Gak ke kampus kan?"


Mereka sekarang sudah berdua di kamar Haifa.


"Gimana? Adek udah punya jawaban?"


"Hm adek masih mikir sih. Menurut teteh gimana?"


"Kok nanya teteh yang mau menjalani kan adek."


"Ya maksud adek itu teteh kan udah menikah. Ya berdasarkan pengalaman teteh gimana?"

__ADS_1


"Ya menurut teteh setelah ketemu dan ngobrol sama Alvin waktu itu. Teteh liat si baik, tanggungjawab buktinya kan dia gak mau lama lama deket sama adek tanpa ikatan dia langsung datang ke papa dan ngajak serius terus sekarang ngajakin lamaran, dilihat dari segi ekonomi juga teteh percaya. Tapi yang paling penting agama. Tapi teteh sih yakin dengan cara dia yang begini isya Allah lah."


"Terus statusnya yang duda anak 1 teteh gak masalah? Biasanya kan yang kayak begini sering ditentang keluarga."


"Awalnya iya teteh kaget kok bisa adek sama duda. Tapi setelah kenal ngobrol. Apalagi setelah tau penyebab perceraiannya..."


"Teteh udah tau?" tanya Haifa


"Iya teteh tanya Mama. Setelah tau itu yaudah teteh mah ngerasa gak masalah. Awalnya teteh takut dia cerai karena selingkuh atau KDRT kan takut terulang lagi ke adek. Tapi ternyata bukan. Ya teteh mah setuju setuju aja. Tapi teteh malah khawatir ke adek."


"Kok jadi ke adek?"


"Ya gini loh. Misal adek jawab iya adek terima. Adek nikah sama Alvin adek langsung jadi ibu buat Aina. Okelah adek sekarang udah deket sama Aina. Tapi adek belum pernah 24 jam sama dia. Mungkin banyak yang adek belum tau tentang Aina. Teteh mah cuma mau pesen. Sebaik baiknya sikap Aina nanti adek telen. Dan siapin juga kalau seburuk buruknya nanti adek telen juga. Namanya anak anaka dikit dikit nakal biasa. Adek harus siap, teteh gak mau sampai adek ngahadapin Aina pas lagi nakal, keluar kalimat sengaja atau gak sengaja yang mengungkit status Aina yang bukan anak kandung adek. Jangan sampai begitu."


"Adek harus siap dari sekarang. Pikirin diotak adek nerima Alvin berarti nerima Aina. Menikah dengan Alvin berarti otomatis Aina juga menjadi putri kamu. Adek harus menikah dengan keduanya. Kenapa teteh bilang begini, belajar dari cerita cerita temen teteh yang menikah sama duda atau janda beranak tapi hanya menikah dengan perempuan atau laki lakinya saja. Akhirnya apa mereka seneng tapi perasaan anaknya siapa tahu kan? Walaupun gak semua gagal. Banyak kok yang jadi ayah atau ibu sambung dan mereka berhasil. Nah adek harus belajar dari mereka."


"Perasaan anak kecil itu gampang gampang susah dimengerti dek. Kayak adek ngadepin Arsyad aja ada kalanya dia mau sama adek terus. Tapi ada kalanya dia musuhin adek. Begitu juga kemungkinan dengan Aina nanti. Apalagi adek harus bisa juga menjaga hubungan baik antara Aina dan mama kandungnya. Teteh bukan nakut nakutin teteh cuma mau adek berpikir realistis. Banyak kemungkinan yang akan terjadi. Iya sekarang adek deket sama Aina adek udah srek sama Alvin juga bukan berarti kedepannya kehidupan adek akan baik baik aja dan selalu bahagia."


"Teteh dulu gitu?" tanya Haifa


"Iya. Awalnya teteh ngerasa udah siap menikah sama kak Ilham waktu dia melamar. Setelah menikah awal awal okelah masih manis dilihat orang. Tapi dibalik itu awal awal menikah itu teteh mah merasanya cukup berat. Karena kita sama sama masih adaptasi. Menyatukan dua pemikiran menjadi satu tujuan."


"Oh iya satu lagi. Adek juga harus mikirin nanti kalau adek punya anak sama Alvin, adek jangan pernah membedakan Aina sama anak yang lahir dari rahim adek. Adek juga gak suka kan kalau di banding bandingkan. Apalagi sampai membandingkan statusnya. Teteh bicara begini bukan karena teteh merasa bener dan udah paling bener. Enggak gitu yang teteh bicarain sekarang juga itu yang sedang dan akan terus teteh pelajari. Yaitu menjadi ibu dan istri yang baik. Karena itu gak ada sekolahnya."


"Teteh gak yakin ya sama adek?" tanya Haifa.


"Teteh yakin adek bisa belajar. Asal adek jangan menutup diri untuk terus belajar dan dengerin nasihat orang."


"Adek jadi takut."


"Kenapa takut?"


"Ya ternyata menjadi istri dan ibu itu gak semudah itu."


"Emang gak mudah. Tapi bukan untuk ditakuti. Kita Allah yang mengatur semunya kan? Dan bisa sampai dititik ini juga karena campur tangan Nya kan? Jadi sekarang apapun yang mau adek putuskan libatkan Allah. Yakinlah kalau masalah istikharah dll mah adek ngerti sendiri tanpa harus dikasih tau."


"Makasih ya teh." kata Haifa sambil memeluk sang kakak.


"Sama sama cantik."


"Oh iya dulu teteh waktu hamil Arsyad kan sering baca baca buku tentang parenting. Itu masih ada gak teh bukunya?"


"Masih ada kenapa mau baca?"


"Iya boleh. Pinjam yaa?"


"Boleh kok. Kalau kayak gini kayaknya teteh udah tau deh jawaban adek ke Alvin apa. Buktinya udah mau aja belajar tentang parenting. Udah siap banget nih jadi istri plus jadi ibu?"


"Ih teteh mah. Kan sama pak Alvin atau bukan adek kan perempuan tetep bakal jadi seorang ibu. Gak salah dong belajar tentang parenting. Biar nanti jadi ibu yang baik. Kan ibu itu madrasah pertama bagi seorang anak."


"Bisa aja alasannya."


"Ih beneran teh."


"Iya iya. Ini mah dari tadi teteh yang cerita bukan adek yang cerita."


"Ya teteh kan udah tau dari Mama. Salah sendiri udah nanya duluan sama Mama."


"Iya sih. Teteh gak sabar soalnya denger kelanjutannya pasangan ini."


"Jadi gimana lamaranya mau di rumah atau dimana?"


"Kata teteh mendingnya gimana? Tapi adek udah bilang ke pak Alvin kalau acaranya pengen tertutup dan khusus buat keluarga aja."


"Ya nanti dulu adek mau jawab apa dulu. Nanti dibuat ini itu terus tiba tiba adek nolak kan malu keluarga."


"Iya mangkanya adek mau buatnya tertutup."


"Yaudah di rumah kalau gitu. Di halaman samping juga kan luas tuh bisa tinggal di dekorasi sama sewa kursi jadi deh tuh tema outdor."


"Hehe iya juga yaa."


"Teh, adek agak heran deh sama Papa." lanjut Haifa.


"Kenapa?"


"Ya gitu sebelumnya tiap kali ada yang datang mau kenalan atau apa gitu. Suka agak susah. Tapi kenapa pas sama pak Alvin tiba tiba langsung gampang gitu yaa."


"Ya mungkin karena emang ada yang papa lihat dari Alvin."


"Teteh tau nggak. Aina aja bisa di ajak becanda loh sama papa. Biasanya kan papa keliatannnya galak."


"Ya bagus dong berarti papa bener bener kasih lampu ijo dan gak ada masalah sama Alvin."


"Iya sih. Coba teh Hilya pulang juga yaa kita kan jadi ngobrol ber 3. Udah lama loh gak ngumpul."


"Hm susah kalau udah berkeluarga mah. Apalagi bentar lagi adek berkeluarga makin susahlah kumpul bertiga."


"Ih teteh mah. Ade aja belum jawab mau atau enggak."


"Tapi felling teteh mah da pasti mau."


"Teteh mah sok tau."


"Haha. De tadi teteh di kasih tau Mama katanya Keanu bakal pulang lusa."


"Hah serius. Bang ken pulang?"


"Heem ya masa atuh kamu lamaran gak pulang."


"Alhamdulillah pulang juga. Kangen adek."


"Alvin udah tau Keanu kan?"


Haifa menggeleng.


"Ye gimana sih udah mau lamaran tapi Alvin belum tau semua. Ai kamu nanya ini itu ke Alvin. Ai Alvin gak dikasih tau. Ngaco nih."


"Ya siapa suruh gak nanya nanya."


"Ya harusnya adek kasih tau."


"Iya gak inget."


"Kamu itu sama Keanu kalau udah deket nempel terus. Masa gak inget."


"Iya kan lupa teh."

__ADS_1


"Yaudah nanti keanu pulang jemput ke bandara ajak Alvin. Sekalian ngobrol kenalin ke Alvin."


"Iya. Eh tapi pak Alvin kan gak mau ketemu adek sampe lamaran."


"Ya gimana kek bujuk atau rayu atau apa terserah adek lah."


"Udah Ah teteh mau liat Arsyad dulu." Kata sang kakak sambil berlalu ke luar.


"Oh Iya dek selamat membujuk calon suami ya. Haha." katanya sambil langsung menutup pintu kamar Haifa.


"TETEH ih." kesal Haifa.


Haifa tergerak untuk menghubungi Alvin dan menanyakan jadwalnya lusa.


Haifa


'Assalamualaikum.'


'Pak.'


Beberapa menit barulah Haifa mendapat balasan.


Pak Alvin


'Wa'alaikumsalam. Ada pertanyaan lagi?'


Haifa


'Iya sekalian minta tolong kalau boleh.'


Pak Alvin


'Apa?'


Haifa


'Jadwal Bapak lusa padat gak?'


'Mau minta tolong anterin ke bandara sekalian ada hal yang perlu Haifa jelasin juga ke Bapak.'


Pak Alvin


'Tapi saya gak mau bertemu kamu dulu sampai minggu depan.'


'Ngapain kamu ke bandara? Mau kemana? Hibernasi lagi? Mau menghindar lagi?'


Haifa


'Tolong sekali aja kalau bisa. Ini juga karena ada yang perlu dibicarakan.'


Pak Alvin


'Penting?'


Haifa


'Kalau gak bisa gak apa apa. Tadinya mau ngejelasin sesuatu biar gak dikira nutup nutupin. Tapi gak penting juga kayaknya.'


Alvin mengerutkan kening.


"Marah?" tanya Alvin pada dirinya sendiri.


Pak Alvin


'Oke kalau gitu lusa ke bandara. Kasih aja jam berapa.'


Haifa


'Gak usah kalau gak bisa.'


Pak Alvin


'Bisa.'


'Marah?'


Haifa


'Gak.'


Pak Alvin


'Perlu saya ke rumah bawain bunga sama coklat?'


Haifa


'Maksudnya?'


Pak Alvin


'Ya kali pengen kayak orang lain kalau marah disogok pake bunga dan coklat.'


Haifa


'Gak.'


Pak Alvin


'Oh iya lupa. Kamu kan beda maunya langsung dibawain penghulu sama seserahan kan?'


Haifa


'Bodo.'


Pak Alvin


'Saya dosen kamu loh.'


Read


"Ngeselin banget sih bapak bapak ini." ucap Haifa sambil menatap handphonenya yang masih dalam room chat dirinya dan Alvin.


***


**To be continued...


See you next part**...

__ADS_1


__ADS_2