Bunda Untuk Aina

Bunda Untuk Aina
BUA 39


__ADS_3

Jika dikatakan mood ibu hamil itu berubah ubah itu benar sangat benar, Alvin sendiri merasakannya saat ini. Walaupun bukan Alvin yang hamil tapi Alvin sangat merasakan dampaknya. Tapi mungkin juga tidak semua ibu hamil seperti Haifa yang sangat berubah ubah moodnya. Mungkin saja di luar sana banyak yang sama sedang hamil tapi tidak merasakan seperti Haifa. Tidak jadi masalah karena pada dasarnya kondisi seorang wanita saat hamil itu sudah pasti berbeda beda setiap individunya.


Beberapa waktu lalu, hampir sebulan lamanya Haifa menjadi sangat anti untuk berdekatan dengan Alvin. Katanya kesal dan mau marah tiap kali dekat Alvin dan juga mual tiap kali mencium aroma tubuh Alvin sekalipun Alvin sudah mandi dan memakai parfum.


Berbeda dengan hari ini, saat ini usia kandungan Haifa sudah memasuki minggu ke 12. Pagi ini bisa dibilang Haifa sangat manja dengan Alvin. Setelah semalam sempat merajuk karena permintaannya untuk menyusul Aina tidak disetujui Alvin. Bukan Alvin tidak mau menuruti atau tidak mau bertemu Aina, hanya saja banyak yang harus dipikirkan salah satunya kondisi Haifa yang sedang hamil. Perjalanan ke Swedia bukanlah perjalanan singkat yang hanya memakan waktu satu sampai dua jam. Perjalanan ke sana memerlukan waktu yang lama. Iklim di sana pun pastinya sangat beda dengan di Indonesia ini. Selain ke khawatirannya pada Haifa, Alvin juga punya tanggung jawab di perusahaannya. Memang di sini posisi Alvin sebagai pimpinan. Tapi tetap kan tidak bisa seenaknya saja, justru seharusnya Alvin bisa menjadi contoh yang baik untuk para karyawannya kan. Jika Alvin mengiyakan keinginan Haifa paling tidak Alvin harus izin satu minggu dari kantor. Jika pun harus berangkat setidaknya Alvin harus prepare dulu selama ia tidak ke kantor ada orang yang bisa ia percaya untuk mengcover pekerjaanya.


"Mas boleh yaa please." bujuk Haifa. Iya sejak bangun tidur tadi pagi Haifa memang selalu menempeli dan merayu Alvin agar mengiyakan keinginannya semalam.


"Mas please, kalau alasan mas gak boleh karena Haifa lagi hamil kita konsul deh ke dokter. Kita tanyain boleh atau enggak. Tapi setau Haifa sih boleh boleh aja. Orang teteh aja pas hamil pergi pergi naik pesawat gak masalah." kata Haifa.


"Udah ah nanti lagi ya bahasnya. Mas harus ke kantor. Yuk mau anter ke depan gak?" tanya Alvin sambil berjalan mendahului Haifa. Haifa menyusul dan memeluknya dari belakang.


"Mas ayo dong boleh ya. Haifa tuh kangen sama Aina. Biasanya kalau pagi begini, kalau mas ke kantor kan Haifa sama Aina. Sekarang Aina gak ada kan jadi sepi. Bosen tau tiap hari di rumah sendirian." kata Haifa sambil memeluk erat tubuh Alvin di depan pintu kamar mereka.


"Sayang denger, mas juga kangen sama Aina. Bukan gak mas gak mau turuti keinginan kamu. Tapi mas khawatir sama kamu, kesana itu butuh waktu penerbangan berjam jam sayang. Terus di sana juga pasti iklimnya beda sama di negara kita. Belum lagi makanannya pasti beda banget. Sementara sekarang di rumah aja yang istilahnya makanan yang kamu mau bisa kamu makan, kamu susah makan kan? Apalagi di sana yang belum tentu bakal cocok sama lidah kita." kata Alvin menjelaskan sambil menghadap Haifa dan menangkup kedua pipinya.


"Tapi mas, kita kan bisa konsul dulu ke dokter gitu." rengek Haifa.


"Nanti lagi ya bahasnya. Sekarang udah siang mas harus ke kantor. Oh iya tadi katanya bosankan di rumah? Mau ikut mas ke kantor? Atau mau mas antar ke rumah mama?" tawar Alvin.


"Ikut ke kantor aja yuk. Kebetulan jadwal mas gak terlalu padat hari ini. Biar mas semangat juga kerja di temani istri dan kamu gak bosan juga di rumah sendiri."


Haifa diam.


"Udah ah cepat jangan mikir terus. Cepat ganti baju terus pake kerudung."


"Emang gak boleh pake ini?" tanya Haifa sambil menunjuk baju yang ia pakai. Haifa hanya mengenakan dress yang modelnya seperti kaos kebesaran dan panjangnya hanya sampai di atas lutut.


"Enggak boleh lah enak aja. Kamu cuma boleh pake pakaian begini di depan mas aja."


"Haha iya iya becanda. Yaudah Haifa ganti baju dulu. Jangan ditinggal." kata Haifa sambil berjalan ke arah lemari.


"Iya enggak sayang." kata Alvin sambil berjalan dan kembali duduk diatas ranjang.


"Ih mas kok duduk di sini. Haifa mau ganti baju." rengek Haifa.


"Terus kenapa? Yaudah ganti baju aja." ucap Alvin dengan santainya.


"Mas sengaja atau gimana sih? Masa ia Haifa ganti baju di depan mas?"


"Masalahnya apa?" tanya Alvin.


"Ih malu lah!"


"Serius malu? Bahkan mas udah tau...."


"Mas Alviiiiinnn." teriak Haifa memotong ucapan Alvin karena Haifa tau apa yang akan dikatakan oleh suaminya.


"Haha yaudah iya mas keluar. Mas tunggu di mobil ya." kata Alvin dan masih sempat menyentuh kepala Haifa kemudian mengacak rambutnya.


Alvin mengalah ia segera keluar kamar kemudian bergegas ke garasi untuk menyiapkan mobil.


"Udah. Siap yuk. Mas maju aja dulu tunggu di luar gerbang. Biar nanti Haifa sekalian tutup dan kunci pintu gerbangnya." kata Haifa.


"Gak usah sayang, kamu naik aja. Gerbangnya berat biar nanti mas turun lagi buat tutup gerbang."


Haifa menurut ia segera naik ke mobil dan duduk disamping Alvin kemudian memasang seat beltnya.


Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke kantor Alvin.


"Mas itu depan yang jualan baso tahu ya?" tanya Haifa menunjuk salah satu gerobak yang ada di depan sebuah sekolah.


"Iya, kenapa mau?" tanya Alvin sambil memelankan laju mobilnya.


"Tapi gak jadi deh rame. Nanti malah telat masnya." kata Haifa.


"Gak apa apa kalau mau berhenti dulu sebentar."


"Enggak deh."


"Beneran?"


Haifa mengangguk tapi matanya tetap kearah gerobak baso tahu yang baru saja terlewati.

__ADS_1


"Loh kok berhenti?" tanya Haifa saat merasa Alvin memberhentikan mobilnya beberapa meter dari gerobak baso tahu tadi.


"Sebentar." jawab Alvin kemudian keluar mobil.


Sekitar 5 menit kemudian Alvin sudah kembali ke dalam mobil.


"Nih." katanya sambil membetikan sekantong baso tahu.


"Ih mas beli?"


"Buat kamu. Daripada nanti udah sampe kantor kepikiran." kata Alvin.


"Hehe makasih mas Alvin. Baik banget deh jadi sayang." kata Haifa sambil mendekat ke arah Alvin dan mencium pipinya sekilas.


"Apa gak berasa sayang." protes Alvin karena sangat sebentar.


"Udah ya Haifa mau makan baso tahu dulu."


"Mau sayang suapi." kata Alvin sambil mulai menjalankan mobilnya.


"Kenapa tadi gak beli dua sih?" kata Haifa karena merasa jatahnya akan berkurang.


"Haha pelit banget sih bumil ini. Itu tadi mas beli dua porsi sayang. Cuma sengaja di buat satu kotak aja."


"Oh iya banyak." kata Haifa saat membuka kotak tersebut. Haifa menyuapkan ke mulutnya dan ke mulut Alvin secara bergantian.


Sampai di kantor Alvin langsung di suguhkan sebuah agenda oleh Abrar sekretarisnya.


"Sepuluh menit lagi kita ada meeting pak." ucap Abrar mengingatkan.


"Oke. Oh iya brar semuanya udah siapkan?"


"Sudah pak."


"Yasudah kalau begitu."


Selama menunggu Alvin, Haifa hanya menisi waktunya dengan menonton dan membaca novel. Karena mau keluar ruangan pun Haifa tidak banyak mengenal orang lagi pula mereka juga rata rata sedang fokus dengan pekerjaannya.


"Loh kok nangis?" tanya Alvin saat melihat Haifa meneteskan air mata.


"Kenapa nangis? Bosen? Mau sesuatu?" tanya Alvin lagi.


Haifa hanya menggeleng.


"Kenapa sayang, kamu nangis begini gak mungkin kalau gak ada apa apa."


"Kenapa? Cerita sama mas." pinta Alvin.


"Tapi jangan diketawai ya."


Alvin heran ia sudah mengerutkan kening sambil menatap Haifa.


"Iya oke gak akan mas ketawai kamu kenapa?"


"Janji."


"Iya janji."


Haifa diam kemudian menutup novelnya setelah menandai halamannya.


"Jadi kenapa?"


"Huh kasihan tahu mas."


"Hah kasihan? Siapa yang kasihan?"


"Ini loh mas." Haifa kembali mengambil novelnya yang sudah ia letakan di atas meja.


"Tadi baca novel ini, ini tuh mencerita tentang sepasang kekasih yang udah berhubungan lama. Hampir 7 tahun mereka berpacaran. Tapi sampe halaman yang sudah Haifa baca, wanitanya berhasil menjemput hidayahnya."


"Ya bagus dong."


"Iya. Tapi si lelakinya gak terima karena merasa diputuskan secara sepihak."

__ADS_1


"Ya kalau gitu nikahi aja. Bereskan?"


"Gak semudah itu. Lagian novel ini ceritanya si lelaki gak terima diputuskan tapi saat wanitanya minta dinikahi alasannya belum siap."


"Yaudah berarti bersyukur aja perempuannya karena udah ditunjukan kalau dia bukan yang terbaik."


"Ih mas kok begitu?"


"Iya kan. Kalau laki laki baik gak mungkin udah komitmen lama tapi gak dinikahi."


"Tau ah sebel. Udah diam mas gak usah ngomong lagi. Nyebelin, bukan kasih solusi malah bikin kesel."


"Kok kamu jadi marah marah sih sayang?"


"Tau ah kesel. Tau gitu Haifa gak usah cerita."


"Kok malah ngambek sih. Hei jangan ngambek dong."


Haifa hanya diam sambil membuang muka.


"Masa iya ngambek cuma gara gara beda persepsi tentang novel?"


Haifa belum mau menjawab juga.


"Sayang hei. Daripada marah marah mending ke luar yuk cari jajanan." bujuk Alvin.


"Gak." jawab Haifa.


"Di kantin katanya ada yang jual mie ayam yang enak katanya. Mau nyobain gak?" tawar Alvin.


"Gak mau."


"Terus maunya apa dong?"


Haifa diam saja.


"Yaudah deh terserah kalau mau ngambek cuma gara gara novel. Mas keluar ya. Mas gak mau ngerusak mood dengan ribut sama kamu karena hal yang gak penting. Mas masih ada pekerjaan lain." kata Alvin sambil meninggakan Haifa di ruangannya.


"Ih mas Alvin bukannya dirayu lagi atau di paksa gitu digandeng. Haifa juga kan lapar pengen jajan." gerutu Haifa saat Alvin sudah keluar ruangan.


Baru selesai Haifa berbicara tiba tiba pintu ruangan kembali terbuka.


"Ayo mau gak cari jajanan. Buat ngemil kamu sambil nunggu mas biar gak bosan." ajak Alvin sambil berdiri di depan Haifa.


Haifa mendongak. Dalam hatinya 'Duh mas Alvin kok balik lagi. Jangan jangan mas Alvin denger apa yang Haifa bilang tadi?'


"Ayo mau nggak?" tanya Alvin sambil mengulurkan tangannya di depan Haifa. Haifa masih diam saja.


"Mau mas gandeng? Atau mau digendong?" tanya Alvin.


'Tuhkan pasti mas Alvin dengar.' kata Haifa dalam hatinya.


"Malah bengong. Udah ayo ah. Mas tau dari tadi kamu bosan kan?" kata Alvin sambil menarik paksa tangan Haifa. Tapi percayalah Alvin masih melakukannya dengan lembut.


Pukul 16.00 mereka baru sampai di depan rumah. Baru saja sampai di rumah mereka sudah dikejutkan dengan hal yang mereka lihat. Alvin dan Haifa saling memandang.


"Kalian kenapa lihat ibu kayak begitu?" tanya ibu.


"Eh enggak. Anu itu ibu kapan pulang dari Jogja?" tanya Alvin.


"Kemarin."


"Katanya ibu bakal 2 bulan di sana?" tanya Alvin.


"Kenapa sih kamu gak seneng ibu pulang?"


"Oh iya kalian kok berdua Aina mana?"


***


**To be continued...


See you next part**...

__ADS_1


__ADS_2