
Happy Reading...
Setelah beberapa hari libur sekolah, hari ini Aina kembali pergi sekolah. Diantar lengkap oleh Alvin dan Haifa karena kebetulan hari ini jadwal Aidan untuk imunisasi dan check up ke DSA.
Mereka sekarang berada di halaman sekolahnya Aina.
"Papa nanti jemput kakak?" tanya Aina.
"Insya Allah papa jemput." jawab Alvin.
"Yaudah yuk papa antar ke kelasnya kakak."
"Kok diantal?" tanya Aina.
Haifa juga memandang heran ke arah Alvin. Karena tidak biasanya Aina diantar sampai ke kelas.
"Gak apa apa. Papa mau lihat teman kakak yang namanya Airlangga yang katanya lebih ganteng dari papa." kata Alvin.
"Bun, ke mobil aja duluan." kata Alvin tanpa melihat Haifa. Kedua manusia itu sampai saat ini memang masih dalam mode pesawat.
"Kakak baik baik ya nak." kata Haifa sambil membungkuk dan menciumi Aina.
"Iya bunda. Talim." katanya sambil mengulurkan tangan pada Haifa.
"Kakak mau tium tium dede."
Haifa tersenyum lalu kembali membungkukan badannya di depan Aina.
"Dede kakak tekolah dulu ya. Bial nanti jadi pintal, nanti bisa ajali dede di lumah. Muach dadah dede."
"Dadah bunda." katanya lagi.
Sementara itu, saat sampai di kelas Aina.
"Mana teman kakak yang namaya Airlangga?" tanya Alvin sambil celingukan kedalam kelas Aina.
Aina pun ikut melihat lihat.
"Itu Aillangga." tunjuknya ke salah satu meja di dalam kelas.
"Mana?"
"Itu..."
"Ah gantengan papa."
"Papa mah tana tana pelgi."
"Eh kok gitu sama papa?"
"Papa tih nakal."
"Kata ibu gulu kalau anak baik, tuka belbagi dan nulut tama olang tua dan gulu itu namana anak tantik dan ganteng."
"Waktu itu Aillangga katih kakak makanan banak banak belalti kan Aillangga ganteng."
Oke Alvin kalah ganteng dimata Aina hanya karena teman laki lakinya yang bagi bagi makanan. Sabar Alvin sabar.
"Yaudah nanti papa belikan kakak es krim deh banyak banyak. Mau?"
"Mau mau..."
"Jadi papa ganteng?"
Aina mengangguk.
__ADS_1
"Oke bagus. Anak pinter. Sana sekarang kakak masuk."
"Oke. Papa. Attalamu'alaikum." kata Aina lalu mencium tangan Alvin.
"Papa papa." kata Aina sambil berjalan mundur menjauhi Alvin.
"Hm?"
"Tapi papa gantengnya tedikit. Wlee. Dadah papa." katanya sambil berlari memasuki kelasnya.
Alvin hanya menggeleng sambil tersenyum. Aina memang betul betul keturunanya haha.
***
Di dalam mobil menuju rumah sakit, suasananya sangat hening. Alvin fokus ke jalanan sedangkan Haifa menyibukan diri pada Aidan. Ketika sampai di rumah sakit pun tidak jauh berbeda.
Sekian lama menunggu antrian, sekarang tiba giliran mereka.
Selesai dengan imunisasi dan konsultasi, Alvin langsung mengantar Haifa dan Aidan ke rumah.
"Assalamu'alaikum..." kata haifa setelah mencium tangan Alvin dan bergegas turun dari mobil menuju ke dalam rumah.
Sebenarnya ada rasa tidak tega meninggalkan Haifa di rumah. Karena dokter tadi sempat mengingatkan jika reaksi pasca imunisasi setiap bayi itu berbeda. Ada yang demam, rewel dan berbagai macam lagi. Tapi semoga saja Aidan tidak bereaksi apa apa karena tadi pun sepanjang perjalanan pulang Aidan anteng anteng saja. (Bagian ini tolong ingatkan jika tidak sesuai dengan fakta di dunia nyata.)
"Aku berangkat. Kalau rewel atau butuh apa apa kasih tahu aja." kata Alvin.
"Hm." respon Haifa.
"Biasakan kalau diajak bicara suami itu jawab yang betul."
"Iya." jawab Haifa.
"Assalamualaikum." pamit Alvin.
"Waalaikumsalam."
"Anak shalehnya bunda yang anteng ya nak." kata Haifa sembari bejalan memasuki rumah.
***
Jika tadi siang Aidan masih baik baik saja, tanpa reaksi apapun. Lain hal dengan malamnya. Sekarang Aidan demam dan rewel. Sejak tadi Haifa terus terusan berdiri sambil mengayun ayun Aidan.
Pegal di punggung Haifa semakin terasa. Rasanya ingin sekali membaringkan badannya di atas kasur. Tapi sangat tidak memungkinkan. Apalagi Alvin, bapak yang satu itu malah sibuk di ruang kerjanya.
Haifa menatap Aidan yang sudah memejamkan mata.
"Kira kira aman gak ya duduk sebentar?" tanya Haifa pada dirinya sendiri.
Baru sekian detik Haifa merasakan empuknya tempat tidur. Tangisan Aidan sudah kembali menggelegar.
"Iya nak iya." kata Haifa kembali berdiri dan mengayun ayun Aidan.
Entah sudah berapa dan sudah jam berapa sekarang ini. Yang jelas Haifa sudah mengantuk.
"Capek?" tanya seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Haifa hanya menoleh sekilas.
'Pake nanya. Udah tau dari tadi anaknya nangis terus. Bukannya bantu malah sibuk kerja. Gak cukup dari pagi sampe sore waktu kerja di kantor.' omel Haifa dalam hatinya sendiri.
"Gak usah ngomel." kata Alvin sambil berjalan mendekat.
"Sini Aidannya. Kamu istirahat." kata Alvin.
"Gak usah." tolak Haifa.
__ADS_1
"Gak usah bantah bisa?"
"Aidan udah anteng nanti malah nangis lagi." jawab Haifa.
"Gak masalah." kata Alvin sambil mengambil alih Aidan. Benar saja Aidan kembali menangis.
"Dibilang gak usah." kata Haifa hendak mengambil kembali Aidan dari Alvin. Tapi Alvin lebih cepat untuk membawa Aidan menjauh dari Haifa.
"Kamu tidur aja. Aidan biar sama mas." kata Alvin sambil keluar kamar dan menutup pintunya.
Alvin sengaja membawa Aidan keluar kamar. Karena jika tidak begitu Haifa pasti tidak akan bisa beristirahat. Walaupun Alvin yakin Haifa belum tentu bisa tidur karena memikirkan Aidan. Tapi setidaknya Haifa bisa duduk atau berbaring. Bagiamana pun Haifa harus dan butuh istirahat.
Sebetulnya sejak tadi di ruang kerja, Alvin sempat tidur sejenak. Maksudnya agar malamnya ia bisa menggantikan Haifa, seperti sekarang ini.
Pukul 04.00 Haifa terbangun. Ia melihat Alvin sudah berbaring di sampingnya. Haifa tidak tahu sejak pukul berapa Alvin masuk kamar. Tapi dapat Haifa pastikan jika Alvin dan Aidan baru saja tertidur. Lihat saja posisinya, Aidan berada di atas dada Alvin dan tangan Alvin tidak berhenti menepuk nepuk Aidan.
Dengan gerakan pelan Haifa menutupi tubuh keduanya dengan selimut. Ada sedikit pergerakan dari Aidan tapi tidak sampai terbangun. Haifa lega karena jika sampai terbangun pasti tidak akan mudah untuk menidurkan Aidan kembali. Lebih baik sekarang Haifa bersih bersih dulu. Karena mau tidak mau sebentar lagi Alvin harus dibangunkan untuk shalat subuh dan resikonya pasti Aidan kembali bangun dan rewel.
Selesai mandi, Haifa harus membangunkan Alvin karena waktu subuh sudah semakin dekat. Haifa hanya menepuk nepuk pelan lengan Alvin agar tidak mengganggu Aidan yang nyaman tidur di dada Alvin.
Alvin yang tidak benar benar tidur, langsung membuka matanya.
"Siap siap ke masjid." kata Haifa pelan.
"Kamu siap siap shalat aja. Kita shalatnya gantian. Aidan baru tidur, nanti kalau di letakan di kasur pasti rewel lagi." ucapan Alvin langsung terbukti dengan adanya pergerakan dari Aidan. Tapi langsung kembali tenang ketika Alvin mengelus punggungnya.
***
Alvin merasa ragu untuk pergi ke kantor, walaupun Aidan tidak serewel semalam.
"Mau minta tolong mama kesini?" tanya Alvin.
"Buat apa?" tanya Haifa tanpa melihat Alvin
"Biar kamu gak capek sendirian, kalau Aidan rewel lagi."
"Enggak, dia udah anteng kok."
"Yaudah terserah."
"Yuk sayang kita berangkat." kata Alvin sambil menggandeng tangan Aina.
Aina langsung mencium tangan Haifa.
"Bunda kakak tekolah dulu ya."
"Iya sayang."
"Mau liat ade." katanya. Alhasih Haifa yang sedang menggendong Aidan pun membungkuk di hadapan Aina. Aidan sejak tadi memang tidur, hanya tidak mau lepas digendong. Sebentar saja diletakan di kasur pasti langsung menangis.
"Ade jangan lewel ya. Katian bunda tau. Ade bobo aja. Nanti kakak pulang tekolah kita main ya." katanya lalu mencium pipi Aidan. Merasa terusik bayi itu menggeliat dan rengekan mulai terdengar kembali. Dengan sigap Haifa langsung berdiri dan mengayun Aidan.
"Kakak dak mau tekolah." kata Aina tiba tiba.
"Loh kok gitu? Kan ini udah rapi. Udah di luar tinggal berangkat. Masa gak mau sekolah." kata Alvin.
"Kakak mau temani bunda jaga dede aja." katanya.
###
To be continued...
See you next part...
Kritik saran boleh disampaikan di kolom komentar atau grup chat ya ☺
__ADS_1
Terimakasih...